Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Bertemu Calon Mertua


__ADS_3

"Nino, aku harus menemui Nino," Tifanny menghapus air matanya.


Tifanny melajukan motor miliknya untuk sampai di rumah Nino.


"Sebentar!" Ucap seseorang yang tak lain adalah asisten rumah tangga Nino.


"Mau mengantar pizza, Nona?" Tanya asisten rumah tangga itu.


"Tidak, saya mau menemui Nino," jawab Tifanny.


"Oh begitu. Sebentar!" Asisten rumah tangga itu segera masuk ke dalam kamar Nino.


"Tuan, ada yang mencari anda!"


"Siapa?" Timpal Nino yang sedang asik memainkan game di ponselnya.


"Gadis yang sering mengantar pizza kemari."


Nino terkejut dan langsung menyimpan ponselnya.


"Persilahkan dia masuk, Bi! Dia kekasihku," perintah Nino.


"Kekasih?" Jawab asisten rumah tangganya kebingungan.


"Suruh masuk saja!"


"Baik, tuan."


"Sudah aku bilang, kau yang akan mencariku," Nino tersenyum penuh kemenangan.


Nino segera berganti baju dan ke luar dari dalam kamarnya. Ia melihat Tifanny sedang duduk di sofa.


"Ada apa?" Nino berpura-pura tidak tahu untuk apa Tifanny datang.


"Aku ingin berbicara denganmu, tetapi tidak di sini," Tifanny memperhatikan beberapa asisten rumah tangga yang mondar mandir di rumah Nino.


"Ayo kita bicara di balkon!" Nino langsung berjalan ke arah tangga untuk mencapai balkon rumahnya. Tifanny mengikutinya dari belakang.


Nino dan Tifanny segera duduk di kursi yang ada di balkon.


"Jadi, untuk apa kau ke mari?" Nino langsung bertanya pada intinya.


"Aku mau menikah denganmu," Tifanny menundukan kepalanya.


"Pilihan yang pintar!" Nino mengelus kepala Tifanny.


"Sesuai janjimu. Kau akan membiayai semua kebutuhanku dan kuliah adikku kan?"


"Tentu saja. Aku akan membiayai semuanya," Nino tersenyum.


"Tolong biayai juga biaya papaku untuk ke psikiater!" Tifanny menatap Nino dengan sendu.


"Papamu? Bukankah kau tidak bersama dengan papamu?" Nino bertanya dengan heran karena setahunya, David tidak tinggal bersama Meghan dan juga Tifanny.


"Aku bertemu papa dan kondisi psikisnya seperti terganggu."

__ADS_1


"Tuan David anda muncul di waktu yang tepat!" Batin Nino.


"Aku sedih mendengar kondisi papamu. Aku akan membiayai semua kebutuhan keluargamu," tegas Nino.


"Terima kasih," akhirnya Tifanny bisa tersenyum. Beban yang ada didadanya selama beberapa hari ini hilang seketika.


"Dan jangan lupa kewajibanmu saat menjadi istriku!"


"Kewajiban?"


"Pokoknya layani semua kebutuhanku! Jadilah istri pada umumnya yang melayani semua kebutuhan suaminya."


"Baiklah. Aku hanya akan menjadi istrimu selama 9 bulan kan?" Tifanny memastikan.


"Iya. Setelah 9 bulan, kau bebas mau melanjutkan pernikahan kita atau tidak," sahut Nino sambil terus memperhatikan wajah wanita yang ada di depannya.


"Mana surat perjanjiannya?"


"Tidak perlu perjanjian. Semua akan berjalan sesuai kesepakatan kita," Nino menolak.


"Baiklah."


"Dasar gadis polos! Setelah 9 bulan aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Nino tersenyum menatap gadis yang sudah menyerahkan dirinya.


"Aku tidak boleh jatuh cinta pada Nino. Dia menikahiku hanya untuk menghindari perjodohan. Nino tidak mencintaiku, dia mencintai Odelia. Jangan pernah jatuh cinta padanya, Fann! " Tifanny bertekad dalam hatinya.


"Besok kita bertemu dengan kedua orang tuaku ya? Pernikahan kita akan di gelar satu minggu lagi."


"Sa-satu minggu? Apa tidak terlalu cepat?" Tifanny merasa kaget mendengar keputusan Nino.


"Tidak. Itu waktu yang tepat. Bukankah semakin cepat semakin baik? Besok aku akan membawamu ke hadapan kedua orang tuaku."


****


Keesokan harinya....


Nino menjemput Tifanny untuk datang ke rumahnya. Hari ini Eliana dan Arley sudah ada di rumah.


