
Setelah mendapat pemberitahuan dari asisten rumah tangganya jika Tifanny menghilang, Nino langsung pulang ke rumahnya dengan rasa khawatir yang memenuhi hatinya.
"Tifanny pergi ke mana?" Tanya Nino dengan rasa gundah yang menyelimuti dadanya.
"Saya tidak tahu, tuan. Nona Tifanny sudah tidak ada di kamarnya. Saya tidak melihat ketika Nona keluar dari rumah," asisten rumah tangga itu menundukan wajahnya. Ia sangat takut Nino akan memecatnya karena kesalahan yang ia lakukan.
"Lain kali tolong awasi Tifanny dengan benar ya, Bi!" Ucap Nino dengan tegas.
"Maafkan saya, tuan! Tadi saya sedang berada di dapur dan mencuci piring."
"Baiklah, Bi. Tidak apa-apa. Ini bukan salah bibi," Nino merasa kasihan melihat asisten rumah tangganya itu ketakutan.
"Saya pergi ke dapur dulu, tuan," pamit asisten rumah tangga itu dengan suara yang pelan.
"Iya, Bi."
"Ke mana kamu, Fann?" Nino mengusap wajahnya. Nino mencoba menghubungi ponsel Tifanny tetapi tidak diangkat.
"Ada apa, kak?" Tanya Meghan yang baru masuk ke dalam rumah bersama David. Setelah bekerja, David memang menjemput Meghan ke kampusnya.
"Kakakmu hilang, Meghan!" Nino mendudukan dirinya di sofa.
"Hilang bagaimana?" Tanya David dengan panik.
"Dia tidak ada di rumah. Sepertinya keluar rumah secara diam-diam," jawab Nino dengan mata yang sayu.
"Tidak usah khawatir, kak! Sepertinya kak Fanny sedang jalan-jalan. Lebih baik kakak tidak perlu mengekangnya terlalu berlebihan!" Meghan terduduk di depan Nino.
"Meghan benar. Fanny memang tidak suka di kekang," David membenarkan.
"Nino harus mencarinya dulu, Pa. Nino mengambil jaket dulu," Nino masuk ke dalam kamarnya. Saat ia masuk ke dalam kamar, Nino menemukan ponsel Tifanny tergeletak di atas kasur.
"Pantas saja kau tidak mengangkat telfonku. Kau tidak membawa ponselmu," Nino memperhatikan ponsel istrinya.
"Aku harus cepat menemukan Tifanny. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya," gumam Nino.
Nino keluar dari dalam kamarnya dan bergegas untuk mencari keberadaan istrinya yang masih belum diketahui ada di mana. David dan Meghan pun ikut mencari keberadaan Tifanny. Mereka berpencar bersama Nino agar dapat lebih mudah menemukan Tifanny.
"Sayang, kau di mana? Aku khawatir sekali. Apalagi kau sedang mengandung sekarang," Nino berkata dengan cemas saat ia menyusuri jalanan untuk mencari keberadaan istrinya.
"Aku harus mencarimu ke mana?" Ini sudah petang," Nino masih berbicara sendiri.
Nino berputar-putar mencari keberadaan Tifanny yang entah ada di mana. Saat Nino mengarahkan mobilnya menuju rumah Tifanny yang dulu, seseorang menghubunginya.
"Ada apa, Kai?" Tanya Nino dengan tidak bersemangat saat Kai menghubunginya.
"Aku ingin memberitahukan jika Tifanny ada di Rumah Sakit. Tadi dia membantuku membawa Alula yang akan melahirkan. Jemputlah ke sini! Kasihan dia," Kai menoleh ke arah Tifanny yang sedang mengobrol dengan Alula yang sudah siuman.
"Ya ampun, Kai! Mengapa kau tidak menghubungiku dari tadi?" Nino bisa bernafas dengan lega. Rasa khawatir yang menyiksa dirinya kini hilang seketika.
"Maaf! aku tadi sangat khawatir akan keadaan Alula. Tadi dia melewati persalinannya dengan operasi caesar. Saat aku ada waktu untuk menelfonmu, Tifanny malah melarangku. Dia bilang jika dia jenuh berada di rumah. Maka dari itu, aku baru menelfonmu sekarang," jelas Kai.
