
Setelah perbincangan saat makan malam bersama keluarganya, Tifanny memutuskan untuk langsung melamar pekerjaan. Ia mengirimkan begitu banyak lamaran via surel maupun secara offline.
"Sayang, jangan terlalu keras! Santai saja ya?" Nino mengusap rambut istrinya. Tifanny tampak sedang mengirimkan CV nya melalui surat elektronik ke berbagai perusahaan.
"Aku hanya ingin segera memiliki kesibukan, aku bosan di rumah," Tifanny tak mengalihkan matanya dari layar laptop.
"Bagaimana jika kau mengambil program Magister saja?" Nino memberikan tawaran.
"Tidak. Aku ingin bekerja. Aku ingin membantumu dan aku ingin merasakan bekerja di kantor-kantor seperti orang lain," Tifanny tersenyum membayangkan dirinya bekerja di gedung-gedung pencakar langit.
"Kau sebegitu inginnya bekerja?" Nino mencoba membaca ekspresi wajah Tifanny.
"Iya, dulu kan aku bekerja sebagai kasir di toko kue paman dan juga pengantar pizza. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya bekerja di perusahaan-perusahaan besar," Tifanny menatap mata biru suaminya.
"Bagaimana jika kau bekerja bersamaku? Di perusahaan Daddy?" Nino masih mencoba membujuk. Rasanya berat sekali melepas istrinya untuk bekerja. Nino takut jika waktunya bersama Tifanny menjadi sangat sedikit.
"Jika kita satu kantor rasanya tidak enak saja. Aku takut kita tidak serius bekerja jika bertemu juga di tempat kerja. Biarkan aku melamar sendiri dulu ya? Jika sampai satu bulan aku belum mendapat juga pekerjaan, aku akan ikut denganmu bekerja di perusahaan Daddy."
"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Aku sebagai suamimu hanya bisa mendukungmu. Semoga kau bisa bekerja di tempat yang kau inginkan dan tentunya membuatmu nyaman," Nino mengecup kening istrinya.
"Sayang, terima kasih sudah mengerti. Aku tidak akan meninggalkan kewajibanku sebagai istrimu. Aku berjanji," Tifanny meyakinkan.
"Aku pegang kata-katamu," perlahan hati Nino mulai melunak.
2 hari kemudian....
"Sayang, hari ini aku ada panggilan wawancara kerja," ucap Tifanny riang saat ia menyajikan sarapan untuk Nino, David dan Meghan.
"Di mana, sayang?" Nino bertanya dengan sedikit terkejut. Baru saja dua hari yang lalu mereka membicarakan perihal pekerjaan.
"Di salah satu perusahaan jam tangan mewah yang terkenal di negara ini," senyum tak pudar dari wajahnya. Tifanny sangat mengharapkan akan diterima bekerja di perusahaan itu.
"Memangnya kau melamar untuk posisi apa, Fann?" David tampak ingin tahu.
"Jadi keuangan atau accounting, Pa. Sesuai jurusan saja," jawabnya.
"Mau ku antarkan, sayang?" Nino menawarkan.
"Tidak usah. Kau bekerja saja ya?"
"Baiklah. Semoga berhasil," Nino tersenyum tulus.
"Terima kasih, sayang. Semoga pekerjaanmu pun selalu menyenangkan."
Setelah selesai dengan sarapan paginya, Nino, David dan Meghan pun berangkat untuk bekerja dan kuliah. Tifanny pun langsung bersiap untuk mendatangi tempat wawancara kerja yang akan diadakan satu jam lagi.
"Nona, selamat anda kami terima di perusahaan kami," tukas HRD yang mewawancarai Tifanny dengan ramah.
"Benarkah?" Tifanny tampak senang dengan pengumuman itu. Ia tidak menyangka dirinya yang akan lolos karena tadi ia harus berebut 1 posisi dengan 25 orang lainnya.
"Benar. Biasanya kami akan mengadakan tes seleksi penerimaan karyawan selama tiga hari. Tetapi karena perusahaan sangat membutuhkan Accounting dengan segera, maka kami persingkat menjadi satu hari saja," jelas HRD itu.
"Baiklah, Bu. Terima kasih karena telah menerima saya. Saya akan bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan," senyum di wajah Tifanny tidak memudar. Ia masih belum menyangka jika diterima bekerja di perusahaan yang cukup bergengsi.