"Dad, Mom?" Nino masuk ke dalam rumah dengan menggandeng tangan Tifanny.


Arley dan Eliana menatap kaget kehadiran putranya yang membawa seorang gadis.


"Aku ingin berbicara dengan kalian," Nino memasang wajah yang serius.


"Duduklah!" Pinta Arley. Tatapannya memperhatikan Tifanny yang berpenampilan sangat sederhana.


"Aku membawa seorang gadis yang akan aku nikahi. Nino mencintai gadis ini," Nino tersenyum dan menoleh kepada Tifanny yang duduk di sebelahnya.


"Kenalkan om, tante saya Tifanny Stuart!" Tifanny berkata engan sopan.


"Ada hubunyan apa kau dan putraku?" Eliana menatap Tifanny dengan serius.


"Aku-"


"Tifanny adalah calon istriku, Mom. Dulu saat kuliah kami berpacaran dan kami berpisah saat itu. Kami bertemu kembali di kota ini dan aku jatuh cinta lagi dengannya. Aku ingin menikahinya," Nino memotong ucapan Tifanny.

__ADS_1


"Apa pekerjaanmu?" Eliana menatap Tifanny dengan tajam.


"Pekerjaan Tifanny-" Nino hendak menjelaskan.


"Pekerjaan Fanny adalah seorang pengantar pizza. Tifanny bertemu Nino kembali karena mengantar pizza ke rumah ini," Tifanny berbicara terus terang. Ia memang harus berkata jujur.


Eliana dan Arley tampak kaget mendengarnya.


"Apa pekerjaan kedua orang tuamu?" Cecar Eliana kembali.


"Mom, mengapa kau bertanya hal itu?" Protes Nino.


"Diam! Mommy hanya ingin tahu latar belakang calon istrimu!" Eliana menatap wajah Nino dengan serius.


"Dulu papa bekerja sebagai dokter spesialis jantung. Tetapi sekarang papa sudah tidak bekerja lagi sebagai dokter, papa sedang sakit," Tifanny berterus terang.


"Ke mana ibumu?" Arley kini yang bertanya.


"Mama sudah meninggal," Tifanny menjawab dengan tenang.


"Jadi, kau tinggal hanya bersama papamu?" Tanya Arley lagi.


"Tidak, Fanny juga mempunyai satu orang adik. Kami tinggal bersama."


Arley dan Eliana mengangguk-nganggukan kepalanya.


"Nino, mommy akan berdiskusi dulu dengan Daddy," Eliana menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam kamarnya.


Sepeninggal Eliana dan Arley, Nino terduduk dengan cemas. Sementara Tifanny duduk dengan tenang di kursinya.


"Mengapa kau harus jujur tentang profesimu?" Nino berkata dengan kesal kepada Tifanny.


"Aku tidak ingin ada kebohongan apapun dalam pernikahan kita. Jika memang kedua orang tuamu tidak merestui, aku akan mundur kembali dan Meghan terpaksa harus mengundurkan dirinya," Tifanny berkata dengan menahan sesak di dadanya, membayangkan wajah Meghan yang harus kecewa karena mengundurkan dirinya menjadi mahasiswa baru jurusan Kedokteran.


Tak lama Arley dan Eliana berjalan kembali ke hadapan Nino dan Tifanny. Mereka pun duduk kembali di kursinya. Nino harap-harap cemas mendengar keputusan dari kedua orang tuanya.


"Mommy dan Daddy merestui hubungan kalian! Cepatlah menikah dan beri kami cucu!" Ucap Eliana dengan tersenyum.


"Benar, Mom?" Nino berkata dengan semangat.


"Iya," Arley menjawab.


"Terima kasih," Nino segera bangkit dari duduknya dan memeluk kedua orang tuanya.


"Daddy akan segera datang ke rumah Fiona untuk membatalkan perjodohanmu dengannya," jelas Arley yang membuat beban di hati Nino langsung hilang.


"Kemarilah!" Eliana menatap Tifanny yang hanya diam saja. Tifanny pun berjalan ke arah Eliana.


"Tolong dampingi putraku hingga dia menua!" Eliana memeluk Tifanny hangat.


"Menua? Bahkan kami hanya akan menikah selama 9 bulan," Tifanny membalas pelukan Eliana dengan perasaan bingung.


"Terima kasih, tante sudah merestui hubungan kami," akhirnya hanya itu, kata yang lolos dari bibir Tifanny.


"Jangan panggil tante! Panggil aku Mommy, karena kau akan menjadi putriku!" Ralat Eliana.

__ADS_1


"Ku pastikan kau akan menua bersamaku," Nino menatap wajah Tifanny yang tampak kebingungan.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2