Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Kecurigaan II


__ADS_3

Perasaan Tifanny sudah sangat tidak enak ketika mencium parfum wanita dari jas medis ayahnya. Tifanny berlari ke kamar David. Ia mengendap-endap masuk ke dalam kamar itu. Tifanny memeriksa seluruh kamar ayahnya, Tifanny mencari sesuatu yang ia sendiri pun tidak tahu mencari apa.


Tifanny membuka semua laci lemari yang ada di dalam kamar. Pandangannya terkunci pada kertas-kertas kecil yang merupakan bukti-bukti pembayaran.


Tifanny membaca satu persatu bukti pembayaran itu, yang pertama adalah bukti pembayaran sewa apartemen yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya. Bukti pembayaran kedua adalah pembayaran pembelian tas wanita.


"Tas siapa ini?" Gumam Tifanny saat melihat ayahnya membeli satu tas wanita yang lumayan mahal dan branded.


Kemudian Tifanny melihat slip gaji ayahnya di deretan kertas-kertas itu.


"Ternyata papa sudah memiliki honor. Ada yang tidak beres. Aku harus menyelidiknya," Tifanny merapikan kembali bukti-bukti pembayaran dan slip gaji itu ke dalam laci. Setelah itu, Tifanny keluar dari kamar ayahnya dan masuk ke dalam kamar miliknya.


Tifanny meringkuk di atas kasur. Ia takut apa yang ia pikirkan benar. Hingga tidak terasa, waktu sudah menunjukan sore hari.


"Sayang?" Nino berteriak saat ia tidak menemukan istrinya. Biasanya Tifanny akan menyambut kepulangannya di depan pintu.


Nino naik ke atas tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Tifanny tengah meringkuk di atas kasurnya dengan tatapan menerawang.


"Sayang, kau kenapa?" Nino tampak khawatir terhadap keadaan istrinya.


Tifanny bangun dan memandang wajah Nino dengan cemas.


"Papa!" Tifanny mencengkram tangan kemeja Nino.


"Ada apa?" Nino tampak semakin khawatir.


"Aku rasa papa sedang berhubungan lagi dengan seorang wanita," gumam Tifanny.


"Lalu? Di mana letak kesalahannya, sayang?" Nino mencoba menenangkan istrinya.


"Wanita itu sepertinya hanya mengincar uang papa saja. Aku takut!" Tifanny mulai terisak.


"Apa yang kau takutkan?" Nino melembutkan suaranya.


"Aku takut papa akan melupakanku lagi dengan Meghan, sama seperti saat papa menikah dengan Belinda," Tifanny semakin terisak.


"Sayang, kau terlalu berlebihan! Semua akan baik-baik saja. Ada aku di sini!" Nino memeluk Tifanny untuk menenangkan.


"Aku sudah bahagia, aku takut ada yang mengambil papa lagi dariku dan Meghan," air mata Tifanny membasahi kemeja Nino.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang bisa mengambil kebahagiaanmu. Akan aku pastikan itu," Nino terus mendekap istrinya.


Tifanny melepaskan pelukan Nino dan ia berkata


"Mulai besok ayo kita ikuti papa!"


****


Alden tampak merenung di dalam kamarnya. Kebebasannya seolah terampas oleh wanita yang bernama Bianca. Semenjak Bianca bekerja sebagai asisten pribadinya, ia seperti tidak memiliki kebebasan lagi.


"Aku harus mengenyahkan gadis itu!" Alden bertekad di dalam hatinya.


Alden ke luar dari kamarnya, ia turun untuk mengambil minum ke dapur. Saat melewati kolam renang, Alden melihat Bianca tengah berbincang akrab dengan Aiden, kakaknya.


"Dia sangat akrab sekali dengan kakak," Alden memperhatikan dari balik gorden.


"Apakah dia sedang mencoba merayu kakak?" Alden tampak berpikir.


"Sudahlah, bukan urusanku," Alden berjalan kembali untuk sampai ke dapur.


