Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Mengikuti Aiden dan Cassie


__ADS_3

"Jadi, kapan kita akan pergi ke Jerman?" Tanya Tifanny saat mereka sudah sampai di rumah.


"Dua hari lagi kita berangkat. Kau ini tidak sabar sekali," Nino tertawa.


"Iya. Aku sudah tidak sabar ingin berlibur. Aku butuh liburan."


"Kapan kau bimbingan lagi?" Nino melepaskan kemejanya dan menggantinya dengan baju piyama.


"Minggu ini aku belum bimbingan skripsi. Besok adalah jadwal bimbinganku," Tifanny mengambil piyamanya dari dalam lemari dan berjalan ke kamar mandi.


"Semoga tidak di coret coret ya? Sayang, kau mau ke mana?" Nino menatap Tifanny.


"Aku akan berganti baju. Memangnya kenapa?"


"Ganti saja di sini!" Nino mendekati istrinya.


"Tidak. Aku malu. Ada kau di sini," wajah Tifanny bersemu merah.


"Mengapa kau harus malu, aku kan sudah-"


"Nino, diamlah!" Tifanny membekap bibir suaminya.


Nino melepaskan tangan Tifanny dan langsung tertawa.


"Kau menertawakanku?" Tifanny menyipitkan matanya.


"Tidak. Hanya saja kau sangat lucu. Ayo aku gantikan saja bajumu!" Nino hendak mengambil piyama itu daru tangan Tifanny.


"Tidak. Aku tidak mau," Tifanny langsung berlari menuju kamar mandi.


Tifanny ke luar dari kamar mandi dengan piyama yang sudah lengkap menempel pada tubuhnya. Ia melihat Nino tengah memainkan ponselnya di atas kasur.


"Sudah? Ayo kita tidur!" Nino menyimpan ponselnya.


Tifanny pun berbaring di samping Nino.


"Selamat tidur, sayang!" Nino mencium kening Tifanny dan memejamkan matanya.


"Nino?" Jari Tifanny menusuk-nusuk pipi suaminya.


"Hemm?" Nino membuka kembali matanya yang sudah terselimuti dengan kantuk.


"Apa tadi perkataanmu benar? Ucapkan lagi!" Tifanny menatap Nino dengan penuh harap.


"Perkataanku yang mana?" Suara Nino tampak memberat. Sepertinya dia sudah sangat mengantuk.


"Yang tadi di mobil," pancing Tifanny lagi.


"Yang mana?" Nino berusaha mengingat dengan mata yang sudah benar-benar menahan kantuk.


"Itu, kata yang kau ucapkan di mobil. Masa tidak ingat?" Tifanny tampak kecewa.


"Aku tidak ingat. Ayo kita tidur!" Nino memeluk pinggang istrinya dan memejamkan matanya lagi.


"Kau yakin tidak ingat?" Tifanny masih berusaha.


"Nino?" Tifanny mencubit hidung Nino.


"Hemm?" Nino terpaksa membuka kembali matanya.


"Katakan yang tadi!"


"Aku lupa," jawab Nino.


"Kau menyebalkan!" Tifanny membalikan tubuhnya memunggungi suaminya.


"Aku mencintaimu," Nino berbisik di telinga istrinya.


Tifanny pun membalikan tubuhnya lagi dengan bersemangat.


"Mengapa kau mencintaiku?" Tifanny bertanya dengan antusias.


"Aku tidak tahu," Nino menggeleng.


"Jadi, kepada siapa saja kau pernah mengatakan cinta?" Tifanny tampak penasaran.


"Sayang, kita bahas besok ya!"

__ADS_1


"Jawab dulu," Tifanny merengek.


"Hanya kepadamu. Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapapun."


"Termasuk Odelia?"


"Iya. Hanya padamu."


Tifanny tersenyum senang mendengar jawaban Nino.


"Kalau begitu tidurlah!"


Nino pun segera memejamkan matanya karena tidak kuat menahan kantuk.


"Sayang, tahukah kau? Aku pun cinta kepadamu. Aku jatuh cinta padamu sejak kau menjadikanku bahan taruhan. Selama tiga tahun kita berpisah, aku sudah berusaha melupakanmu, tetapi aku tidak bisa. Aku selalu teringat padamu. Kau adalah pria yang pertama yang ku cintai," Tifanny tersenyum kemudian ia memejamkan matanya.


Beberapa saat kemudian, Nino membuka kembali matanya. Ia tersenyum menatap wajah Tifanny yang sudah tertidur.


