Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Menginap


__ADS_3

"Hallo sayang!" Ucap Nino saat Tifanny membuka pintunya.


Tifanny melihat penampilan Nino sangat berantakan dan bau alkohol menyeruak dari mulutnya.


"Mau apa kau ke mari? Pergi!" Tifanny mendorong tubuh Nino hingga pria itu terjungkal ke lantai.


"Fann!" Lirih Nino tetapi matanya terpejam.


"Pulanglah!" Tifanny menutup kembali pintu rumahnya.


Tifanny segera masuk ke dalam kamar. Ia memejamkan matanya untuk tidur, tetapi tak bisa.


1 jam kemudian...


"Apa dia sudah pulang?" Tifanny bangun dari kasurnya dan membuka pintu depan lagi. Saat pintu terbuka, ia masih melihat Nino tergeletak di lantai teras rumahnya.


"Kau benar-benar menyusahkanku!" Tifanny langsung membantu Nino berdiri.


Ia memapah Nino masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di sofa.


"Aku menemukanmu. Dari kemarin aku membuntutimu," racau Nino dengan tawanya.


"Aku mencarimu karena aku merasa bersalah. Maafkan aku! Aku benci Odelia. Aku hanya ingin melampiaskan rasa sakit hatiku," racau Nino dengan mata terpejam.


"Odelia? Siapa Odelia?" Tifanny bertanya dengan penasaran.


"Aku cinta Odelia," lirih Nino.


Hati Tifanny merasa sakit mendengar perkataan Nino.


"Aku kira selama ini aku cukup spesial untukmu," Tifanny tersenyum getir.


"Sudahlah, mengapa aku harus sakit hati? Tidak penting sekali, aku tidak punya waktu untuk cinta-cintaan. Aku harus mencari uang yang banyak untuk adikku," Tifanny berlalu dari hadapan Nino. Ia mengambil selimut dan juga bantal.


Tifanny melepaskan sepatu Nino dan menyelimuti tubuhnya. Dengan hati-hati, ia juga menyimpan bantal di bawah kepala Nino.


Tifanny segera masuk ke dalam kamar lagi dan kali ini ia mengunci pintu kamarnya. Tifanny takut Nino sadar dan kurang ajar lagi.


"Odelia? Siapa Odelia?" Gumam Tifanny sembari menatap lampu kamarnya, tak lama ia pun tertidur.


****


Nino membuka kedua kelopak matanya, ia melihat dirinya sedang berbaring di sebuah sofa yang asing.

__ADS_1


"Aku di mana?" Nino menyentuh kepalanya yang berputar-putar. Semalam, Nino memang pergi ke klub untuk minum lagi.


Setelah kejadian melecehkan Tifanny, Nino merasa bersalah. Ia memesan pizza lagi, tapi bukan Tifanny yang mengantar. Akhirnya Nino pergi ke tempat Tifanny bekerja dan membuntuti gadis itu diam-diam. Nino melakukan itu agar ia dapat bertemu dengan Tifanny dan meminta maaf.


"Apakah ini rumah Fanny?" Nino memperhatikan rumah minimalis yang sangat terawat dan bersih itu.


Nino berusaha berdiri dan mencari keberadaan Tifanny.


"Fann, di mana kamu?" Nino berteriak mencari keberadaan Tifanny.


Nino memasuki semua ruangan, tetapi ia tidak juga menemukan Tifanny.


"Aku pergi bekerja. Makanlah! Ini akan membantumu menghilangkan rasa pusing di kepalamu," Nino membaca secarcik kertas di atas meja makan saat ia masuk ke dalam dapur.


Nino tersenyum melihat pesan dari Tifanny, kemudian ia segera duduk dan melahap makanan buatan Tifanny.


"Enak!" Ucap Nino saat ia mencicipi masakan gadis itu.


Setelah makan, Nino langsung memakai sepatunya dan ke luar dari rumah Tifanny. Saat Nino menutup pintu depan, ia menemukan pesan lagi yang Tifanny tempel di pintu.


"Kunci pintunya dan simpan kuncinya di bawah keset! Jika kau sudah membacanya, segera buang kertas ini," Bunyi pesan itu.


Nino segera mengunci pintu dan memasukannya ke bawah keset. Nino pun mengambil pesan itu dan segera pergi dari rumah Tifanny. Nino langsung melajukan mobilnya ke arah kediamannya.


