
"Bagaimana? Nino sudah bangun?" Tanya Kai saat waktu menunjukan pukul 4 dini hari.
"Sudah, lihatlah!" Alden menyuruh Kai untuk masuk.
"No, kau baik baik saja?" Tanya Kai kepada Nino yang tengah duduk dengan tatapan menerawang.
"Kau lihatnya bagaimana?" Tanya Nino dingin.
"Sudahlah! Wanita masih banyak!" Kai menepuk pelan bahu Nino untuk menguatkan.
"Wanita memang banyak dan semua sama Kai," Nino tersenyum kecut.
"Jangan berkata seperti itu! Nanti pun kau akan menemukan wanita yang pas untuk mendampingi hidupmu!"
"Aku tidak akan menikah. Aku tidak mau berkomitmen dengan siapapun," jawab Nino tegas.
"Jangan begitu! Aku pun menemukan Alula. Kau pun akan menemukan wanita yang mencintaimu dengan tulus!"
"Wanita seperti Alula hanya ada satu di dunia ini. Tak akan ada wanita wanita yang sama seperti dia. Sudahlah! Mengapa kita membahas ini? Perset*n dengan wanita, Kai! Kebanyakan dari mereka hanya ingin uang, uang, dan uang. Percayalah!"
"Tidak semua wanita begitu! Masih banyak wanita yang tidak akan melihat pada kekayaanmu. Carilah wanita baik dan nikahilah! Orang tua mu tentu ingin melihat kau menikah," Kai berusaha untuk menasehati Nino.
"Sudahlah! Aku tidak ingin membahasnya lagi! Aku tidak akan pernah ingin menikah," jawab Nino cepat. Kemudian ia segera membaringkan tubuhnya membelakangi Kai yang masih terduduk di sisi ranjang.
****
Setelah menginap selama beberapa hari di rumah Kai, Nino pun pulang kembali ke rumahnya. Saat di perjalanan, ia melihat Tifanny tengah mengantar pizza kepada seseorang. Orang itu memberikan tips untuk Tifanny dan Tifanny pun menatap uang itu dengan senyuman sempurna yang terukir di wajahnya.
"'Cih, dia pun sama. Mereka sama-sama suka uang," Nino tertawa dengan nada yang menyeramkan. Nino melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah.
"Aku benci wanita matrealistis. Aku akan bermain-main sebentar," Nino mengambil ponselnya, kemudian ia segera memesan pizza. Nino meminta agar Tifanny yang mengantarkan pizza pesanannya seperti biasa.
__ADS_1
"Ini pesanan terakhir," gumam Tifanny saat sampai di depan rumah Nino. Seperti biasa, Tifanny mengakhirkan pesanan dari pemuda itu.
Tifanny memencet bel, tak berapa lama Nino langsung membuka pintu. Wajahnya tampak berbeda hari ini. Sangat dingin dan sedikit menyeramkan.
"Ini pizzamu!" Tifanny menyerahkan pizza pesanan Nino. Nino mengambil pizza itu tanpa bersuara.
Tifanny pun membalikan tubuhnya untuk segera berlalu dari hadapan Nino. Tetapi, tangan Nino menahan tangan Tifanny.
"Kau mau menemaniku lagi? Aku akan membayarmu 10 kali lipat dari bayaranmu waktu itu," Nino berkata dengan dingin.
"10 kali lipat? Aku mau," jawab Tifanny dengan wajah yang berbinar. Ia berfikir menemani di sini adalah menemani Nino makan pizza, seperti tempo hari. Tifanny mau karena kelulusan Meghan akan digelar 1 bulan lagi. Tifanny benar-benar harus mengumpulkan uang untuk biaya kuliah adiknya.
"Kalau begitu masuklah!" Nino menyeringai jahat.
Tifanny pun segera masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, rumah Nino tampak sangat sepi.
"Kau mau ke mana?" Tifanny menatap Nino yang masuk ke dalam sebuah ruangan.
"Ini kamar siapa?" Tifanny memperhatikan kamar yang ia masuki.
"Ini kamar tamu," Nino menutup pintu dan menguncinya.
Nino segera memeluk Tifanny dari belakang.
"No, kau apa-apaan?" Tifanny berusaha melepaskan tangan Nino yang melingkar di tubuhnya.
"Ayo kita bersenang senang! Kau ingin uang berapa? Aku akan memberikannya," bisik Nino di telinga Tifanny.
"Kau gila! Aku bukan wanita seperti itu," Tifanny menginjak kaki Nino dan berlari menuju pintu.
"Ayo jangan sok jual mahal! Aku tahu di otak wanita sepertimu, hanya ada uang, uang, dan uang," Nino menarik tangan Tifanny lagi. Ia merasa ingin melampiaskan semua rasa sakit hatinya saat ini.
__ADS_1
Nino menarik Tifanny ke dalam pelukannya, kemudian Nino mencium bibir Tifanny dengan paksa.
"Nino!!!" Tifanny bergumam dan sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan pria itu.
"Kau ini kenapa?" Tifanny berteriak saat ia sudah terlepas dari pelukan Nino.
"Aku hanya ingin bersenang-senang denganmu. Bukankah dulu kita saling menyukai?"
"Kau benar-benar tidak waras!" Tifanny segera membuka kunci dan membuka pintu kamar. Ia langsung berlari ke luar rumah dengan air mata yang mulai menetes.
Sebelum naik ke motornya, Tifanny mengeluarkan sebuah sapu tangan. Ia mengelap bibirnya dengan sapu tangan itu.
"Itu ciuman pertamaku. Aku benci Nino!" Tifanny terus mengelap bibirnya. Setelah puas, Tifanny segera meninggalkan kediaman Nino dengan berlinang air mata. Ia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Nino.
"Arrgghhh!" Nino berteriak dan mengacak-kacak kamar.
Beberapa hari kemudian....
Tifanny sedang membuat rincian mengenai pengeluarannya bulan ini. Tifanny menghitung semua uang tabungannya.
"Ini masih sangat jauh sekali. Meghan ingin masuk ke fakultas kedokteran. Tabunganku bahkan hanya 2% saja dari biaya kuliah Meghan. Bagaimana aku mencari sisanya? Sisanya masih sangat banyak sekali," Tifanny berbicara sendiri. Ia memang sempat datang ke universitas dan bertanya mengenai rincian biaya fakultas kedokteran.
"Kepalaku pusing memikirkan ini semua," Tifanny memijat keningnya. Malam ini Tifanny hanya sendirian di rumahnya. Meghan sedang menginap di rumah teman sekelasnya dalam rangka belajar bersama untuk mempersiapkan ujian masuk ke universitas.
Tifanny berjalan ke arah kamar. Saat ia akan merebahkan tubuhnya di atas kasur, Tifanny mendengar suara ketukan yang sangat keras di pintu depan.
"Buka!" Teriak seseorang yang mengetuk pintu.
"Itu siapa? Jangan-jangan maling!" Tifanny mengambil tongkat baseball dari kamar Meghan. Ia pun segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Hallo sayang!" Sapa Nino saat Tifanny membuka pintunya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...