
Semua penghuni rumah sudah duduk di meja makan untuk acara makan-makan hari ini. Bianca pun ikut duduk di sana karena dipaksa oleh Hannah tadi pagi. Ada pula Cassie yang diundang oleh Hannah untuk acara makan-makan di keluarganya. Sementara itu Alden tampak resah di kursinya.
"Kenapa belum juga datang?" Alden celingak celinguk mencari keberadaan supirnya yang sedang membawa Bobby.
"Kau kenapa? Duduklah dengan benar!" Hannah memelototkan matanya kepada Alden.
"Iya, Ma."
"Sepertinya ada yang salah dengan bok*ongmu," bisik Bianca yang duduk di sebelah Alden.
"Diamlah kau gadis udik!" Alden memandang Bianca dengan sorot mata yang tak bersahabat.
Tak lama, terdengar suara bel berbunyi. Raut wajah Alden langsung berbinar ketika mendengar suara bel itu.
"Itu pasti si sugar daddy," kata Alden dalam hatinya dengan ceria.
"Biar aku yang buka," Alden berdiri dengan cepat saat Hannah akan pergi ke arah pintu.
Alden pun berjalan dengan girang menuju pintu.
"Anakmu kenapa?" Steve menoleh ke arah istrinya. Sedangkan Hannah hanya mengangkat bahunya.
"Hallo tuan!" Sapa Alden saat membuka pintu.
"Hallo, mana Bianca ya?" Tanya Bobby. Alden memang memerintahkan supirnya menyebut nama Bianca saat menjemput Bobby.
"Ada di dalam. Ayo masuk!" Ajak Alden dengan suka cita.
Mereka pun masuk ke dalam ruang makan. Bianca membulatkan matanya saat melihat kedatangan ayahnya.
"Pa-" Bianca akan berteriak papa tetapi dihentikan oleh Alden.
"Diam kau!" Potong Alden.
"Bobby, kaukah itu?" Steve berdiri dari duduknya.
"Steve?" Raut wajah Bobby terlihat sumringah.
Steve pun berjalan mendekati Bobby.
"Bagaimana kabarmu?" Steve meninju pelan tangan Bobby.
"Aku baik-baik saja. Sudah lama tidak bertemu," jawab Bobby. Mereka pun berpelukan erat.
"Bobby? Bagaimana kabarmu?" Hannah ikut berdiri dari duduknya dan memeluk Bobby.
"Baik, Han. Aku tidak mengira kalian ada di kota ini," timpal Bobby.
"Tunggu, ada apa ini?" Alden terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Den, ini paman Bobby. Dia sahabat papa saat SMA. Dulu saat SMA kami memperebutkan mamamu," Steve tertawa saat mengingat masa lalunya.
"Tetapi Hannah akhirnya memilihmu dan aku menikahi sahabat Hannah," Bobby tertawa.
Steve dan Hannah pun ikut tertawa mendengar perkataan Bobby.
"Siapa yang membawamu ke mari?" Tanya Steve kepada Bobby.
"Katanya aku diundang dalam acara keluarga Steve. Aku begitu bingung, karena nama Steve tidak hanya satu. Tetapi aku memutuskan untuk datang setelah supirmu menyebut nama Bianca," jelas Bobby.
"Nah ini masalahnya Ma, Pa!" Alden mendekat ke arah mereka.
"Masalah apa?" Tanya Steve tidak mengerti.
"Om ini adalah sugar daddynya Bianca. Jadi, Alden membawanya ke mari karena ingin menbuktikan bahwa gadis itu!" Alden menunjuk Bianca.
"Gadis itu bukan asisten pribadi yang baik untuk Alden. Mama memberikan misi padanya agar dia mencegah Alden untuk tidak bersama dengan wanita lagi dan tidak meminum alkohol lagi. Nyatanya kelakuannya sangat binal Ma, Pa! Bianca ini adalah simpanan dari om Bobby, iya kan om Bobby?" Alden melirik Bobby.
"Kenapa kau menyebut Bianca adalah simpananku?" Tanya Bobby dengan menahan tawanya.
"Karena Alden melihat Bianca bermesraan dengan om Bobby di halte bus lalu Bianca meminta uang kepada om Bobby. Bukankah itu tidak lazim? Seorang gadis muda bermesraan dengan pria paruh baya di halte bus dan meminta uang. Ya, jika bukan simpanannya apa lagi kan?" Alden masih beragumen.