"Terima kasih karena sudah mencintai pria sepertiku. Aku akan berusaha untuk selalu membahagiakanmu," Nino mengecup kening istrinya dan memeluk tubuhnya erat.


****


Alden sudah meminta maaf kepada Bianca dan juga Bobby atas peristiwa yang tidak mengenakan yang terjadi saat kemarin. Alden pun terpaksa ikut makan-makan bersama yang lain walaupun hatinya perih melihat kemesraan Cassie dan juga kakaknya, Aiden. Bobby pun diantarkan oleh supir Hannah dan Steve untuk kembali ke kota Cambridge pada malam harinya.


Tetapi ada yang lebih mengganggu pikiran Alden, yaitu Bianca.


"Jadi, dia bukan gadis seperti yang aku kira?" Alden menatap langit-langit kamarnya.


"Sudahlah, itu tidak penting. Aku tidak peduli dia gadis seperti apa," Alden berusaha membuang pikirannya mengenai Bianca.


"Oh iya, bukankah hari ini kak Aiden dan Cassie akan membeli sebuah cincin? Waktu itu kan mereka tidak jadi membelinya. Aku harus mengikuti mereka," Alden langsung bangkit dari kasurnya.


"Kau mau ke mana?" Tanya Bianca yang melihat Alden ke luar dari kamar dengan mengendap-ngendap.


"Kebetulan ada kau di sini. Ayo antarkan aku!" Alden menarik tangan Bianca ke luar dari rumahnya.


Terlihat mobil Aiden berlalu dari halaman rumahnya. Alden pun segera masuk ke dalam mobilnya diikuti dengan Bianca.


"Kau mengikuti kak Aiden?" Bianca menoleh kepada Alden yang sedang menyetir.


"Iya. Hari ini kakak akan membeli cincin dengan Cassie. Ini gawat," Alden memukul kemudi mobilnya.


"Diamlah! Itu tidak lucu," Alden menjawab dengan salah tingkah.


"Mengapa kau resah sekali saat kak Aiden akan membeli cincin dengan nona Cassie? Kau tidak rela kakakmu akan menikah?" Bianca saat ini bisa mengobrol lebih cair dengan Alden dan tidak menggunakan bahasa formal lagi.


"Bukan urusanmu!" Jawab Alden dengan ketus.


Mobil Aiden pun berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang cukup mewah. Lalu terlihat Cassie membuka gerbang dan langsung masuk ke dalam mobil Aiden.


Alden dan Bianca pun mengikuti mereka kembali. Aiden dan Cassie pergi ke sebuah toko perhiasan terbesar yang ada di kota Birmingham.


"Sudah tahu mereka akan membeli cincin. Mengapa kita masih mengikutinya?" Tanya Bianca tetapi tidak terdengar sahutan dari Alden.


"Kau kenapa?" Bianca memperhatikan wajah Alden yang tampak bersedih.


Alden tidak menjawab dan hanya diam seribu bahasa.


"Sampai kapan kita akan menunggu di sini?" Bianca merasa jenuh karena mereka sudah menunggu lama di mobil.


Akhirnya Aiden dan Cassie pun terlihat ke luar dari toko perhiasan dan masuk kembali ke dalam mobil.


"Sudahlah, lebih baik kita pulang saja!" Bianca tampak bosan.


"Diamlah! Kau sungguh sangat cerewet," Alden menggerutu dengan wajah yang masam.


Mobil Aiden dan Cassie pun masuk ke dalam basement mall. Alden pun ikut memarkirkan mobilnya di basement.


"Ayo cepatlah!" Alden menarik tangan Bianca untuk masuk ke dalam mall.


Aiden dan Cassie pergi ke toko baju dan memilah milah baju di sana.


"Kita harus masuk juga?" Bianca memandang Alden yang tengah mengawasi Aiden dan Cassie.


"Iya, ayo kita masuk!" Alden kembali menarik tangan Bianca.


"Sepertinya ada yang mengikutiku," Aiden menggaruk rambutnya. Kemudian ia berbalik. Alden pun dengan refleks langsung berbalik.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Tanya Cassie kepada Aiden.


"Aku rasa ada yang mengikuti kita. Tadi aku seperti melihat Alden di sebelah sana," timpal Aiden.


"Biar aku lihat," Cassie berjalan ke arah Alden dan Bianca.


"Cassie berjalan ke arah kita," bisik Bianca kepada Alden.


Alden pun dengan cepat menarik Bianca dan masuk ke dalam ruang ganti yang sangat sempit.


"Kau ini apa-apaan?" Bianca tampak emosi karena Alden membawanya bersembunyi ke dalam ruang ganti yang hanya cukup untuk dua orang.