"No?" Eliana menyambut kedatangan putranya.


"Mommy? Ku pikir mommy tidak ada di sini."


"Kau sudah tahu tentang pernikahan Odelia?" Tanya Eliana dengan hati-hati.


"Sudahlah, mom. Tidak usah di bahas!"


"Kau segera susul Odelia! Menikahlah dengan Fiona! Dia gadis yang baik dan juga mommy sudah tahu latar belakang keluarganya. Dia juga seorang jaksa muda. Kau akan sangat beruntung mendapatkan wanita seperti dia."


"Aku tidak mau menikah, Mom. Aku tidak mau berkomitmen dengan siapa pun," Nino langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Bagaimana ini?" Eliana berkata dengan cemas.


Tak berselang lama bel rumah Nino berbunyi. Nino yang sedang memainkan ponselnya langsung berlari ke pintu depan untuk membuka pintu.


"Fann?" Seru Nino saat membuka pintu.


"Maaf, tuan. Saya mengantarkan pizza menggantikan Fanny hari ini," ucap gadis pengantar pizza itu.

__ADS_1


Nino merasa sangat kecewa karena yang mengantar pizza pesanannya bukanlah Tifanny.


"Oh iya, terima kasih," tutur Nino dengan tidak bersemangat.


"Sama-sama, tuan!" Gadis itu segera pergi dari hadapan Nino.


"Mengapa aku sangat susah untuk menemuimu, Fann?" Nino bergumam sambil menatap pizza yang ada di tangannya.


"No? mommy perhatikan akhir-akhir ini kau sering sekali memesan pizza?" Tanya Eliana yang melihat Nino memegang 3 dus pizza di tangannya.


"Mommy ingin? Ambilah!" Nino menyerahkan pizza itu ke tangan ibunya.


Nino segera masuk kembali ke dalam kamar, Eliana mengikuti putra sulungnya itu.


"No?" Eliana terduduk di kasur Nino.


"Mommy ingin memaksaku lagi untuk menikah?" Nino berdecak pelan.


"Mommy ingin segera memiliki cucu. Usiamu sudah cukup untuk menikah. Menikah ya dengan Fiona?" Bujuk Eliana.


"Mom, kau yakin Fiona gadis yang baik? Dia sangat agresif kepadaku."


"Agresif bagaimana? Itu tidak mungkin. Dia gadis baik dan berpendidikan. Orang tuanya berkata jika Fiona belum pernah berpacaran. Jadi, kau tidak perlu khawatir. Dia tidak tersentuh oleh pria mana pun," Eliana berusaha meyakinkan Nino.


"Aku tidak yakin sekali dia belum pernah berpacaran," Nino menaikan sebelah sudut bibirnya ke atas.


"Ayolah, Mom! Nino ini berpengalaman. Aku tahu bagaimana sikap gadis yang tidak pernah berpacaran dan yang sudah pernah berpacaran," Nino langsung terbayang wajah Tifanny.


"Dia bahkan menyodorkan dirinya kepadaku, Mom. Aku tidak suka wanita yang terlampau agresif. Wanita seperti itu hanya untuk bermain-main saja," lanjut Nino.


"Sayang, Fiona bertindak seperti itu karena ia yakin kamu adalah calon suaminya. Percayalah kepada mommy! Dia seorang wanita yang baik," Eliana terus berusaha.


"Sudahlah, Mom. Nino tidak akan mau menikah."


"Kau harus mau. Mommy dan Daddy sudah merencakan pertunanganmu 2 minggu lagi. Setelah bertunangan dengan Fiona, kami akan segera melangsungkan pernikahanmu," Eliana mengambil keputusan.


"Mom, kau tidak bisa seperti itu. Aku yang akan menjalani rumah tangga itu. Mommy tega aku tersiksa hidup bersama gadis yang tidak aku cintai?" Nino meninggikan suaranya.


"Masa bodoh dengan cinta. Mommy pun dulu dengan Daddymu di jodohkan. Tak berapa lama, cinta itu hadir di antara kami. Cinta akan datang dengan sendirinya."


"Kalau begitu mommy saja yang menikah dengan Fiona!" Seru Nino dengan asal.


"Jangan bertindak tidak sopan terhadap mommy mu! 2 minggu lagi kau harus bertunangan dengan Fiona dan mommy tidak mau tahu, kau harus mau," Eliana segera berdiri dan meninggalkan kamar putranya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2