
"Kau tidak bekerja?" Tanya Tifanny kepada Nino yang masih memakai piyamanya di pagi hari ini.
"Tidak. Aku ada rencana lain," Nino mengambil handuk yang tergantung dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Rencana? Rencana apa?" Gumam Tifanny dengan rasa penasaran.
"Sayang? Kau akan pergi ke mana?" Tanya Tifanny sembari menidurkan Archie yang baru saja selesai diberi ASI.
"Ke mana ya?" Nino berpura-pura sok misterius.
"Tolong pompa dulu ASImu ya dan masukan ke botol susu ini!" Nino mengambil pompa ASI dan satu buat botol susu. Tifanny pun menuruti apa kata suaminya.
Nino memakai setelan santainya pagi ini. Itu membuat Tifanny semakin heran.
"Kau penasaran?" Nino berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Iya. Kau akan ke mana?"
"Apakah Archie akan lama tertidur?" Nino menoleh ke arah ranjang bayi milik Archie.
"Sepertinya begitu. Archie sudah kenyang sepertinya, lalu tadi sudah pipis dan pup," Tifanny tampak mengingat-ngingat.
"Baiklah, ayo ikut aku!" Nino menarik tangan Tifanny.
"Kita ke mana?" Tifanny masih terus bertanya.
"Meghan, kakak titip Archie dulu ya? Takutnya dia terbangun. Botol susunya ada di atas nakas," ucap Nino saat ia berpapasan dengan Meghan di tangga.
"Oke kak," jawab Meghan. Ia pun segera masuk ke dalam kamar Nino untuk mengawasi Archie.
"Ini apa?" Tifanny terkejut dengan meja makan yang sudah didekor rapi. Lalu, ada 2 chef yang berdiri di samping meja makan.
"Aku siapkan ini untukmu. Pasti kau lelah menjaga Archie. Kau pun perlu rehat sebentar," Nino menarik kursi untuk mempersilahkan istrinya duduk.
"Kau ini ada-ada saja," Tifanny tertawa.
"Kita akan makan apa?" Lanjut Tifanny.
"Kami sudah menyediakan Salmon with Ratatouile, daging sapi panggang dan makanan khas negara Eropa lainnya," jelas seorang koki.
"Apakah daging sapi panggangnya di panggang dengan matang? Aku tidak ingin ada bakteri jiga masih mentah. Istriku sedang menyus*ui," resah Nino.
"Tenang saja, tuan. Daging dipanggang dengan tingkat kematangan yang sesuai dengan yang anda pinta tadi," timpal koki itu.
"Baguslah. Terima kasih," Nino tersenyum lega.
"Kalau begitu, nikmati sarapan pagi anda Nona dan Tuan!" Kedua koki itu pun berlalu dari ruang makan.
"Kau sengaja mendatangkan koki ke rumah ini?" Tifanny melirik ke arah suaminya yang sedang menghidangkan daging di atas piring.
"Iya. Aku mendatangkan koki terbaik untukmu. Aku ingin kau makan makanan yang bergizi," Nino mengambil garpu dan pisau lalu merecah daging panggang yang ada di piring.
"Terima kasih sudah memperhatikanku," Tifanny merasa terharu akan sikap suaminya.
"Ini memang sudah tugasku. Buka mulutmu!" Nino menyodorkan garpu berisi daging yang sudah ia recah tadi. Tifanny pun menerima suapan dari suaminya.
"Ini enak sekali," Tifanny membulatkan matanya saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya.
"Ini daging wagyu," jawab Nino sembari mengambil lagi potongan daging selanjutnya.
"Daging wagyu? Bukankah ini daging sapi?"
"Iya. Daging wagyu adalah daging sapi khas Jepang yang memiliki kualitas yang tinggi."
"Pantas saja enak," Tifanny mengangguk-nganggukan kepalanya.
"Oh iya. Papa dan Meghan tidak ikut makan?" Raut wajah Tifanny berubah menjadi sedih.
"Mereka sudah makan tadi dan makan makanan yang sama dengan kita. Meghan dan papa mengerti jika aku ingin makan berdua denganmu."
"Syukurlah jika mereka sudah makan," Tifanny merasa lega.
"Setelah makan, aku ada sesuatu lagi untukmu."
"Sesuatu? Apa lagi?"
"Habiskan dulu makananmu ya? Nanti aku beri tahu," Nino menyuapi lagi Tifanny dengan telaten.
__ADS_1
Setelah selesai dengan sarapan paginya, Nino membawa Tifanny ke salah satu kamar tamu yang ada di dalam rumahnya.
"Untuk apa kita ke mari?" Tifanny bertanya dengan bingung.
"Tunggu! Aku baru melahirkan lho!" Tifanny merasakan ada gelagat mencurigakan.
"Kau ini berpikir apa? Aku tahu kau baru melahirkan. Kan yang kau lahirkan adalah anakku," Nino membuka pintu dan membawa Tifanny masuk.
