Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Alasan Alden


__ADS_3

Nino sudah memakai setelan kerjanya dengan lengkap, akan tetapi Nino melihat Tifanny masih tertidur dengan pulas di kasurnya.


"Sayang, kau sakit?" Nino memeriksa suhu tubuh istrinya.


"Aku masih mengantuk," Tifanny menaikan selimut sampai ke lehernya. Tifanny memang sudah resign dari perusahaan Sean, walaupun kini perusahaan itu diambil alih oleh ayah Sean. Perusahaan diambil alih karena Sean harus menghadapi delik hukum yang menjeratnya.


Sean dikenakan pasal berlapis untuk kasus pelecehan terhadap beberapa wanita sekaligus dan untuk kasus KDRT yang ia lakukan terhadap Odelia.


"Sayang?" Nino menggoyangkan pelan tubuh Tifanny.


"Aku mengantuk," gumam Tifanny dengan suara yang serak.


"Baiklah, aku berangkat bekerja dulu. Jangan lupa untuk sarapan!" Nino mengelus rambut Tifanny dan menciumnya.


Sore harinya, Nino pulang ke rumah. Ia masuk ke dalam kamar karena Meghan berkata jika seharian ini Tifanny tidak ke luar kamar sama sekali. Nino melihat Tifanny tengah tertidur di kasurnya.


"Sayang, kau masih tidur?" Nino berkata dengan cemas.


"Sayang, bangunlah! Kau menakutiku," Nino menepuk-nepuk pipi Tifanny.


"Kau sudah pulang?" Tifanny membuka matanya.


"Iya, kau kenapa? Mengapa seharian ini hanya tidur?"


"Aku tidak tahu kenapa. Tapi tubuhku terasa sangat lemas dan letih."


"Kau sakit?" Nino bertanya dengan gusar.


"Tidak. Tapi entah mengapa, aku selalu mengantuk," Tifanny mendudukan dirinya.


"Lebih baik kita makan dulu ya? Kau pasti belum makan?"


"Aku ingin makan di sini saja," Tifanny membaringkan tubuhnya lagi.


"Baiklah. Tunggu sebentar!" Nino mengganti baju kerjanya dengan baju piyama. Kemudian ia turun ke bawah untuk mengambil makanan dan minuman untuk istrinya.


"Fanny kenapa?" David berkata dengan cemas. Ia baru saja pulang bekerja dari Rumah Sakit.


"Tidak apa-apa, Pa. Sepertinya Fanny hanya lelah," jawab Nino sambil membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Nanti papa ke atas untuk melihat Tifanny ya?" Jawab David.


"Iya, Pa. Nino ke kamar dulu ya? Tifanny belum makan apapun."


"Iya. Pastikan Fanny memakan semuanya ya?" Raut wajah David yang sudah mulai menua tampak khawatir.


Nino mengangguk dan membawa nampan itu ke dalam kamar.


"Makanlah!" Nino menyuapi Tifanny dengan menu Salmon Fillet yang dibumbui saus tomat.


"Kau memberi makan aku apa?" Tifanny memuntahkan makanan yang masuk ke dalam mulutnya pada selembar tissu.


"Ini Salmon Fillet dengan saus. Makanan kesukaanmu," Nino mengambil tisu yang berisi muntahan Tifanny dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang ada di kamar.


"Mengapa rasanya aneh seperti itu?" Tifanny langsung minum segelas air sampai tandas.


"Bukannya kau membeli Salmon itu di tempat biasa?" Nino tampak heran dengan tingkah istrinya.


"Aku ingin memakan Salmon yang ditangkap oleh Beruang," kata Tifanny dengan serius.


"Sayang, kau ini kenapa? Pasti terlalu banyak tidur," Nino mengira Tifanny tengah mengigau.


"Aku bersungguh-sungguh. Mungkin Salmonnya akan enak jika ditangkap oleh Beruang. Kau kan sering lihat di acara-acara dokumenter tentang hewan. Beruang suka menangkap ikan Salmon," Tifanny berbaring lagi di atas kasurnya.


"Jadi, kau ingin aku pergi ke Alaska dan merebut ikan Salmon dari Beruang? Kau ingin suamimu ini dicabik-cabik Beruang?"


"Siapa bilang aku menyuruhmu untuk itu? Aku sedang tidak ingin makan apa pun" Tifanny memejamkan matanya lagi.


"Sebenarnya dia kenapa?" Nino heran sendiri dengan kelakuan istrinya. Biasanya Tifanny akan menghabiskan banyak ikan Salmon karena ia begitu menyukai semua menu berbahan ikan Salmon.


