Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Meluruskan


__ADS_3

Nino baru saja tiba di rumahnya setelah seharian bekerja. Nino merasa heran karena tidak melihat istrinya menyambut kedatangannya.


"Meghan, kakak mana?" Tanya Nino saat ia melihat adik iparnya.


"Kakak di kamar. Dari tadi dia tidak keluar kamar," jawab Meghan.


"Kalau begitu kakak masuk dulu," Nino berlari ke kamarnya karena takut Tifanny sakit seperti beberapa hari yang lalu.


"Sayang?" Nino berhambur masuk ke dalam kamar. Ia melihat Tifanny tengah duduk di atas kasur dengan menyelonjorkan kakinya.


Tifanny tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke arah yang lain.


"Sayang, kau baik-baik saja?" Nino mendekat dan memeriksa seluruh tubuh istrinya.


Lagi-lagi Tifanny tidak menjawab.


"Kau kenapa?" Nino merasa heran melihat tingkah Tifanny yang sangat dingin.


"Kau masih bertanya aku kenapa? Kenapa kau tidak usah pulang saja sekalian? Pergilah dan bersenang-senanglah dengan mantan kekasihmu!" Tifanny meninggikan suaranya.


"Kau tahu hari ini aku bertemu dengan Odelia?" Nino mulai mengerti perubahan sikap istrinya.


"Aku tahu semuanya," jawab Tifanny dengan tidak ramah.


"Siapa yang memberitahumu?"


"Tadi temanku melihatmu dengan Odelia di cafe. Teman yang pernah menggantikanku mengantarkan pizza ke rumahmu. Dia tahu kau suamiku karena dulu aku mengundangnya. Dia memberi tahu jika kau sedang bertemu dengan seorang wanita. Aku meminta foto kalian karena aku tidak percaya. Dan aku terkejut saat melihat kau bertemu dengan masa lalumu. Kau mengkhianatiku? Kau jahat!" Tifanny memukul dada Nino.


"Sayang, maafkan aku! Tadi aku tidak meminta izin kepadamu. Aku panik karena Odelia berkata ingin berbicara tentangmu," Nino memegangi tangan Tifanny.


"Alasan saja! Kau pasti ingin bernostalgia dengan mantan kekasihmu itu. Iya kan?" Air mata mulai meleleh di mata Tifanny.


"Sayang, jangan menangis! Aku tidak berbohong. Besok aku akan membawa Odelia ke hadapanmu untuk menjelaskan semuanya. Kau pun harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," Nino mendekap paksa tubuh istrinya.


Tifanny berusaha melepaskan pelukan Nino, tetapi tidak berhasil. Pelukan Nino sangat erat seperti seekor anaconda di sungai Amazon yang melilit mangsanya. Hingga akhirnya, Tifanny pun diam dan Nino melonggarkan pelukannya.


"Jika kau tidak percaya padaku, berarti apa arti pernikahan kita selama ini?" Bisik Nino di telinga Tifanny.


"Baiklah, aku ingin bertemu dengan mantan kekasihmu. Aku akan mendengarkan penjelasan mantan kekasihmu itu asalkan alasannya bisa aku terima," Tifanny melunak. Ia pun tidak boleh asal tuduh kepada suaminya.


"Terima kasih," Nino mengecup puncak kepala istrinya.


Esok harinya, sepulang bekerja Nino meminta Odelia untuk bertemu dengannya dan Tifanny dengan tujuan meluruskan segala kesalah pahaman yang terjadi. Mereka bertemu di salah satu cafe yang ada di kota Birmingham. Tentunya cafe yang lumayan sepi agar pertemuan mereka tidak diketahui oleh siapa pun, terutama oleh Sean.


"Aku harap kau memiliki alasan yang bagus mengapa meminta suamiku menemuimu," Tifanny menatap Odelia dengan garang. Ia tidak lupa bagaimana wanita yang ada di hadapannya ini terang-terangan meminta suaminya.


