
Tifanny memperhatikan Meghan yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke kampusnya.
"Meghan?" Panggil Tifanny yang sedari tadi memperhatikan adiknya yang sedang asik berdandan.
"Iya, kak?" Meghan memoleskan lip balm berwarna soft di bibirnya.
"Kakak ikut ya?" Tifanny menatap Meghan dengan penuh harap.
"Ikut? Ikut ke kampus?" Meghan bertanya dengan bingung.
"Iya. Ke kampus."
"Kak, Meghan kan harus kuliah. Kakak tidak bisa masuk ke kelas Meghan."
"Kakak bisa berkeliling kampus untuk menunggumu selesai kuliah. Hari ini ada berapa mata kuliah?" Tifanny bertanya dengan antusias.
"Hanya satu kak."
"Bagus kalau begitu," Tifanny bertepuk tangan dengan senang.
"Tapi kak-"
"Ayolah, Meghan! Izinkan kakak ikut ya?" Tifanny memasang wajah memelas kepada adiknya.
"Baiklah, kak. Asal kakak memberitahu kak Nino dulu ya?"
"Pasti. Kakak akan menelfon kak Nino terlebih dahulu," Tifanny tersenyum senang.
"Kakak siap-siap dulu," Tifanny bangun dari duduknya kemudian berjalan dengan girang menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Tak lupa, Tifanny pun menelfon suaminya untuk meminta izin. Setelah terjadi sedikit perdebatan, akhirnya Nino memberikan izin kepada Tifanny dengan syarat Tifanny harus benar-benar bisa menjaga diri dan bayi yang tengah ia kandung.
"Ayo, kak!" Meghan merangkul tangan Tifanny.
Mereka pun berangkat menuju universitas bergengsi yang ada di kota Birmingham.
"Meghan, kampusnya bagus sekali!" Tifanny terkagum memperhatikan desain dan interior bangunan kampus adiknya.
"Iyalah, kak. Kampus ini kan mahal. Meghan bisa kuliah di sini kan karena kak Nino," timpal Meghan sembari menggandeng tangan kakaknya.
"Kakak akan menunggu di mana?" Meghan menghentikan langkahnya.
"Kakak ingin berkeliling dulu sebentar. Nanti kita bertemu di Gazebo yang ada di sana!" Tifanny menunjuk Gazebo yang ada di depan Fakultas Teknik.
"Baiklah, kak. Nanti Meghan jemput kakak di sini ya? Aktifkan selalu ponsel kakak!" Pinta Meghan.
"Dan satu lagi kak. Kakak jangan bersikap yang aneh-aneh ya? Berjalan seperlunya. Jangan sambil memainkan ponsel! Jangan menaiki tangga! Berjalan-jalan saja di area lantai 1. Pokoknya jangan bertindak yang aneh-aneh!" Cerocos Meghan seperti sedang memberikan aba-aba kepada anak kecil.
"Iya, sayang. Kau tenang saja! Kakak akan berhati-hati," Tifanny berusaha meyakinkan Meghan. Meghan pun mengantarkan Tifanny sampai di depan Gazebo.
__ADS_1
"Baiklah, kak. Meghan pergi ke kelas dulu," Meghan pergi meninggalkan Tifanny dan berjalan menuju gedung kuliah fakultas kedokteran.
Setelah kepergian Meghan, Tifanny melangkahkan kakinya berjalan-jalan menyusuri dari satu gedung fakultas ke gedung fakultas lainnya.
"Aku jadi ingin kuliah lagi," Tifanny bergumam dengan gembira sambil memperhatikan mahasiswa yang berlalu lalang.
Tiba-tiba, pikirannya menerawang jauh saat ia dan suaminya sekelas saat di Harvard University. Tifanny pun tersenyum saat mengingat kebersamaannya dulu dengan Nino.
"Aku rindu satu kelas dengannya lagi," Tifanny berbicara sendiri.
Setelah puas berputar-putar di area kampus, Tifanny pun kembali ke Gazebo untuk duduk menunggu adiknya selesai kuliah.
"Meghan ke mana ya?" Tifanny melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
Saat Tifanny mengecek ponselnya yang di aktifkan mode silent, Tifanny mendapat pesan dari adiknya. Tifanny pun membuka pesan itu.
"Kak, tiba-tiba dosen Ilmu Kedokteran Dasar 1 meminta untuk masuk kelas hari ini. Harusnya mata kuliah ini besok. Karena dosennya ada perlu di hari esok, jadi mata kuliahnya di pindah ke hari ini. 3 SKS mata kuliahnya. Kakak tunggu ya? Setelah ini, Meghan akan langsung ke sana. Jangan macam-macam ya, kak!" Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Meghan.
"Huh," Tifanny menghembuskan nafasnya kasar. Ia bisa membayangkan harus menunggu kurang lebih selama 3 jam lagi untuk 3 SKS mata kuliah.
"Aku bosan," Tifanny bergumam.
Tifanny mencari kesibukan dengan memainkan game di ponselnya, membaca novel online dan yang lainnya.