"Iya, Kai. Aku mengerti. Jika aku di posisimu tentu aku tidak akan memikirkan yang lain selain keselamatan istri dan anakku," timpal Nino.
"Syukurlah jika kau mengerti. Kami ada di Rumah Sakit tempat Alula melahirkan dulu."
"Baiklah. Aku segera ke sana. Terima kasih infonya, Kai," Nino mematikan sambungan telfonnya dan berangkat ke Rumah Sakit tempat Alula bersalin.
"Kai? Selamat untuk kelahiran anak keduamu," seru Nino saat ia melihat Kai di koridor Rumah Sakit.
__ADS_1
"Terima kasih. Mana sobatmu yang ajaib itu?" Kai memperhatikan Nino yang hanya datang sendirian.
"Aku tidak tahu. Akhir-akhir ini dia sibuk dengan dunianya," Nino mengangkat bahunya.
"Ya sudah. Ayo kita ke kamar perawatan Alula," ajak Kai. Mereka pun berjalan menuju ruang perawatan Alula.
"Sayang?" Panggil Tifanny saat ia melihat suaminya masuk bersama Kai.
Nino tidak menjawab. Ia menatap Tifanny dengan tajam. Tifanny mengerti jika Nino tengah kesal kepadanya. Tentu saja karena ia pergi dari rimah tanpa pamit dan membuat semua orang khawatir.
"Al, terima kasih untuk kelahiran putrimu ya?" Ucap Nino kepada Alula yang masih berbaring dengan lemas di atas kasur perawatannya.
"Terima kasih, Nino."
"Putrimu menggemaskan sekali," Nino menatap bayi yang baru Kai beri nama Kimberly itu.
"Namanya Kimberly. Panggilannya Baby Kim saja," Tifanny membalas obrolan mereka.
Lagi-lagi Nino pun tidak menjawab perkataan istrinya.
"No, bukannya aku mengusir. Tetapi sebaiknya kau bawa pulang Tifanny. Kasihan dia belum makan sejak tadi. Tifanny juga membutuhkan istirahat," ujar Kai yang berjalan ke samping Nino.
"Kai benar. Tifanny sedang hamil. Bayinya kasihan," Alula menyetujui.
"Baiklah. Aku dan Tifanny pulang dulu ya? Nanti kami jenguk lagi jika kalian sudah pulang," timpal Nino.
"Iya. Fann, terima kasih ya?" Kai menoleh kepada Tifanny.
"Iya, Fann. Terima kasih untuk bantuannya. Semoga kau dan bayimu selalu sehat sampai dengan hari persalinan dan sesudahnya," Alula tersenyum tulus menatap Tifanny.
"Sama-sama, Al. Terima kasih juga untuk doanya. Aku pamit pulang," balas Tifanny.
"No?" Panggil Kai saat Nino akan keluar dari ruang perawatan.
"Iya?" Nino menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Jangan marahi Tifanny!" Kai berpesan.
"Iya. Jangan marahi dia! Dia sedang mengandung anakmu," Alula mendukung.
Nino pun mengangguk.
****
"Aku harus menyusul Bianca!" Pukul 11 siang, Alden bersiap-siap untuk pergi ke bandar udara internasional Birmingham. Ia tidak ingin Bianca meninggalkannya.
"Tuan, Bandar Udara Internasional Kota Birmingham!" Ucap Bianca kepada supir taksi.
Supir taksi itu pun mengangguk dan membawa Bianca ke tempat tujuan yang ia sebutkan.
"Ca, aku harap aku masih mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku lagi kepadamu," Alden menyetir dengan emosional. Ia begitu takut Bianca pergi ke luar negeri dan benar-benar tidak akan kembali lagi.
"Alden, kau harus tahu perasaanku yang sebenarnya," batin Bianca saat ia berada di dalam taksi.
Bianca mengetuk ngetukan jarinya ke kaca mobil karena begitu takut Alden meninggalkannya. Sementara itu supir taksi yang membawa Bianca hanya menatap heran dari kaca spion tengah. Ia begitu bingung karena penumpangnya terlihat sangat panik.