"Nona, maafkan aku! Aku kemarin meminta untuk bertemu dengan Nino karena aku melihat suamiku mengejar-ngejarmu di kantornya," Odelia mulai menjelaskan.


"Suami?" Tifanny tampak kebingungan.


"Iya. Kau bekerja di perusahaan Sean kan? Sean adalah suamiku," papar Odelia dengan tenang.


Tifanny pun membulatkan matanya karena terkejut mendengar penuturan Odelia.


"Aku tidak bermain-main dengannya. Dia yang selalu menggodaku," Tifanny buru-buru menjelaskan.


"Aku tahu, maka dari itu kemarin aku meminta bertemu dengan Nino untuk memberitahunya. Dia harus memperingatimu sebelum kau juga menjadi korban Sean," Odelia menjelaskan dengan tenang.


"Iya, aku pun mendengar kata teman sekantorku banyak wanita yang sudah menjadi korban Sean. Nona Odelia kau yang sabar ya?" Tifanny tampak mengiba.


"Kau tidak perlu mengasihaniku, Nona! Aku sudah menggugat cerai Sean walau pun sampai sekarang masih belum jelas kabar gugatan perceraian dariku," Odelia menunduk.


"Mengapa anda ingin bercerai dengannya?" Tifanny menatap mata Odelia yang tampak menyimpan banyak kesedihan.


"Dia berbuat kasar kepadaku dan ada sebab lainnya yang tak bisa aku maafkan. Aku tidak kuat dan kabur dari rumah," Odelia menitikan air matanya saat mengingat malam kelam itu. Saat Sean ingin melakukan pertukaran pasangan bersama temannya.


"Nona, jangan menangis! Air matamu terlalu berharga untuk manusia macam Sean," Tifanny mengelus tangan Odelia.


Nino yang duduk di samping istrinya hanya menyimak percakapan Tifanny dan Odelia.

__ADS_1


"Iya. Hanya saja ini terlalu menyakitkan. Aku tidak pernah menyangka akan mengalami hal seperti ini di dalam hidupku. Terlebih kedua orang tuaku sangat menggantungkan harapan yang tinggi pada rumah tanggaku. Ibuku sampai sakit-sakitan," Odelia mengambil tisu dan menyeka air matanya.


"Nona Tifanny, aku ingin meminta sesuatu kepadamu. Boleh?" Odelia menatap Tifanny dengan lirih.


Jantung Tifanny berdegup kencang, ia takut Odelia meminta suaminya lagi seperti saat mereka pertama kali bertemu.


"Tentu saja. Kau ingin meminta apa?" Tifanny memberanikan diri menjawab.


"Tolong kumpulkan para korban Sean di kantor agar aku bisa menyeretnya ke meja hijau!" Pinta Odelia. Hati Tifanny pun lega saat mendengar permintaan Odelia.


"Sayang, dia pun terang-terangan berkata jika ia tertarik kepadamu. Dia mengundangku ke apartemennya dan dia pun menjanjikan kepadaku untuk membawamu ke apartemen itu. Secara harfiah dia mengajakku untuk melakukan sesuatu padamu. Dia tidak tahu kau istriku," Nino bersuara.


"Dia bilang akan menjebakmu dengan cara menyuruhmu mengantarkan berkas kantor," sambung Nino.


"Kurang ajar sekali pria itu! Baiklah, aku memiliki ide. Kemarilah!" Tifanny mengajak Nino dan Odelia berembug.


"Kau yakin akan melakukan itu?" Nino tampak tidak yakin.


"Aku yakin. Aku akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja, kan aku akan pergi bersamamu. Bagaimana?"


"Baiklah. Aku setuju," Nino mengangguk.


"Terima kasih, Fann. Aku harap dengan rencana itu akan memudahkan proses perceraianku," sahut Odelia.


"Sayang, kau memang pintar!" Nino mencubit gemas hidung Tifanny.


"Iyalah aku pintar, maka dari itu kau memaksaku untuk menikah denganmu," jawab Tifanny dengan bangga.


