Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Ulang Tahun


__ADS_3

"Sayang, selamat ulang tahun!" Ucap David kepada Tifanny. Hari ini adalah ulang tahun Tifanny yang ke 22 tahun. Hari ulang tahun Tifanny berbarengan dengan Clara. Dengan kata lain, mereka kebetulan dilahirkan di hari dan di tahun yang sama.


"Terima kasih, Pa," jawab Tifanny.


"Papa berharap kau selalu bahagia, Nak," David memeluk Tifanny dengan lembut.


"Sayang, mari kita rayakan ulang tahunmu dan ulang tahun Clara! Ayo kita pergi makan malam," ajak David kepada Tifanny.


"Aku tidak bisa, Pa. Aku harus belajar untuk sidang ujian proposal yang akan diadakan 4 hari lagi," Tifanny menolak.


"Tapi sayang hari ini adalah ulang tahunmu dan Clara. Kita harus pergi merayakannya," ajak David lagi.


"Aku benar-benar tidak bisa, Pa. Aku harus benar-benar belajar dan mempersiapkan untuk sidang ujian proposal," Tifanny menggunakan kata belajar untuk menolak permintaan ayahnya.


"Baiklah, sayang," David menghela nafasnya pelan. Ia sungguh tidak ingin berdebat dengan Tifanny hari ini.


"Selamat ulang tahun, kak!" Meghan mendatangi kakaknya dan memberikan Tifanny sebuah kado.


"Kesayangan kaka!" Tifanny merentangkan tangannya.


Meghan langsung melompat dan memeluk kakaknya.


"Selamat ulang tahun, kak! Meghan berharap kakak selalu bahagia dalam hidup kakak. Bukalah kado dari Meghan!" Meghan memberikan sebuah kado kepada Tifanny.


"Wah, apa ini?" Tifanny bertanya dengan gemas. Sementara David hanya melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


Tifanny membuka kado dari adiknya dan ia melihat sebuah jam tangan di dalam sebuah kotak.


"Untuk kakak, karena kakak kadang lupa waktu jika sudah belajar," Meghan tertawa.


"Terima kasih, sayang!" Tifanny mencium pipi Meghan dengan gemas.


"Meghan, kau memberikan kado juga kan untuk kak Clara?" Tanya David kepada Meghan.


"Tidak, Pa," Meghan menggelengkan kepalanya.


"Kau ini bagaimana? Kak Clara juga kakakmu. Hormati dia ya?" David menaikan suaranya.


"Meghan tidak punya uang lagi. Membeli kado untuk kak Tifanny pun Meghan harus menabung dan tidak jajan selama 2 minggu," Meghan menundukan kepalanya.


"Besok papa akan memberikanmu uang dan kau beli kado untuk kak Clara ya? Papa hanya ingin kak Clara pun mendapat hadiah seperti kau memberikan hadiahmu kepada kak Tifanny," oceh David panjang lebar.


"Pa, mengapa kau jadi memarahi Meghan?" Tifanny bertanya dengan tajam.


"Bukan memarahi. Papa hanya membenarkan sifat Meghan, dia tidak boleh seperti itu! Clara juga kakaknya sekarang."


"Aku tahu, Pa. Tapi Meghan masih kecil. Wajar saja dia tidak mengerti."


"Setiap kali papa menasehati kalian selalu saja kau tidak terima," David berdiri dan langsung pergi dari kamar Tifanny.


"Jangan diambil hati ya sayang?" Tifanny mengacak rambut Meghan pelan.


"Kenapa papa sangat menyayangi kak Clara kak? Kan kita anak kandungnya. Lagi pula Meghan memberikan hadiah kepada kakak tidak di depan kak Clara, jadi dia tidak akan tahu Meghan hanya memberikan hadiah kepada kakak karena kak Fanny lah kakak Meghan," Meghan mencebikan bibirnya. Ia terlihat kesal.

__ADS_1


"Maafkan papa ya sayang? Papa mungkin tidak enak dengan mama Belinda tapi maksud papa baik!" Tifanny mengelus rambut Meghan dengan penuh kasih sayang.


"Iya, kak. Kalau begitu Meghan ke kamar dulu ya kak?"


"Kau tidak akan ikut makan malam bersama papa, kak Clara dan mama Belinda?" Tifanny menatap raut wajah Meghan yang terlihat masih kesal.


"Tidak, Meghan harus belajar untuk ujian mata pelajaran Matematika esok hari, kak."


"Baiklah, sayang. Belajarlah dengan serius ya?" Tifanny tersenyum hangat ke arah Meghan.


"Baik, kak," Meghan mengangguk, lalu ia segera ke luar dari kamar kakaknya.


Beberapa menit kemudian, Tifanny mendengar suara mobil meninggalkan halaman rumahnya. Tifanny langsung berdiri dan membuka gorden sedikit. Ia melihat ayahnya pergi dengan Clara dan juga Belinda untuk merayakan ulang tahun Clara.


"Maafkan aku, Pa! Aku tidak akan pernah bisa akrab dengan seseorang yang sudah menyakiti mama," Tifanny bergumam lirih sembari terus menatap mobil itu meluncur pergi meninggalkan kediamannya.