Tifanny melihat kamar tamu sudah didekor seperti ruangan spa dan ada dua orang Beauty Therapist juga seorang praktisi yang akan memberikan saran dan masukan untuk kesehatan. Mereka adalah ahli-ahli yang didatangkan oleh Nino secara langsung dan tentunya Beauty Therapist ini semuanya adalah perempuan.
"Ini apa?" Tifanny masih belum mengerti.
"Aku sediakan perawatan khusus untukmu. Kau pun butuh me time sesudah melahirkan. Tubuhmu pun pasti pegal atau tidak enak. Mereka akan memijatmu dan melakukan perawatan untukmu. Bersantailah sejenak!"
"Sayang, terima kasih," Tifanny menatap Nino dengan penuh cinta. Ia sangat bersyukur mendapatkan suami yang begitu perhatian padanya.
"Aku tinggal dulu ya? Tolong layani istriku dengan baik!" Pesan Nino kepada para Beauty Therapist yang sudah ada di dalam.
"Baik, tuan," timpal Mereka dengan ramah.
Nino memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan mengecek keadaan Archie. Putra pertamanya itu terlihat masih terlelap dalam tidurnya.
"Meghan, biar kakak saja yang menjaga Archie," sapa Nino kepada Meghan yang tengah memainkan ponselnya.
"Baiklah, kak. Meghan juga harus ke Rumah Sakit. Papa minta diantarkan beberapa barangnya yang ketinggalan," Meghan terbangun dari duduknya.
"Baiklah. Hati-hati di perjalanan ya! Kakak tidak bisa mengantar, Archie tidak ada yang menjaga."
"Iya, kak. Tidak apa-apa. Meghan pergi dulu," Meghan keluar dari kamar Nino dan Tifanny. Kemudian ia masuk ke dalam kamar David untuk mengambil barang-barang milik ayahnya yang tertinggal.
Meghan pun menyetop taksi untuk sampai ke Rumah Sakit. Ia mengamati setiap sudut kota dari kaca mobil yang ditumpanginya.
"Sudah sampai, Nona," suara supir taksi membuyarkan lamunan Meghan.
"Ini uangnya, Pak. Terima kasih," Meghan menyodorkan beberapa lembar uang Pounds dan ia pun keluar dari dalam taksi.
"Papa?" Meghan masuk ke dalam ruang praktek David. Kebetulan sedang tidak ada pasien saat ini.
"Meghan, kebetulan kau datang, Nak! Tadi ada pasien papa. Tadi saat papa akan memeriksa, pasien papa itu menaruh ponselnya di atas meja. Nah, jadi ponsel dia ketinggalan di atas meja papa. Papa baru tersadar setelah dia keluar. Tolong kejar dia dan berikan ponsel ini!" David menyerahkan ponsel milik pasiennya itu.
"Dia seorang pria. Memakai kemeja berwarna abu muda dan tas gendong berwarna hitam," David menjelaskan.
"Papa ini tidak spesifik," Meghan mengambil ponsel dari tangan ayahnya.
"Cepat ya, Nak! Pasti dia belum jauh."
Meghan pun mengangguk. Ia berlari menyusuri koridor Rumah Sakit dan mencari pria yang memakai kemeja berwarna abu muda.
"Sepertinya itu," Meghan berlari menghampiri seorang pria yang tengah kebingungan seperti mencari sesuatu.
"Tuan?" Panggil Meghan. Pria itu pun berbalik. Meghan memperhatikan penampilan pria yang ada di depannya.
"Paman, ponsel anda ketinggalan. Aku disuruh untuk mengantarkannya," Meghan memberikan ponsel milik pria itu.
"Terima kasih ya?" Pria itu tersenyum senang.
"Tunggu! Kau sebut aku tadi apa?" Pria itu menyipitkan matanya.
"Paman," jawab Meghan tanpa dosa.
"Paman, paman. Memang aku ini pamanmu! Memangnya aku ini setua apa?" Pria itu seolah tidak terima dengan panggilan yang disematkan Meghan untuknya.
"Jadi, aku harus memanggilmu apa? Om?" Meghan tampak berpikir.
"Dasar anak kecil!" Sergah pria itu dengan raut wajah yang kesal.
"Aku bukan anak kecil ya, paman! Aku ini sudah menjadi seorang mahasiswa," Meghan berkacak pinggang.
"Halah palingan kau baru kelas satu SMA," pria itu berdecak pelan.
"Terserah padamu, paman. Aku pergi," Meghan berlalu dari hadapan pria itu. Ia pun masuk kembali ke dalam ruangan ayahnya.
"Kau kenapa, Nak?" Tanya David yang melihat wajah kesal Meghan.
"Aku sebal dengan paman yang tadi, Pa. Bukannya berterima kasih malah meledekku anak kecil," Meghan mengerucutkan bibirnya.
"Papa kira kenapa," David tertawa.
