
"Kau?" Keduanya berteriak saat melihat wajah satu sama lain.
"Sedang apa kau di sini? Sedang mengemis atau sedang meminta sumbangan?" Alden memandang Bianca dengan tatapan merendahkan.
"Sedang apa kau di sini?" Bianca menghiraukan pertanyaan dari Alden.
"Kau ini bodoh apa bagaimana? Ini rumahku!" Alden menjawab dengan suara yang melengking.
"Alden, siapa di luar?" Terdengar seorang wanita mendekat ke arah pintu.
"Selamat sore, Nyonya!" Bianca menganggukan kepalanya sopan.
"Selamat sore. Kau asisten rumah tangga yang dikirimkan oleh agen?" Hannah, ibu dari Alden memandang Bianca dengan ramah.
"APA?" Alden berteriak.
"Iya, saya adalah asisten rumah tangga yang dikirimkan oleh agen yang ada di Edinburg," Bianca merasa senang melihat Hannah yang ramah.
"Masuklah!" Hannah menggandeng tangan Bianca.
"Ma, kau ini apa-apaan? Untuk apa dia bekerja di sini?" Alden menghadang jalan Hannah.
"Ya, karena kita perlu seorang asisten pribadi untukmu," jawab Hannah. Bianca tampak kaget mendengar ucapan Hannah. Apa maksudnya asisten pribadi untuk Alden?
"Ma, kau gila?" Alden berteriak.
"Sopanlah pada ibumu!" Hannah menggetok kepala Alden dengan tangannya.
__ADS_1
"Pak, jangan biarkan anak ini kabur lagi!" Kata Hannah kepada seorang penjaga yang ada di dalam rumah.
"Baik, Nyonya!" Penjaga itu mengangguk.
"Ayo, ikut aku!" Hannah kemudian membawa Bianca ke dalam ruang tamu dan menutup pintunya. Bianca melihat di ruang tamu itu sudah ada pria berusia paru baya yang tengah terduduk sambil membaca koran.
"Asistennya sudah datang?" Steve menyimpan koran yang sedang ia baca.
"Sudah, Pa. Ini orangnya!" Hannah memperlihatkan Bianca kepada Steve.
"Perkenalkan dirimu!" Pinta Hannah dengan senyumnya.
"Perkenalkan tuan, Nyonya, saya Bianca Calfert. Saya berasal dari kota Cambridge, tapi kini saya menetap di kota ini. Saya pernah bekerja sebagai office girl di salah satu apartemen yang ada di kota ini, jadi saya sudah terlatih untuk membersihkan rumah," Bianca memperkenalkan dirinya dengan canggung.
"Duduklah!" Pinta Steve. Bianca pun langsung terduduk di sofa yang ada di hadapan Steve. Sedangkan Hannah duduk di samping suaminya.
"Jika nyonya dan tuan memerlukan tenaga saya hari ini, maka saya siap untuk bekerja hari ini juga," jawab Bianca dengan semangat.
"Kau bisa bela diri?" Steve memperhatikan Bianca.
"Bisa, tuan. Saat SMA saya mengikuti ekstrakurikuler karate. Saya masih ingat beberapa gerakannya. Tapi, apa hubungannya ya, tuan?" Bianca tampak tidak mengerti.
"Jadi, begini. Kau tidak akan ditempatkan di rumah ini sebagai asisten rumah tangga biasa. Aku harus memulai dari mana ya?" Steve terlihat bingung.
"Biar aku saja yang menjelaskan," Hannah menoleh kepada Steve. Steve pun mengangguk.
Hannah berdiri kemudian ia mengeluarkan amplop cokelat dari dalam laci kecil yang ada di ruang tamu. Kemudian Hannah terduduk kembali.
__ADS_1
"Begini Bi, kami memiliki dua putra. Yang pertama bernama Aiden. Dia anak yang baik dan juga sangat membanggakan orang tua. Dia penurut juga tidak pernah membangkang. Kelakuannya tidak pernah aneh. Lalu, Aiden memiliki adik yang bernama Alden. Alden ini sangat berbeda dari kakaknya, dia sangat pembangkang dan juga sering berbuat ulah," Hannah membuka amplop itu dan mengeluarkan beberapa foto.
"Dia memiliki pergaulan yang sangat bebas," Hannah memberikan foto anaknya kepada Bianca.
Bianca menatap foto itu satu persatu. Foto itu memperlihatkan Alden yang tengah di klub malam dan sedang minum, foto lainnya memperlihatkan Alden yang tengah bersama seorang wanita yang tak lain adalah Fiona masuk ke dalam apartemen. Bianca masih belum bisa menangkap apa inti dari pembicaraan mereka.
"Sudah seharian ini kami mengurungnya di rumah. Kunci apartemennya pun telah kami sita Jadi, kami akan memperkerjakanmu sebagai asisten pribadi Alden. Tugasmu adalah ikut kemana pun dia pergi dan mencegah Alden untuk bertindak di luar batas. Lalu, menyiapkan semua keperluannya. Kami tidak ingin dia terus hidup bergonta ganti wanita, kami takut akan kesehatannya. Kami takut penyakit akan datang pada putra bungsu kami, kami pun takut alkohol merusak tubuhnya," jelas Hannah dengan detail.
"Maaf, Nyonya! Saya tidak yakin bisa mencegah Alden untuk tidak minum dan tidur bersama wanita lagi," Bianca seperti menyerah sebelum bertarung. Ia sangat tahu dirinya dan Alden tak pernah akur.
"Kau hanya perlu bersikap tegas padanya. Tenang saja! Kami tahu putra kami, dia tidak akan berani terhadap seorang wanita. Jika dia memberontak, kau bisa memukulnya," Hannah menatap Bianca penuh harap.
"Kami akan membayarmu tiga kali lipat," Steve menambahkan.
"Kau hanya perlu menemani ke mana pun Alden pergi. Ini angka untuk bayaranmu. Apakah cukup?" Hannah menuliskan angka di sebuah kertas
Bianca pun tampak goyah ketika melihat gaji yang ditulis oleh Hannah. Gajinya 10 kali lipat lebih besar dari pada ia menjadi seorang office girl.
"Saya bersedia," Bianca akhirnya memutuskan.
"Untuk memaksimalkan kerjamu, kau harus tinggal di sini. Supir kami akan mengantarkanmu untuk mengurus segala kepindahanmu," Steve terlihat senang.
"Baik, tuan. Saya akan segera bersiap untuk pindah ke rumah ini," Bianca mengangguk.
"Sebenarnya aku tak sudi berdekatan dengan pria itu. Tapi apa boleh buat, Aku butuh uang untuk adik-adikku. Jika aku tidak bekerja, pilihan terakhirku adalah pulang ke kota Cambridge dan menjadi beban papa lagi. Aku tidak mau itu terjadi. Jadi, aku akan bekerja untukmu, Alden ! aku akan berusaha untuk menjinakanmu agar kau tidak terus terjerumus ke dalam lembah hitam !" batin Bianca.
...Author ucapkan terima kasih kepada kalian yang sudah membaca, memberikan like, komentar, hadiah, vote untuk author. Semoga hari kalian selalu menyenangkan readers. Jaga selalu kesehatan kalian ya. 🤗...
__ADS_1