
Tifanny baru pulang bekerja, ia melihat Nino tengah bermain laptop di kasurnya. Nino memang tidak menjemput Tifanny karena David meminta untuk menjemput putrinya hari ini.
"Sayang, wajahmu mengapa sangat pucat?" Nino bertanya dengan khawatir.
"Aku lelah, sayang. Sebentar ya?" Tifanny mengganti baju kerjanya dengan piyama. Ia langsung merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
"Sayang, bagaimana rasanya bekerja?" Nino mengusap pipi istrinya.
"Sangat melelahkan."
"Kalau begitu kau ingin resign?" Tanya Nino lagi.
"Iya, sayang. Aku ingin resign saja dan menjadi ibu rumah tangga," Tifanny mengangguk dengan cepat.
"Baiklah, sayang. Tetapi tunggu dulu sampai weekend depan ya?"
"Kenapa? Aku sungguh ingin segera resign," Tifanny menatap Nino dengan kesal.
"Kan kau yang mau bekerja di sana. Resignnya nanti minggu depan saja. Sekarang buatlah dahulu surat pengunduran dirinya! Kau masuk bekerja dengan cara baik dan resign pun harus dengan beretika dan cara yang baik!" Nino memberikan petuah.
"Baiklah, sayang."
"Sekarang tidurlah!" Nino menyelimuti tubuh istrinya.
"Peluk aku!" pinta Tifanny dengan manja. Nino pun mendekap istrinya dan memejamkan kedua matanya.
Pagi hari Nino terbangun karena suara gemericik air dari kamar mandi. Nino mendengar Tifanny muntah-muntah di kamar mandi.
"Sayang, kau tidak apa-apa?" Nino bertanya dengan khawatir.
"Aku tidak enak badan," Tifanny memegangi perutnya.
"Sepertinya masuk angin dan kelelahan," imbuhnya.
Nino pun memapah Tifanny kembali dan merebahkannya di atas kasur.
"Aku absen dulu saja. Kepalaku berputar-putar, Tifanny memejamkan matanya.
"Kalau begitu aku juga tidak akan masuk kerja. Aku akan merawatmu di sini," Nino ke luar dari kamar untuk membuatkan sarapan untuk istrinya yang sedang sakit.
"Ku harap Tifanny segera sembuh. Aku sungguh ingin sekali menjalankan rencanaku ini," gumam Nino saat ia berada di dapur.
****
Bianca masuk ke dalam rumah dan melihat Steve tengah menenangkan Hannah yang tengah menangis.
"Bi, mana Alden?" Hannah beranjak dari duduknya.
"Maafkan aku, Bu! Alden dan Nona Cassie tidak ingin diganggu," Bianca mengusap tangan Hannah untuk menguatkan.
"Duduklah, Bi!" Perintah Hannah seraya menyeka air mata di pipinya.
"Bu, Tuan?" Bianca memulai pembicaraan.
"Ada apa, Bi?" Steve menatap Bianca yang duduk di depannya.
"Aku ingin mengundurkan diri menjadi sekretaris tuan Alden," mata Bianca terasa memanas ketika mengucapkan kata itu.
"Mengapa, Bi? Kami sudah sangat puas dengan hasil kerjamu," Hannah tampak tidak terima dengan keputusan Bianca.
"Tenanglah!" Steve menenangkan istrinya.
"Ibu dan tuan tahu sendiri, Alden sekarang sudah memiliki kekasih dan saat aku mengikuti mereka ke mana pun, aku merasa sangat tidak nyaman. Bianca seperti seorang patung di tengah-tengah mereka," Bianca memberanikan diri menatap Hannah.
"Cassie yang menyuruhmu untuk resign?" Steve menebak.
Bianca pun mengangguk.
"Memang seperti itu harusnya, tuan. Lagi pula sekarang ada nona Cassie di samping tuan Alden," Bianca merasa ada yang mencekat tenggorokannya.