__ADS_1
"Tapi sepertinya wajahnya tidak asing. Di mana ya Meghan pernah bertemu?" Meghan menggaruk rambutnya.
"Nama pria tadi Aiden. Dia kakak dari teman kakakmu. Kita pernah bertemu adiknya saat pernikahan kakakmu dan saat dia ke rumah menjenguk Archie," David menberitahukan.
"Oh iya. Wajahnya mirip kak Alden. Pantas saja seperti familiar," Meghan mengangguk-nganggukan kepalanya.
****
Alden sudah meminta langsung kepada Kai mengenai permintaan Bianca. Kai pun terpaksa menyetujuinya karena saat kehamilan istrinya, Alden begitu sangat direpotkan.
"Nino tidak diajak?" Tanya Kai saat mereka sudah berada di depan toko kue milik Alden.
"Tidak. Nino kan tidak merepotkanku saat Tifanny hamil," Alden langsung membungkam mulutnya dengan tangan miliknya.
"Maksudku, Nino kan istrinya baru melahirkan. Kasihan lah dia ingin quality time dengan Archie dan Tifanny," Alden mengelak.
"Oh begitu."
"Kalian pakai ya?" Bianca memberikan kostum badut karakter Misha dan Masha.
"Aku tidak mau menjadi Masha," Kai menyerahkan kostum Masha.
"Aku juga tidak mau. Lebih baik jadi Misha (beruang) saja," Alden ikut-ikutan menolak.
"Tidak mau," Kai menolak lagi.
"Kai, kau saja jadi Masha!" Alden menjauhkan kostum itu.
"Aku tengahi saja. Alden, kau jadi Masha!" Bianca memberikan kostum badut karakter Masha untuk Alden.
"Ahaha, itu cocok denganmu! Karaktermu dengan anak itu begitu pas," Kai tertawa puas.
"Awas saja ya, Kai!" Alden mendelik kesal. Ia pun segera memakai kostum badut itu. Begitu pun dengan Kai, ia juga memakai kostum badut karakter Masha (beruang).
"Tidak apa-apa. Tidak akan ada yang mengenali wajahku," ucap Kai sebelum ia memakai kostumnya.
"Ambil bunga ini dan bagikan kepada orang-orang yang melintas!" Bianca memberikan kotak yang berisi bunga kepada Kai dan Alden.
Alden dan Kai pun menghampiri orang yang berlalu lalang dan memberikan setangkai bunga mawar merah yang mereka bawa.
"Kalian sangat manis. Terina kasih," ucap nenek tua yang mendapat bunga dari Alden.
"Aku tidak mau," seorang anak kecil menangis ketakutan saat Kai menghampirinya dan hendak memberikan setangkai bunga mawar merah.
"Terima saja anak kecil!" Suruh Kai kepada anak kecil itu.
"Mama dia jahat!" Anak kecil itu menunjuk Kai.
"Dasar badut tidak ramah!" Umpat ibu dari anak kecil itu.
"Kai, kau tidak boleh seperti itu. Harus ramah!" Alden menghampiri sahabatnya.
"Iya. Kau ini bawel."
"Sekarang pergilah ke arah orang-orang itu dan menari!" Alden memerintah.
"Memang harus menari?"
"Iya. Bianca tadi menyuruh kita menari."
"Baiklah. Tidak akan ada yang mengenaliku," dengan percaya diri Kai mendatangi orang-orang yang bergerombol sambil berjalan kaki.
"Haha, kapan lagi aku bisa mengerjaimu, Kai!" Alden tertawa senang di dalam kostum badut miliknya.
Kai menari-nari di hadapan orang-orang itu. Orang-orang yang melintas tampak kebingungan melihat tarian Kai yang begitu heboh.
"Oh mereka bagian dari toko kue itu. Strategi marketingnya bagus. Ayo kita mencoba kuenya!" Seru salah seorang yang ada di kerumunan itu. Mereka pun beramai-ramai masuk ke dalam toko kue milik Alden.
"Ini sih memenuhi mengidam sambil minum air," Alden tertawa senang saat melihat banyaknya orang yang masuk ke dalam toko miliknya.
**Hallo readers! 2 episode lagi novel ini akan tamat ya. Oh iya, rencananya setelah lebaran author akan merilis novel baru. Tapi author masih menimbang-nimbang untuk setting tempat dan temanya. Kalian tertarik dengan novel yang mana?
a. Kisah anak-anak Kai, Nino, dan Alden. Hanya kelemahan mungkin jika dari cerita turun temurun adalah setting waktu.
b. Author tadinya gak ada rencana buat setting novel di Indo. Tapi karena satu alasan dan alasan lain, akhirnya Author ingin juga membuat novel di Indo. Nah jadi pilihan keduanya adalah cerita baru dengan setting di Indonesia yang lebih akrab dengan kita.
Tolong beri pilihan dan masukannya ya? Terima kasih 🤗🤗**
__ADS_1