"Diamlah! Nanti kita ketahuan," Alden membekap bibir Bianca dengan tangannya. Tanpa mereka sadari, jarak mereka kini sangat dekat bahkan tubuh mereka menempel satu sama lain karena sempitnya ruang ganti itu.


"Kau jangan kurang ajar!" Bianca menggeram karena kesal.


Alden pun menatap wajah Bianca yang sedang memandangnya dengan tajam.


"Gadis udik ini cantik juga ternyata," batin Alden saat menatap wajah Bianca.


"Ah tidak. Aku tidak suka gadis udik. Gadis seperti ini hanya akan mempermalukanku. Aku teringat saat dia mengambil makanan dengan rakus di pesta pernikahan Nino," Alden bergidik ngeri saat ingat kejadian itu.


"Aku mau ke luar. Di sini sangat panas," Bianca hendak ke luar tapi di tahan kembali oleh Alden.


"Jangan dulu! Nanti kita ketahuan," Alden memeluk Bianca dari belakang.


"Kau ini benar-benar pria yang tidak mempunyai batasan! Untung kau majikanku, jika bukan aku sudah menggetok kepalamu itu," geram Bianca saat melihat tangan Alden melingkar di tubuhnya.


"Sudahlah, aku ke luar," Bianca melepaskan tangan Alden dan ke luar dari ruang ganti itu.


"Hey, gadis udik! Tunggu!" Bisik Alden. Ia pun mengikuti langkah Bianca.


Saat ke luar, Aiden dan Cassie sudah tidak ada.


"Tuh kan kita jadi kehilangan jejak mereka," keluh Alden saat tidak mendapati keberadaan kakaknya dan Cassie.


"Ini semua gara-gara kau!" Alden menunjuk Bianca.


"Bukankah kau yang menarikku untuk bersembunyi di sana?" Bianca berteriak.


"Sudahlah! Ayo kita pergi ke basement. Pasti mereka masih di sana!" Alden lagi-lagi menarik tangan Bianca.


"Alden pelan-pelan!" Bianca tampak kesusahan menyeimbangkan langkah kakinya yang kecil-kecil dengan langkah kaki Alden.


"Kau ini lelet sekali!" Alden berbalik dan segera menggendong Bianca.


"Alden turunkan aku!" Bianca memberontak dalam gendongan Alden.


"Kau sangat lama!" Alden terus menggendong Bianca hingga mereka menjadi tontonan pengunjung mall yang lain.


Bianca pun menadah dan menatap wajah berkeringat Alden. Entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat.


"Berdetak lebih cepat karena malu tepatnya. Malu menjadi tontonan orang-orang," batin Bianca. Ia pun menenggelamkan wajahnya di dada Alden karena terus menjadi pusat perhatian pengunjung lain.


Saat di basement, Alden segera menurunkan Bianca. Ia melihat mobil kakaknya akan ke luar dari basement mall.


"Ayo! Kita kejar kakak," Alden tergopoh-gopoh masuk ke dalam mobilnya. Bianca pun dengan cepat masuk ke dalam mobil karena takut ditinggalkan oleh Alden.


Aiden melajukan mobilnya menuju rumah Cassie. Saat mereka sampai di depan gerbang, Aiden turun dan membukakan pintu mobil untuk Cassie. Tak lama mereka pun berciuman dengan sangat lama sebelum Aiden pulang.


"Kau menyukai Nona Cassie?" Bianca menoleh kepada Alden yang sedang bersedih melihat adegan yang ada di depan matanya.


"Lupakan dia! Dia sudah bahagia dan akan menjadi milik kakakmu. Dia akan menjadi kakak iparmu. Buka hatimu untuk orang lain!" Bianca mengambil tangan Alden dan menggenggamnya erat.


Alden pun menatap tangannya yang tengah di genggam oleh Bianca.


"Aku yakin kau akan menemukan wanita yang lebih baik dari Nona Cassie, asalkan kau mau berubah. Dengan kau berubah, wanita baik pun akan datang kepadamu dengan sendirinya. Percayalah padaku!" Hibur Bianca kembali.


Alden pun menatap Bianca dalam waktu yang lama.


"Ayo kita pulang!" Alden bergumam.


"Tolong gantikan aku menyetir!" Lanjutnya.


Bianca dan Alden pun bertukar posisi duduk. Bianca mulai mengemudikan mobil menuju rumah Alden.


Alden pun tak berkata sepatah kata apapun. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Bianca yang tengah menyetir.

__ADS_1


"Aku harap kau bisa segera move on!" Bianca mengelus kepala Alden.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...


__ADS_2