
Nino pulang ke rumah dan mencari keberadaan Tifanny. Nino berharap ia bisa menemukan istrinya di rumah.
"Fann? Sayang?" Nino masuk ke rumah dengan terburu-buru.
"Nino? Tifanny mana?" Tanya David kepada menantunya.
Nino memperhatikan setiap sudut rumah. Tampak rumahnya di dekor dengan sangat cantik. Ya, David dan Meghan memang sengaja mendekor rumah untuk penyambutan kedatangan Tifanny yang baru saja selesai sidang dan mendapatkan gelar Bachelor of Economic.
"Tifanny belum pulang?" Tanya Nino dengan was-was.
"Bukankah Fanny bersamamu?" David mulai terlihat cemas.
"Tadi kami menjenguk teman ke terlebih dahulu ke Rumah Sakit. Lalu, Tifanny memutuskan pulang terlebih dahulu. Nino pikir dia sudah pulang," Nino tidak menceritakan mengenai kejadian buruk saat tadi sore.
"Kalau begitu kak Fanny di mana sekarang?" Meghan tampak ikut khawatir.
"Kalian tidak perlu khawatir. Nino akan mencarinya," Nino hendak beranjak dari sana.
"Nino, papa ikut!" Seru David.
Nino menoleh dan menatap wajah ayah mertuanya yang sudah mulai menua.
"Tidak, Pa. Papa di rumah saja. Tifanny sekarang adalah tanggung jawab Nino. Nino tidak akan pulang sebelum membawanya pulang. Percayalah!" Nino meyakinkan.
"Baiklah, berhati-hatilah di jalan!" Timpal David.
Nino mengangguk dan pergi lagi dari rumah untuk mencari keberadaan istrinya.
"Di mana kamu, Fann?" Nino menyetir dengan pikiran yang kalut. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Maafkan aku!" Nino terus memusatkan matanya di setiap sudut jalanan yang ia lalui.
Nino sudah berputar-putar selama satu jam, tetapi ia belum kunjung menemukan istrinya. Nino berusaha menelfon Tifanny, tetapi ponselnya tidak aktif.
"Sayang, kau ke mana?" Nino tampak berpikir, ke mana istrinya itu pergi.
Kemudian Nino mengingat suatu tempat yang sangat mungkin untuk didatangi oleh Tifanny. Nino melajukan mobilnya menuju tempat yang ia maksud.
"Pasti Tifanny ada di sini," Nino turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu.
Ya, Nino datang ke rumah Tifanny yang dulu. Tempat tinggal Tifanny sebelum menikah dengannya.
"Lampunya menyala. Pasti dia ada di dalam," gumam Nino pelan sembari terus berjalan menuju pintu.
Nino mengetuk pintu tanpa bersuara karena jika Tifanny tahu Nino yang mengetuk pintu, pasti Tifanny tidak akan mau membuka pintu.
Nino terus mengetuk pintu dengan tidak sabar.
"Sebentar!" Tifanny menjawab dengan suara yang serak.
Pintu pun di buka.
"Sayang?" Panggil Nino saat melihat istrinya membuka pintu. Nino melihat mata Tifanny sembab dan basah karena air mata.
"Mengapa kau tahu aku ada di sini?" Tanyanya dengan dingin.
"Pergi!" Tifanny hendak menutup pintu tetapi tangan Nino menahannya.
"Sayang, ayo kita bicara!" Nino terus menahan agar pintu tidak tertutup.
"Aku tidak mau bicara denganmu," Tifanny terus mendorong pintu rumahnya agar tertutup. Tetapi tenaganya tidak lebih besar dari Nino.
Nino pun berhambur masuk ke dalam rumah.
"Keluar! Jika kau tidak mau, biar aku saja yang keluar," Tifanny hendak keluar dari rumahnya.
"Kau tidak boleh keluar dari sini," Nino menarik tangan Tifanny dan mengunci pintu.
"Aku ambil kuncinya," Nino memasukan kunci rumah Tifanny ke dalam saku celananya.
"Apa maumu?" Tifanny menatap Nino dengan kecewa.
"Maafkan aku! Aku salah karena telah bertanya seperti itu padamu. Aku cemburu, aku takut pria lain menyentuhmu," Nino menarik Tifanny ke dalam pelukannya.
"Lalu bagaimana dengan kau? Sebisa mungkin, aku selalu berusaha untuk menerima masa lalumu," Tifanny melepaskan pelukan Nino.
"Jika aku bisa kembali ke masa lalu, tentu aku akan merubah masa laluku. Aku mohon maafkan aku! Aku akan selalu menerimamu bagaimana pun kondisimu," Nino menarik Tifanny ke dalam pelukannya lagi.
