
"Akhirnya kalian datang mengunjungi mommy," Eliana tersenyum ketika melihat putranya datang bersama Tifanny.
"Iya, Mom. Baru ada waktu," Nino mencium pipi ibunya lembut.
"Daddy mana?" Nino mencari keberadaan ayahnya.
"Daddymu sedang berada di Rotterdam. Kau ini bagaimana? Kan kalian sekantor."
"Oh iya Nino lupa. Mom, Nino membawa adik ipar Nino untuk menginap. Tidak apa-apa kan, Mom?" Tanya Nino kepada ibunya. Sementara Meghan hanya menganggukan kepalanya dengan sopan.
"Tentu saja tidak apa-apa, sayang. Mana tuan David?" Eliana mencari keberadaan besannya.
"Papa tidak ikut. Papa sibuk bekerja dan sekalian jaga rumah," Nino berkilah.
"Fann, kau kenapa sayang?" Eliana memperhatikan wajah menantunya yang penuh dengan air mata.
"Kau tidak menyakitinya kan?" Eliana menatap Nino dengan tatapan penuh amarah.
"Tidak, Mom. Fanny sedang pusing dengan skripsinya. Makanya ia seperti itu. Iya kan, sayang?" Nino melirik kepada Tifanny.
"Iya, Mom. Fanny hanya sedang pusing dan merasa ingin menyerah saja," jawab Tifanny dengan suara yang serak.
"Sayang, jangan memaksakan! Kerjakanlah skripsimu semampumu, jangan berambisi untuk lulus cepat ya?" Eliana menghapus air mata dari pipi menantunya.
"Sini mommy peluk!" Eliana memeluk Tifanny. Tifanny pun semakin terisak karena teringat mendiang ibunya.
"Mengapa kau menangis lagi, sayang?" Eliana mengusap-ngusap punggung menantunya.
"Fannya hanya ingat almarhum mama. Terima kasih karena sudah menerima kehadiran Tifanny yang tidak sepadan dengan Nino."
"Apa yang kau katakan, kau adalah gadis baik yang pantas untuk mendampingi putra mommy," Eliana melepaskan pelukannya dan menyeka lagi air mata Tifanny.
"Kalau begitu, kalian segera istirahat ya?" Sambung Eliana kembali.
"Kami permisi istirahat dulu," Nino menggandeng tangan Tifanny untuk sampai di kamarnya. Kamar sebelum ia menikah dengan Tifanny, sedangkan Meghan ditempatkan di kamar tamu.
Sesampainya di kamar, Tifanny menangis kembali. Ia sakit hati karena ayahnya diam-diam masih berhubungan lagi dengan Belinda, orang yang sudah membuat mereka terpisah selama bertahun-tahun lamanya.
"Sayang, jangan menangis!" Nino memeluk Tifanny erat.
"Aku kecewa, No. Aku kecewa," Tifanny tersedu di dada suaminya.
"Jangan menangis lagi seperti ini! Aku mohon!" Nino melepaskan pelukannya dan memegang tangan Tifanny yang berkeringat dan dingin.
Tifanny tidak menjawab. Ia merebahkan tubuhnya dan membelakangi Nino.
"Tidurlah, sayang!" Nino mengusap-ngusap punggung Tifanny.
__ADS_1
Setelah Tifanny tertidur, Nino mengambil mantelnya dan langsung pergi untuk menemui David. Ia ingin segera meminta penjelasan dari ayah mertuanya.
"Nino?" David terbuyar dari lamunannya ketika melihat menantunya masuk ke dalam rumah.
"Mana Tifanny? Mana Meghan?" David mengguncang bahu Nino dengan kuat.
"Pa, tenanglah! Mari kita bicara!" Ajak Nino. Mereka pun terduduk di sofa yang ada di ruang tengah.
"Jadi, mengapa papa bisa bersama tante Belinda lagi dan Clara? Papa seharusnya tahu, tindakan papa ini sangat melukai kedua putri papa. Papa tidak ingat bagaimana perlakuan mereka kepada anak-anak papa?" Tanya Nino dengan suara yang tegas.
"Maafkan papa, Nino! Papa tidak menyangka akan seperti ini. Sewaktu papa bekerja di hari pertama sebagai dokter lagi, papa melihat Belinda dan Clara terluntang lantung di jalanan. Papa kasihan melihat mereka."
"Lalu, papa tidak kasihan dengan perasaan putri-putri papa?" Nino menatap tajam ayah mertuanya.
"Bukan seperti itu. Hanya saja ketika melihat mereka menderita di jalanan, papa jadi tidak tega. Bayangkan mereka harus bertahan di luar sana yang sangat dingin. Maka dari itu papa menyewakannya sebuah apartemen," David menundukan wajahnya.
"Lalu, mengapa papa bisa sampai memberikan semua keperluan tante Belinda?" Nino mengintrogasi.
"Papa pun tidak tahu. Papa pun heran mengapa papa memberikan apa yang Belinda minta," timpal David.
"Dan papa tadi menghabiskan waktu papa di sana?"
"Tidak. Tadi papa ke rumah sakit untuk bertemu teman lama papa. Tapi Belinda dan Clara datang ke rumah sakit dan memaksa papa untuk datang ke apartemen untuk makan siang," lanjut David.
"Begini Pa, Tifanny adalah istri Nino dan Nino tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti dia, termasuk itu papanya sendiri. Sekarang Nino memberikan papa dua pilihan, pilih Tifanny dan Meghan atau Belinda dan Clara? Jika papa memilih Tifanny dan Meghan, jangan pernah temui lagi Belinda dan Clara! Tapi, jika papa memilih Belinda dan Clara, Nino tidak akan membiarkan Tifanny dan Meghan untuk bertemu papa lagi selamanya. Nino akan pastikan itu. Sekarang, tinggal papa yang memilih!" Nino memberikan pilihan dengan tegas.