"Oh iya, ini kontrak kerja samanya," HRD itu menyerahkan secarcik kertas yang berisi kewajiban yang harus Tifanny lakukan sekaligus hak yang Tifanny dapatkan dari perusahaan.
Tifanny membaca poin demi poin dalam surat kontrak kerjanya itu. Ia harus teliti agar tidak bernasib sama seperti saat ia bekerja di karaoke dulu.
"Tidak ada penalty kan jika saya resign?" Tifanny memastikan.
"Tidak ada, Nona," jawab HRD.
Tifanny pun segera menandatangani kontrak kerja itu.
"Nona, staff saya akan mengantarkan ke ruangan anda. Sesudah melihat ruangan kerja, anda boleh pulang dan besok bisa memulai bekerja diperusahaan ini," tutur HRD.
"Baiklah, Bu. Terima kasih untuk hari ini," Tifanny berdiri dan menjabat tangan HRD yang sudah mewawancarainya.
Staff HRD mengantarkan Tifanny ke area Divisi Keuangan dan Accounting. Tifanny melihat dalam satu ruangan itu terdiri dari 3 orang.
__ADS_1
"Ini ruangan kerja anda, Nona!" Staff HRD menunjuk ruangan khusus Divisi Keuangan dan Accounting.
"Terima kasih, Nona. Kalau begitu saya pamit," Tifanny berpamitan dan bergegas untuk pulang. Ia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kepada Nino perihal keberhasilannya hari ini dalam mendapatkan pekerjaan.
Tifanny masuk ke dalam lift untuk sampai di lobby perusahaan. Ia terus tersenyum karena terlampau senang dengan apa yang dialaminya hari ini. Tifanng tidak sadar jika ia satu lift dengan dua orang pria.
Setelah mencapai lantai 1, Tifanny segera ke luar dari dalam lift dengan ceria.
"Siapa perempuan itu?" Tanya pria yang memakai jas hitam.
"Saya tidak tahu, tuan. Sepertinya dia karyawan baru di perusahaan anda," jawab seorang pria lagi yang bisa dipastikan bahwa itu adalah asisten pribadinya.
"Wajahnya cantik dan ceria. Cari tahu dia bekerja di divisi mana!" Perintah pria berjas hitam.
"Baik, tuan Sean."
****
Bianca membulatkan matanya saat bibir Alden mencium bibirnya. Bianca menjauhkan kepalanya, tetapi tangan Alden lebih cepat. Tangan pria itu menahan kepala Bianca agar gadis itu tidak bergerak. Alden memperdalam ciumannya dan memagut bibir Bianca sedangkan Bianca memukul-mukul dada Alden berharap untuk dilepaskan.
"Kau ini kenapa?" Bianca menggerutu saat ia berhasil melepaskan dirinya.
"Jangan anggap aku sama seperti mantan kekasihmu!" Bianca tampak geram dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Ca?" Alden berteriak.
"Apa yang aku lakukan tadi? Mengapa aku tidak bisa menahannya?" Alden menjambak rambutnya. Merasa menyesal telah melakukan hal demikian. Alden berlari dan menyusul Bianca.
"Ca? Buka pintunya! Aku minta maaf," Alden mengetuk pintu kamar yang ditempati oleh Bianca.
"Ca? Aku tidak bermaksud untuk mel*cehkanmu," Alden mengetuk pintu lebih keras.
"Pergilah! aku ingin sendiri," Bianca balas berteriak.
Alden pun mengalah, ia berpikir memang Bianca memerlukan waktu. Alden pun masuk ke dalam kamarnya.
Di kamarnya, Bianca tampak melihat bibirnya dari cermin lemari. Seulas senyuman terukir di bibirnya.
"Gila kamu, Bi! Mengapa kau tersenyum saat dia memperlakukanmu seperti tadi?" Bianca menepuk-nepuk pipinya.
Bianca dan Alden pun sama sama lebih memilih untuk mengurung diri di kamar mereka masing-masing.
Pagi harinya....
"Hey, Ca!" Sapa Alden saat Bianca baru ke luar dari dalam kamarnya.
"Hem," Bianca membalas dengan deheman.
"Maafkan aku soal kemarin!" Alden memelankan suaranya.
"Apa? Aku tidak mendengar," seru Bianca sambil mendekatkan telinganya.
"Aku bilang maaf atas kejadian kemarin," ulang Alden.
"Sekali lagi," jawab Bianca dengan menahan tawanya.
