Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Meminta Pekerjaan


__ADS_3

Tifanny memutuskan untuk mengantar bekal makan siang untuk suaminya ke kantor. Ia berjalan dengan bersemangat, tak sabar melihat Nino mencicipi masakannya.


"Sayang?" Tifanny membuka pintu ruangan suaminya.


"Sayang, kau ke sini?" Nino berdiri dari duduknya. Ia sangat senang melihat kehadiran istrinya itu.


"Tentu saja aku di sini. Jika aku tidak di sini, kau tidak akan melihatku," Tifanny mencebikan bibirnya.


"Maksudku kenapa kau datang ke sini? Padahal kau beristirahat saja di rumah!" Nino berjalan menghampiri Tifanny. Ia tersenyum melihat perut istrinya yang kian tampak jelas.


"Aku tadi memasak untukmu. Kau tidak membawa bekal kan?" Tifanny berjalan menuju sofa dengan dituntun oleh Nino.


"Iya, aku memang tidak membawa bekal. Tapi aku bisa makan di luar atau pesan via online," Nino mengusap keringat yang membasahi dahi istrinya.


"Jadi, kau tidak ingin dimasakan olehku?" Mata Tifanny berkaca-kaca.


"Tidak. Bukan itu. Aku hanya kasihan padamu, sayang. Kau harus repot-repot datang ke sini. Apalagi kau naik taksi. Sudah aku bilang, kau belajar menyetir ya agar bisa membawa mobil?" Nino tampak membujuk.


"Kau ingin aku menyetir dalam keadaan hamil?" Tifanny menatap Nino dengan sedih.


"Bukan, tapi supaya nanti jika anak kita sudah masuk sekolah, kau bisa mengantarkannya sendiri dan tidak perlu naik taksi. Begitu maksudku," Nino menjelaskan dengan lembut.


"Kau benar juga ya. Baiklah, setelah melahirkan aku akan belajar menyetir," Tifanny tersenyum riang.


"Sayang, ayo kau makan dulu!" Tifanny mengeluarkan kotak makanan dari tas yang ia bawa.


"Baunya sangat enak sekali!"


"Jelaslah. Aku memasak makanan kesukaanmu," Tifanny membuka kotak makanannya.


"Kau memasak Krokotten sendiri?"


"Iya. Bukankah selalu begitu?" Tifanny memgambil Krokotten itu. Makanan ini terbuat dari kentang goreng yang didalamnya berisi daging yang empuk.


"Aku suapi ya?" Tifanny menyuapi suaminya dengan telaten.


"Sekarang giliranku menyuapimu ya?" Nino mengambil kotak bekal yang lain yang berisi Sachertorte. Sachertorte adalah kue cokelat khas negara Austria.


Tifanny dan Nino pun saling suap menyuapi.

__ADS_1


"Dari mana kau belajar memasak? Aku beruntung memiliki istri sepertimu," puji Nino yang membuat pipi Tifanny bersemu merah.


"Dari dulu aku suka memasak," jawab Tifanny.


"Aku beruntung memiliki istri cantik, baik dan pandai memasak," Nino menatap wajah Tifanny dengan intens, ia memajukan wajahnya dan membersihkan bibir Tifanny yang belepotan dengan cokelat dengan bibirnya.


"Kalian sedang apa?" Seru seseorang yang masuk dengan tiba-tiba.


"Alden?" Tifanny tampak salah tingkah. Ia pun segera mengambil tisu dan membersihkan bibirnya.


"Kau dan Kai sama-sama tidak memiliki attitude. Bermesraan di area kantor!!" Alden mendudukan dirinya di sisi Tifanny.


"Apa yang salah? Lagi pula Tifanny istriku!" Bela Nino.


"Sudahlah. Aku ke mari karena ada urusan," Alden mulai berbicara serius.


"Iya. Ada apa? Kau tidak ingin mengajakku ke klub kan?" Nino menyipitkan matanya.


"Tentu saja tidak. Aku ke sini karena ingin bekerja di perusahaanmu. Kau tahu kan kita ini bagaikan saudara. Gampang kan permintaanku?" Alden menggerak gerakan alisnya.