****


"Menjemput?" Alden merasa kecolongan.


"Duduklah, Nak!" Perintah Hannah kepada putra sulungnya.


Aiden dan Bianca pun duduk saling bersisian. Mata Alden dan Bianca saling menatap satu sama lain, tetapi Bianca memilih mengakhiri terlebih dahulu tatapan itu.


"Bi, kau cantik sekali! Bagaimana kabarmu sekarang?" Tanya Hannah dengan ramah. Alden pun memperhatikan Bianca yang malam ini tampil berbeda dari biasanya. Matanya terus menatap lekat wanita yang sudah beberapa hari ini memenuhi isi hati dan kepalanya.


"Baik, Bu. Ibu bagaimana?" Jawab Bianca.


"Ibu baik-baik saja."


"Sekarang kau bekerja di mana, Bi?" Tanya Steve yang terduduk di samping Hannah.


"Belum, tuan. Sekarang masih dalam tahap mencari pekerjaan baru."


"Bagaimana jika Bianca kembali menjadi asisten pribadiku saja, Pa?" Alden memotong obrolan mereka.


Semua orang yang ada di sana menoleh kepada Alden.

__ADS_1


"Aku rasa tuan Alden sudah tidak memerlukan asisten pribadi lagi. Sekarang kan ada Nona Cassie. Aku yakin dia bisa mengurus dan mengontrol kelakuan tuan Alden," Bianca mencoba tersenyum.


"Bianca benar," Hannah menyetujui.


"Kau salah! Aku sudah memutuskan hubunganku dengan Cassie karena aku-"


"Sudahlah, tidak usah membahas wanita itu di sini! Lebih baik kita cicipi hidangan yang ada!" Steve menyela.


"Tapi Pa, Alden sudah benar-benar membuang wanita itu," Alden merasa belum puas.


Bianca tampak kaget mendengar penuturan Alden, raut wajah Hannah, Aiden pun sama terkejutnya.


"Lalu, apa maumu?" Hannah menatap tajam ke arah Alden.


"Jadikan Bianca lagi asisten pribadiku!" Alden menatap Bianca dengan tatapan merindu.


"Bagaimana, Bi? Apakah kau mau?" Steve menoleh ke arah Bianca.


"Maaf, tuan! Saya tidak bisa," Bianca menolak dengan terang-terangan.


"Mengapa?" Alden menaikan suaranya.


"Karena aku tidak akan memperbolehkannya. Iya kan, Bi?" Aiden menyahut.


Bianca tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Aiden.


"Memangnya kak Aiden itu siapanya Bianca? Kekasihnya? Suaminya?" Alden menatap Aiden dengan geram.


"Ya, mungkin calon kekasih," jawab Aiden datar.


Alden pun berdiri dan menggebrak meja.


"Aku selesai dengan acara ini," Alden berlari menuju kamarnya.


"Seperti wanita saja dia," Steve menatap Alden yang berlalu meninggalkan acara.


"Biarkan saja!" Cetus Hannah dengan kesal.


"Maaf ya, Bi? Aku tidak bisa mengontrol ucapanku kepada anak itu," Aiden menoleh ke arah Bianca.


"Tidak apa-apa, kak."


"Mengapa kalian tadi bergandengan tangan?" Steve menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia ajukan.


"Tadi heels Bianca patah dan dia terjatuh, jadi aku menuntun lengannya," Aiden menjelaskan.


"Papa pikir kalian berpacaran."


"Tidak, tuan. Kak Aiden bilang ibu yang menyuruhnya untuk menjemputku," Bianca buru-buru membantah.


Di dalam kamar, Alden memecahkan semua barang-barangnya. Ia pun memberantakan seluruh isi kamar.


"Mengapa Bianca bisa bersama dengan kak Aiden? Ternyata selama ini sikap kak Aiden yang tenang setelah ditinggalkan Cassie karena dia sudah jatuh cinta dengan Bianca? Aku merasa ditusuk dari belakang!" Alden mengacak sprei miliknya.


"Aku tidak terima," Alden kembali memecahkan beberapa barang yang ada di dalam kamar.


"Kenapa anak itu?" Tanya Steve saat ia mendengar suara gaduh dari kamar anak bungsunya. Begitu pun dengan keluarga yang lain yang langsung menghentikan aktivitas mereka karena mendengar keributan di dalam kamar Alden.


