Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Kue Bantal


__ADS_3

Nino mengurus kepulangan Tifanny dan bayinya dari Rumah Sakit. David, Meghan dan orang tua Nino pun ikut menjemput Tifanny dan bayinya pulang dari Rumah Sakit.


"Akhirnya kita punya cucu juga. Aku bahkan pesimis kita bisa memiliki cucu saat Nino ditinggalkan Odelia menikah," ucap Arley saat mereka berada dalam perjalanan untuk pulang.


"Iya. Syukurlah anak kita mau membuka hatinya untuk wanita sebaik Tifanny. Dia lebih baik dari Odelia," Eliana membenarkan. Kini ia tengah menggendong Archie.


"Sayang, tuh dengar kata mama! Kau lebih baik dari Odelia atau siapa pun itu," Nino menoleh ke arah Tifanny yang terduduk di sampingnya. Sementara Meghan dan David berada di mobil yang berbeda.


Kurang dari setengah jam, akhirnya mereka sampai di kediaman Nino. Nino membukakan pintu untuk istrinya. Ia memapah Tifanny dengan hati-hati.


"Apa masih sakit?" Nino berkata dengan khawatir.


"Iya. Rasanya masih perih," Tifanny meringis.


Saat Nino membuka pintu, mereka dikejutkan dengan rumah yang tampak berbeda dari biasanya.


"Selamat datang di rumah," teriak orang-orang yang ada di dalam rumah. Mereka adalah Kai dan keluarganya, serta Alden dan keluarganya pun turut hadir.


"Fann, selamat atas kelahiran anakmu! Maaf aku tidak ikut menjenguk di Rumah Sakit," Alula mendatangi Tifanny.


"Tidak apa-apa, Al. Kau pun baru melahirkan," jawab Tifanny dengan ramah.


"Nino sudah jadi ayah. Kau kapan?" Kai menyikut Alden yang ada di sampingnya.


"Kai, lama-lama kau memang menyebalkan," Alden mendelik kesal.


"Sebentar lagi Alden juga akan memiliki ekor. Iya kan, sayang?" Timpal Hannah, ibu Alden yang ikut hadir juga.


"Ekor, ekor. Mama kira aku kucing?" Alden mengerucutkan bibirnya.


"Tapi sepertinya Bianca belum akan hamil, Ma!" Alden melirik ke arah Bianca yang tengah mencoba menggendong Archie.


"Sudah ku bilang, otak anak kita tidak akan sampai," Hannah berbisik kepada Steve, suaminya.


"Pulang dari sini kita suruh Bianca untuk mencoba tespacknya," Steve ikut-ikutan berbisik.


"Kalian ini kenapa?" Alden menatap kedua orang tuanya.


"Tidak," Hannah dan Steve menggeleng berbarengan.


Orang-orang yang hadir tampak memberikan kado kepada Tifanny dan keluarganya. Setelah mereka makan siang bersama, satu persatu tamu mulai membubarkan dirinya. Setelah rumah sepi, Bianca pun mengatakan maksudnya.


"Fann, aku ingin berbicara kepadamu," kata Bianca kepada Tifanny.


"Ada apa, Bi?"

__ADS_1


"Aku bingung haru mengatakannya dari mana," Bianca tampak kebingungan.


"Katakan saja, Bi! Ada apa?"


"Emm, Fann. Aku dan Alden ingin mencoba berbisnis membuka toko kue. Rencananya kami akan mengajak papa untuk menjadi kokinya. Hanya saja aku bingung. Jika papa ikut bergabung berarti papa dan keluarga lainnya harus pindah ke kota ini. Maksudku, tidak mungkin papa tinggal di rumah Alden. Kami pun sekarang menumpang di rumah mama. Apa boleh papa dan keluarga menumpang dulu di rumahmu yang dulu? Atau aku akan menyewanya kepadamu, Fann," Bianca mengutarakan keinginannya.


"Ya ampun aku kira apa, Bi," Tifanny tersenyum lega. Ia kira ada berita yang kurang bagus dari Bianca.


"Aku senang paman akan membuka toko kue lagi. Dulu saat paman gulung tikar, aku selalu berharap kalian bisa membangun toko kue lagi dan itu sekarang terwujud. Pakai saja rumah itu, Bi! Lagi pula aku membelinya dari uang peninggalan nenek kita. Bukankah paman adalah anak dari nenek? Berarti dia juga berhak untuk rumah itu," jawab Tifanny dengan bijak.


"Kan papa sudah ada bagiannya, Fann. Kami sewa saja ya?" Desak Bianca.