"Jangan pergi, Bi! Aku tidak rela putraku dekat dengan wanita seperti dia," Hannah berdiri dari duduknya dan terduduk di samping Bianca.
"Aku sendiri sudah menganggap kau anakku. Apalagi kau adalah anak dari Bobby sahabat kami," Hannah masih berusaha membujuk.
"Maafkan aku, Bu! Aku tidak bisa. Melihat mereka seperti itu, rasanya sangat menyakitkan," Bianca tiba-tiba terisak.
"Kau jatuh cinta pada anak bandel itu?" Hannah mencoba membaca situasi.
Bianca pun mengangguk.
"Maka dari itu, aku mohon ibu menyutujui pengunduran diri ini. Aku tidak bisa lagi bekerja jika keadaannya seperti ini," Bianca semakin terisak.
"Kau tahu, Bi? Aku sangat berharap Alden berjodoh denganmu. Maka dari itu, kami mengirim Alden dan kau ke Norwegia. Supaya kalian dekat, tetapi kejadiannya malah seperti ini," Hannah mengusap bahu Bianca.
"Jika itu alasanmu. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami pun kasihan jika kau harus sakit hati setiap melihat Alden dengan Cassie," Steve memandang Bianca dengan rasa iba.
"Terima kasih tuan, Bu? Bianca tidak akan lupa kebaikan kalian," Bianca memeluk Hannah, Hannah pun membalas pelukan Bianca.
"Aku izin untuk beres-beres dulu barang ya, Bu?" Bianca berpamitan masuk ke dalam kamarnya.
Steve dan Hannah pun mengangguk.
__ADS_1
Sebelum masuk, Bianca menatap pintu kamar Alden, ia pun masuk ke dalam kamarnya dan membereskan semua pakaiannya. Memory nya terus mengulang kejadian yang menyakiti hatinya.
"Aku harap kau bahagia dengan gadis impianmu," Bianca melipat baju-bajunya dan memasukannya ke dalam koper.
Setelah semua tak tersisa, Bianca menggusur koper miliknya ke luar. Ia melihat Hannah, Steve dan Aiden. Bianca memandang wajah Aiden yang tampak memucat.
"Bu, tuan? Tuan Aiden? Terima kasih sudah menerimaku selama di sini. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian," Bianca memandangi mereka satu persatu.
Hannah berjalan mendekat ke arah Bianca dan memeluknya lagi.
"Jangan lupa untuk selalu mengunjungi kami di sini!" Hannah mengusap punggung Bianca dan kemudian melepaskan pelukannya.
"Bi, ini sedikit untukmu!" Steve memberikan amplop yang lumayan tebal.
"Tidak perlu, tuan. Bianca masih memiliki sedikit tabungan," Bianca menolak.
"Aku mohon! Untuk bekalmu selama mencari pekerjaan yang baru," Steve memaksa.
"Baiklah, tuan. Terima kasih untuk semuanya."
"Kau akan pulang ke kota Cambridge?" Aiden menatap Bianca.
"Tidak. Aku akan tetap berada di kota ini. Jika kembali ke kota Cambridge, kasihan keluargaku. Nanti aku malah menjadi beban," Bianca tertawa. Aiden pun tersenyum melihat Bianca tertawa.
"Aiden, tolong antarkan Bianca ke tempat tujuannya!" Pinta Hannah kepada putra sulungnya.
"Baik, Ma. Kami langsung saja berangkat," Aiden menggusur koper Bianca dan membawanya ke depan.
"Ibu, tuan? Aku pamit," Bianca melangkahkan kakinya ke luar dari rumah pria yang mulai ia cintai.
Aiden memasukan koper Bianca ke dalam bagasi mobilnya.
"Masuklah!" Aiden membukakan pintu mobil untuk Bianca.
"Terima kasih," Bianca masuk di kursi samping pengemudi.
"Tuan?" Bianca memecahkan keheningan di antara mereka.
"Jangan memanggilku, tuan!" Aiden fokus mengemudikan mobilnya.