"Sepertinya dia tengah melakukan exorcism (ritual pengusiran setan) agar pikirannya jernih kembali," jawab Hannah dengan asal. Hannah masih belum terima Alden mengkhianati kakaknya.


"Ma, jangan seperti itu!" Aiden menimpali.


Bianca pun tampak khawatir ketika mendengar suara ribut-ribut di kamar Alden, tetapi ia mencoba untuk tidak peduli.


Pukul 11 malam, pesta untuk merayakan ulang tahun pernikahan Hannah dan Steve selesai. Semua kerabatnya satu persatu pamit pulang dan meninggalkan acara.


"Ma, Aiden pamit untuk mengantar Bianca pulang!" Aiden dan Bianca berdiri dari duduknya.


"Iya. Antarkan Bianca pulang ke rumahnya dengan selamat!" Jawab Hannah.


"Ibu, tuan? Bianca izin pulang," Bianca berpamitan.


"Iya, Bi. Pakailah mantelmu!" Steve mengingatkan.


Bianca pun mengangguk dan berjalan meninggalkan kediaman Hannah dan Steve diikuti dengan Aiden di belakangnya.


Aiden membukakan pintu mobilnya untuk Bianca.


"Terima kasih kak," Bianca merasa tidak enak diperlakukan seperti itu.


"Sama-sama," Aiden kemudian masuk ke kursi pengemudi dan melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumahnya.


Aiden menatap spion mobilnya, ia mengenali mobil yang mengikutinya saat ini. Aiden pun tersenyum saat ia tahu kini adiknya tengah mengikuti dirinya dan Bianca.


"Ternyata kau memang masih kekanakan," batin Aiden sembari tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kak? Kau baik-baik saja?" Bianca menatap heran Aiden yang tersenyum sendiri.


"Aku baik-baik saja," timpal Aiden.


"Kak, terima kasih sudah mengantarku," ucap Bianca saat mobil Aiden sudah sampai di tempat kediamannya saat ini.

__ADS_1


"Sama-sama, biar aku lepaskan sabuk pengamannya!" Aiden mencondongkan tubuhnya menghadap Bianca. Aiden tersenyum dan melirik sekilas mobil adiknya.


"Apa-apaan mereka?" Alden yang mengintai mereka dari dalam mobilnya memukul kemudi dengan kuat.


Setelah mengamuk di dalam kamarnya, Alden berjalan keluar dengan mengendap endap dan menunggu di dalam mobil untuk mengikuti Aiden dan Bianca. Ia ingin tahu tempal tinggal Bianca kini ada di mana.


"Kakak, kurang ajar!" Amarah dalam diri Alden meletup-letup.


"Aku ingin menghajar kak Aiden sekarang," wajah Alden memerah menahan emosi.


"Lebih baik aku berbicara dengan kakak di rumah saja, yang terpenting aku sudah tahu di mana Bianca tinggal," Alden memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Alden tidak mampu lagi melihat kedekatan Bianca dan juga kakaknya.


Setelah mengantarkan Bianca pulang dengan selamat, Aiden pun langsung pulang ke rumahnya. Ia ingin sekali cepat tidur dan beristirahat.


"Kak?" Alden menunggu kedatangan Aiden di depan kamar kakaknya. Sedangkan Hannah dan Steve sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena cukup lelah dengan pesta tadi.


"Ada apa?"


"Jauhi Bianca!" Alden menggertakan giginya geram teringat adegan tadi yang ia lihat.


"Memangnya mengapa kau meminta kakak untuk menjauhi Bianca?" Aiden berpura-pura tidak mengerti.


"Jauhi saja!!!!" Alden berteriak.


Hannah dan Steve yang mendengar Alden berteriak pun keluar dari kamar.


"Ada apa ini?" Tanya Hannah dengan tergesa ketika melihat Alden menatap Aiden dengan tidak ramah.


"Ma, kak Aiden mendekati Bianca. Bahkan tadi kakak mengambil kesempatan untuk berdekatan dengan Bianca!" Alden menunjuk Aiden.


"Lho memangnya kenapa? Kakakmu dan Bianca sama-sama single. Lalu apa yang kau permasalahkan?" Steve merasa tidak mengerti.


"Ya, Bianca kan tidak selevel dengan kita," Alden tampak mencari-cari alasan.


"Dia putra sahabat mama. Di dalam kehidupan kita tidak ada namanya selevel atau berbeda level. Semuanya sama saja. Lebih baik kakakmu bersama Bianca dari pada dengan Cassie. Cassie selevel dengan keluarga kita, tetapi wanita itu mempunyai peringai yang sangat buruk. Attitudenya sangat rendah!" Hannah mengungkapkan kekesalannya.