Odelia tersenyum melihat pemandangan di depan matanya.


"Aku harap di kemudian hari, aku merasakan kebahagiaan berumah tangga seperti mereka," batin Odelia.


****


Alden berkunjung ke rumah Cassie untuk menghilangkan segala perasaan gundahnya. Entah mengapa setelah kepergian Bianca, hari-harinya menjadi sangat sepi.


"Ayo kita bermain game!" Ajak Alden kepada Cassie. Mereka kini tengah berada di ruang tamu rumah Cassie.


"Ini game yang sedang booming sekarang. Aku ingin bermain team match bersamamu," Alden tampak bersemangat.


"Aku tidak bisa bermain game itu, aku pun tidak ingin bermain game seperti itu. Menghabiskan dan membuang-buang waktu saja!" Cassie menolak.


Alden pun terdiam dan tampak berpikir. Ia cukup tersinggung saat Cassie berkata bermain game itu membuang-buang waktu.


"Bagaimana jika aku membeli mie terpedas dan kita memakannya berdua?" Alden tersenyum.


"Mie? Tidak. Mie berisi karbohidrat dan lemak. Aku tidak mau. Nanti berat badanku bertambah. Aku tidak bisa makan sembarangan. Aku harus menghitung dulu kandungan kalori yang ada pada makanan yang akan aku makan," tolak Cassie lagi.


Alden pun menghela nafasnya kasar.


"Atau kita menonton film saja yu? Aku ingin menonton lagi film Kungfu Panda 3," Alden tak menyerah.


"Aku tidak suka film anak-anak. Aku suka telenovela," jawab Cassie datar.


"Mengapa dia sangat berbeda dengan Bianca?" Keluh Alden di dalam hatinya.


"Sebentar lagi aku akan pergi arisan bersama teman-temanku. Kau ikut ya?" Cassie melirik wajah kesal Alden.


"Arisan?" Alden menggaruk rambutnya. Sejujurnya dia sangat tidak menyukai aktivitas seperti itu. Bahkan Alden selalu menolak ketika Hannah meminta mengantarkannya untuk pergi arisan.


"Aku ikut," Alden menyetujui dengan terpaksa.


Beberapa saat kemudian, Cassie sudah berdandan rapi untuk menghadiri acara arisan bersama teman-teman sosialitanya.


"Hey, Cass! Lama tidak berjumpa," sapa salah seorang wanita berambut cokelat saat Cassie dan Alden sampai di tempat arisan.


"Ini siapa? Adikmu?" Wanita yang lain tertawa menatap Alden.


"Dia kekasih baruku," jawab Cassie simpul.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya memulai acara arisan itu. Semua tampak menikmati acara ini, terkecuali Alden. Ia tampak tidak mengerti dengan obrolan wanita-wanita yang ada di depannya. Mereka membicarakan make up, fashion terkini dan juga aib sesama temannya yang lain.


"Dia terlihat mirip mantan kekasihmu. Oh iya, aku turut prihatin ya karena rencana pernikahanmu batal. Aku tidak menyangka Aiden akan berselingkuh di belakangmu," ucap wanita berambut cokelat.


Cassie langsung terkejut mendengar ucapan temannya, begitu pun dengan Alden.


"Maksudnya?" Tanya Alden.


"Ya, jadi tunangan Cassie ini berselingkuh tepat sebelum mereka menikah. Iya kan Cass?" Jawab wanita berambut cokelat.


"Bukankah kau yang membatalkan pernikahan karena perihal surat itu?" Alden menyipitkan matanya.


"Ten-tentu saja iya. Aku yang membatalkannya," Cassie berkata dengan gugup.


"Aku harus menemui kakak," Alden berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat arisan.


"Aku pulang terlebih dahulu ya?" Cassie berpamitan kepada yang lain dan mengejar langkah kaki Alden.


"Honey, tunggu! Ayo kita bicara!" Cassie langsung masuk ke dalam mobil Alden yag belum melaju.