"Tidak. Aku tidak akan menerimanya. Pakaiklah rumah itu, dari pada dibiarkan kosong," timpal Tifanny lagi.


"Baiklah, Fann. Terima kasih ya? Kau memang sepupuku yang paling baik," Bianca berhambur memeluk Tifanny.


"Sama-sama, Bi. Aku harap toko kue kalian berkembang dan maju ya?" Tifanny membalas memeluk Bianca.


****


Sesampainya di rumah, Hannah langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia memgambil tespack yang baru kemaren dibeli dengan suaminya.


"Bi?" Panggil Hannah saat Bianca dan Alden akan masuk ke dalam kamar.


"Iya, Ma?" Jawab Alden dan Bianca yang menghentikan langkahnya.


"Tespack?" Bianca merasa kaget melihat apa yang diberikan Hannah.


"Cobalah, sayang!" Pinta Hannah.


"Ma, Bianca belum hamil. Mama tidak perlu menyuruhnya untuk tespack, nanti jika sudah waktunya pasti Bianca juga akan hamil," sergah Alden yang melihat raut wajah Bianca.


"Sayang, kau sudah datang bulan di bulan ini?" Hannah tidak memperdulikan ucapan putranya.


"Belum, Ma. Biasanya awal bulan, tapi ini sudah akhir bulan," Bianca tampak mengingat.


"Oh iya, aku belum sadar jika kau belum dapat tamu bulanan," Alden membenarkan.


"Maka dari itu, cobalah dulu ya?"


"Baik, Ma. Bianca coba ya?" Bianca menerima tespack-tespack itu dan masuk ke dalam kamarnya. Hannah dan Alden pun ikut masuk.


Bianca langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba alat pengetes kehamilan itu. Ia membawa 10 tespack dan mencobanya semua.


5 menit kemudian, Bianca keluar dari kamar mandi. Tidak ada perubahan dari raut wajahnya sehingga membuat Alden pun bersikap biasa saja.

__ADS_1


"Bagaimana, sayang?" Hannah berkata dengan antusias.


"Ini Ma hasilnya," Bianca memperlihatkan tespack-tespack yang semuanya memiliki dua garis yang jelas.


"Kamu hamil, sayang!!" Seru Hannah dengan girang.


"Hah? Hamil?" Alden menjawab dengan datar. Kemudian ia terdiam sejenak.


"Bianca hamil, Ma?" Alden berdiri dari duduknya.


"Akhirnya mama akan jadi nenek. Selamat, sayang!" Hannah mengecup pipi Alden dan Bianca. Alden pun memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Mengapa kau menggaruk rambutmu?" Tanya Hannah kepada Alden yang menggaruk rambutnya setelah melepaskan pelukan Bianca.


"Setelah ini kita harus ngapain, Ma?" Alden masih menggaruk rambutnya.


"Dasar anak tidak berguna! Ya kau penuhi semua permintaan istrimu dan tentu saja kau ikut menjaga kehamilannya!" Hannah menggetok kepala Alden dengan tangannya.


Bianca pun hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan kecil itu.


Tengah malam....


Bianca tidak bisa tidur seperti biasanya. Ia berguling ke sana ke mari untuk mencari posisi yang nyaman.


"Alden?" Bianca menggoyangkan tubuh suaminya yang tengah tidur dengan lelap.


"Alden?" Bianca semakin kuat membangunkan suaminya.


"Hhmmm," Alden bergumam.


"Tadi aku membuka yout*be dan melihat kue kue dari negara Indonesia. Aku jadi ingin kue bantal," rengek Bianca kepada Alden yang masih memejamkan matanya. Tidak ada sahutan dari suaminya. Ia terlihat masih memejamkan matanya.


"Alden, aku ingin kue bantal!" Bianca merengek lagi.


"Ayo bangun dan carikan aku kue bantal!" Bianca terduduk dan berusaha untuk menarik Alden agar terduduk juga.


"Alden!!!" Bianca berteriak.


Alden pun mendudukan dirinya tanpa membuka mata.


"Kau ingin kue bantal?" Tanya Alden dengan suara serak.


"Iya," Bianca tersenyum dan mengangguk cepat. Alden pun mengambil satu bantal dan memegangnya.


"Ini Ca kue bantalnya," ucap Alden sambil menyerahkan bantal yang ada di tangannya. Kemudian tubuhnya ambruk lagi ke atas kasur.

__ADS_1


"Alden aku ingin kue bantal sungguhan bukan bantal ini!!!" Bianca menggeram kesal. Alden pun sudah pergi jauh ke alam mimpi dan tidak dapat diganggu lagi.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2