Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Gadis Pengantar Pizzaku


__ADS_3

"Nino?" Akhirnya kata itu lolos dari bibir Tifanny saat melihat laki-laki itu berdiri di depannya.


Nino masih diam, ia memperhatikan wajah Tifanny yang lebih kurus dari 3 tahun yang lalu.


"Ini pesananmu!" Tifanny memberikan pizza pesanan Nino. Nino tidak segera mengambil pizzanya, ia masih memperhatikan Tifanny dengan seksama.


"Sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti dia jatuh juga ya?" Nino akhirnya bersuara.


"Maksudmu?" Tifanny tampak tidak mengerti.


"Ya, selama ini kau bersembunyi dengan sangat baik. Akan tetapi, akhirnya kau sendirilah yang menampakan dirimu."


"Aku tidak bersembunyi dari siapa pun," Tifanny membantah.


"Benarkah? Ke mana saja kau selama tiga tahun ini?" Tanya Nino ingin tahu.


"Aku ada di kota ini," jawab Tifanny singkat.


"Lalu, bagaimana bisa aku tidak pernah melihatmu? Bagaimana keadaan Meghan?"


"Dia baik-baik saja. Ya sudah, ini pizzamu. Aku ingin segera pulang. Mana uangnya?" Tifanny menadahkan tangannya.


Nino pun segera mengeluarkan uang dan menyerahkannya kepada Tifanny. Tifanny menyerahkan dus pizza itu dan segera pergi dari sana.


"Tunggu! Mengapa kau buru-buru sekali?" Nino berjalan dan menghadang jalan Tifanny.


"Aku harus segera pulang. Meghan pasti menungguku di rumah," Tifanny berjalan kembali dan memakai helmnya.


"Apakah ayahmu tidak mencarimu?" Nino menatap wajah Tifanny dengan sendu. Ia sungguh tidak menyangka gadis itu akan menjadi seorang pengantar pizza.


"Aku harus segera pulang," Tifanny menghindar dan langsung melajukan motornya meninggalkan Nino.


"Setidaknya sekarang aku tahu kau ada di mana," Nino tersenyum penuh arti menatap bayangan Tifanny yang semakin mengecil.


"Mengapa aku harus bertemu dengan Nino lagi?" Tifanny bergumam sendiri sembari terus melajukan motornya.


*****


Keesokan harinya....


Tifanny berangkat bekerja seperti hari-hari biasanya. Ia harus semangat mengumpulkan uang untuk biaya pendidikan adiknya yang akan masuk kuliah tahun ini.


"Pak, aku harus mengantarkan pizza lagi ke alamat ini?" Tifanny menunjuk alamat rumah Nino.


"Iya, konsumen kita yang itu membeli pizza dengan sangat banyak."


"Tak bisakah karyawan lain yang mengantar pizza ke alamat ini, pak?"


"Tidak. Konsumen itu menelfon, dia ingin kau yang mengantar pizzanya. Berhubung pesanannya sangat banyak, nanti diakhir saja kau mengantarkannya!" Saran dari kepala restoran.


"Baiklah," Tifanny menghembuskan nafasnya pelan karena ia harus bertemu dengan Nino kembali.


Tifanny segera berangkat mengantar pizza-pizza pesanan pelanggan hari ini. Setelah semua pizza diantar, tiba saatnya mengantar pizza milik Nino.


Tifanny memarkirkan motornya di halaman rumah Nino. Ia melihat pemuda itu berdiri di ambang pintu rumahnya sambil tersenyum.


"Aku merinding melihat senyumnya," batin Tifanny saat melihat Nino.


"Hallo, Fann!" Sapa Nino dengan raut wajah yang antusias.


"Ini pesananmu!" Tifanny mengangkat beberapa dus pizza sekaligus.


"Biar aku saja yang membawanya!" Nino merebut pizza itu dari tangan Tifanny.