"Apa kak Aiden baik-baik saja?" Bianca menoleh dan memperhatikan wajah Aiden.
"Siapa yang tidak baik-baik saja ketika pernikahan di depan matanya batal?" Aiden memaksakan senyumnya.
"Semoga kak Aiden menemukan wanita yang jauh lebih baik dari nona Cassie."
"Terima kasih," Aiden tersenyum tulus.
"Kita akan ke mana? Kau tidak ingin berpamitan kepada Alden?" Tanya Aiden.
"Temuilah dia! Setidaknya untuk yang terakhir kali. Kau bekerja sebagai asistennya dengan cara baik-baik. Kau pun harus menyudahinya dengan baik-baik," Aiden memberikan nasehat.
Bianca tampak berpikir dan menimbang-nimbang.
"Baiklah," Bianca memutuskan.
Aiden pun melajukan mobilnya menuju area apartemen adiknya.
"Apakah kakak marah dengan Alden?" Bianca bertanya dengan penasaran.
"Untuk apa? Itu sudah menjadi keputusannya. Biarkan saja. Dari pada memikirkan yang sudah berlalu, lebih baik mengerjakan dan memikirkan hal yang lebih baik. Alden sedang dibutakan cinta sesaatnya. Mungkin itu hanya sebuah obsesinya saja. Semoga dia segera sadar. Cassie berani meninggalkaku yang sudah membina bertahun-tahun hubungan dengannya. Apalagi meninggalkan Alden? Jika ada pria yang lebih baik, bukan tidak mungkin Cassie juga mencampakan adikku," ungkap Aiden.
Bianca pun tampak tidak menyahut. Ia begitu bingung harus menjawab apa. Takut jawabannya menyinggung Aiden dan keluarganya.
"Sudah sampai, keluarlah!" Ucap Aiden saat mobilnya sampai di halaman apartemen.
"Sebentar ya, kak?" Bianca ke luar dari dalam mobil dan berjalan menuju kamar apartemen Alden.
Bianca memencet bel, Cassie pun terlihat membuka pintu apartemen. Bianca begitu terkejut ketika melihat Cassie hanya memakai handuk di tubuhnya.
"Kau lagi?" Cassie tampak tidak suka dengan kehadiran Bianca.
"Tuan Aldennya ada?" Bianca bertanya dengan pelan.
"Dia sedang mandi setelah aktifitas yang kami lakukan tadi," Cassie tersenyum sinis.
"Datang lagi saja nanti!" Lanjutnya.
Bianca tidak menjawab, ia langsung berjalan meninggalkan pintu apartemen Alden.
"Siapa?" Tanya Alden saat ia baru ke luar dari kamar mandi. Alden baru saja mandi karena sesampainya di kota ini, Alden belum sempat membersihkan dirinya.
"Bukan siapa-siapa. Hanya orang yang salah kamar," Cassie menutup pintu dan menguncinya.
Alden tampak mengambil baju dari lemari-lemarinya. Sedari tadi, wajah Bianca begitu mengganggu pikirannya, apalagi saat ia melihat gadis itu berjalan dengan gontai dan masuk ke dalam taksi.
"Pakai saja bajuku! Aku menyuruhmu untuk mandi karena tubuhmu pasti lengket setelah perjalanan jauh. Kau pasti tidak sempat membersihkan dirimu kan?" Alden memberikan kaos lengan panjang miliknya.
Cassie menerima baju itu dan menyimpannya di atas kasur.
"Honey, kau boleh melakukan apapun kepadaku. Sekarang aku adalah kekasihmu," Cassie memeluk tubuh Alden yang masih bertelanjang dada. Ia memeluknya dengan erat dari belakang. Cassie berbohong kepada Bianca, nyatanya ia dan Alden tidak melakukan hal apapun.
__ADS_1
Alden pun membalikan tubuhnya, ia menatap wajah wanita yang ada di depannya.