"Jadi, jelaskan semuanya!" Alden memperlihatkan wajahnya yang tak ramah.


"Jadi, selain aku mengetahui kebenaran tentang surat itu, aku pun mengetahui jika kakakmu berselingkuh dengan wanita lain di belakangku. Setelah mengetahui itu, aku sangat yakin untuk membatalkan pernikahanku dengannya," Cassie berpura-pura bersedih.


"Berselingkuh? Aku kira kak Aiden tidak seperti itu," Alden tampak membantah.


"Aku tidak berbohong. Untuk apa aku berbohong kepadamu? Aku sudah bertahun-tahun berpacaran dengan kakakmu. Aku yang lebih tahu bagaimana sikapnya," hasut Cassie lagi.


"Kau percaya padaku kan?" Cassie meraih dagu Alden.


Alden pun mengangguk.


"Terima kasih sudah percaya kepadaku," Cassie memeluk Alden dan ia tersenyum karena berhasil mengelabui pria itu.


Alden mengantarkan Cassie pulang dan setelah itu ia sendiri pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Saat di depan pintu, Alden berpapasan dengan Aiden, kakaknya.


"Aku tidak menyangka, ternyata sifat kita sama saja ya kak?" Alden tersenyum mengejek sambil menatap Aiden.


"Maksudmu?" Aiden tampak tidak mengerti.


"Ternyata Cassie membatalkan pernikahannya dengan kakak bukan hanya perkara surat, tetapi kakak juga sudah berselingkuh di belakangnya," Alden tersenyum sinis.


"Lalu, kau percaya padanya?" Aiden tersenyum.


"Kau percaya kepada seseorang yang baru beberapa hari ada di sisimu di bandingkan dengan seseorang yang memiliki ikatan darah denganmu? Bahkan kita berada di rahim yang sama, kau sepertinya lebih tahu tentangku dari pada siapa pun. Kau tidak takut dia membohongimu? Jika kau adikku, pasti kau akan tahu bagaimana sikapku selama ini walaupun aku berada di luar negeri selama beberapa tahun. Jadilah pria yang tidak mudah ditipu oleh seorang wanita!" Aiden menepuk bahu Alden. Kemudian ia berjalan ke halaman rumah dan mengendarai mobilnya.


Alden termenung mendengar ucapan kakaknya. Hatinya pun mengelak jika Aiden berselingkuh dan mengkhianait Cassie. Alden sangat mengenal kakaknya, Aiden selama ini sangat berbeda dengan dirinya. Aiden jarang sekali berganti-ganti wanita. Dengan Cassie pun hubungannya awet sampai bertahun-tahun lamanya.


Alden pun masuk ke dalam rumah dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Mengapa dari hari ke hari aku semakin tidak yakin dengan semua ucapan Cassie?" Alden bergumam di atas tempat tidurnya.


"Apa dia berbohong kepadaku? Aku membutuhkan tempat berbagi. Tapi siapa? Semua orang menjauhiku," Alden bangun dari tempat tidurnya.


"Aku harus menjernihkan pikiranku," Alden mengambil kunci mobil yang baru ia simpan di atas nakas.


Alden mengarahkan mobilnya tak tentu arah tujuan. Ia menepikan mobilnya di suatu tempat yang sepi.


Alden menyenderkan kepalanya, ia kemudian melirik ke kursi samping pengemudi. Tiba-tiba bayangan wajah Bianca muncul.


"Alden, kau ini seperti anak kecil!" Bianca tertawa saat Alden meniup wajahnya ketika mereka tengah dalam perjalanan untuk pulang setelah dari bioskop.


Alden tersenyum ketika melihat bayangan itu, tangannya terulur dan mengelus wajah Bianca.


Senyum di bibirnya pudar saat ia melihat bayangan Bianca menghilang. Alden menarik tangannya yang tengah menggantung di udara.


"Apa yang aku pikirkan? Mengapa kau selalu memenuhi pikiranku?" Alden mengusap wajahnya.

__ADS_1


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2