
"Kau bisa menyetir kan?" Tanya Hannah sebelum Bianca keluar dari ruang tamu.
"Bisa, Nyonya. Dulu saat ayah saya memiliki usaha toko kue, kami memiliki mobil," jawab Bianca.
"Bagus! Nanti saya akan memberikan kunci mobil milik Alden untukmu. Kau yang mengambil alih mobilnya," tutur Hannah.
"Baik, nyonya."
"Jangan panggil saya Nyonya! Aku lihat di CV yang dikirimkan oleh agen, kau seumuran dengan Alden. Panggil saja aku ibu!" Pinta Hannah kepada Bianca.
"Baik, bu." Kata Bianca dengan canggung.
"Kalau begitu, supir kami akan mengantarkanmu untuk mengambil semua barang-barang."
Bianca pun mengangguk dan segera di antar ke rumah milik Tifanny oleh supir yang ada di rumah Hannah.
Setelah membereskan semua barangnya, Bianca pergi ke rumah Tifanny dan Nino untuk memberitahukan kepindahannya juga untuk memberikan kunci rumah milik Tifanny.
"Bi!!!" Tifanny berteriak senang saat melihat sepupunya datang.
"Fann!!" Bianca berlari menghambur memeluk Tifanny.
"Aku merindukanmu. Mengapa kau jarang sekali menemuiku?" Tifanny mencebikan bibirnya.
"Aku takut mengganggumu. Aku pun malu jika harus setiap hari menjengukmu ke sini dan aku menghemat uang, jadi aku tidak pergi ke mana-mana," Bianca berbisik.
"Hey, mengapa kalian berbisik-bisik seperti itu?" Nino muncul turun dari tangga.
"Nino, ini sepupuku yang tinggal bersamaku sebelum aku menikah," ujar Tifanny kepada suaminya.
"Iya, kan kita sudah pernah bertemu sebelumnya saat mempersiapkan pesta pernikahan," Nino tersenyum.
Bianca pun mengangguk sopan.
"Duduklah!" Tifanny menggandeng tangan Nino untuk duduk di sebelahnya.
"Jadi, apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu untukmu?" Tanya Nino dengan ramah, karena menurutnya saudara Tifanny adalah saudaranya juga.
"Jadi begini, aku sudah dipecat menjadi office girl apartemen. Untungnya aku langsung mendapatkan pekerjaan menjadi asisten rumah tangga. Nah majikan baruku mengharuskan aku untuk tinggal di sana. Jadi, aku izin mengembalikan kunci rumahmu, Fann. Terima kasih selama ini kau sudah berbaik hati mengizinkan aku untuk tinggal di rumahmu. Bukan aku tidak betah, hanya saja pekerjaan baruku mengharuskanku untuk tinggal di sana," jelas Bianca dengan nada yang sedih.
"Tidak apa-apa. Bi, kau yakin akan bekerja sebagai asisten rumah tangga?" Tifanny tampak iba dengan nasib sepupunya.
"Tidak apa-apa, Fan. Lagi pula aku menjadi asisten pribadi anaknya."
"Kalau kau mau, aku bisa meminta daddy agar menerimamu sebagai pekerjanya. Kami membutuhkan pekerja di bagian administrasi," Nino tampak menawari.
"Terima kasih, tuan. Bukan saya tidak menerima, tetapi terlanjur sudah bilang iya terhadap majikan saya yang baru," Bianca merasa tidak enak jika diberi pekerjaan oleh Nino.
"Baiklah, jika itu keputusanmu," jawab Nino.
"Aku hanya bisa mendoakan semoga kau nyaman dengan pekerjaan barumu. Jangan lupa untuk selalu mengunjungiku ya?"
"Iya, Fann. Kau tenang saja! Di mana Meghan dan om David?" Mata Bianca menyusuri sudut ruangan mencari Meghan dan David.
"Meghan sedang kerja kelompok bersama temannya. Papa sudah bekerja kembali di rumah sakit," timpal Tifanny.
"Syukurlah, Fann. Aku ikut senang om David sekarang sehat lagi dan kembali bekerja. Kalau begitu, aku pamit pergi ya?" Bianca berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Tifanny dan Nino pun mengantarkan Bianca sampai depan.
"Terima kasih untuk semuanya, Fann! Kau keluargaku yang ku punya di kota ini" Bianca memeluk Tifanny sebelum pergi. Sudut matanya terlihat basah.
"Sama-sama, Bi. Terima kasih juga ya dulu kau sudah mau tinggal bersamaku," Tifanny balas memeluk sepupunya.
"Aku akan mengunjungimu. Aku berjanji," Bianca melepaskan pelukannya.
"Tuan, saya izin pamit!" Pamit Bianca kepada Nino.
"Hati-hati di jalan! Semoga pekerjaanmu menyenangkan!" Balas Nino.
Bianca pun melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya.
"Sepertinya aku kenal mobil itu," gumam Nino sambil memperhatikan mobil yang mulai melaju.
****
Supir Hannah membantu Bianca menurunkan barang-barangnya dan mengangkut ke dalam rumah.
"Dia siapa, Ma?" Tanya Aiden yang baru tiba di rumah.
