
Nino mengajak Tifanny untuk memesan baju pengantin di salah satu butik. Butik itu merupakan hasil rekomendasi dari Kai, sahabatnya. Waktu Kai menikah, Alula memakai rancangan gaun pengantin dari butik ini.
"Hallo, Nona!" Sapa pemilik butik yang bernama Chelsea. Chelsea juga merupakan sahabat dari istri Kai, yang bernama Alula.
"Hallo, Nona!" Balas Tifanny dengan ramah.
"Perkenalkan saya Chelsea. Saya pemilik butik ini. Jadi, gaun yang seperti apa yang anda inginkan?" Tanya Chelsea kepada Tifanny.
"Saya Tifanny. Saya juga masih bingung untuk gaunnya," Tifanny tampak bingung.
"Kalau begitu, mari kita berkeliling saja untuk melihat-lihat gaunnya!" Ajak Chelsea.
"No, aku ajak keliling dulu! Kau duduk saja!" Ucap Chelsea kepada Nino. Chelsea pun mengenal Nino dengan baik, karena mereka satu sekolah saat SMP dan juga SMA.
"Iya, Chel. Pilihkan yang bagus ya?" Jawab Nino.
"Iya, pasti."
Chelsea dan Tifanny pun berkeliling untuk mencari gaun yang pas dipakai saat pernikahan Tifanny.
"Aku tidak menyangka Nino akan menikah. Apalagi gadis ini terlihat sangat lugu," batin Chelsea saat melihat penampilan Tifanny yang amat sederhana.
"Nona, apakah anda ingin saya rancangkan busana pengantin saja? Jadi, kita bisa membuat sesuai selera anda," Chelsea memberikan ide.
"Tidak usah, Nona. Yang ada saja. Oh iya, jangan terlalu formal ya? Nino bilang, kau temannya, berarti kau juga temanku," Tifanny menoleh ke arah Chelsea yang berjalan di sampingnya.
"Baiklah," Chelsea mengangguk dan tersenyum ramah.
"Jika ini bagaimana?" Chelsea menunjuk gaun yang dipajang.
"Ini terlalu terbuka," Tifanny menggelengkan kepalanya.
"Aku benar-benar yakin dia gadis baik-baik. Nino dapat gadis ini dari mana? " Celetuk Chelsea dalam hatinya.
"Ingin yang tertutup ya? Baiklah ayo ikut aku!" Chelsea menarik tangan Tifanny pelan.
Ia pun menunjukan busana pengantin hasil rancangannya. Gaun itu terlihat sangat anggun dan tidak mengekspose bagian tubuh.
"Aku suka," Tifanny berkata cepat.
"Kalau begitu kita coba ya?" Ajak Chelsea dengan gembira, karena cliennya hari ini tidak merepotkan seperti yang lain.
Tifanny pun masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaunnya. Ia begitu menyukai gaun yang tengah terbalut di tubuhnya.
"Indah sekali! Andai saja kami menikah karena cinta," Tifanny menatap dirinya dari pantulan kaca.
Lalu ia segera ke luar dari dalam ruang ganti. Chelsea tersenyum melihat Tifanny yang begitu pas dan elegan memakai gaun pernikahan itu.
"Sangat cantik!" Puji Chelsea.
"Aku panggilkan Nino ya?" Chelsea hendak berbalik untuk memanggil Nino.
__ADS_1
"Tidak usah. Yang penting gaunnya sudah cocok. Yang ini saja!" Tifanny menahan Chelsea.
"Baiklah," Chelsea menurut.
Tifanny pun segera masuk kembali ke kamar ganti dan melepaskan gaunnya. Tak lama, mereka pun segera berjalan menghampiri Nino yang duduk di tempat menunggu.
Tifanny melihat Nino tengah bersama Kai, seorang wanita dan anak kecil.
"Bagaimana? Apa kalian sudah menemukan gaun yang pas?" Tanya Nino yang melihat Tifanny mendekat.
"Sudah. Tifanny sudah memilih," jawab Chelsea.
"Kai?" Panggil Tifanny saat melihat Kai terduduk di samping Nino.
"Tifanny? Jadi, kau yang akan menikah dengan Nino?" Kai membulatkan matanya seolah tidak percaya. Saat Alden mengabarinya, jika Nino akan menikah satu minggu lagi, ia tidak diberi tahu siapa calon mempelai wanitanya.
"Sayang, kenalkan ini teman kuliahku!" Tutur Kai kepada wanita yang di sebelahnya yang tak lain adalah istrinya, Alula.
"Hai, Tifanny! Aku Alula," Alula berdiri dan menyodorkan tangannya.
"Aku Tifanny," Tifanny membalas jabatan tangan Alula dengan tersenyum.
