
Tifanny dan Nino sudah pulang dan kembali ke rumah. Mereka hanya berlibur selama 3 hari di Jerman. Sepulangnya ke negara asalnya, Tifanny dan Nino langsung beraktivitas seperti biasa. Nino langsung bekerja dan Tifanny pun memulai kembali bimbingan skripsinya.
Siang ini Tifanny berjalan menuju kampusnya, ia melihat Justin membawa tas kerjanya dengan wajah yang merah padam.
Justin menatap Tifanny, ia pun berjalan mendekati teman yang pernah satu kampus dengannya itu.
"Fann? Sekarang kalian puas?" Justin berkata dengan amarah yang meletup-letup.
"Puas apa maksudmu?" Tifanny tampak kebingungan.
"Aku dipecat dari universitas ini. Ini semua karena suaminu!" Justin menunjuk Tifanny.
"Aku tidak mengerti," Tifanny masih berusaha mencerna semuanya.
"Suamimu yang membuatku dipecat dari kampus ini!!" Bentak Justin.
"Mana mungkin Nino melakukan hal itu," Tifanny menepis prasangka buruk Justin.
Justin tak menjawab Tifanny. Ia segera berjalan menuju mobilnya dan meninggalkan kampus.
"Aku harus meminta penjelasan kepada Nino," Tifanny memutuskan untuk menunda bimbingannya dan mencegat taksi untuk pulang.
Tifanny meminta Nino untuk segera pulang setelah jam kerjanya berakhir.
"Ada apa, sayang?" Tanya Nino saat ia baru sampai rumah. Wajahnya selalu ceria sama seperti sebelumnya.
"Aku ingin bertanya kepadamu," raut wajah Tifanny tampak cemas.
"Iya ada apa? Mengapa wajahmu sangat serius?" Nino menangkup wajah istrinya.
"Justin tadi berkata kepadaku jika dia dipecat ditempatnya bekerja. Dia bilang itu semua karenamu. Benarkah begitu?"
"Aku tidak tahu apa-apa, sayang. Dulu memang aku sempat mengancamnya untuk menyebarkan video asusil*nya," jelas Nino.
"Maksudmu?" Tifanny tampak tidak mengerti.
"Maksudku dulu dia mempunyai niat buruk untuk merusak rumah tangga kita dan aku mengancamnya sedikit."
"Dan kau melakukannya?" Tanya Tifanny dengan curiga.
"Tentu saja tidak, sayang. Aku mempunyai video seperti itu dari mana? Tidak mungkin kan di dalam kamar hotel ada sebuah kamera? Aku hanya menggertaknya sedikit," Nino membantah.
"Kalau begitu berhati-hatilah dengan Justin! Aku khawatir dia akan berbuat jahat," Tifanny mengingatkan.
"Iya, sayang. Nanti aku cari tahu semuanya," Nino menenangkan.
****
Belakangan ini Alden sudah betah di rumah dan tidak pernah berusaha untuk kabur lagi dari rumah.
"Bi, sepertinya kami tidak salah memperkerjakanmu sebagai asisten pribadi Alden. Sekarang sikapnya lebih tenang dan tidak seperti dulu," Hannah membuka obrolan dengan Bianca di suatu malam.
"Itu bukan karenaku, Bu. Akan tetapi, memang Alden sudah waktunya untuk berubah," Bianca tersenyum kaku.
__ADS_1
"Tidak. Sedikit banyak kehadiranmu mempengaruhi sikapnya," Hannah menyeruput teh hangat miliknya.
"Apa setelah tuan Alden benar-benar berubah 100%, aku akan dipecat?" Tanya Bianca dengan khawatir.
"Tidak. Aku tak akan memecatmu," Hannah seolah menjawab keresahan yang dirasakan oleh Bianca.
"Terima kasih, Bu," Bianca tersenyum senang. Bagaimana pun, mencari pekerjaan saat ini cukup sulit, belum lagi lulusan baru yang semakin banyak. Hal itu semakin meningkatkan daya saing dunia kerja.
"Kalau begitu, ibu ke kamar dulu," Hannah bangkit dari duduknya.
"Sepertinya kau dekat dengan Bianca," Steve yang baru pulang kerja menoleh kepada istrinya yang baru masuk ke dalam kamar.
"Iya, aku suka anak itu. Bagaimana jika kita jodohkan dia dengan Alden?" Hannah memberikan ide.
"Dia bisa membuat putra kita lebih baik," Hannah kembali melontarkan opininya.
"Aku tidak setuju. Biarkan putra-putra kita memilih pasangannya sendiri. Jangan pernah mengatur jodoh mereka!" Steve melepaskan jam tangan miliknya.
"Kau benar. Semoga Alden bisa seperti Aiden, mendapatkan wanita yang baik," Hannah membantu melepaskan dasi suaminya.
"Entahlah, aku kurang cocok jika mengobrol dengan Cassie," Steve memberikan uneg-unegnya.
"Jangan seperti itu! Cassie akan menjadi menantu kita. Dia gadis yang baik," Hannah seolah tidak terima.