"Aku lelah," Alden mencoba menolak dan melepaskan tangan Cassie, kemudian ia mundur satu langkah ke belakang.
"Aku akan membuatmu senang dan bahagia," Cassie mengelus pipi Alden.
Alden terdiam, pikirannya teringat di waktu ia melepaskan baju Bianca saat di Norwegia. Alden melihat sekelebat wajah Bianca yang tidak berdaya saat ia melepaskan baju gadis itu.
"Tidak. Aku sedang tidak ingin," tolaknya lagi.
"Kau yakin?" Cassie melepaskan handuk yang membalut tubuhnya hingga kini tubuhnya tidak terbalut sehelai pun benang.
Alden menatap nanar tubuh Cassie. Kemudian ia pun berjongkok dan mengambil handuk Cassie yang tergeletak di lantai.
"Segeralah pakai bajumu! Aku benar-benar sedang tidak ingin melakukannya," Alden menyerahkan handuk itu ke tangan Cassie dan berbalik untuk mengambil bajunya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk berpakaian.
"Dia menolakku?" Cassie merasa harga dirinya diinjak-injak.
"Ayo! Aku akan mengantarkanmu pulang," ajak Alden saat ia ke luar dari kamar mandi dan melihat Cassie sudah memakai bajunya.
****
Di halaman apartemen, Bianca berlari menuju mobil Aiden dengan berurai air mata.
"Kau kenapa?" Aiden merasa kaget melihat Bianca kembali sambil menangis.
"Alden seperti tidak peduli dengan kepergianku," Bianca berbohong. Ia tidak ingin menyebut jika Cassie ada di dalam apartemen Alden. Itu tentu akan menambah luka di hati Aiden.
"Baiklah. Kita langsung pergi?" Aiden menyerahkan tisu untuk Bianca.
"Antar aku ke rumah sepupuku ya? Aku ingin menginap di rumahnya yang dulu," Bianca mengelap air matanya dengan tisu yang diberikan Aiden.
Aiden pun mengantarkan Bianca ke rumah sepupunya yang tak lain adalah Tifanny. Sesampainya di sana, Bianca menceritakan semuanya kepada Tifanny sementara Aiden menunggu di dalam mobil.
"Mengapa kau jatuh cinta padanya? Sudah tahu dia pria seperti itu," ucap Nino kepada Bianca.
"Sayang, jangan seperti itu! Bianca sedang bersedih," Tifanny tampak kesal dengan ucapan suaminya.
"Kalau begitu tinggalah di sini bersama kami! Kau bisa tidur di kamar tamu atau bersama Meghan," ajak Nino kepada Bianca.
"Tidak, tuan. Terima kasih tawarannya. Aku ingin meminta izin saja untuk tinggal di rumah Tifanny yang dulu," Bianca merasa tidak enak.
"Kalau begitu ini kuncinya, Bi! Sering-seringlah berkunjung ke sini dan menginap bersamaku," kata Tifanny kepada sepupunya.
"Terima kasih, Fann. Kau segeralah sembuh ya? Wajahmu sangat pucat," Bianca memeluk sepupunya.
"Tinggalah di sana selama yang kau inginkan!" Tifanny menenangkan.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Fann? Tuan Nino?" Bianca memasukan kunci rumah Tifanny ke dalam saku mantelnya.
Setelah dari rumah Nino dan Tifanny, Bianca meminta diantarkan ke rumah lama Tifanny yang akan kembali di tempati olehnya.
"Kau yakin tidak akan pulang ke kota Cambridge? Kau seorang gadis. Tidak baik tinggal sendirian," tanya Aiden saat mobilnya sudah di depan rumah lama Tifanny.
"Aku yakin. Aku ingin mencari pekerjaan baru di kota ini."
"Baiklah. Jaga dirimu selama di sini! Jangan terima orang asing untuk bertamu! Dan yang terpenting, selalu kunci rumahmu!" Aiden memberikan arahan.