Setelah berbincang hangat dengan Aiden. Bianca pergi ke garasi untuk naik mobil milik Alden. Ia ingin melancarkan lagi kemampuannya dalam menyetir, guna mempermudah pekerjaannya untuk mengikuti Alden ke mana pun pria itu pergi.


Bianca tampak grogi karena ada Aiden di sampingnya. Bianca berdiam cukup lama.


"Kau sedang panik. Coba hidupkan mobilnya masukan persneling ke gigi satu! Lepaskan kopling dan injak pedal gas secara bersamaan," Aiden memberikan aba-aba.


Bianca menurut, ia pun mulai menjalankan mobil milik Alden dengan baik.


"Kau gadis yang pintar!" Puji Aiden sambil menatap wajah Bianca yang tampak gembira karena berhasil menghilangkan kegagapannya dalam menyetir.


"Kau ingin es krim?" Tanya Aiden saat ia melihat penjual es krim.


"Aku mau," Bianca mengangguk cepat dan menghentikan laju mobilnya.


Aiden keluar dan membeli dua buah es krim untuknya dan untuk Bianca.


"Terima kasih," Bianca langsung memakan es krim yang dibelikan Aiden untuknya.


"Pelan-pelan! Nanti kau tersedak," Aiden tertawa melihat bibir Bianca yang belepotan oleh es krim.

__ADS_1


"Aiden sangat berbeda dengan Alden. Andai saja aku asisten pribadinya. Pasti semuanya akan lebih mudah," Bianca menatap Aiden yang masih tertawa.


Aiden dan Bianca pun langsung pulang setelah menghabiskan es krimnya di dalam mobil.


"Hey, kalian sedang apa di dalam mobilku?" Alden berteriak saat melihat Bianca dan Aiden mengobrol di dalam mobil miliknya.


Aiden pun ke luar dari dalam mobil.


"Kakak mengajarkan Bianca untuk mengemudi," sahut Aiden dengan tenang.


"Kak, kau mencoba mengkhianati Cassie?" Tanya Alden dengan setengah membentak.


"Tentu saja tidak. Besok kakak dan Cassie akan membeli cincin untuk pertunangan kami," Aiden menepuk bahu adiknya dan masuk ke dalam rumah.


Alden pun menatap Bianca yang masih ada di dalam mobil. Alden berjalan memutar kemudian masuk ke dalam mobil.


"Hey, gadis udik!" Alden mencondongkan tubuhnya ke arah Bianca.


"Apa?" Jawab Bianca dengan ketus.


"Besok antar aku untuk mengikuti kak Aiden bertemu dengan Cassie!" Alden semakin mencondongkan tubuhnya ke arah Bianca hingga jarak di antara mereka semakin menipis.


"Tuan, tolong duduk dengan benar bukan seperti ini!" Bianca mendorong tubuh Alden hingga pria itu terpental ke luar dari mobil, karena pintu mobil tidak Alden tutup saat ia masuk.


"Aww! Dasar gadis udik pembawa sial!" Alden mengaduh saat ia terlempar dari dalam mobil.


Bianca keluar dari dalam mobil dan menatap Alden yang masih tersungkur di tanah.


"Nah itu balasannya jika kau tidak mengambil jarak dengan seorang wanita!" Bianca tersenyum sinis.


"Halah, jangan sok suci! Seperti dirimu bersih saja," Alden menggeram.


"Maksudnya?" Bianca tampak tidak mengerti.


"Lihat saja! Aku akan menemukan alamat sugar daddymu!" Alden menunjuk wajah Bianca.


"Sugar daddy?" Bianca semakin kebingungan.


"Pokoknya aku akan menemukan sugar daddymu yang kulihat di halte bus waktu itu. Aku akan menyeret pria itu dan menyuruhnya untuk mengakui jika kau adalah simpanannya, hingga mama akan ilfeel dan akhirnya memecatmu menjadi asisten pribadiku. Lihat saja, gadis udik! Aku akan menemukan sugar daddymu dengan cepat!" Batin Alden.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2