Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
One Step Closer


__ADS_3

"Yuhhhuuuu!! I'm comming!" Teriak seorang wanita yang masuk ke dalam butik.


"Bev, kau kemari?" Tanya Chelsea kepada wanita berambut blonde itu.


"Ya tentu saja aku kemari, makanya aku ada di butikmu, kau ini bagaimana?" Gadis itu menepuk pelan tangan Chelsea.


"Kok kita seperti mau reuni ya?" Nino tertawa menatap gadis itu.


"Reuni?" Gumam Tifanny yang terdengar oleh Nino.


"Fann, ini Beverly. Dia juga teman SMA calon suamimu. Dia sahabat aku dan Chelsea. Aku tidak tahu untuk apa dia datang ke mari," Alula menjelaskan.


"Calon suami? Kau akan menikah dengan siapa, Nona? Dengan Kai?" Beverly bertanya dengan polosnya.


"Bev, mulutmu ingin ku jejeli apa?" Tanya Kai yang membuat semua orang di sana tertawa melihat wajah masamnya.


"Kau ini selalu saja bicara seenaknya!" Alula menepuk pelan tangan Beverly.


"Jadi, kau calon istri siapa, Nona?" Tanya Beverly yang bisa mengakrabkan dirinya dengan Tifanny.


"Aku calon istri dari Nino," jawab Tifanny dengan rona wajah yang memerah.


"Wah wah! Jadi, kau calon istri Nino? Nona, kau tahu tidak? Nino saat SMA playboy. Dia memiliki banyak kekasih. Iya kan, No?" Beverly menjelaskan dengan polosnya.


"Itu kan dulu, Bev. Sekarang tidak!" Timpal Nino yang sedang terduduk.


"Oh iya, kenalkan aku Beverly!" Beverly menyodorkan tangannya kepada Tifanny.


"Aku Tifanny," Tifanny tersenyum dan menyodorkan tangannya.


"Tif, sesudah menikah kau harus mengikat Nino di rumah dan memasangkannya kaca mata kuda agar dia tidak melirik wanita lain," oceh Beverly yang ikut terduduk.


"Aku sudah setia, Bev," jawab Nino dengan santai.


"Aku tidak yakin. Awas saja ya jika kau menyakiti istrimu!" Beverly menyipitkan matanya.


"Bukannya kekasihmu Odelia, No?" Tanya Chelsea yang tahu kedekatan Nino dan Odelia saat SMP.


Senyum di bibir Tifanny pun menghilang saat mendengar kata Odelia.


"Tidak. Dia mantan kekasihku. Ini calon istriku sekarang," Nino menunjuk Tifanny dengan matanya.


"Dulu Kai, sekarang Nino! Ah, aku benar-benar tidak mengerti. Ternyata pria bad boy pun akan memilih wanita baik-baik ya?" Kata Beverly.

__ADS_1


"Ke mana suamimu, Bev?" Tanya Nino yang heran melihat kedatangan Beverly seorang diri.


"Suamiku dan anakku sedang tidur di rumah," Beverly mengambil cemilan di atas meja.


"Lalu mengapa kau ke mari?" Tanya Chelsea.


"Aku bosan di rumah, jadi aku ke mari," Beverly terus memakan cemilan yang ada di tangannya.


"Kapan-kapan ayo kita camping bersama!" Ajak Kai kepada yang lain.


"Boleh, Kai. Tapi sesudah aku menikah ya? Biar aku tidak sendirian," jawab Nino sambil melirik ke arah Tifanny.


"Iya, tentu saja. Alden ke mana? Apakah dia sudah mempunyai kekasih yang bisa dia seriusi?" Tanya Kai kepada Nino.


"Ya dia masih seperti itu. Kau seperti tidak tahu saja kelakuan sahabatmu itu," jawab Nino. Nino pun tidak tahu kapan Alden akan berubah.


****


Keesokan harinya, Tifanny dan Nino melakukan sesi foto prewedding. Mereka melakukan sesi foto itu di pantai.