"Mengapa kau sangat menyebalkan?" Alden menarik Bianca dan menggelitiki perutnya.
"Alden, hentikan!" Bianca tertawa.
"Ayo kita pergi ke pasar!" Ajak Alden.
"Ayo! Aku pun bosan di rumah," Bianca menyetujui.
Alden dan Bianca pun bersama-sama pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan hari ini.
"Ca?"
"Iya?" Jawab Bianca sambil melihat-lihat deretan ikan-ikan yang ada di pasar.
__ADS_1
"Aku mempunyai sesuatu untukmu," Alden menyembunyikan tangannya di belakang.
"Sesuatu apa?" Bianca tampak penasaran.
"Ini," Alden memperlihatkan sebuah gelang tali bermotif kerang.
"Untukku?" Bianca menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Ini untukmu. Aku pakaikan. Mana tanganmu?"
Bianca pun meluruskan tangannya ke arah Alden. Alden memasangkan gelang itu sembari tersenyum. Bianca pun ikut tersenyum, ia tersenyum menikmati raut wajah Alden yang berbeda belakangan ini.
"Kau kenapa melihatku seperti itu?" Alden melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Bianca.
"Aku hanya terharu, kau mau membelikan gelang ini."
"Kan aku harus memberi hadiah kepada asistenku karena dia sudah bekerja dengan keras," ucap Alden.
"Asisten ya?" Hati Bianca menceos mendengar kata asistenku.
"Memangnya apa yang aku harapkan? Aku berharap dia menyebutku sebagai wanita yang disukainya. Hah, jangan bermimpi! Lagi pula aku tidak boleh menyukainya. Alihkan hatimu pada hal lain, Bi! " Resah Bianca di dalam hatinya.
"Kalau begitu, mari kita pulang!" Alden menggandeng tangan Bianca untuk pulang.
"Kau lelah?" Alden melirik Bianca yang bernafas lebih cepat.
"Iya. Pasarnya lumayan jauh ternyata."
"Kalau begitu, aku akan menggendongmu. Ayo!" Alden berjongkok di hadapan Bianca.
"Aku tidak mau," Bianca menolak.
"Ayolah! Aku akan merasa bersalah jika kau tidak mau. Aku yang mengajakmu pergi ke pasar. Sekali ini saja," Alden memaksa.
"Baiklah," Bianca naik ke punggung Alden.
"Ca?" Panggil Alden saat mereka menyusuri jalan untuk pulang. Hari ini suasana masih tampak sangat sepi karena Polar Night masih terjadi di desa Reine.
"Apa?"
"Kau senang pergi ke negara ini?"
"Sangat senang sekali. Aku bisa traveling ke luar negri secara gratis," jawab Bianca asal.
"Setelah dari negara ini. Kau ingin pergi ke mana lagi?"
"Aku ingin pergi ke Machu Pichu di Peru. Aku ingin melihat peradaban suku Inca yang hilang," timpal Bianca. Bianca tampak menikmati harum khas dari tubuh pria yang sedang menggendongnya.
"Lalu, ke mana lagi?"
"Aku ingin melihat matahari terbit di Grand Canyon, Amerika Serikat. Lalu pergi ke Pantai Kuta yang ada di pulau Bali, Indonesia."
"Pulau Bali? Aku pernah ke sana."
"Benarkah?" Tanya Bianca.
"Iya. Aku pergi ke Ubud. Di sana aku pergi ke Desa Wisata Nyuh Kuning Ubud. Desanya sangat indah dan bersih. Kau bisa berbaur dengan penduduk lokal dan juga malam harinya bisa menonton tarian tradisional khas Bali."
"Wah aku jadi ingin segera ke sana."
"Jika kau ke Bali jangan lupa juga untuk bermain arung jeram di Sungai Ayung, Ubud."
"Memangnya kau tidak akan menemaniku pergi ke sana?" Bianca menggigit bibirnya. Deg-degan mendengar jawaban dari Alden.
"Ya, kau bisa pergi dengan suamimu nanti," Alden berkata dengan datar.
"Mengapa hatiku seperti tersengat listrik saat mengatakan itu? Siapa yang akan menjadi suaminya nanti? Mengapa aku memikirkannya? Apa aku menaruh hati pada gadis ini? Tidak, tidak mungkin. Aku tidak mungkin jatuh hati padanya," Alden membantah.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1