
Nino mengambil tisu yang ada di atas nakas dan mengelap hidungnya yang berair.
"Kepalaku sangat pusing!" Nino memijit kepalanya yang sedikit berputar putar.
"Nino?" Alden berteriak dari luar. Tak lama Alden langsung masuk ke dalam apartemen milik Nino di ikuti dengan Kai di belakangnya.
"Kau kenapa?" Kai memperhatikan Nino yang tengah memasukan tisu ke dalam lubang hidungnya.
"Aku sakit, Kai."
"Kau bisa sakit juga rupanya?" Alden tertawa melihat hidung Nino yang merah.
Nino sakit karena kemarin malam ia hujan-hujanan saat mengantar Tifanny ke depan pintu rumahnya dan Nino pun nekat naik ke balkon kamar Tifanny dengan baju yang basah kuyup. Nino tersenyum ketika mengingat momen saat ia memeluk Tifanny kemarin malam.
"Kau kenapa senyum senyum seperti itu? Seperti kerasukan hantu Annabele," ucap Kai sembari memperhatikan Nino yang tengah tersenyum sendiri. Kai pun mendudukan dirinya di atas sofa.
Alden segera mengambil minuman dan makanan ke dapur apartemen milik Nino.
"Mengapa kau bisa sakit?" Alden mendudukan dirinya di kasur Nino dan mulai melahap makanan ringan yang ada di tangannya.
"Iya, seminggu lagi ujian proposal. Kau harus bersiap," Kai merebut makanan ringan yang ada di tangan Alden.
"Kai, aku sedang makan," Alden kembali merebut makanan ringan itu dari tangan Kai.
"Aku sudah mempunyai judul," Nino tersenyum bangga.
"Benarkah? Pasti Tifanny yang membantumu?" Tanya Alden dengan makanan yang memenuhi mulutnya.
"Iya, siapa lagi?"
"Wah wah, kau sekarang sudah sedekat itu dengannya? Kau benar-benar seorang penakluk wanita sejati," Kai bertepuk tangan.
"Sudah ku bilang, jangan panggil aku Nino jika tidak bisa membuat dia jatuh cinta padaku!" Nino merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya.
"Segera persiapkan apartemenmu Kai, dan mobil milikmu, Den!" Lanjut Nino kemudian.
Alden segera berdiri dan mendekat ke arah Kai.
"Kai, ini bahaya! Bagaimana jika Nino menang? Mobilku akan melayang," Alden berbisik.
"Kau tinggal minta saja ke ayahmu," jawab Kai enteng.
"Iya juga ya?" Alden terduduk di samping Kai. Ia masih melahap cemilan yang ada di tangannya.
Nino menatap langit-langit kamar. Wajah Tifanny terus terbayang dalam pikirannya. Tak lama seulas senyuman muncul di bibir Nino kala mengingat kebersamaannya dengan Tifanny akhir-akhir ini.
"Jangan bilang kau jatuh cinta padanya!" Kai melihat Nino yang tengah tersenyum.
"Siapa yang jatuh cinta?" Nino mendudukan dirinya dan melempar bantal ke arah Kai.
"Lalu mengapa kau tersenyum senyum sendiri seperti itu?" Alden menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Aku hanya senang karena akan menang taruhan," Nino berkilah.
"Jangan banyak bicara! Buktikan saja, nanti di akhir semester ini Tifanny harus menjadi kekasihmu. Tapi aku tidak yakin," Kai meledek.
"Iya. Bersiaplah mengerjakan skripsi milikku dan Kai jika Tifanny tidak juga menjadi kekasihmu sampai akhir semester ini," Alden mengambil botol minuman dan meneguknya.
"Tifanny akan menjadi kekasihku. Semalam pun aku sudah berhasil masuk ke dalam kamarnya," jawab Nino dengan bangga.
Alden yang mendengar pun langsung menyemburkan minuman yang ada di dalam mulutnya.
"Kau jangan membohongiku!" Kai merasa tidak percaya dengan ucapan Nino.
"Aku tidak berbohong. Untuk apa aku berbohong?"
"Kau gila! Kau sudah merusak seorang gadis yang polos," Alden menggelengkan kepalanya.
"Aku masuk ke kamarnya hanya untuk melihat keadaannya saja, tidak terjadi apa pun. Otakmu selalu saja kotor!" Nino menggerutu.
"Kurasa kau sudah terjebak dalam permainanmu sendiri, No!" Kai menatap serius ke arah wajah Nino.
"Terjebak apa? Aku tidak pernah memakai hati saat mendekatinya," Nino menatap ke sembarang arah.
Kai yang melihat pun tersenyum.
"Nanti malah kau yang jatuh cinta duluan padanya!" Alden menimpali.
