Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Menemui Justin


__ADS_3

Sore harinya Justin kembali mengirimkan pesan dan mengajak Tifanny untuk bertemu di cafe.


"Dia belum mau menyerah rupanya," Nino menatap pesan teks tersebut dan segera pergi untuk menemui Justin. Nino melajukan mobilnya menuju cafe yang disebutkan oleh Justin.


Sesampainya di sana, Nino masuk ke dalam cafe dan melihat Justin tengah duduk di sudut cafe. Nino berjalan mendekat ke arah meja Justin dan duduk di depannya.


"Kau? Mengapa kau ada di sini?" Justin menatap kaget Nino yang tiba-tiba duduk di depannya.


Nino memandang Justin dengan geram. Ia sungguh ingin sekali menghajar pria yang ada di depannya, tetapi sekuat tenaga ia menahannya.


"Berapa kali aku harus mengatakannya kepadamu? Jauhi istriku! Kau tidak mempunyai telinga?" Suara Nino meninggi, ia dari tadi sudah meradang karena sikap tidak tahu malu Justin.


"Kalau aku tidak mau?" Justin menantang.


"Aku akan memberikan ini ke tempatmu bekerja!" Nino mengambil banyak foto dari tasnya dan melemparnya ke atas meja.


Justin mengambil foto-foto itu. Bagaimana bisa Nino mempunyai foto dirinya yang tengah mabuk di dalam klub juga fotonya yang tengah bersama wanita penghibur. Dan foto-foto dirinya tengah berpesta di pantai dengan banyak wanita.


"Jika kau masih mendekati istriku, aku akan mengeluarkan yang lebih parah dari ini! Aku mempunyai videomu saat berada di kamar hotel," Nino menyeringai jahat.

__ADS_1


"Tidak mungkin kau mempunyai video mengenai hal itu. Hotel tidak akan membocorkan privasi tamunya!" Justin mulai terlihat gusar.


"Kau tidak percaya padaku? Bahkan dengan mudah aku bisa menendangmu menjadi dosen pembimbing istriku. Aku pun bisa membuat kau tidak mengajar di kelas istriku lagi."


Justin tampak tersentak mendengar ucapan Nino. Ia memang sempat curiga ketika diberitahukan mengenai Tifanny yang sudah tidak masuk ke dalam kelompok mahasiswa bimbingannya. Akan tetapi, Justin menyangkal jika Nino yang melakukannya.


"Lalu, kau meremehkan aku? Kau ingin aku benar-benar mengeluarkan video itu? Baiklah, aku akan memberikan video itu kepada pihak universitas. Aku ingin melihat bagaimana kehancuran kariermu dan mari kita lihat kehancuran ibumu yang saat initengah sakit!" Lanjut Nino.


Lagi-lagi Justin terkejut mendengar ucapan Nino. Dari mana lawannya itu tahu mengenai keluarganya?


"Jangan lakukan itu!" Justin menatap Nino dengan penuh kekalahan.


"Aku tak akan mendekati istrimu lagi. Tolong jangan sebarkan apapun mengenai semua aktifitasku di klub dan hotel," Justin seolah meminta pengibaan dari Nino.


"Sial*n!" Justin mengacak rambutnya.


***


"Bagaimana? Apakah sudah ada tanda-tanda kau hamil?" Nino memeluk Tifanny ketika mereka bersiap untuk tidur.

__ADS_1


"Belum," Tifanny menggeleng dengan gugup.


"Nanti kau ingin mempunyai berapa anak?" Nino merebahkan kepalanya di pundak Tifanny.


"Emm-" Tifanny tidak menjawab.


"Aku mengantuk, ayo kita tidur!" Tifanny mengalihkan.


Nino pun mengangkat kepalanya dan menatap Tifanny dengan tajam.


"Mengapa setiap aku membicarakan anak kau selalu menghindar? Jangan bilang kau meminum pil kontras*psi diam-diam di belakangku!" Nino menautkan alisnya tajam.


"Mengapa kau bisa berpikir ke arah sana?" Tifanny tertawa dan mengelus pipi Nino.


"Aku tidak pernah meminum pil atau apapun itu," imbuhnya.


"Lalu, mengapa setiap aku membicarakan perihal anak, mengaoa kau seolah menghindari perkataanku?" Nino melunak dan melembutkan suaranya.


"Karena aku-"

__ADS_1


"Apa?" Nino tampak tidak sabar.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2