"Belinda sudah bukan istri papa lagi," David semakin terisak. Ia baru menyadari kebodohannya.
"Pilihan yang bagus. Kalau begitu, tepati janji papa untuk tidak menemui mereka lagi! Jika papa masih menemui mereka, mohon maaf Nino tidak akan memperbolehkan istri Nino bertemu lagi dengan ayah kandungnya,. Ingatlah Pa, karena siapa kalian terpisah, karena siapa Tifanny harus putus kuliah dan hidup menderita selama tiga tahun di negara ini? Papa tidak tahu bagaimana perjuangan dia untuk membiayai Meghan. Sementara papa masih bisa hidup dengan tenang dan nyaman di Amerika dan memfasilitasi segala kebutuhan istri dan anak tiri papa yang begitu membenci Tifanny dan Meghan. Tifanny bahkan bekerja sebagai pengantar pizza dan juga menjadi pemandu karaoke sampai ia hampir dilecehkan oleh pria tua. Itu semua ia lakukan untuk adiknya, yang seharusnya itu adalah tanggung jawabmu. Tidakkah kau kasihan kepada istriku, Pa?" Nino berkata dengan wajah yang serius.
David pun semakin tersedu mendengar perkataan Nino. Hatinya terasa sakit ketika mendengar penderitaan putri sulungnya. Cukup lama David terisak, David pun mengangkat wajahnya.
"Iya. Papa akan menepati janji papa, papa tidak akan bertemu lagi dengan Belinda dan Clara. Sekarang papa mohon bawa Tifanny dan Meghan pulang!" Pinta David dengan sendu.
"Untuk beberapa hari ini, biarkan Tifanny dan Meghan tidur di rumah orang tua Nino, Pa. Biarkan Tifanny tenang dulu. Nanti Nino akan membawanya pulang lagi ke rumah ini."
"Jangan lama-lama! Papa merindukan mereka!' David menyeka air matanya.
"Iya. Kalau begitu, Nino pulang dulu," Nino bangkit dari duduknya.
"Nino tunggu!" David berdiri dan mendekati Nino.
"Terima kasih sudah menyayangi Tifanny dan memperlakukannya dengan baik. Jangan sakiti dia seperti papa menyakitinya!" Lirih David penuh pengharapan.
"Nino tidak akan pernah melakukan itu. Untuk mendapatkan Tifanny adalah hal yang sulit, dan Nino tidak akan melepaskannya," Nino tersenyum. Kemudian ia segera keluar dari dalam rumah dan masuk ke dalam mobilnya.
Nino tidak langsung pulang, ia mengarahkan mobilnya untuk sampai di apartemen yang dihuni oleh Belinda dan juga Clara.
__ADS_1
"Honey?" Sapa Clara ketika membuka pintu dan melihat Nino berdiri di depan pintu.
"Mana ibumu?" Tanya Nino dengan dingin.
"Mama di dalam. Honey, ayo masuk!" Clara menyentuh tangan Nino, tetapi Nino segera menepis tangan gadis itu dari lengannya.
"Nino? Sudah lama kita tidak bertemu ya?" Ucap Belinda saat melihat kedatangan Nino.
"Aku tidak akan lama di sini. Mari kita bicara!" Nino langsung terduduk di sofa yang ada di dalam kamar apartemen.
"Jadi, ada urusan apa yang membawamu datang lagi ke apartemen milikku? Ku dengar kau sudah menikah dengan Tifanny? Pilihanmu sangat buruk," Belinda tersenyum merendahkan.
"Mama benar. Mengapa kau menikahi dia? Levelmu sungguh sangat mengerikan," Clara menyahuti.
"Aku tidak punya cukup banyak waktu untuk berbasa-basi, sekarang langsung saja pada pointnya. Tolong jauhi papa David dan jangan mengganggunya lagi!" Nino menatap Belinda dengan sorot mata yang tajam.
"Hey, kau siapa? Hingga berani menyuruhku untuk menjauh dari David?" Tanya Belinda dengan geram.
"Aku adalah menantunya. Tidak usah berbasa-basi lebih jauh. Berapa yang kalian inginkan agar kalian bisa melepaskan papa?"
Belinda dan Clara pun saling melirik kemudian mereka tersenyum.
"Nah aku suka jika kau seperti ini," Belinda tersenyum senang.
"Sebutkan berapa pounds agar kalian bisa pergi dari hidup papa selamanya?" Nino tampak tidak sabar.
"Sepertinya 50.000 pounds (1 Milyar)," Belinda meminum wine yang ada di atas meja.
"Baiklah, malam ini asistenku akan segera mengantarkan uang itu. Pergilah sejauh mungkin dari kehidupan keluargaku setelah kau menerima uang itu! Jika kau mengingkari janjimu, kau akan tahu akibatnya!" Ancam Nino dengan aura yang menyeramkan.
"Baiklah, aku setuju."
Setelah pembicaraan selesai, Nino keluar dari apartemen dan pulang ke rumah kedua orang tuanya.
Keesokan harinya....
Nino sedang menghandle meeting penting untuk
menggantikan Arley yang sedang berada di kota Roterdam, Belanda.
Saat meeting sudah berakhir, Nino mengambil ponselnya dan terlihat banyak pesan masuk dari orang suruhannya.
"Tuan, nyonya Belinda masih berusaha menemui tuan David. Hari ini ia terlihat di rumah sakit dan memaksa untuk berbicara dengan tuan David," bunyi pesan itu.
"Belinda, kau salah sudah bermain-main denganku! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu dan juga pada putrimu!" Nino menyeringai jahat.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1