"Tidak, tidak akan. Aku tidak pernah memakai hati saat mendekati dan berkencan dengan setiap gadis."
"Tolong bukakan, Den! Aku tidak kuat. Kepalaku pusing!" Suruh Nino kepada Alden.
Alden pun langsung berjalan dengan malas dan segera membuka pintu.
"Ti-Tifanny?" Alden sangat kaget ketika melihat Tifanny sedang berdiri di depan pintu apartemen Nino.
"Ninonya ada?" Tanya Tifanny dengan raut wajah yang bingung. Ia sungguh tidak menyangka datang di waktu yang salah karena ada Alden dan juga Kai di dalam kamar Nino.
Nino yang mendengar suara Tifanny langsung berlari menghampiri pintu.
"Fann, kau ke mari?" Nino tersenyum senang.
"Iya, aku di suruh oleh Mr. Andrew untuk datang ke mari," jawab Tifanny sambil memperhatikan penampilan Nino. Tifanny melihat wajah Nino yang seperti sedang sakit.
Sementara Kai hanya memperhatikan Tifanny dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sebentar, Fann!" Nino segera masuk ke kamarnya lagi.
"Kai, pulanglah! Aku tidak ingin kalian mengganggu," Nino menarik tangan Kai yang tengah terduduk.
"Kau ini apa-apaan?" Kai memberontak saat Nino menggusur tangannya.
"Kalian pulanglah!" Nino terus mendorong tubuh Kai, kemudian ia mendorong tubuh Alden hingga mereka ke luar dari kamar apartemen.
__ADS_1
"Ayo, Fann masuk!" Nino menarik tangan Tifanny dengan lembut untuk masuk ke dalam kamar. Nino segera menutup pintu dengan keras dan menguncinya.
"Kita di usir, Kai! Kurang ajar anak itu!" Celoteh Alden.
"Jangan melakukan yang aneh-aneh!" Alden menggedor pintu.
"Selamat bersenang-senang!" Teriak Kai, kemudian ia segera berlalu dari sana. Alden pun mengikuti langkah Kai untuk pulang.
"No, aku tidak akan berlama-lama," Tifanny terduduk di sofa yang ada di dalam kamar Nino.
"Sebentar ya? Aku ambilkan minum dan makanan," Nino hendak pergi ke dapur.
"No, tidak usah. Aku tidak akan lama," Tifanny menahan tangan Nino.
"Tanganmu sangat panas. Kau sakit?" Tifanny bertanya dengan khawatir.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
"Kalau begitu duduklah!" Pinta Tifanny.
Nino pun segera duduk di kursi yang ada di hadapan Tifanny.
"No, Mr. Andrew menyuruhku untuk mendatangimu. Dia bilang kau harus bimbingan besok karena minggu depan sudah masuk sidang ujian proposal. Jadi, pendaftaran ujian proposal hanya tersisa 4 hari lagi. Mr. Andrew ingin semua mahasiswa yang ia bimbing sidang minggu depan. Aku sudah menelfonmu tetapi nomormu tidak aktif," Tifanny menjelaskan perihal kedatangannya.
"Aku lupa mencharger ponselku. Maaf ya jadi merepotkanmu dengan datang ke mari?" Nino merasa tidak enak sudah merepotkan Tifanny.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu kau cepat sembuh ya? Semangat untuk menghadap Mr. Andrew besok," Tifanny bangkit dari duduknya. Ia sungguh tidak nyaman harus terperangkap berdua dengan Nino di dalam kamar, apalagi ini adalah kamar seorang pria.
"Aku akan mengantarmu," Nino mengambil kunci mobil miliknya yang tergeletak di atas nakas.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Kau harus banyak beristirahat!" Tifanny menolak.
"Benar kau bisa pulang sendiri?" Nino memastikan.
"Tentu saja. Aku sudah terbiasa pulang pergi ke mana pun sendirian. Aku pulang ya?" Tifanny berjalan ke arah pintu.
"Fann?" Panggil Nino kembali.
"Iya?" Tifanny membalikan badannya. Nino segera berjalan ke arah Tifanny. Ia berdiri tepat di depan gadis itu.
"Terima kasih karena kau sudah jauh jauh datang ke sini," Dengan cepat Nino langsung mencium kening Tifanny.
"Jangan sembarangan menciumku!" Tifanny mengusap keningnya yang sudah di cium oleh Nino.
"Biar saja," Nino berkata dengan senyum yang tidak pudar di wajahnya.
"Jangan lakukan itu lagi! Aku pulang!" Tifanny dengan cepat segera meraih gagang pintu dan ke luar dengan tergesa.
"Gadis itu sangat menggemaskan!" Nino tersenyum.
Hari ini author hanya update 1 episode ya karena author harus pergi ke luar kota. Besok di usahakan 2 episode lagi 🤗🤗
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment, fav, atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...