"Sabar, Ma!" Steve menenangkan Hannah yang sudah kadung tersulut emosi.


"Lebih baik kak Aiden kembali bersama Cassie saja! Jauhi Bianca!" Alden menatap tajam kakaknya.


"Bukankah Cassie sudah memilihmu?" Aiden tersenyum sebagai isyarat menantang adiknya.


"Aku tidak butuh dia. Kakak ambil saja wanita murahan itu!" Alden berkata dengan seenaknya.


"Kakak tidak berminat. Kakak ingin Bianca," Aiden memegang gagang pintu kamarnya.


"Kak, jangan masuk! Jangan dekati Bianca lagi!" Alden berteriak.


"Kenapa? Atas dasar apa kau menyuruh kakak jangan mendekatinya lagi?" Aiden menatap mata Alden.


"Karena aku sudah meniduri Bianca," Alden mencari alasan lain.


"Maksudmu?" Hannah tampak kaget, begitu pun juga dengan Steve.


"Saat di Norwegia, aku menolong Bianca yang kedinginan. Jadi, aku menidurinya di dalam tenda. Setelah kejadian itu, setiap hari bahkan setiap waktu kami melakukannya. Coba saja kalian pikir dengan logika, tidak mungkin seorang pria dan wanita berduaan di dalam rumah tanpa melakukan apapun, apalagi di negara sedingin Norwegia," Alden berkata dengan gugup. Ia khawatir kebohongannya dapat terbaca.


Aiden mengangkat sudut bibirnya ke atas. Mengerti jika adiknya tengah berbohong.


"Ya ampun! Mengapa kau melakukannya?" Steve berteriak.


"Karena memang kami suka sama suka, Pa. Dari pada menunggu Bianca positif hamil, lebih baik nikahkan saja kami sekarang!" Pinta Alden kepada ayahnya.


"Kau pikir pernikahan itu seenteng apa yang kau katakan? Dasar anak tidak berguna!" Hannah memaki Alden.


"Ya harus bagaimana lagi? Mungkin saja di perut Bianca sudah ada cucu Mama dan Papa. Lebih baik antisipasi dari awal kan?" Alden masih melanjutkan kebohongannya.


Aiden menggelengkan kepalanya mendengar permintaan adiknya itu.


"Adikku! Aku tidak peduli jika dia sudah tidur dengan siapa pun, termasuk denganmu. Kakak tidak akan menjauhinya!" Aiden menepuk bahu Alden dan masuk ke dalam kamar.


"Jangan seperti itu! Jauhi dia! Tidak akan aku biarkan kakak mendekati Bianca. Dia sudah aku nodai!" Alden menendang pintu kamar Aiden dan berteriak teriak.


"Sebenarnya kau ini kenapa? Cemburu?" Steve merasa baru melihat sisi diri Alden yang seperti ini.


"Ti-tidak. Untuk apa aku cemburu?" Alden membantah. Ia pun berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.


"Ada apa dengan anakmu?" Steve memandang Hannah.


"Sudahlah, aku ingin beristirahat," Hannah berjalan kembali ke arah kamarnya.


"Bagaimana jika yang dikatakan Alden benar?" Tanya Steve saat mereka sudah masuk ke dalam kamar lagi.


"Bagaimana jika Bianca secara tidak sadar tengah mengandung anak dari putra kita?" Tanya Steve lagi.


"Kau tidak mengerti? Putramu hanya mencari alasan. Aku ibunya, aku tahu ketika dia sedang berbohong," Hannah mematikan lampu.


Di kediaman Bianca....


Gadis itu kini tengah terduduk di kursi yang ada di dalam kamarnya. Bianca mengeluarkan gelang bermotif kerang yang diberikan oleh Alden kepadanya saat mereka berada di Desa Reine, Norwegia.


"Mengapa aku jantungku masih berdebar tak karuan ketika bertemu denganmu lagi? Setelah aku resign dari pekerjaanku, aku mengurung diri di rumah untuk melupakanmu. Tetapi mengapa kau sulit sekali pergi dari pikiranku?" Bianca menatap gelang itu.

__ADS_1


"Tapi luka yang kau torehkan cukup menyakitkan untukku. Kau terang-terangan memilih wanita yang tidak baik dari pada aku yang selalu menemanimu. Aku akan selalu berusaha untuk tidak bersinggungan denganmu lagi," Bianca memasukan gelang itu ke dalam laci meja yang ada di dalam kamarnya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2