"Sebaiknya aku belajar. Aku harus mempersiapkan untuk sidang ujian proposal," Tifanny segera mengambil proposal yang sudah ia print. Tifanny mulai membaca proposal yang sudah ia buat. Tifanny tidak sabar ingin segera menjawab pertanyaan pertanyaan dari dosen penguji nanti.


Saat Tifanny masih fokus dengan proposal skripsi yang ada di tangannya, seseorang terdengar mengetuk kaca jendelanya.


"Ada orang yang naik ke balkon!" Tifanny langsung menyimpan proposal miliknya dan segera berjalan mendekat ke arah kaca balkon.


"Apa itu Nino?"


Tifanny membuka gorden sedikit.


"Duaaaarrr!!!!" Nino berteriak.


Tifanny langsung terlonjak kaget.


"Bukalah!" Pinta Nino.


Tifanny segera membuka jendela kamarnya. Lalu Nino masuk ke kamar melalui jendela itu.


"Selamat ulang tahun, Fann!" Nino menyodorkan kue yang ia bawa kepada Tifanny.


"Kau tahu dari mana hari ulang tahunku?"


"Kita kan sudah sekelas selama 3,5 tahun," timpal Nino.


Tifanny tersenyum melihat tingkah Nino.


"Aku berusia 22 tahun sekarang, bukan 21 tahun," Tifanny memperhatikan angka 21 di atas kue tersebut.


"Oh 22 tahun ya? Maaf ya aku salah membeli lilin!" Nino menggaruk rambutnya.


"Tidak apa-apa," Tifanny tertawa melihat raut wajah Nino.


"Ayo Fann kau tiup lilinnya!" Nino mendekatkan kue yang ia bawa ke arah Tifanny.


"Baiklah," Tifanny langsung menitup lilin yang berada di atas kue. Nino pun langsung bertepuk tangan dan bersurak.


"Kak, mengapa berisik sekali?" Meghan langsung membuka kamar Tifanny. Ia begitu terkejut ketika melihat kehadiran seorang pria di dalam kamar kakaknya.

__ADS_1


"Kak-" Tifanny menutup bibirnya.


"Sssttt... Kemarilah!" Tifanny langsung menarik Meghan ke dalam kamarnya. Ia khawatir jika asisten rumah tangganya mengetahui keberadaan Nino dan melaporkannya kepada Belinda.


Meghan memperhatikan Nino dari ujung kaki sampai dengan ujung kepala.


"Kakak ini kan yang pernah membantuku?" Meghan tersenyum menatap Nino.


"Iya, aku pahlawanmu adik kecil!" Nino tersenyum ke arah Meghan.


"Kakak ke mari lewat sana?" Meghan menunjuk jendela yang masih terbuka.


"Iya, kakak takut mama tirimu memarahi kak Tifanny jika kakak masuk lewat pintu utama," jawab Nino asal.


"Kakak kekasih kak Tifanny? Ciee, cieee kak Tifanny sekarang punya kekasih," Meghan menggoda kakaknya.


"Kak Nino bukan kekasih kakak," Tifanny membantah.


"Memang bukan, tapi sebentar lagi kakak akan jadi kekasih kakakmu," Nino meralat.


"Aku setuju jika kalian berpacaran. Kak Nino orang baik kak!" Meghan menggoyangkan tangan Tifanny pelan.


"Kakak jadian saja ya dengan kak Nino?" Pinta Meghan kepada Tifanny.


"Tuh Fann! Dengar kata Meghan!" Nino ikut menggoda Tifanny.


"Sudahlah, mari kita duduk!" Tifanny mengajak Meghan dan Nino duduk di kasurnya.


"No, mengapa kau nekat masuk lewat jendela lagi?"


"Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu. Apakah salah?" Nino berpura pura memasang wajah yang sedih.


"Kakak, biarkan saja! Aku suka kak Nino datang ke mari. Ayo kita cicipi kuenya kak," Meghan menatap kue tart cokelat yang ada di tangan Tifanny.


"Sebentar, kakak ambil pisau dulu," Tifanny hendak berdiri.


"Tidak usah, Fann! Aku membawa pisaunya. Kebetulan sepaket dengan kuenya," Nino mengeluarkan pisau khusus kue yang ada di tasnya.


"Ayo kak potong kuenya!" Meghan bertepuk tangan dengan antusias.


Tifanny segera memotong kue yang Nino berikan. Lalu Tifanny menyuapi Meghan dengan kue itu.


"Enak, kak!" Puji Meghan ketika ia mencicipi kuenya.


"Aku tidak di suapi?" Nino menunjuk ke dirinya sendiri.


"Baiklah," Tifanny menyuapi Nino dengan kue itu. Nino melahap kuenya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


"Ini untukmu!" Nino membuka lagi tasnya dan memberikan hadiah yang ia bawa kepada Tifanny. Tifanny membuka hadiah pemberian dari Nino.


"Aku memberikan jaket dan sweater itu agar kau tidak kedinginan," tutur Nino lembut.


"Terima kasih ya?"

__ADS_1


"Iya, sama sama," Nino terus menatap wajah Tifanny. Sementara Meghan hanya senyum senyum memperhatikan Nino yang sedari tadi menatap kakaknya dengan penuh cinta.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2