"Nona, tolong lebih dekat dengan calon suami anda!' Perintah fotografer yang melihat gaya kaku Tifanny.


Asisten fotografer pun tampak gemas melihat gaya Tifanny yang begitu kaku.


"Nona, taruh tangan anda di sini!" Asisten fotografer menyimpan tangan Tifanny di leher Nino. Nino pun menyimpan tangannya di pinggang Tifanny.


"Dekatkan wajah anda, Nona!" Asisten fotografer memberikan aba-aba.


Tifanny mendekatkan wajahnya dengan canggung.


"Tempelkan hidungnya!" Teriak sang fotografer.


Nino pun memajukan wajahnya dan menempelkan hidungnya dengan hidung Tifanny. Tifanny menatap wajah Nino dengan kaku.


"Santai saja!" Bisik Nino.


"Ya, bagus!" Fotografer itu memotret lagi Tifanny dan Nino.


"Sekarang rebahkan kepala anda di dada calon suami anda, Nona!" Pinta asisten fotografer.


Tifanny merebahkan kepalanya di dada Nino.


"Biasakan dirimu! Kita akan melakukan lebih dari ini," bisik Nino yang membuat Tifanny menjadi salah tingkah.

__ADS_1


"Mengapa pengantin kita hari ini begitu kaku?" Tanya fotografer kepada asistennya.


"Mungkin mereka di jodohkan," ucap asistennya asal.


Hari itu pun pemotretan berakhir dengan baik, walau pun fotografer dan asistennya harus memaksa Tifanny terlebih dahulu untuk berpose mesra.


11 hari kemudian....


"Besok aku akan menikah?" Tifanny menatap wajahnya dari pantulan cermin.


"Iya, kau akan menikah!" Jawab Bianca yang berdiri di belakang Tifanny.


"Kakak, besok aku akan menjadi pengiring pengantin kan?" Tanya Meghan dengan antusias.


"Iya, sayang," Tifanny tersenyum.


"Kakak ke kamar papa dulu!" Tifanny berdiri dan masuk ke kamar David.


"Papa?" Tifanny menyapa David yang sedang terduduk di kursinya. Keadaannya sekarang jauh lebih baik. David sudah bisa mengenali anak-anaknya dan tidak lagi bicara ngawur.


"Pa, papa sedang apa?" Tifanny mengelus punggung ayahnya.


"Papa sedang menggambar sketsa wajah ibumu," ucap David dengan sendu.


"Pa, besok Tifanny akan menikah! Tolong restui kami!" Tifanny meminta restu ayahnya.


David berdiri dari duduknya dan menatap wajah putri sulungnya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Semoga Nino dapat membahagiakanmu, tidak seperti papa yang selalu menyakitimu!" David menangkup pipi Tifanny dengan tangan yang bergetar.


"Maafkan papa yang selalu menyakitimu dan Meghan!" David berjongkok dan bersimpuh di kaki anaknya.


"Pa, jangan seperti ini!" Tifanny ikut berjongkok dan menahan kepala David yang akan menyentuh kakinya.


"Fanny sudah memaafkan papa!" Tifanny ikut tersedu menatap ayahnya yang sangat kurus sekarang.


"Semoga suamimu tidak seperti papa. Semoga dia tidak akan pernah meninggalkanmu," David menghapus air mata di pipi anaknya.


"Tidak akan. Nino tidak akan meninggalkan Fanny untuk wanita lain. Lupakan semuanya! Semua sudah berlalu, mari kita mulai hidup kita dari awal!" Tifanny mencoba menghibur ayahnya.


"Andai saja waktu bisa di putar. Papa tidak akan meninggalkan ibumu," David memejamkan matanya mengingat ibu Tifanny.


"Sekarang mama sudah tenang. Kita tidak boleh mengungkit hal-hal yang sedih lagi," Tifanny merebahkan kepalanya di dada David.

__ADS_1


"Papa berjanji tidak akan menyakitimu dan Meghan lagi," David memeluk Tifanny erat.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...


__ADS_2