Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengantarkan Ke Dokter


__ADS_3

Setelah dari rumah Nino, Tifanny mengumpulkan Bianca dan Meghan untuk memberitahukan perihal rencana pernikahannya.


"Hah? Menikah?" Teriak Bianca yang kaget mendengar jika sepupunya akan menikah.


"Iya, aku akan menikah," jawab Tifanny dengan tenang.


"Kakak serius? Siapa laki-laki itu?" Meghan tak kalah kaget mendengar pengumuman dari kakaknya.


"Iya, Fann. Siapa? Aku tidak pernah melihatmu bersama seorang pria," Bianca sudah tidak sabar mendengar siapa laki-laki yang akan dinikahi oleh sepupunya.


"Laki-laki itu adalah Nino," Tifanny menatap Meghan dan Bianca bergantian.


"Kak Nino?" Meghan berteriak.


"Iya. Kakak akan menikah dengan kak Nino satu minggu lagi."


"Kalau dengan kak Nino sih, Meghan setuju kak," Meghan merasa senang mendengar yang akan menjadi kakak iparnya adalah Nino.


"Nino siapa?" Tanya Bianca yang masih bingung.


"Nino adalah teman sekelasku saat kuliah di Amerika. Kami bertemu kembali di sini," Tifanny menatap Bianca berharap gadis itu tidak mencercanya lagi dengan pertanyaan lain.


"Sesudah menikah apa kakak akan meninggalkan aku dan papa?" Meghan menatap Tifanny dengan sedih.


"Tentu saja tidak, sayang. Meghan dan papa akan ikut kakak. Kak Nino menyiapkan rumah untuk kita tinggali. Bi, kau juga bisa ikut bersamaku," Tifanny merasa khawatir jika meninggalkan Bianca sendirian di rumah ini.


"Tidak, Fann. Aku hanya minta izin untuk tinggal di rumah ini setelah kau menikah. Tidak apa-apa kan?"


"Tentu saja boleh, Bi. Aku titipkan rumah ini padamu ya? Berhati-hatilah saat kami tidak ada!"


"Iya, aku akan merawat rumahmu dengan baik dan menjaga diriku. Terima kasih kau sudah mengizinkan aku tinggal di sini, Fann," Bianca berkata dengan tulus.


"Sama-sama, Bi. Aku ke kamar papa dulu," Tifanny beranjak dari duduknya.


Tifanny membuka pintu kamar dan melihat David tengah berbaring di kasur milik Meghan. Memang tidak ada kamar lagi, sehingga kamar Meghan yang dipakai untuk ditempati David. Sedangkan Meghan tidur bersama Tifanny.


"Papa?" Tifanny mendekat ke arah ayahnya yang sedang tertidur. Sesudah hari itu, David memang belum mendapatkan perawatan apapun.

__ADS_1


Tifanny segera naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di samping ayahnya.


"Pa, Fanny akan menikah!" Tifanny memeluk David.


"Tolong restui pernikahan kami!" Setetes air mata menetes dari matanya melihat keadaan ayahnya yang jadi seperti ini.


"Aku akan melakukan apapun untuk membuat papa sembuh lagi. Tolong kembali seperti dulu lagi! Kami sudah memaafkan papa. Aku dan Meghan merindukan papa," Tifanny bangun dan menciumi wajah ayahnya yang sedang tertidur.


"Kak?" Meghan membuka pintu kamar. Ia melihat kakaknya tengah menangis.


Tifanny segera menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Meghan.


"Kakak menangis?" Meghan berjalan mendekat.


"Kakak kenapa? Kakak kan akan menikah, harusnya kakak bahagia bukan bersedih," tanya Meghan lagi.


"Kakak hanya sedih melihat kondisi papa. Papa tidak akan bisa menggandeng kakak berjalan ke venue pernikahan," Tifanny menyeka air matanya.


"Kakak tidak usah bersedih! Kan ada paman Bobby yang akan menggantikan papa. Semoga keadaan papa membaik kak. Semoga kita bisa membawa papa ke psikiater atau ke dokter spesialis kejiwaan," Meghan terduduk di tepi kasur.


"Besok kita akan membawa papa ke Dokter."


"Iya, kita akan membawa papa ke dokter. Kak Nino yang akan membiayai semuanya."