"Aku harus memanggilmu apa? Tifanny atau Fanny?" Alula tampak berfikir.
"Terserah kau saja, Nona!" Tifanny tersenyum simpul.
"Sedang apa kau di sini, Al?" Tanya Chelsea yang melihat kedatangan sahabatnya.
"Ya tumben sekali!" Chelsea tertawa melihat raut wajah Alula.
"Aku ke mari karena bosan di rumah Chel. Apalagi aku mual sepanjang hari. Kau tidak merasakan mual?" Tanya Alula kepada Chelsea.
"Ya, sama. Aku pun mengalami morning sickness," jawab Chelsea lagi.
"Mual?" Tifanny tampak tidak mengerti.
"Fann, nanti juga kau merasakan kok. Nanti setelah menikah kau akan hamil dan mual-mual," jelas Alula kepada Tifanny.
"Tidak semua wanita hamil akan mengalami mual-mual, Al!" Chelsea meralat ucapan sahabatnya.
"Oh iya, Fann. Ini putraku! Kenalkan namanya Jasper Allen," Alula mengambil anaknya dari pangkuan Kai.
"Sayang, hati-hati! Nanti Jasper menendang perutmu!" Kai tampak cemas saat istrinya menggendong Jasper yang sudah sangat aktif.
"Tidak akan," Alula terus memangku anaknya.
"Hallo, sayang! Ini aunty Fanny!" Tifanny menggerak-gerakan tangan Jasper dan mencoba menggendongnya.
Jasper pun mau di gendong oleh Tifanny.
"No, lihatlah! Istrimu sudah pantas untuk memiliki anak! Nanti jangan di tunda ya?" Kai menepuk bahu Nino.
__ADS_1
"Iya, tidak akan di tunda," Nino tersenyum yang membuat Tifanny langsung salah tingkah.
"Duduklah!" Nino berdiri dan menuntun Tifanny yang tengah asik menggendong Jasper untuk duduk.
"Kai, mengapa dia sangat mirip denganmu?" Tanya Tifanny saat ia mendudukan dirinya.
"Kan dia anakku, mana mungkin dia mirip Nino!" Timpal Kai yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
"Tentu saja anakmu, mana mungkin anak Nino!" Alula mencubit suaminya dengan gemas.
"Sayang, sakit!" Kai mengelus pipinya.
Tifanny merasa heran melihat tingkah Kai yang sangat berbeda dengan masa-masa mereka kuliah. Waktu Kai berpacaran dengan Arabella, pemuda itu terlihat sangat dingin dan kaku.
"Sayang, duduklah di sini!" Kai menarik Alula ke dalam dekapannya.
"Kai, kau selalu saja tidak tahu tempat!" Gerutu Chelsea yang melihat adegan itu.
"Iya, kau tidak tahu tempat!" Alula segera bangun dari dekapan suaminya.
"Jasper akan punya adik dan kelakuanmu masih saja manja seperti itu!" Nino ikut menggerutu.
Tifanny mulai mengerti jika kita istri Kai tengah hamil anak keduanya.
"Fann, cepat hamil ya? Biar nanti anakku dan anakmu seumuran," Alula mendudukan dirinya di samping Tifanny.
"Langsung hamil? Bahkan aku belum tepikir ke arah sana! Kami hanya akan menikah selama 9 bulan," Tifanny pun memandang Nino dengan lirih.
"Kau tahu, Fann? Alula dan Kai memiliki perjanjian jika mereka hanya akan menikah selama 7 bulan, tetapi lihatlah! Mereka kini berkembang biak," celetuk Nino, dia tahu apa yang dipikirkan oleh Tifanny.
"Berkembang biak? Kau pikir aku ayam?" Kai menggetok kepala Nino pelan.
"Mengapa kalian bisa menikah selama 7 bulan?" Tifanny tampak tidak mengerti.
"Dulu aku dan Kai menikah karena kesalahpahaman," Alula mulai bercerita.
"Sekarang karena cinta kan, sayang?" Kai tersenyum menatap wajah Alula.
"Emm bagaimana ya?" Alula tampak berfikir.
"Jadi, kau tidak mencintaiku?" Kai mencebikan bibirnya.
"Ya ampun, Kai! Kau ini seperti bocah!" Nino tertawa melihat ekspresi wajah sahabatnya.
"Tentu saja aku mencintaimu!" Alula berdiri dan mencium kepala suaminya.
"Ya, di sini kita hanya ngontrak! Dunia milik mereka," ucap Chelsea yang sudah sangat terbiasa melihat adegan kemesraan Alula dan Kai.
"Jadi mereka menikah karena tidak saling cinta? Waktu memang dapat menumbuhkan cinta," Tifanny tersenyum menatap sepasang suami istri yang merasa dunia hanya milik mereka.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...
__ADS_1