Alden lebih dulu sampai di Bandara. Ia keluar dari dalam mobilnya dengan tergesa-gesa. Alden berlari dan masuk ke dalam area bandara. Bianca yang baru keluar dari dalam taksi pun berlari masuk ke dalam Bandara. Ia begitu takut pesawat yang Alden tumpangi akan segera take off.
Alden dan Bianca sama-sama berlari tak tentu arah. Bianca tidak mengetahui negara tujuan Alden, Alden pun tidak mengetahui negara tujuan Bianca. Mereka seperti mencari jarum di antara tumpukan jerami.
__ADS_1
"Haha, rasakan kalian! Selamat berpusing-pusing," Aiden tertawa di dalam kamarnya sambil bermain game.
Sementara itu, baik Bianca maupun Alden belum juga menemukan keberadaannya satu sama lain hingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul setegah satu siang.
"Dia pasti sudah pergi," Bianca terduduk di lantai bandara. Orang-orang pun menoleh kepadanya. Cairan bening mulai merembes dari matanya.
"Apakah akhirnya harus seperti ini, Ca? Aku tidak sanggup mencari wanita lain," mata Alden berkaca-kaca melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul setengah satu siang.
Setelah puas menangis, Bianca berdiri dari duduknya. Ia pun berjalan dengan langkah kaki yang gontai dan kepala yang menunduk. Alden pun tak kalah galau, ia mencoba sekuat tenaga menahan tangisnya. Alden berjalan menuju pintu keluar dengan lunglai. Saat ia berjalan, Alden tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf, tuan! Saya tidak sengaja," tutur seorang gadis dengan suara yang serak. Alden begitu familiar dengan suara itu. Itu adalah suara gadis yang ia rindukan.
"Ca?" Alden berteriak saat ia mengangkat wajahnya dan melihat Bianca di depannya.
"Alden?" Panggil Bianca dengan mata yang masih basah.
"Ca? Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" Alden menarik Bianca ke dalam pelukannya.
"Aku juga ingin mengaku kepadamu. Aku juga jatuh cinta padamu. Aku tidak tahu mengapa aku jatuh cinta pada pria sepertimu," Bianca menangis dengan tersedu.
Orang-orang yang berlalu lalang pun menonton adegan pertemuan pasangan abstrak itu.
"Ya, ya aku tahu. Kau pasti jatuh cinta padaku karena aku memang digilai wanita," jawab Alden dengan suara yang parau.
"Mengapa kau masih sangat menyebalkan?" Bianca menggosok-gosokan hidungnya yang penuh dengan ingus di dada Alden.
"Jangan pergi, Ca! Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi ke luar negeri!" Pinta Alden dengan suara memohon.
"Bukankah kau yang akan pergi ke luar negeri?" Bianca melepaskan pelukannya.
"Tidak. Aku ke sini menyusulmu karena aku menerima pesan jika kau akan pergi," Alden menghapus air mata Bianca dengan ibu jarinya.
"Kalau begitu sama. Aku ke sini untuk menyusulmu karena ada yang mengirimkan pesan jika kau akan pergi ke luar negeri," Bianca balas mengusap sudut mata Alden yang basah.
"Jadi, ada yang mengerjai kita?" Alden menyimpulkan.
"Aku rasa begitu," Bianca mengangguk.
"Sudahlah. Itu tidak penting. Yang jelas sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu kepadaku. Jadi, kau mau menjadi kekasihku?" Pinta Alden dengan lembut.
"Iya, aku mau," Bianca mengangguk dengan cepat.
"Terima kasih. Ayo kita pulang!" Alden menggandeng tangan Bianca keluar dari bandara.
"Kau akan langsung mengantarkanku pulang?" Tanya Bianca sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
"Tidak. Ayo kita pergi ke apartemenku!" Ajak Alden.
"Apartemen? Untuk apa?" Bianca merasa heran.
"Ya untuk menghabiskan waktu bersamamu. Kita buktikan cinta kita," Alden tersenyum.
"Mengapa otakmu selalu saja kotor?" Bianca menggetok kepala Alden.
"Aku tidak akan pernah mau melakukannya sebelum kita menikah," tegas Bianca tidak bisa dibantah.
"Menikah?" ucap Alden. Itu adalah kosakata keramat yang selalu disepelekan Alden selama ini.
Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Pernikahan Karena Dendam 🤗
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...