Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Nasehat Kai dan Nino


__ADS_3

Malam berikutnya Alden mengajak Kai dan Nino untuk bertemu, karena sudah lama mereka tidak mengobrol satu sama lain. Mereka bertemu di cafe yang ada di sebelah klub malam.


"Kalian ke mana saja?" Gerutu Alden saat melihat kedua sahabatnya datang.


"Ada saja di rumah. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan Jasper. Terlebih Alula sedang hamil lagi. Untung saja ngidamnya hanya hal-hal ringan," jawab Kai sambil menyeruput es lemon yang sudah dipesankan oleh Alden.


"Jangan bilang kau pun menjadi budak cinta seperti Kai!" Alden menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Nino, karena sebelum Nino menikah mereka tidak terpisahkan bak Upin dan Ipin.


"Ya, menikah sedikit banyak mengubah hidupku, Den. Aku tidak seperti dulu lagi yang memiliki banyak waktu untuk bermain bersama kalian. Aku sekarang memiliki tanggung jawab, aku harus menafkahi istriku," jawab Nino dengan tenang.


"Ah, kalian benar-benar pria yang lemah!" Dengan kesal Alden menyeruput cocktail miliknya.


"Kurangi minum minuman beralkohol! Tidak baik untuk tubuhmu, terutama untuk liver dan ginjalmu!" Kai memberikan nasehat.


"Aku hanya kesepian. Biasanya ada kalian yang selalu menemaniku," Alden menghembuskan nafasnya pelan.


"Den, sudah saatnya kau menikah!" Nino menatap wajah Alden dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Menikah?" Alden tertawa.


"Aku tidak pernah memikirkannya. No, karena menikah orang-orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang," Alden menjawab dengan penuh penekanan.


"Bukan menghalalkan, tetapi mereka sadar jika sudah memiliki tanggung jawab dan seseorang yang harus dihidupi," Kai tampak sabar menghadapi Alden. Ia mengerti kini sahabatnya itu tengah merasakan kehampaan, apalagi wanita yang dicintainya akan menikah dengan kakak kandungnya sendiri.


"Sudah saatnya kau mencari wanita untuk pendamping hidupmu," ucap Nino lagi.


"Nanti saja. Aku masih ingin bersenang-senang, aku masih muda untuk menikah. Bahkan pernikahan tidak pernah aku pikirkan dalam hidupku," Alden kembali menyesap cocktail yang ada di dalam gelasnya sampai tandas.


"Ya, kau berbicara seperti ini karena kau belum menemukan wanita yang pas untukmu. Setelah kau menemukannya, cara pandangmu pun akan berubah, aku yakin itu," timpal Kai kembali. Ia mulai menikmati crepes yang baru dihidangkan oleh seorang waitres.


"Apa ini?" Nino membolak-balikan undangan yang ada di tangannya.


"Kakakku akan bertunangan. Mama menyuruhku untuk mengundang kalian," jawab Alden dengan tidak bersemangat.


Nino dan Kai menatap Alden dengan iba saat melihat nama Cassie di undangan itu. Mereka pun tahu jika Alden jatuh hati kepada Cassie. Kai dan Nino ingat betul saat Alden remaja begitu bersemangat menulis surat cinta dan puisi untuk Cassie. Tetapi, pada akhirnya Cassie malah jatuh cinta pada Aiden, kakak dari Alden.

__ADS_1


"Kau pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Cassie!" Hibur Nino.


Alden hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Nino.


"Sudahlah! Jangan bahas mereka! Kita sudah lama tidak bertemu, lebih baik kita mengobrol yang lain saja," Alden memaksakan senyumnya.


Setelah puas mengobrol dan tertawa bersama, ketiga sahabat itu pun ke luar dari cafe untuk pulang. Mereka masuk ke mobil masing-masing dan segera tancap gas untuk pulang. Saat mobil Nino melewati klub malam yang ada di samping cafe, ia melihat Justin tengah menggandeng seorang wanita seksi sambil menenteng botol minuman di tangannya.


"Aku harus melindungi istriku dari pria macam dia," gumam Nino di dalam mobilnya.


*****


Alden lebih memilih untuk pulang ke apartemen miliknya dibandingkan pulang ke rumah kedua orang tuanya. Saat kepulangan Aiden, telinga Alden selalu saja panas mendengar kedua orang tua mereka selalu membandingkan Aiden dan Alden. Ya tentu saja, kedua orang tuanya memuji-muji Aiden dan sering kali merendahkan Alden sebagai anak yang hanya gemar bermain-main saja.


Alden masuk ke dalam kamar apartemennya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kesepian. Setelah berguling ke sana ke mari, Alden memutuskan untuk membeli makanan ke bawah. Saat ia membuka pintu, ia melihat Bianca tengah berjalan dengan tergesa gesa seperti mencari sesuatu.


"Kebetulan dia di sini, aku akan mengerjainya sedikit," Alden tersenyum senang seperti baru saja mendapatkan mainan baru.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2