"Benarkah itu Bob?" Steve dan Hannah memandang Bobby.
"Jadi, begini. Bianca adalah putriku. Waktu di halte, aku harus pulang ke kota Cambridge kembali. Bianca bekerja di kota ini, sedangkan aku, istriku dan adik-adik Bianca tinggal di kota Cambridge," jelas Bobby.
Hannah dan Steve tampak terkejut. Terlebih lagi Alden.
"Mana ada sugar daddy sepertiku. Aku hanya seorang buruh pabrik di kota Cambridge," Bobby tertawa.
"Om Bobby berbohong, Pa!" Alden tampak mulai gugup.
Bobby pun merogoh ponsel miliknya di saku celana.
"Ini foto keluargaku!" Bobby memperlihatkan foto keluarga di ponselnya. Tentu saja ada Bianca di sana.
"Tapi-" Alden begitu terkejut saat melihat foto itu.
"Dasar anak tidak berguna!" Hannah mengambil sapu dan memukulkannya ke tubuh Alden.
"Ampun, Ma! Sakit!" Alden menghindar dari sabetan sapu itu.
Cassie, Aiden dan Bianca yang menonton tertawa melihat Alden yang dipukuli Hannah.
"Minta maaf pada paman Bobby dan Bianca, ayo!" Hannah memelototkan matanya.
"Aku tidak mau," Alden berlari dan masuk ke dalam kamarnya.
"Bobby, aku benar-benar minta maaf untuk kelakuan putraku. Dia memang sangat menyebalkan," Hannah tampak tidak enak dengan Bobby.
__ADS_1
"Tidak masalah, Han. Aku memakluminya," Bobby tersenyum.
"Jadi, kalian majikan baru putriku?" Tanya Bobby.
"Iya. Bianca bekerja di rumah kami," jawab Steve.
"Syukurlah, Bianca bekerja di tempat orang baik seperti kalian," Bobby merasa lega.
"Kau ini berlebihan," Hannah dan Steve tertawa.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" Bobby mendekat ke arah Bianca.
"Bianca sangat baik. Papa bagaimana? Papa kan masih sakit," Bianca berdiri dan memeluk Bobby.
"Papa sudah baikan, papa kira terjadi sesuatu hal yang buruk padamu," Bobby mengelus-ngelus punggung putri sulungnya.
"Ayo Bobb duduklah!" Steve menarik
kursi bekas duduk Alden. Bobby pun duduk di samping Bianca.
"Aku benar-benar minta maaf atas perbuatan anak tidak berguna itu!" Gerutu Hannah kembali.
"Tidak apa-apa, Hannah. Bukankah bagus? Karena kelakuan Alden, kita bisa bertemu?"
"Kau benar!" Steve tersenyum.
"Om kenalkan, aku Aiden dan ini calon tunanganku," Aiden memperkenalkan dirinya dan Cassie kepada Bobby dengan ramah.
"Senang bertemu denganmu Aiden. Kau sangat mirip dengan ayahmu."
"Iya. Aiden memang sangat mirip denganku. Sebentar aku panggilkan Alden dulu!" Steve berlalu menuju kamar Alden.
Sebelum menuju kamar anaknya, Steve pergi ke kamar miliknya untuk mengambil ikat pinggang/sabuk miliknya.
"Alden! Ke luar kamu!" Steve mengetuk pintu kamar putra bungsunya.
"Ada apa, Pa?" Alden ke luar dengan wajah yang malas.
"Minta maaf pada paman Bobby dan kepada Bianca!" Titah Steve.
"Alden tidak mau," Alden melipat tangannya di dada.
"Papa bilang minta maaf pada mereka!" Steve menggerakan ikat pinggang yang ada di tangannya.
"I-iya, Pa. Alden akan minta maaf," Alden menatap ikat pinggang ayahnya dengan takut.
Alden pun berlari meninggalkan Steve karena takut dipukul oleh ayahnya dengan ikat pinggang.
"Untung saja aku menemukan sabuk ini. Kelihatannya pinggangku mengecil hingga celanaku sedikit kedodoran," Steve memakaikan ikat pinggang itu di celananya.
__ADS_1
...Jangan lupa untuk mampir di novel author yang satu lagi ya. Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komen atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...