Steve pun tidak melanjutkan obrolan mereka karena ia harus membersihkan dirinya selepas pulang dari kantor.
Sementara itu Bianca hendak masuk ke dalam kamarnya, kebetulan kamar miliknya berada sebelah kamar milik Alden. Hannah memang sengaja menempatkan Bianca di samping kamar Alden agar Bianca bisa memantau pergerakan Alden dengan baik dan cepat.
"Hey, Ca!" Alden berbisik dari dalam kamarnya.
"Ca?" Panggil Alden lagi dari balik celah pintu yang ia buka sedikit.
"Alden?" Bianca mendorong pintu kamar Alden. Alden pun tersenyum menatap Bianca.
"Kau kenapa? Kemasukan setan?" Bianca menatap Alden dengan bingung.
"Aku butuh bantuanmu," Alden tersenyum semanis mungkin.
"Ada apa?" Bianca meninggikan suaranya.
"Ayo masuk!" Alden menarik Bianca ke dalam kamar miliknya.
"Kau mengamuk di dalam kamarmu sendiri?" Bianca memelototkan matanya saat melihat kamar Alden bak pesawat pecah.
"Aku kalah bermain game. Aku tidak sadar memberantakan kamarku sendiri. Bereskan ya Ca?"
"Ca, Ca, siapa yang kau maksud Ca? Biasanya kau memanggilku dengan sebutan gadia udik?" Kata Bianca dengan sewot.
"Ya itu panggilanku untukmu. Jika aku memanggilmu Bi, itu seperti panggilanku untuk asisten rumah tangga yang ada di sini," Alden tertawa.
"Diamlah! Itu tidak lucu," Bianca menyipitkan matanya.
"Sebentar!" Bianca berlalu dari kamar Alden, kemudian ia masuk kembali dengan membawa sapu dan kemoceng.
__ADS_1
"Kau yang membuat kamar ini berantakan, kau juga yang harus membereskannya!" Bianca memberikan sapu dan kemoceng untuk Alden.
"Kau ini kan asisten pribadiku. Kau dibayar untuk ini, mengapa jadi aku yang harus membereskannya?" Alden melemparkan sapu dan kemoceng yang ada di tangannya.
"Aku bukan dibayar untuk membereskan rumah. Itu bukan jobdesk ku. Ayo kau bereskan atau ku laporkan kepada ayah dan ibumu jika kau pernah berhasil membawa wine ke dalam kamarmu!" Bianca mengancam.
"Kau mengancamku?" Alden berteriak.
"Tidak. Hanya saja kan setiap aktifitasmu, harus ku laporkan kepada ayah dan ibumu," Bianca menatap kuku-kuku jarinya.
"Aku tidak mau!" Alden menolak dengan tegas.
"Ya, kalau begitu aku buat laporan dulu. Jika mereka tahu ada dua kemungkinan, pertama mereka akan mengirimmu ke negara Norwegia, atau mereka menguncimu setiap hari di kamar," Bianca tersenyum licik dan hendak pergi dari sana.
"Ca, tunggu! Baiklah aku bereskan," Alden mengambil sapu dan kemoceng yang tergeletak di lantai.
"Kau bermain game apa tadi?" Tanya Bianca sambil melihat Alden menyapu kamarnya.
"Game yang bisa main team squad dan solo squad," jawab Alden singkat.
"Kau memberantakan kamarmu hanya kalah karena game itu? Mana ponselmu?" Bianca menadahkan tangannya, meminta ponsel Alden.
"Untuk apa?"
"Aku hanya ingin melihat rankmu," pinta Bianca lagi.
"Rank ku sudah Gold," Alden memberikan ponselnya dan berkata dengan sombong.
"Baru gold sudah sombong. Lihatlah rankku sudah Crown!" Bianca mengambil ponselnya dan memperlihatkan gamenya yang sudah mempunyai rank Crown.
"Kau hebat! Bagaimana caranya?" Alden mengambil ponsel Bianca.
"Ya, kau harus sering menang untuk meningkatkan rasio KDmu."
"Kalau begitu ayo kita bermain team squad!" Alden menyimpan sapunya dan mengajak Bianca bermain.
"Yah aku mati," Alden berkata dengan kecewa.
"Tinggal kau yang ku andalkan. Ayo kalahkan musuhnya!" Alden mendekat dan menonton Bianca bermain game.
"Aku menang!" Bianca berteriak kegirangan.
"Ya bagaimana kau tidak menang? Senjatamu saja AWM," Alden meremehkan.
"Sudahlah, aku malas berdebat. Aku harus tidur, besok aku akan menonton film Stand Bye Me Doraemon 2," Bianca bangkit dari duduknya.
"Tunggu! Kau bilang apa? Kau akan menonton film itu?" Alden terlihat antusias.
"Iya. Aku akan menonton film itu. Aku sudah izin kepada Bu Hannah."
"Aku ikut. Aku juga ingin menonton film itu. Aku sudah lama menunggu rilisnya," Alden semakin bersemangat.
"Bailklah, besok kita menonton bersama," Bianca ke luar dari kamar Alden dan masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...