"Bekerja? Tumben sekali!" Tifanny menyahuti.


"Dan kenapa kau tiba-tiba ingin bekerja?" Tanya Nino lagi.


"Emm, aku keluar dulu sebentar ya?" Tifanny berdiri dari duduknya. Ia takut akan mengganggu pembicaraan suaminya dengan Alden karena itu berhubungan dengan pekerjaan.


"Baiklah, sayang. Jangan jauh-jauh ya?" Pinta Nino sebelum Tifanny keluar.


"Iya," Tifanny pun keluar dari ruangan suaminya.


"Hati-hati, Fan!" Alden berteriak. Alden pun memusatkan perhatiannya lagi kepada Nino.


"Jadi begini, aku disuruh bekerja oleh mama. Katanya sekarang aku adalah kepala keluarga. Aku sudah datang ke perusahaan kak Aiden, tetapi aku di sana ditempatkan sebagai Staff biasa. Aku tidak mau," Alden merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"Mungkin kak Aiden menginginkanmu untuk mandiri," Nino menanggapi.


"Aku tidak mau menjadi staff biasa. Makanya aku ke mari. Ada lowongan kah?" Alden mendudukan dirinya lagi.


"Ada. Di sini ada satu posisi yang kosong. Posisi Staff Arsip tapi kau harus melalui wawancara lagi. Aku tidak ingin ada Nepotisme di kantorku," jelas Nino.

__ADS_1


"Staff Arsip? Tidak ada yang lain?" Alden tampak kecewa.


"Tidak ada. Kau mau atau tidak?"


"Ah, aku tidak mau. Kalau begitu aku pergi dulu ke kantor Kai ya?" Alden berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan Nino.


"Anak itu tidak berubah," Nino menggelengkan kepalanya.


Setelah dari kantor Nino, Alden mendatangi kantor Kai.


"Den? Ada apa kau ke mari?" Sambut Kai dengan ramah.


"Aku ingin bekerja di perusahaanmu, Kai. Ada lowongan tidak?" Alden bertanya langsung pada intinya.


"Kebetulan sekali. Rachel (sekretaris pribadi Kai) besok mulai cuti melahirkan. Kau bisa bekerja sebagai sekretaris pribadiku selama empat bulan," Kai tersenyum senang karena merasa tidak perlu mencari kandidat yang cocok dengannya.


"Yang benar, Kai?" Alden tersenyum gembira saat mendengar tawaran sahabatnya.


"Tentu saja benar. Tapi kau hanya akan bekerja selama 4 bulan saja. Setelah Rachel selesai masa cutinya, paling aku menempatkanmu sebagai Accounting. Jika kinerjamu bagus, kau bisa mendapat rekomendasi menjadi Manager Keuangan," tandas Kai lagi.


"Nah kalau ini aku suka. Aku terima Kai," Alden bertepuk tangan.


Kai pun menelfon HRD di perusahaannya untuk datang ke ruangannya. Tak lama, HRD itu membawa kontrak kerja yang harus ditanda tangani oleh Alden.


"Ini kontrak kerjamu selama 4 bulan sebagai sekretarisku. Nanti aku akan memperbaharuinya jika kau dipindahkan tugas," Kai memberikan selembar kontrak untuk Alden.


"Kai, ini gajiku?" Alden memperhatikan nominal yang tercantum di kontrak kerja itu.


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Bahkan uang bulananku dari mama lebih besar dari gajiku ini," kata Alden blak-blakan.


"Kau mau atau tidak? Kalau tidak mau aku bisa mencari kandidat lain," Kai meninggikan suaranya.


"Aku mau, Kai," dengan cepat Alden menandatangani surat kontrak kerja tersebut.


"Bagus. Jangan melunjak selama bekerja padaku!! Jangan harap aku memperlakukanmu istimewa!!" Kai meninggikan suaranya.


"Iya, Kai. Kenapa kau sangat menyebalkan?" Alden mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2