__ADS_1


"Mana uangnya?" Tifanny menggerak-gerakan tangannya seperti seseorang yang menagih hutang.


"Aku kan pesan via aplikasi," jawab Nino.


"Oh iya, aku lupa. Kalau begitu, aku pulang! Tifanny segera berbalik untuk pulang.


"Fann, tunggu!" Nino menahan tangan Tifanny.


"Ada apa lagi?" Tifanny berdecak pelan.


"Temani aku makan pizzanya!" Pinta Nino dengan wajah memelas.


"Tidak. Aku punya urusan lain," Tifanny menolak.


"Kalau kau tidak mau, aku akan melaporkan kepada bos tempatmu bekerja. Aku akan bilang, jika kau tidak sungguh-sungguh melayani pelanggan!" Ancam Nino.


"Melayani? Aku kan hanya pengantar pizza," Tifanny menggaruk rambutnya.


"Ayo temani aku makan di dalam! Aku akan membayarmu!" Rayu Nino lagi.


"Membayar? Berapa?" Tifanny tampak tertarik. Yang ada di otaknya sekarang adalah uang dan uang untuk biaya adiknya kuliah.


"Satu bulan gajimu."


"Benar kau akan membayarku sebanyak itu?" Tifanny bertanya dengan semangat.


"Iya," Nino mengangguk.


"Baiklah, lagi pula hanya menemaninya makan dan aku pun sudah selesai mengantar semua pizza. Lumayan sekali jika Nino membayarku sebanyak itu. Aku butuh uang untuk kuliah Meghan," batin Tifanny.


"Baiklah, aku mau."


"Ayo masuk!" Nino langsung menuntun tangan Tifanny masuk ke dalam rumahnya.


Tifanny memperhatikan isi rumah Nino yang sangat terlihat luxury.


"Mereka sedang pergi ke Australia," Nino terduduk di sofa.


"Tidak ada asisten rumah tanggamu di sini?" Tifanny merasa khawatir karena hanya ada dirinya dan Nino sekarang.


"Tidak ada."


"Padahal aku menyuruh mereka untuk pergi ke taman. Aku ingin berduaan denganmu," batin Nino.


"Kau kenapa senyum senyum sendiri?" Tifanny memperhatikan wajah Nino.


"Tidak. Ayo segeralah duduk!"


Tifanny pun segera duduk di sofa yang lain.


"Mengapa kau duduk di sana?" Protes Nino saat melihat Tifanny duduk jauh darinya.


"Suapi aku!" Nino berdiri dan pindah ke sebelah Tifanny.


"Kau kan bisa makan sendiri!"


"Tanganku sakit! Tadi terkena air panas, huhu," Nino mengibas-ngibaskan tangannya.


"Bukankah tadi dia yang membawa pizzanya?" Tanya Tifanny dalam hatinya.


"Ya sudah, cepat makan!" Tifanny mengambil pizza dan segera menyuapi Nino. Tifanny ingin segera pulang dan beristirahat.


"Pelan-pelan!" Ucap Nino dengan bibir yang penuh dengan pizza.

__ADS_1


Tifanny tertawa melihat wajah Nino.


"Kau sangat lucu!" Tifanny kembali tertawa.


"Aku tidak tahu apa yang telah kau lalui selama ini. Fann, aku tidak menyangka kehidupanmu akan seperti ini, sementara Clara bersenang-senang menghabiskan uang ayahmu. Clara pun menyelesaikan pendidikannya dengan memakai uang ayahmu. Sementara kau harus berhenti kuliah dan menjadi seorang pengantar pizza," Nino menatap Tifanny dengan iba.


"Mengapa kau menatapku seperti itu?" Tifanny melambaikan tangannnya tepat di depan wajah Nino.


"Tidak. Sekarang giliran kau yang makan," Nino mengambil pizza dan bermaksud untuk menyuapi Tifanny.


"Aku tidak mau. Aku bosan, No," Tifanny menolak.