"Itu asisten pribadi Alden, sayang. Mama ke dalam dulu," jawab Hannah kepada putra sulungnya.
Aiden mengangguk kemudian ia memperhatikan Bianca yang memunggunginya, kemudian Bianca berbalik sambil membawa barang-barangnya.
"Bianca?" Seru Aiden saat melihat Bianca.
"Tuan Aiden?"
"Jadi, kau asisten pribadi untuk Alden?" Aiden mendekat ke arah Bianca.
"Kalau begitu selamat bergabung bersama keluarga kami. Aku harap kau betah dan nyaman," tutur Aiden dengan tulus.
"Terima kasih, tuan."
"Dia sangat berbeda dengan pria menyebalkan itu. Mengapa aku tidak menjadi asisten pribadinya Tuan Aiden saja ya? Sudahlah, faktanya aku menjadi asisten pemuda kurang ajar itu."
Tengah malam....
Alden mengendap ngendap keluar dari kamarnya. Ia berjalan sangat pelan agar tidak membangunkan orang yang ada di dalam rumah.
"Selamat tengah malam, tuan!" Seru seorang gadis dari ruangan yang ada di sebelah kamar Alden.
"Kau!!!" Alden berbisik dengan geram.
"Kau mau ke mana, tuan? Kunci mobilmu ada padaku!" Bianca mengangkat kunci mobil milik Alden.
"Kemarikan!" Alden menggeram kesal.
"Tidak. Sebaiknya anda masuk lagi ke dalam kamar anda!" Perintah Bianca dengan tegas.
"Aku harus pergi ke suatu tempat. Ini penting," desis Alden di telinga Bianca.
Bianca pun tampak berpikir.
"Anda boleh keluar jika saya yang menyetir."
__ADS_1
"Baiklah," Alden mencoba membodohi Bianca.
Mereka pun ke luar dari dalam rumah. Alden melirik Bianca yang tengah memegang kunci mobilnya. Kemudian, Alden segera merampas kunci mobil dari tangan Bianca dan lari masuk ke dalam mobil.
"Anda tidak bisa membodohi saya, tuan!" Ucap Bianca yang sudah duduk di samping Alden.
"Shit!" Alden memukul kemudinya. Kemudian ia segera melajukan mobilnya menuju klub malam yang ada di digbeth.
Alden masuk ke dalam klub itu diikuti dengan Bianca. Bianca menutup telinganya dari suara musik yang sangat memekik di telinganya. Ia begitu takut ketika masuk ke dalam klub malam, tapi ia tepis rasa takutnya itu dan terus mengikuti langkah Alden.
"Seperti biasa," pesan Alden kepada seorang bartender. Bartender itu pun memberikan sebotol wine merah kepada Alden.
"Anda tidak boleh minum!" Bianca merebut botol wine dari tangan Alden.
"Kau siapaku, hah?" Alden berteriak. Ia sungguh sangat kesal Bianca mengikutinya terus menerus.
"Saya asisten pribadi anda. Mari kita pulang!" Bianca menarik tangan Alden.
"Baby, kau ada di sini?" Fiona berteriak saat melihat mantan kekasihnya ada di klub malam yang sama dengannya.
"Iya, aku di sini."
"Wanita ini kan office girl di apartemenmu?" Tanya Fiona dengan sinis.
"Saya asisten pribadi tuan Alden," jawab Bianca tenang.
"Baby, kau tidak salah? Tapi aku tidak peduli itu. Baby? Ayo kita bersenang-senang! Kau tidak merindukanku?" Bisik Fiona di telinga Alden.
Alden tampak berpikir.
"Baiklah kau berhasil Fi! Ayo kita ke hotel terdekat!" Alden beranjak dari duduknya. Bianca pun dengan sigap mengikuti langkah Alden dan masuk ke dalam mobil. Bianca duduk di samping Alden.
"Kau akan mengikutiku ke hotel juga?" Alden berteriak.
Bianca tidak menjawab. Tatapannya terus lurus ke depan.
"Dasar wanita tidak tahu diri!" Umpat Fiona yang duduk di belakang.
Alden mengemudikan mobilnya untuk sampai di hotel terdekat. Kemudian mereka bertiga turun dari dalam mobil. Alden memesan satu kamar untuknya dan untuk Fiona.
Mereka pun segera masuk ke dalam kamar hotel. Bianca pun ikut masuk ke dalam kamar hotel dan duduk di sofa.
Alden melepas kaosnya dan mendekati Fiona.
"Baby, haruskah dia ada di situ?" Fiona menunjuk Bianca yang duduk dengan tenang di sofa.
"Kau keluarlah!" Alden menggeret tangan Bianca.
Bianca tidak bergerak dari duduknya.
"Lakukan saja di depan saya, tuan! Sekalian saya rekam ya? Untuk koleksi di ponsel saya," Bianca mengeluarkan ponsel kentangnya.
"Yo, 1, 2, 3 rolling and action!" Bianca berteriak dan mengarahkan ponselnya ke wajah Alden.
"Gadis gila!" Alden memakai kembali kaos miliknya dan ke luar dari kamar hotel. Bianca pun mengikutinya lagi.
"Baby, kau mau ke mana?" Fiona berteriak.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...