Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Pergi ke Dokter


__ADS_3

"Apa?" Nino tampak tidak sabar.


"Saat dulu aku berkonsultasi mengenai siklus mestruasiku yang lebih panjang. Papa membawaku ke dokter spesialis kandungan dan dokter menemukan kista di ovarium," jelas Tifanny dengan pelan.


"Berapa ukuran kistanya? Apakah berbahaya?" Nino menjawab dengan khawatir.


"Kalau tidak salah 80 mm. Aku tidak tahu ukurannya sekarang sebesar apa. Dulu aku tidak memiliki uang untuk mengontrol kesehatanku lagi. Dokter bilang tidak berbahaya," Tifanny menundukan wajahnya.


"Mengapa kau tidak mengatakannya kepadaku?" Nino terlihat gusar.


"Aku kira kau tidak akan menuntut anak dariku."


"Apa dokter bilang itu menghambat untuk memiliki keturunan?" Tanya Nino lagi masih dengan raut wajah yang khawatir.


"Tidak. Dokter bilang itu hanya kista fungsional dan tidak mempengaruhi kepada kesuburan, tapi aku hanya takut saja."


"Ya ampun, Fann! Jika dokter mengatakan tidak apa-apa, mengapa kau harus cemas?" Nino menatap wajah Tifanny yang masih menunduk.


"Aku hanya takut akan sulit memiliki anak," Tifanny mulai terisak.


"Kemarilah!" Nino menarik Tifanny ke dalam pelukannya.


"Sebenarnya aku santai saja untuk masalah anak. Aku menanyakan apa kau sudah hamil agar kau tidak selalu membicarakan mengenai perpisahan. Jika ada pengikat di antara kita, kita tidak akan berpisah," Nino mengelus punggung Tifanny.


"Bukankah kita hanya akan menikah selama sembilan bulan?" Suara Tifanny terdengar serak.


"Lupakan itu! Mari kita mulai rumah tangga kita dari awal! Aku berniat untuk menikahimu seterusnya. Aku tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan," Nino menciumi rambut istrinya.


"Benar?" Tifanny tampak menghangat mendengar ucapan Nino.


"Tentu saja. Kita akan selalu bersama," Nino merekatkan pelukannya.


"Besok kita pergi ke dokter ya?"


Tifanny pun mengangguk dan menikmati pelukan suaminya yang terasa sangat menenangkan.

__ADS_1


****


"Bagaimana, Dok?" Tanya Nino kepada dokter spesialis kandungan yang sedang melakukan USG kepada Tifanny.


"Kistanya berukuran 110 mm. Relatif kecil. Ukuran sebelumnya berapa?" Tanya dokter itu kepada Tifanny.


"80 mm."


"Berarti membesar ya? Kalau begitu silahkan Nona duduk kembali!" Dokter mengakhiri pemeriksaannya.


Tifanny pun kembali duduk di sebelah suaminya.


"Jadi, begini tuan. Ada banyak faktor yang membuat kista membesar salah satunya adalah makanan yang mendukung terjadinya inflamasi atau pembengkakan seperti memakan makanan cepat saji terlalu sering juga tubuh yang kurang sekali berolahraga," Dokter mulai menjelaskan.


"Apakah kistanya berbahaya, Dok?" Nino memastikan.


"Kistanya tidak berbahaya juga tidak mengganggu terhadap kesuburan karena kista ini dinamakan kista fungsional dan biasanya akan hilang dengan sendirinya. Untuk cepat mengecilkan harus dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti istirahat yang cukup, olahraga yang teratur dan mengkonsumsi makanan yang sehat," jelas dokter lagi.


Nino pun tampak lega mendengar penuturan dokter.


"Baiklah, terima kasih dok untuk penjelasannya," Nino tersenyum lega.


Setelah keluar dari ruang pemeriksaan dan mengurus segala administrasi, Nino dan Tifanny langsung pulang ke rumah.


"Mulai besok sebelum aku berangkat bekerja, aku akan mengajakmu olahraga terlebih dahulu," Nino menoleh kepada Tifanny yang sedang duduk di sebelahnya. Kini mereka berada dalam perjalanan untuk pulang ke rumah.


"Iya."


"Kau tidak boleh makan makanan cepat saji lagi! Aku akan mengatur apa yang akan masuk ke dalam perutmu."


"Iya, mengapa kau ini begitu cerewet?" Tifanny tertawa. Ia kemudian menyenderkan kepalanya di bahu Nino. Tak berapa lama Tifanny memejamkan matanya.


"Dia memang memiliki hobi tidur di dalam mobil," Nino tersenyum mendapati istrinya yang sudah tertidur.


****

__ADS_1


Nino segera mengambil buah-buahan dari dalam kulkas dan membawanya ke kamar.


"Aku membawa buah-buahan," Nino terduduk di depan Tifanny yang tengah mengerjakan proposalnya.


"Jangan begadang lagi ya?" Nino mengambil laptop itu.


"Sekarang makan dulu!" Nino mengambil potongan buah dan menyuapi istrinya.


"Aku bisa makan sendiri. Aku tidak sakit," Tifanny hendak merebut piring yang berisi buah-buahan itu.


"Biar aku saja. Awas saja jika kau memakan makanan cepat saji lagi di belakangku! Terlebih memakan makanan yang berpengawet," Nino mengambil potongan buah lagi dan menyuapi Tifanny


"Iya. Mengapa kau sangat cerewet?" Tifanny mencubit pipi Nino.


"Aku hanya ingin ibu dari anakku selalu sehat. Aku tidak ingin kau sakit," Nino menunduk untuk menusuk kembali potongan buah dengan garpu di tangannya.


"Kau mau aku yang menjadi ibu dari anakmu?"


"Tentu saja, hanya kau bukan yang lain," Nino mendekatkan wajahnya.


"Kau mau apa? Buahnya belum habis," Tifanny menunjuk piring yang masih berisi buah-buahan.


"Aku mau membersihkan bibirmu. Lihatlah belepotan!" Nino berkata dengan gugup. Jantungnya berdetak lebih cepat.


"Masa iya buah membuatku belepotan?" Tifanny membersihkan bibirnya dengan jari miliknya.


"Besok kita olahraga ya?" Nino kembali menyuapi istrinya.


"Iya. Besok kita olahraga."


Setelah selesai menyuapi Tifanny, Nino dan Tifanny pun bersiap untuk tidur. Nino terus menepuk-nepuk punggung Tifanny, sementara Tifanny meringkuk dengan hangat di dalam pelukan suaminya. Tifanny tidak akan bisa tidur jika tidam memeluk Nino. Tak lama, Tifanny pun tertidur lebih dulu.


"Aku mencintaimu," bisik Nino sebelum ia memejamkan matanya.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2