"Iya, kak. Kau tidak usah khawatir! Sebelum aku bekerja di tempat kalian, aku tinggal di sini."
Aiden tidak menjawab. Tatapannya menerawang entah ke mana.
"Kak?" Bianca menoleh ke arah Aiden.
"Bi? Kau tahu? Aku sedang sangat kahwatir dengan adikku," Aiden menundukan kepalanya.
"Kenapa?" Bianca merasa kaget mendengar suara Aiden yang parau.
"Kau tahu? Tepat 4 hari sebelum kami menikah. Perusahaan milikku mengalami pailit karena kegagalan finansial. Penyebabnya adalah perusahaan mengalami kesulitan dana karena terlalu berfokus kepada pengembangan produk. Dan kau tahu? Besoknya aku menceritakan kondisiku kepada Cassie. Aku berkata sepertinya perusahaanku akan mengalami pailit. Lalu aku bertanya kepadanya, bagaimana pendapatnya jika nanti aku mencari kerja di tempat lain dan menyewa sebuah flat sederhana setelah kami menikah?" Aiden bercerita.
(Sebutan Flat di kenal di Inggris sebagai hunian kelas menengah ke bawah.).
"Lalu, apa jawabannya? Dan mengapa kak Aiden tidak bekerja saja bersama tuan Steve?" Bianca merasa belum mengerti.
"Aku adalah orang yang senang berinovasi dan berpetualang. Aku ingin mendapatkan sesuatu karena hasil kerja kerasku. Cassie pun bertanya sepertimu. Menyuruhku untuk bekerja bersama papa dan tidak mau tinggal di flat sewaan. Aku beralasan jika aku tidak bisa bekerja di perusahaan papa karena papa sudah mengalihkan perusahaannya atas nama Alden," lanjut Aiden.
"Apa tuan Steve benar-benar memberikan perusahaannya untuk Alden?"
"Tentu saja tidak. Papa tidak akan melakukan itu, apalagi melihat Alden yang masih suka bermain-main. Aku hanya memberi alasan masuk akal saja kepada Cassie. Lalu, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Saat malam harinya, Cassie mengajak aku bertemu kembali. Dia berkata jika dia tidak bisa menikah denganku, karena ia mencintai orang yang mengirimkan surat untuknya yang tak lain adalah Alden. Padahal dia sudah tahu jika Alden yang mengirim surat itu dari tahun pertama kami berpacaran. Maka dari itu, aku merasa sangat aneh ketika dia memakai alasan itu sebagai pembatalan pernikahan."
"Nona Cassie bilang, kakak baru menceritakan perihal surat itu tepat sebelum nona Cassie berangkat ke Norwegia?" Bianca tampak terkejut.
"Tidak. Aku sudah mengatakan dan menjelaskan kekeliruan itu saat pertama kali kami berpacaran. Dia menggunakan alasan itu karena tidak ingin hidup susah denganku," Aiden menyanggah.
"Lalu, bagaimana sekarang dengan perusahaan kakak? Apakah benar-benar pailit?"
"Tidak. Untungnya semua berangsur membaik dan pulih. Aku mengatasi kegagalan keuangan itu dengan menggunakan sebagian dari asset yang lain. Aku bersyukur Cassie meninggalkanku. Lebih baik ditinggalkan sekarang, dari pada nanti sudah menikah. Bukankah begitu?" Perlahan senyum mengembang di bibir Aiden.
"Syukurlah jika semuanya baik-baik saja, kak. Aku harap kakak segera mendapatkan wanita pengganti Cassie," Bianca menepuk bahu Aiden.
"Terima kasih karena sudah mengantarku kak. Aku permisi masuk ya?" Bianca berpamitan sebelum ia ke luar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Iya. Jaga dirimu!" Aiden tersenyum.
Note : Sebenarnya orang-orang barat, sesama saudara itu tidak memanggil "Kakak". Kebanyakan memanggil nama langsung saja. Author menggunakan kak untuk Aiden agar enak di baca saja. Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