Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Nama Kontak Tifanny


__ADS_3

Tifanny sedang duduk di atas kasur dengan memangku laptop di pangkuannya. Tifanny sedang merevisi proposal yang dicorat-coret oleh Justin saat bimbingan tadi sore. Tifanny ingin segera menyelesaikan proposalnya, sehingga dia bisa daftar untuk sidang ujian proposal. Tifanny ingin lulus cepat agar ia bisa membantu Nino untuk bekerja.


"Fann, ini sudah pukul sebelas malam. Sebaiknya kau segera tidur," Nino merampas laptop yang ada di pangkuan istrinya.


"Tanggung sedikit lagi. Sebentar lagi selesai," Tifanny hendak mengambil kembali laptop miliknya dari tangan Nino.


"Aku bilang tidur! Masih ada hari esok," perintah Nino dengan tegas.


"Baiklah," Tifanny menurut.


Nino segera mematikan laptop milik Tifanny dan menyimpannya di atas meja belajar istrinya. Kemudian Nino langsung berbaring di atas kasur.


"Kemarilah!" Ucap Nino kepada Tifanny yang masih terduduk.


Tifanny segera merangkak dan tidur di sisi Nino. Tifanny menjadikan tangan Nino untuk menopang kepalanya.


"Kau lelah?" Nino mengusap-ngusap rambut Tifanny.


"Tidak. Aku justru kasihan padamu. Kau sudah bekerja dan menjemputku tadi ke kampus," Tifanny menatap mata suaminya.


"Aku tidak lelah, lagi pula aku datang ke kampus dengan naik mobil, bukan merangkak atau pun mengesot untuk sampai ke kampusmu," Nino tersenyum.


"Jawabanmu sangat menyebalkan!" Tifanny mencebikan bibirnya.


Saat mereka tengah asik mengobrol, suara ponsel Tifanny terdengar yang menandakan adanya pesan masuk.


"Sebentar," Tifanny langsung mengambil ponselnya dan membaca pesan masuk itu.


"Siapa?" Tanya Nino dengan penasaran.


"Justin," jawab Tifanny pelan.


"Mana aku lihat?" Nino menadahkan tangannya. Tifanny pun langsung memberikan ponsel miliknya kepada Nino.


"Hai, Fann! Ini aku Justin, apakah Nino sudah tidur? Aku ingin mengobrol denganmu."


Nino segera menghapus pesan yang dikirimkan oleh Justin.


"Untuk sementara kita tukar pakai ponsel dulu ya?" Pinta Nino kepada Tifanny.


"Kenapa?"


"Agar pria ini tidak bisa modus kepadamu. Jika hanya memblokir nomornya, aku khawatir dia memakai nomor yang lain untuk menghubungimu," tutur Nino dengan khawatir.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengkhianatimu. Tenanglah!" Tifanny menenangkan suaminya.


"Aku hanya tidak ingin memberikan celah dan kesempatan kepada seorang pria yang ingin mencuri istri orang lain," jawab Nino dengan tegas.


"Kalau begitu kau boleh mengambil ponselku. Mana ponselmu?" Tifanny menggerak-gerakan tangannya. Ia sungguh tidak sabar ingin segera memeriksa semua pesan maupun chat di ponsel suaminya.


Tanpa ragu Nino segera menyerahkan ponsel miliknya kepada Tifanny. Tifanny tersenyum gembira dan segera membuka ponsel Nino. Akan tetapi, Tifanny tidak dapat membuka ponsel itu karena Nino memberikan pengaman berupa sidik jari di ponselnya


"Ini di kunci. Apa ada sesuatu di dalam ponselmu?" Tifanny menatap Nino dengan curiga.


"Tidak ada," Nino menggelengkan kepalanya, kemudian ia membuka kunci dengan sidik jarinya.


"Jangan dikunci lagi ya? Aku akan kesulitan jika setiap membuka ponsel ini harus memakai jarimu," keluh Tifanny.


"Baiklah. Aku ganti dulu kunci ponselnya dengan pola," Nino mengambil ponsel miliknya dan segera mengganti kunci keamanan.


"Sudah. Polanya seperti ini!" Nino memperlihatkan pola barunya dan memberikan kembali ponsel itu kepada Tifanny.


"Terima kasih," Tifanny tersenyum senang.


Tifanny segera menekan menu pesan dan membaca semua pesan yang ada di ponsel suaminya.


"Mengapa isinya hanya dari operator dan juga penawaran produk?" Tanya Tifanny dalam hatinya.


