
Nino menyobek undangan yang ada di tangannya, kemudian ia melemparkan undangan itu ke lantai. Wajahnya merah padam menahan amarah. Kecewa, marah dan sedih menjadi satu, saat tahu bahwa wanita yang selama ini ia tunggu akan menikahi pria lain.
Nino langsung ke luar dari rumahnya. Dengan terburu-buru, Nino masuk kembali ke dalam mobilnya. Nino akan menemui Odelia yang saat ini tinggal di kota London. Nino harus mendengar semuanya dari Odelia.
"Del, mengapa kau tega padaku?" Nino memukul-mukul setir mobilnya.
Nino melajukan mobilnya dengan pikiran dan perasaan yang kalut, masa lalunya bersama Odelia kembali teringat di kepalanya.
Flashback....
Sepulang sekolah, Nino membawa 3 batang cokelat untuk kekasihnya, Odelia. Nino dan Odelia sudah saling menyukai saat mereka kecil. Kedua orang tua mereka pun bersahabat. Nino mendatangi sekolah Odelia untuk memberikan cokelat yang baru saja ia beli.
Kebetulan hari ini di sekolah Odelia ada pensi, jadi siswa luar bisa masuk ke sekolah Odelia dengan bebas, karena pensi boleh di tonton oleh umum. Saat Nino berjalan untuk sampai di kelas Odelia, Nino melewati lapangan sekolah, dia melihat seorang anak laki-laki tengah menyatakan perasaannya kepada Odelia dan meminta Odelia untuk menjadi kekasihnya. Odelia pun menerima laki-laki itu menjadi kekasihnya. Nino pun segera mendatangi Odelia yang tengah berpelukan dengan kekasih barunya.
"Del, bisa kita bicara sebentar?" Pinta Nino dengan baik-baik.
"Dia kan anak SMA Auckland Hills?" Tunjuk kekasih Odelia kepada Nino.
"Dia tetanggaku. Sebentar ya?" Odelia mengelus tangan kekasih barunya.
Nino pun berjalan ke gerbang utama sekolah dan Odelia mengikutinya dari belakang.
"Mengapa kau mengkhianatiku?" Tanya Nino dengan wajah yang dingin.
"Mengkhianati apa? Ayolah, No! Kita kelas 1 SMA sekarang. Kita baru masuk awal remaja. Bersenang-senanglah!" Jawab Odelia dengan santai.
"Bukankah kau kekasihku?" Tanya Nino dengan wajah bingung.
"Iya, aku memang kekasihmu. Tapi kita akhiri saja dulu ya?" Pinta Odelia.
"Maksudmu?" Nino tampak tidak mengerti.
"No, kau ini sangat pecemburu! Aku tidak suka. Aku tidak bebas. Kita ini masih remaja, masih mencari jati diri. Usia kita pun baru 15 tahun. Wajar saja jika aku masih ingin mengenal laki-laki lain. Begini saja, kita akhiri hubungan kita agar kau tidak merasa aku mengkhianatimu. Kita bebas berpacaran dengan siapa pun, tapi ingat! Jangan memakai hati! Dan nanti setelah 27 tahun, mari kita menikah!" Tawar Odelia.
__ADS_1
"Kau menyuruhku juga untuk berpacaran dengan gadis lain?" Nino mengernyitkan dahinya heran.
"Iya. Bersenang senanglah! Kencanilah gadis sebanyak yang kau mau! Tapi ingat, kau harus menikah denganku, dan aku akan menikah denganmu nanti!" Jelas Odelia.
Hati Nino merasa sakit mendengar perintah dari Odelia, tapi ia pun bimbang harus bersikap seperti apa, karena Nino sangat mencintai Odelia.
"Baiklah," Nino menyetujui keinginan mantan kekasihnya.
Setelah hari itu, Nino menjadi seorang playboy dan suka bergonta ganti kekasih. Setiap kali melihat Odelia dengan laki-laki lain, membuat Nino ingin melampiaskan semuanya kepada perempuan lain. Tetapi dalam hatinya, Nino selalu menunggu di mana Odelia kembali padanya.
Setelah lulus kuliah, Odelia pun pindah ke kota London. Ayah Odelia meninggal dan ibunya menikah lagi dengan orang London. Setiap bulan, Nino selalu mengirim uang untuk biaya kuliah dan keperluan Odelia. Itu ia lakukan sampai Odelia menyelesaikan program masternya. Nino dan Odelia pun hanya saling sapa sekedarnya via telfon. Saat Nino mengingatkan akan janji Odelia, Odelia selalu mengelak dari pertanyaan Nino.