"Suami mana yang ingin istrinya disentuh oleh pria lain?" Nino semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Tifanny pun tersedu dipelukan suaminya.
"Justin tidak menyentuhku sama sekali," Tifanny nyaris berbisik.
"Aku percaya padamu. Maafkan aku! Kau ingin melakukan apa agar kau bisa memaafkanku? Kau ingin memukulku? Pukulah aku asal itu bisa membuatmu memaafkanku," Nino melepaskan pelukannya dan menatap Tifanny dengan sedih.
"Maafkan aku karena aku tidak menghadiri hari pentingmu! Jika saja aku datang, mungkin hal buruk tidak akan menimpamu," suara Nino terdengar memberat.
"Aku memang suami yang tidak bisa diandalkan, bahkan kau nyaris celaka karena aku," sambungnya.
"Sudahlah, semua sudah terjadi," Tifanny menundukan wajahnya.
"Kau mau memaafkanku?" Tanya Nino dengan penuh harap.
"Iya, aku memaafkanmu," perlahan senyum mengembang dari wajah Tifanny.
"Terima kasih. Aku beruntung mempunyai istri sepertimu. Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu bersedih lagi," Nino memegang leher Tifanny dan memajukan wajahnya.
"Jangan di sini! Ayo kita pulang!" Tifanny melepaskan tangan Nino.
"Di sini saja dulu. Nanti kita pulang," bisik Nino dengan suaranya yang mendayu-dayu.
****
Alden membuka matanya, hal yang pertama yang ia lihat adalah wajah Bianca yang masih tertidur. Alden memperhatikan setiap sudut gadis yang tengah tidur di hadapannya.
"Dia gadis baik dan juga unik," Alden tersenyum menikmati raut wajah Bianca.
"Tunggu! Mengapa aku tersenyum?" Alden menggelengkan kepalanya.
Alden pun melihat tanda-tanda Bianca akan bangun, ia melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Alden pun segera memunggungi Bianca dan berpura-pura tertidur kembali.
Bianca mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia melihat Alden yang tertidur memunggunginya.
"Ternyata benar, dia tidak macam-macam," Bianca menutup bibirnya dan menguap.
"Dia belum bangun?" Bianca menggoyang-goyangkan tubuh Alden tetapi pria itu tidak kunjung terbangun dari tidur pura-puranya.
Bianca melihat jam di tangannya, waktu menunjukan pukul 7 pagi. Bianca berdiri dan berjongkok di hadapan wajah Alden.
"Alden, ayo kita pulang! Ini sudah pagi," Bianca mengguncang pelan tubuh Alden.
Tangannya mendekat ke arah wajah Alden. Bianca mengusap wajah Alden dengan lembut.
"Kau kenapa mengelus wajahku? Kau mengakui jika aku tampan?" Alden tiba-tiba membuka matanya.
Bianca langsung gugup saat Alden menangkap basah dirinya.
"Di wajahmu ada nyamuk tadi," Bianca berkilah.
"Yang benar?" Alden tersenyum dan mencolek tangan Bianca.
"Te-tentu saja benar," Bianca menjawab dengan gelagapan.
"Sudahlah, ayo kita berkemas dan segera pulang!" Bianca mengalihkan topik.
"Jam berapa ini?" Alden keluar dari dalam sleeping bagnya.
"Ini pukul tujuh pagi."
"Baiklah, ayo kita pulang!" Alden membereskan sleeping bag itu dan menilapnya agar menjadi kecil.
Saat Bianca membuka tenda, ia membelalakan matanya ketika melihat hari gelap seperti masih malam hari.
"Ada apa?" Alden berjongkok di samping Bianca.
"Alden lihatlah! Mengapa pagi ini gelap seperti malam hari?" Bianca menunjuk pemandangan di luar tenda.
"Sepertinya hari ini sedang terjadi Polar Night," Alden ke luar dan menatap langit.
"Apa itu Polar Night?" Bianca bertanya dengan penasaran.
"Polar Night adalah kondisi di mana siang hari di musim dingin seperti malam hari. Itu terjadi karena matahari berada pada 0 drajat. Ini sangat umum terjadi di bumi bagian utara ketika musim dingin," jelas Alden.
"Mengapa di Inggris tidak ada fenomena seperti ini?"
"Polar Night hanya akan terjadi di negara-negara yang terletak di dekat Kutub Utara seperti Norwegia, Finlandia, Greenland, Islandia dan Alaska. Kau harus bersyukur! Tidak semua orang dapat merasakan dan melihat fenomena Polar Night," Alden mulai membereskan tenda miliknya.
"Bersyukur bagaimana? Ini benar-benar seperti malam hari. Bagaimana kita akan pulang?" Bianca menggerutu.