Tifanny pun segera membuka aplikasi chatting berlogo telfon hijau. Tifanny melihat deretan pesan yang ada di dalam aplikasi chatting Nino.


"Hey, Nino.. Selamat untuk pernikahanmu hari ini, aku yakin kau menikah karena ingin membalasku kan? Sayangnya aku tidak sakit hati karena aku sudah mendapatkan suami yang lebih segalanya darimu. Kasihan sekali istrimu hanya dijadikan pelampiasan," bunyi pesan dari Odelia.


Tifanny langsung bersedih membaca pesan dari Odelia. Kemudian Tifanny menyimpan ponsel Nino di atas nakas dan segera berbaring dan menyelimuti tubuhnya.


Nino memperhatikan Tifanny yang dari tadi diam dan membelakanginya.


"Aku menikahimu bukan karena ingin membalas Odelia," Nino langsung memeluk Tifanny.


"Aku juga tidak menjadikanmu pelampiasan atau apapun itu. Aku memang menikahimu agar aku terbebas dari perjodohan yang diatur kedua orang tuaku. Tetapi percayalah! Aku menikahimu karena aku yakin kau yang terbaik untukku," ucap Nino lagi. Ia seolah tahu apa yang membuat ekspresi Tifanny berubah dalam sekejap.


Tifanny segera membalikan tubuhnya menghadap Nino.


"Benar?" Tanya Tifanny dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, tentu saja. Aku sudah tidak peduli dengan Odelia," Nino mencium kening istrinya.


"Aku percaya padamu. Tapi tunggu! Aku ingin mengetahui kau memberikan nama apa untuk nomor kontak ku," Tifanny bangun lagi dan segera mengecek menu kontak.

__ADS_1


Tifanny tersenyum saat melihat Nino memberikan nama "Istri Kesayangan Nino" untuk nomor kontak miliknya.


"Jadi aku istri kesayanganmu?" Tifanny tersenyum senang.


"Iya, Tifanny adalah istri kesayangan Nino. Masa iya istri kesayangan Kaivan atau Alden," Nino tersenyum senang saat melihat mood Tifanny membaik lagi.


"Tunggu! Ini apa? Mengapa kontakmu seperti asrama putri?" Tifanny melihat daftar kontak yang lain.


"Asrama putri?" Nino bertanya dengan bingung.


"Iya, ini banyak sekali nomor wanita di sini. Bella, Rose, Camelia, Elle, ah ini banyak sekali!" Tifanny terus menscroll ke bawah untuk melihat nama-nama wanita yang ada di ponsel Nino.


"Fann, itu kan nomor teman-temanku dan juga mantan-mantanku. Aku memang tidak pernah menghapus nomor mereka. Aku tidak pernah lagi berinteraksi dengan mereka. Nanti aku hapus ya?" Nino tampak membujuk Tifanny.


"Benar kau tidak pernah berkomunikasi lagi dengan mereka?" Tifanny mengintrogasi.


"Tentu saja," Nino mengangguk cepat.


"Baiklah, aku percaya padamu," Tifanny menyimpan kembali ponsel Nino di atas nakas dan kemudian berbaring kembali.


"Kau cemburu?" Nino memeluk Tifanny dengan erat.


"Tidak. Mengapa aku harus cemburu?" Tifanny berkilah.


"Yakin? Kau cemburu kan melihat banyak kontak wanita di ponselku?" Nino tidak menyerah untuk menggoda Tifanny.


"Tidak, aku tidak cemburu," Tifanny menaikan selimutnya sampai ke kepala.


"Benar kau tidak cemburu? Baiklah, aku akan menghubungi mantan kekasihku lagi," pancing Nino.


"Jangan! Jangan menghubungi mereka lagi!" Tifanny keluar dari selimut dan memelototkan matanya.


"Awas saja jika kau menghubungi mereka lagi!" Ancamnya.


"Tuhkan kau cemburu!" Nino tertawa melihat raut wajah istrinya.


"Tidak. Aku tidak cemburu," kilah Tifanny lagi.


"Benar?"


"Benar. Untuk apa aku cemburu?" Jawab Tifanny dengan gugup.


"Sudahlah, ayo kita tidur!" Tifanny segera mendekap tubuh Nino. Ia seperti memiliki kenyamanan dan kedamaian tersendiri saat memeluk suaminya.

__ADS_1


"Sangkal terus, Fann! Tanpa kau sadari, kau sudah jatuh cinta lagi padaku," kata Nino di dalam hatinya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2