Kaivan dan Alden selalu menasehati Nino untuk melupakan Odelia. Mereka merasa Odelia hanya mempermainkan dan memanfaatkan Nino. Tapi, nasehat dari kedua sahabatnya tidak pernah didengar oleh Nino. Nino yakin, Odelia akan menikah dengannya saat nanti berusia 27 tahun.
*****
Setelah menyetir selama 1 jam lebih 40 menit, akhirnya Nino sampai di kota London. Ia langsung mendatangi rumah Odelia untuk meminta penjelasan. Bukankah dulu Odelia berkata jika ia akan menikah dengannya? Nino harus mencari jawabannya.
Odelia tampak terkejut melihat kedatangan Nino. Odelia segera berdiri dan menarik tangan Nino keluar dari rumahnya.
"Mau apa kau ke mari?" Tanya Odelia saat melihat Nino.
"Kita perlu berbicara."
"Baiklah, ayo duduk!" Odelia pun terduduk di kursi yang ada di halaman rumahnya.
"Apa maksudnya dengan undangan yang kau berikan padaku?" Nino menatap wajah wanita yang ada di hadapannya dengan serius.
"Masa kau tidak mengerti? Aku akan menikah," Odelia berdecak pelan.
"Bukankah kau selalu mengatakan jika kau akan menikah denganku?"
"No, aku seorang perempuan yang rasional. Ada seorang pria tampan dan mapan yang mau menikahiku. Masa aku harus menolak?" Tanya Odelia dengan santainya.
__ADS_1
"Mapan? Del, kau pun tahu bagaimana keadaan keluargaku. Keluargaku sudah jauh lebih dari kata mapan. Bukankah selama ini aku yang membiayai kuliah dan segala kebutuhanmu?"
"Kau tidak ikhlas?" Odelia menatap Nino dengan kesal.
"Bukan seperti itu. Del, aku pun mampu untuk memberikan apapun. Mengapa kau menikahi pria lain saat ini?"
"No, kau ini begitu naif! Kau belum memiliki perusahaan sendiri. Uang yang kau banggakan adalah milik kedua orang tuamu. Sedangkan calon suamiku memiliki perusahaannya sendiri dan tidak bergantung kepada kedua orang tuanya. Aku hanya realistis saja sebagai seorang wanita," jawab Odelia yang semakin membuat hati Nino bertambah sakit.
"Lalu, bagaimana dengan janjimu dulu?"
"Janji bodoh itu lagi! Lupakan janji itu! Itu hanya bualan yang dikatakan oleh anak kelas 1 SMA."
"Jika itu bualan, mengapa kau selalu memberikanku harapan palsu selama ini?" Nino menatap Odelia dengan sendu.
"Simple saja, aku butuh uang untuk biaya kuliahku," Odelia berterus terang.
Nino pun tertawa dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Odelia. Ia begitu tidak menyangka jika ucapan Alden dan Kaivan benar. Odelia hanya mempermainkan dan memanfaatkannya saja.
Nino segera berdiri dari duduknya, ia tidak mengatakan sepatah apapun lagi. Nino segera masuk ke dalam mobilnya dan pulang kembali ke kota Birmingham.
"Jadi, selama ini kau hanya mau uangku?" Nino berbicara sendiri di dalam mobilnya.
"Aku benci wanita!" Nino mencengkram kemudinya. Kemudian Nino menelfon Alden dan menceritakan semuanya.
Setelah sampai kota Birmingham, Nino pun mendatangi klub malam terbesar yang ada di kota itu.
"Aku benci padamu, Del! Selama ini aku selalu berharap kau menepati janjimu," Nino meneguk wine yang ada di tangannya dengan liar.
"Aku tidak akan menikah. Aku tidak mau menikah," Nino meracau di meja bar. Nino pun memecahkan botol-botol wine yang ada di klub. Seseorang yang mengenalnya langsung menelfon Alden dan memberitahukan keadaan Nino.
Alden dan Kaivan pun menjemput Nino di klub, mereka membawa Nino ke rumah Kai karena kedua orang tua Kai sedang tidak ada, istri Kai dan anaknya pun sedang menginap di rumah sahabatnya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...
__ADS_1