Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pembatalan


__ADS_3

Nino mengantarkan kembali Tifanny dan keluarganya untuk sampai rumah.


"Fann, aku ingin bicara sebentar!" Nino menahan tangan Tifanny yang akan ke luar dari mobilnya.


"Meghan kamu bawa papa ya? Kakak ingin bicara kepada kakakmu mengenai pernikahan kita," Nino menoleh kepada Meghan. Meghan pun segera mengerti dan membawa David masuk ke dalam rumahnya.


"Fann, besok kita fitting baju pengantin ya?" Nino menoleh kepada Tifanny yang duduk di sebelahnya.


"No, apakah tidak terlalu terburu-buru jika kita menikah satu minggu lagi?" Tanya Tifanny.


"Iya, kedua orang tuaku pun berkata seperti itu. Jadi, mereka mengundurkan waktunya menjadi dua minggu lagi," timpal Nino.


Tifanny pun bernafas lega mendengar ucapan Nino.


"Kau kenapa? Tidak sabar menikah denganku?" Nino menggoda calon istrinya.


"Tidak. Hanya saja jika seminggu lagi itu akan sangat mendadak. Bukannya undangan pun harus disebar seminggu sebelum pernikahan ya?"


"Iya, maka dari itu aku menuruti keinginan kedua orang tuaku. Besok kita fitting baju pengantin dan memilih undangan ya?"


Tifanny pun hanya mengangguk.


"Kalau begitu, aku keluar ya?" Tifanny hendak membuka pintu mobil.


"Fann, sebentar!" Nino menahan tangan Tifanny.


"Ada apa?"


"Tidak ada perpisahan dulu sebelum kita berpisah?" Nino melepas safety belt dan mencondongkan tubuhnya ke arah Tifanny.


"Kau mau apa?" Tifanny was-was melihat gelagat aneh Nino.


Wajah Nino semakin mendekat ke arah wajah Tifanny.


"Stop! Kita belum menikah, jangan seperti ini!" Tifanny mengarahkan wajahnya ke depan.


"Mengapa kau tidak mau? Aku hanya ingin mencium bibirmu, tidak lebih," Nino merasa kecewa.


"Aku hanya ingin melakukannya jika kita sudah menikah. Aku permisi masuk ke rumah!" Tifanny segera keluar dari mobil Nino dan berlari masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Susah sekali mendapatkannya! Lihat saja, setelah menikah aku tidak akan melepaskanmu!" Nino memukul setir mobil dengan kesal.


****


"Apa? Dibatalkan?" Fiona berteriak saat mendengar Eliana membatalkan perjodohannya dengan Nino.


"Jika Nino memang sudah memiliki pilihannya sendiri, kami tidak bisa memaksa," tutur Zade, yang merupakan ayah dari Fiona.


"Tante, om? Kalian tidak bisa bersikap seperti itu! Fiona menginginkan Nino. Kalian harus melanjutkan perjodohan ini! Fiona tidak mau tahu!" Fiona berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Eliana dan juga Arley.


"Maaf, Fiona! Tetapi kami tidak bisa memaksa jika memang Nino sudah memiliki pilihannya sendiri," Arley menatap Fiona dengan tidak suka.


"Sayang, jangan memaksa! Nino sudah memiliki kekasih. Kasihan kekasihnya jika kita tetap memaksa perjodohan ini," ibu dari Fiona berkata dengan bijak.


"Mama sama saja seperti tante Eliana. Kalian memberikanku harapan palsu. Setelah aku mau menikah dengan Nino, kalian malah membatalkannya," Fiona meninggikan suaranya.


"Pokoknya aku harus menikah dengan Nino dan kalian harus menikahkan aku dengannya!" Lanjut Fiona.


"Maaf, Fi! Kami tidak bisa memaksa Nino," jawab Eliana dengan tegas.


"Kalian benar-benar buruk! Aku kecewa pada kalian," Fiona segera berlari dan masuk ke dalam kamarnya.


"Aku sudah kehilangan Nino dan juga Alden. Aku harus menghubungi Alden lagi. Aku tidak mau kehilangan dia juga," Fiona segera mengambil kunci mobilnya dan langsung pergi ke apartemen Alden.


"Fi, kau mau ke mana?" Tanya Zade yang melihat putrinya pergi dengan terburu-buru.


"Bukan urusan kalian!" Kata Fiona dengan ketus.


"Maafkan putri kami!" Ucap Zade kepada Eliana dan Arley. Dia merasa tidak enak dengan kelakuan Fiona.


Fiona mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia ingin segera sampai di apartemen milik Alden. Saat Fiona berlari menuju lift, tiba-tiba ia terpeleset dan jatuh karena lantai yang licin.


"Nona, kau tidak apa-apa?" Bianca yang sedang mengepel menghampiri Fiona dan membantunya berdiri.


"Kau ini punya otak atau tidak? Mengapa kau tidak memberikan tanda lantai basah?" Fiona berteriak kepada Bianca.


"Saya sudah menberikan tanda lantai basah. Itu tandanya!" Tunjuk Bianca.


"Ya, mengapa kau menaruhnya di sana? Di mana otakmu?" Bentak Fiona.

__ADS_1


"Ya otakku di kepalaku, Nona. Masa iya otakku di pant*tmu," Bianca tertawa mendengar pertanyaan Fiona.


"Dasar gadis tidak berguna!" Fiona segera masuk ke dalam lift meninggalkan Bianca yang masih tertawa. Tak lama, Bianca pun segera masuk ke dalam lift yang ada di sebelah lift yang dipakai Fiona. Bianca akan membersihkan lantai 10.


"Baby?" Fiona memanggil Alden yang baru keluar dari apartemennya.


"Fi? Sedang apa kau di sini?" Tanya Alden dengan penasaran.


"Aku ingin bertemu denganmu, Baby. Maafkan aku! Aku tidak ingin berpisah darimu," Fiona segera memeluk tubuh Alden.


Sementara itu, Bianca yang baru sampai di lantai 10 melihat adegan itu.


"Ternyata dia kekasih dari pria menyebalkan itu? Serasi sekali! Dua-duanya sama-sama menyebalkan!" Gerutu Bianca yang memperhatikan Alden dan Fiona.


"Aku sudah tidak menginginkanmu, Fi," Alden melepaskan pelukan Fiona.


"Tapi aku masih menginginkanmu. Ayo kita kembali bersama!" Desak Fiona kepada Alden.


"Aku tidak mau," Alden menolak.


Fiona segera menangkup wajah Alden dan mencium bibirnya.


"Mereka tidak tahu malu ya?" Bianca bergidik melihat pemandangan itu.


"Selain menyebalkan, pria itu juga pria yang tidak baik!" Bianca menggelengkan kepalanya melihat Alden yang membalas ciuman Fiona.


"Sudahlah, bukan urusanku!" Bianca segera melanjutkan pekerjaannya.


"Sudah puas?" Tanya Alden saat Fiona melepaskan ciumannya


Ia mengusap bibirnya dengan ibu jarinya.


"Baby, jadi kau mau kembali padaku?" Tanya Fiona memastikan.


"Tidak," ucap Alden. Ia segera meninggalkan Fiona yang masih mematung berdiri di depan pintu apatemennya.


"Baby, tunggu!" Fiona berlari menyusul langkah Alden.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...

__ADS_1


__ADS_2