__ADS_1
"Bersyukur lah untuk setiap yang terjadi pada hidupmu! Siapa tahu, kelak kau akan merindukannya," Alden terus membereskan tenda otomatis miliknya.
"Ayo kita berangkat!" Alden menggendong perlengkapan kemah yang sudah ia bereskan.
"Aku bawakan sleeping bagnya," Bianca mengambil sleeping bag dari tangan Alden.
Mereka pun mulai berjalan untuk sampai ke rumah yang letaknya lumayan jauh.
"Mengapa sangat sepi sekali?" Bianca bertanya dengan khawatir.
"Sepertinya penduduk lebih memilih untuk berdiam diri di rumah karena Polar Night yang sedang kita alami adalah Nautical Polar Night. Polar Night jenis ini mengakibatkan siang hari benar-benar menyerupai malam hari," papar Alden sembari terus berjalan.
"Oh begitu. Aku takut. Ini gelap," Bianca mempercepat langkahnya.
"Pelan-pelan!" Alden mengingatkan.
"Aku sangat kedinginan. Ini benar-benar dingin," Bianca merekatkan mantelnya.
"Iya, sepertinya suhu turun ke titik terendah hari ini," jawab Alden.
"Aku tidak tahan," Bianca terus mempercepat langkah kakinya.
Saat mereka melewati sebuah gunung yang diselimuti salju tebal, tiba-tiba sebuah bola salju menggelinding dari atas bukit.
Alden membulatkan penuh matanya saat ia melihat bola salju itu menggelinding dan Bianca tepat di bawahnya.
"Ca, awas!" Alden berteriak sambil berlari.
Bianca menghentikan langkahnya dan menatap bola salju yang sangat besar itu.
Kejadiannya begitu cepat, bola salju itu menggelinding dan mengenai tubuh Bianca. Bola salju itu seketika terpecah dan mengubur tubuh Bianca.
"Ca?" Alden berusaha menemukan Bianca. Ia menggali salju itu dengan panik.
"Ca, aku mohon jawab aku!" Suara Laden bergetar.
Alden terus menggali, ia kemudian melihat wajah Bianca. Alden pun menarik Bianca dari hamparan salju yang menutupi tubuhnya.
"Ca, aku mohon bangunlah!" Alden menepuk-nepuk pipi Bianca.
Terdengar lagi gelindingan bola salju yang sepertinya akan terjatuh kembali. Alden segera menggendong tubuh Bianca di punggungnya dan menggusur tenda dan sleeping bag miliknya.
"Rumah masih lumayan jauh," Alden berkata dengan terengah-engah.
Alden menurunkan Bianca saat mereka sudah melewati gunung.
"Ca?" Alden masih berusaha membangunkan Bianca yang masih belum sadar.
Sementara itu angin berhembus dengan sangat kencang. Salju pun turun semakin deras.
"Aku tidak bisa melanjutkan perjalanan. Nyawa Bianca taruhannya," Alden dengan cepat mendirikan tenda otomatisnya.
Ia menggendong Bianca ke dalam tenda. Alden menutup rapat tenda miliknya dan membuka sleeping bagnya kembali.
"Pakaiannya basah," Alden menyentuh baju Bianca yang basah.
Tangannya mulai melepaskan baju dan celana Bianca satu persatu. Kemudian Alden memasukan tubuh Bianca yang sudah polos ke dalam sleeping bag itu.
"Maafkan aku, Ca! Aku tidak bermaksud kurang ajar. Aku hanya ingin kau selamat. Pakaianmu akan membuat keadaanmu semakin memburuk. Jika kau terus memakainya, kau akan mengalami hipotermia," Alden menggosok-gosokan tangannya pada pipi Bianca.
"Bangunlah! Aku masih membutuhkanmu untuk menjadi asistenku," mata Alden tampak berkaca-kaca.
"Alden, dingin!" Bianca tersadar dan bergumam seperti orang yang mengigau.
"Tahanlah! Aku harap anginnya bisa segera berhenti."
"Dingin," Bianca bergumam lagi.
"Bagaimana ini? Aku sudah tidak memiliki kayu bakar," Alden berbicara sendiri.
"Aku tidak kuat," Bianca tampak menggigil.
"Apakah aku harus melakukan ini?" Alden mengusap wajahnya dengan kasar.
Alden pun melepaskan semua pakaian miliknya terkecuali pakaian d*lamnya. Kemudian ia ikut masuk ke dalam sleeping bag itu.
"Tubuhku panas, semoga ini bisa menghangatkanmu," bisik Alden. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Bianca dan memeluknya dari belakang. Alden tidak memikirkan hal yang lain, pikirannya berfokus agar Bianca bisa selamat.
Note : Jangan lupa mampir juga di novel author yang berjudul "Pernikahan Karena Dendam" 🤗
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...