"Satu jam lagi Nino pulang. Semoga Meghan segera selesai kelasnya," Tifanny berkata dengan cemas. Ia takut Nino lebih dulu sampai ke rumah. Ia takut suaminya akan cemas.
"Nona, apa aku boleh duduk di sini?" Tanya seorang pria yang muncul di depan Tifanny.
****
Keputusan Alden sudah bulat untuk melamar Bianca. Alden mendapat dorongan besar dari Nino dan Kai. Malam ini, Alden akan mengutarakan niatnya untuk melamar Bianca kepada keluarganya.
"Ada apa?" Tanya Hannah yang melihat Alden duduk dengan gelisah di kursinya. Saat ini mereka sedang menikmati makan malam bersama.
"Iya, ada apa?" Steve ikut bertanya.
"Pa, Ma, kak?" Alden memulai pembicaraan.
"Iya?" Aiden meminum air mineral di dalam gelas. Ia pun menghentikan sejenak ritual makan malamnya.
"Alden akan melamar Bianca esok hari," Alden berkata dengan serius.
Hannah yang sedang minum langsung menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya.
"Ma, basah!!!" Alden menggerutu karena cipratan air itu mengenai wajahnya yang terduduk di sebelah Hannah.
"Kau sakit?" Hannah menyentuh kening anaknya.
"Aku serius, Ma," Alden melepaskan tangan ibunya dari keningnya.
__ADS_1
"Alden, bercanda ada batasnya!" Steve berkata dengan nada yang sangat berwibawa.
"Pa, aku serius. Kak? Tidak apa kan jika aku menikah terlebih dahulu? Alden meminta persetujuan dari Aiden.
"Tentu saja tidak apa-apa. Lagi pula kakak masih ingin fokus dengan karier. Kasihan kau jika harus menunggu kakak menikah terlebih dahulu," jawab Aiden dengan bijak.
"Syukurlah aku mempunyai kakak sebijak dirimu," Alden tersenyum dengan lega. Merasa beban yang menghimpit dadanya hilang seketika. Ia memang mengkhawatirkan jika kakaknya tidak mengizinkan Alden menikah terlebih dahulu.
"Tapi kau serius?" Aiden mencoba membaca ekspresi adiknya.
"Tentu saja. Aku serius. Tolong restui aku Ma, Pa!" Alden berkata dengan lembut kepada kedua orang tuanya.
"Mama perlu berdiskusi dulu dengan papamu," Hannah beranjak dari duduknya dengan menarik tangan Steve menuju kamar.
"Bagaimana?" Tanya Hannah.
"Kita izinkan saja. Aku rasa sesudah menikah dia akan lebih memiliki sifat tanggung jawab. Kapan lagi dia ingin menikah? Semoga pernikahan benar-benar merubah semua sikap buruknya," jawab Steve.
Hannah pun tampak berpikir.
"Baiklah. Aku setuju," Hannah memutuskan.
"Kita kawinkan saja dia secepatnya," sambung Hannah.
"Kawinkan? Kau kira anakku domba?" Steve seolah tidak terima.
Keesokan harinya, Alden mengajak Bianca untuk makan malam di salah satu restoran romantis dan mewah yang ada di pusat kota Birmingham. Tekadnya sudah bulat untuk melamar Bianca malam ini.
"Ini untukmu!" Alden memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Bianca.
"Terima kasih," Bianca menerima bunga itu dengan senang karena kali ini bunganya benar dan tidak melambangkan duka cita.
Alden sudah mempersiapkan semuanya. Ia sudah bekerja sama dengan waitress dan memasukan cincin yang ia beli untuk melamar Bianca ke dalam sebuah mangkuk es krim. Alden ingin lamarannya berjalan dengan dramatis di mana Bianca tak sengaja menyuapkan cincin itu ke dalam mulutnya. Kemudian Bianca akan memuntahkan cincin itu dan ia akan bertanya apa maksudnya. Nah, Alden akan langsung bersimpuh di depan gadis itu dan mengungkapkan kata-kata lamaran. Itulah yang ada di benak Alden.
Semua menu yang di pesan termasuk semangkuk es krim kecil sudah dihidangkan di atas meja yang di dekor dengan sangat romantis.
"Aku suapi ya?" Alden menyendok es krim dengan besar-besar agar cincinnya tidak terlihat.
"Kau sangat romantis," Bianca tersenyum senang. Pipinya terlihat merona diperlakukan semanis itu.
"Ini dia cincinnya," Alden menyendok es krim lebih besar.
Alden menyuapi Bianca dengan es krim itu. Setelah es krim masuk ke dalam mulut Bianca, Alden tersenyum menunggu sikap Bianca selanjutnya
"Ya ampun! Aku menelan apa barusan?" Bianca bertanya dengan bingung.
"Sepertinya baru saja aku menelan sebuah besi kecil," sambungnya lagi sembari meminum air mineral yang terhidang di meja.
"Apa? Kau menelannya?" Alden bertanya dengan wajah yang mulai frustasi.
__ADS_1
Catatan : Jangan lupa mampir di novel author satu lagi yang masih on going ya. Judulnya Pernikahan Karena Dendam 🤗
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...