"Setiap ada orderan yang tidak dibayar oleh konsumen, pizzanya diberikan kepada karyawan. Makanya aku sangat bosan melihat pizza," Tifanny tertawa.


"Kau ingin makan apa?"


"Emm, aku sedang tidak ingin makan apa-apa. Aku ingin pulang," timpal Tifanny.


"Tunggu sampai aku kenyang ya?"


Tifanny pun mengangguk. Nino memakan kembali pizza-pizzanya. Ia memang sengaja memesan pizza dan meminta Tifanny yang mengantarkan semata mata untuk bertemu kembali dengan gadis itu.


"Aku ke dapur dulu ambil minum," Nino berdiri dari duduknya.


Tak berapa lama Nino kembali ke ruang tengah dengan membawa dua gelas minuman. Ia melihat Tifanny tertidur di sofanya dengan posisi duduk.


"Sepertinya dia kelelahan," Nino menyimpan gelas itu di atas meja dan duduk di samping Tifanny.


"Walau kau selalu mengabaikanku, bahkan kau tidak memberi tahu kepergianmu saat itu kepadaku. Kau seperti tidak menganggapku ada. Tapi mengapa aku tidak bisa membencimu?" Nino mengelus pipi Tifanny lembut.


Nino memperhatikan setiap inci wajah gadis yang ada di hadapannya. Matanya berhenti tepat pada bibir Tifanny. Nino memajukan wajahnya bermaksud akan mencium gadis itu. Tetapi, Tifanny menggeliat pelan dan terbangun. Nino segera menjauhkan wajahnya ketika melihat Tifanny sadar.


"Aku ketiduran," Tifanny menguap dan menggerak gerakan kepalanya untuk mengusir pegal.


"Kau hanya ketiduran sebentar," jawab Nino.


"Kau sudah selesai makannya? Baiklah, aku bisa pulang kan?"


"Iya. Kau bisa pulang. Ini bayaranmu karena sudah menemaniku," Nino memberikan amplop berisi uang.


"Baiklah, terima kasih," mata Tifanny berbinar melihat amplop yang lumayan tebal itu.


"Kau berbeda sekali dengan Fanny yang dulu. Sekarang kau terlihat sangat suka uang," Nino tersenyum.


"Iya. Aku harus mengumpulkan uang untuk biaya kuliah Meghan," Tifanny memasukan amplop yang diberikan Nino ke dalam tasnya.


"Aku pulang ya?" Tifanny berdiri dan bergegas untuk pulang.


"Fann, nanti temani aku lagi ya? Jika lebih lama menemaniku, bayarannya akan meningkat."


"Kok kedengarannya aku seperti wanita panggilan ya? Ganti kata menemaninya!" Pinta Tifanny.


"Ganti jadi apa? Melayani?" Nino tersenyum usil.


"Kata-katamu sungguh provokatif dan menjurus ke hal yang tidak-tidak."


"Kau saja yang berfikiran buruk, maksudku kan melayani sebagai pengantar pizza dan pelanggan pizza."


Senyum Tifanny memudar ketika mendengar ucapan Nino. Entah mengapa hatinya sakit saat Nino hanya menganggapnya sebagai pengantar pizza saja.


"Apa yang aku pikirkan? Memang aku hanya pengantar pizza dan Nino memang pelanggan di tempatku bekerja. Apa yang salah?"


"Kalau begitu aku pulang," Tifanny segera ke luar dari rumah Nino.

__ADS_1


"Hati-hati gadis pengantar pizzaku!" Nino mengantarkan Tifanny ke depan dan melambaikan tangannya saat motor gadis itu melaju meninggalkan kediamannya.


Hallo readers, maaf ya hari ini author hanya update satu episode. Authornya sedang sangat lelah. Besok di usahakan 2 episode lagi ya. Jangan lupa like, komen dan kasih hadiah/vote ya. Terima kasih 😊


__ADS_2