"Kak Nino memang orang baik ya kak?" Meghan menatap kakaknya tanpa curiga.


"Iya, dia memang baik tetapi harus ada yang dibayar mahal untuk kebaikannya. Kakakmu ini menju*l diri padanya untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga kita," lirih Tifanny dalam hatinya.


"Ayo kak kita tidur!" Ajak Meghan yang membuyarkan lamunan Tifanny.


"Kakak ingin tidur dengan papa," Tifanny tidak beranjak dari sisi David.


"Kalau begitu Meghan juga tidur di sini," Meghan ikut berbaring di sebelah kiri David. Mereka sama sama memeluk ayahnya.


"Meghan rindu papa," Meghan berbisik di telinga David sebelum tertidur.


Terpisah selama tiga tahun memang meninggalkan luka yang begitu membekas, tetapi rindu pun mereka rasakan kepada ayahnya. Bagaimana pun David yang merawat Meghan dan Tifanny dari bayi. Mereka hidup bahagia sebelum kebahagiaan mereka di rusak dan di rebut oleh Belinda.

__ADS_1


****


Sesuai janji Nino, hari ini ia membawa David ke dokter spesialis jiwa terbaik yang ada di kota Birmingham. Nino menjemput Tifanny ke rumahnya untuk membawa David bersama-sama ke dokter. Meghan pun ikut serta untuk memeriksakan ayahnya.


"Kondisi ayahmu seperti itu?" Nino menatap David yang tidak mengenalinya dari spion tengah mobilnya.


"Iya, papa bisa berbicara dengan normal. Terkadang dia mengenali kami, terkadang tidak," jawab Tifanny yang duduk di sebelah Nino. Sementara Meghan duduk di kursi penumpang bersama David.


"Aku harap papa segera sembuh," Nino menoleh ke arah Tifanny.


Sementara Meghan terus memeluk David di belakang. Meghan sudah bisa memaafkan dan menerima ayahnya setelah Tifanny memberikan penjelasan kepadanya.


Sesampainya di tempat praktik Dokter, Dokter segera memeriksa kondisi David. David segera menjalani psikoterapi atau konseling untuk mengatasi gejala yang mengganggu. David melakukan sesi terapi bicara di ruangan dokter secara individual. Sedangkan Tifanny, Meghan dan Nino menunggu di luar ruangan pemeriksaan.


Setelah selesai melakukan psikoterapi kepada David, Dokter pun memanggil Tifanny untuk menjelaskan kondisi David.


"Bagaimana, Dok? Apa papa saya bisa sembuh dan normal kembali?" Tifanny bertanya dengan cemas saat ia terduduk di ruangan dokter.


"Tentu saja. Dokter David akan sembuh lagi. Depresinya berada di fase depresi ringan. Saya akan meresepkan obat untuk menangani gangguan kecemasan dan juga gangguan halusinasi. Ayah anda akan bisa sembuh dan bisa bekerja sebagai Dokter kembali," papar Dokter spesialis kejiwaan itu.


"Dari mana Dokter tahu papa saya adalah seorang Dokter?" Tifanny merasa bingung karena ia tidak memberitahukan ayahnya adalah seorang Dokter.


"Dulu kami bekerja di rumah sakit yang sama. Aku mengenal ayah dan ibumu," jawab Dokter itu dengan tersenyum. Tifanny pun menganggukan kepalanya karena dokter ini adalah salah satu teman ayah dan ibunya.


"Tolong jaga emosi Dokter David! Jangan biarkan dia merasa sedih! Dukungan keluarga amat menentukan kesembuhan pasien. Ini resepnya!" Dokter memberikan resep untuk Tifanny tebus di depan.


Setelah menemui dokter, Tifanny segera menyerahkan resep itu kepada Nino. Nino pun segera menebus obat untuk calon ayah mertuanya.


"Fann, ini!" Nino memberikan sebuah kartu.


"Apa ini?" Tifanny menatap kartu yang ada di tangan Nino.


"Ambilah! Ini untuk memenuhi segala kebutuhanmu!" Nino menyodorkan kartu itu lebih dekat.


"Tidak, aku belum sah jadi istrimu. Jadi, aku belum bisa menerimanya," Tifanny menolak.


"Baiklah, aku akan memberikannya setelah kita menikah," Nino mengalah dan memasukan kembali kartu itu ke dalam dompetnya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2