Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Tembok Berlin dan Makan Mie


__ADS_3

Tifanny dan Nino saat ini berada di tempat wisata Tembok Berlin, salah satu wisata sejarah yang terkenal di Jerman.


"Walau pun sekarang hanya sisa-sisa dari Tembok Berlin dulu, tetapi aku masih bisa merasakan nilai-nilai sejarahnya," Tifanny tersenyum menatap tempat yang selalu ia idam-idamkan untuk dikunjungi.


"Sepertinya kau sangat suka ke sini," Nino menoleh ke arah istrinya.


"Iya. Kau tahu? Dulu Jerman Barat dan Jerman Timur di batasi oleh tembok ini. Bahkan banyak sekali warga Jerman Timur yang lari untuk menuju Jerman Barat. Itulah alasannya tembok ini di buat," Tifanny menatap kagum sisa-sisa tembok Berlin yang ada di hadapannya.


"Aku jadi membayangkan, bagaimana jika kita hidup pada masa itu dan terlahir di sini? Misal aku hidup di Jerman Bagian Timur dan kau hidup di Jerman bagian Barat," Nino berandai-andai.


"Tentu saja kita tidak akan pernah bersama karena kita terpisah oleh tembok ini. Melewati tembok ini sangat sulit sekali."


"Tidak, kita akan bersama karena kita memang diciptakan untuk bersama. Aku yang akan menghancurkan tembok ini agar bisa menemuimu," seru Nino dengan menggebu-gebu.


"Aku tidak yakin kau bisa menghancurkan tembok ini sendirian," Tifanny tertawa mendengar ucapan dari suaminya.


"Tentu saja aku bisa, kan yang akan kutemui adalah kau. Ayo kita makan setelah ini!" Nino menarik lembut tangan Tifanny dan berlalu dari sana.


Nino membawa Tifanny ke sebuah restoran yang ada di kota Berlin. Restoran itu tepat berada di tepi sebuah danau.


"Aku suka tempat ini, pelayanannya sangat ramah," kata Tifanny saat ia mencoba Apfelstrudel yang merupakan kue khas dari Jerman.


"Maka dari itu, aku membawamu ke mari," Nino pun memakan hidangan yang ada di piringnya.


Saat mereka sedang asik menyantap menu makan siang mereka, seorang wanita tiba-tiba menghampiri meja Tifanny dan Nino.


"Kau Nino kan?" Tanya seorang wanita berambut blonde.


Nino melirik Tifanny terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Iya, aku Nino," jawab Nino dengan canggung.


"Sudah lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" Tanya wanita itu lagi.


"Baik. Kenalkan ini istriku!" Nino memperkenalkan Tifanny.


"Oh ternyata kau sudah menikah. Hallo Nona!" Wanita itu melambaikan tangannya.


Tifanny hanya tersenyum dan mengangguk dengan ramah.


"Senang bertemu denganmu. Kalau begitu aku pergi, maaf sudah mengganggu makan siang kalian!" Wanita berambut blonde itu pun segera berlalu dan meninggalkan restoran.


"Dia siapa?" Tanya Tifanny kepada suaminya.


"Dia temanku," Nino tersenyum kaku.


"Mantan kekasihmu kan?" Tifanny menyipitkan matanya.


"I-iya. Sudah ya jangan dibahas lagi? Oh iya, kau harus mencoba Bretzel. Roti ini sangat enak lho," Nino buru-buru mengalihkan topik.


"Aku sudah mencobanya," timpal Tifanny dengan ketus. Kehadiran mantan kekasih Nino sedikit merusak mood liburannya.


Selesai makan siang, Nino dan Tifanny pun berjalan jalan lagi. Kali ini destinasi wisata yang akan mereka kunjungi adalah Tiegarten yang merupakan taman paling terkenal di kota Berlin.


Tifanny dan Nino mendudukan dirinya tepi danau yang dihiasi oleh daun-daun berguguran.


"Sangat indah!" Tifanny tersenyum menatap danau dan pohon-pohon di sekelilingnya yang berwarna kecokelatan.


"Musim gugur memang semakin mempercantik danau ini," Nino membenarkan.


"Ini rotimu!" Nino mengeluarkan roti Bretzel yang tadi mereka beli. Ia sengaja membungkusnya agar dapat memakannya di tepi danau.


"Kau Nino kan? Maaf jika aku salah!" Seorang gadis yang sedang jogging menghampiri Nino dan juga Tifanny.


"Iya aku Nino," lagi-lagi Nino menoleh ke arah istrinya.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya gadis itu lagi.


"Aku sedang berlibur dengan istriku. Kau sedang apa di sini?" Nino berbasa-basi.


"Oh, kau sudah menikah. Mengapa kau tidak mengundangku? Aku ikut kedua orang tuaku ke Jerman," sahut wanita itu.


"Aku hanya mengundang kerabat dekat."


"Oh begitu. Kalau begitu aku pergi duluan ya? Maaf mengganggu," gadis itu beranjak dan berlalu dari sana.


"Dia mantan kekasihmu lagi?" Tifanny memutar bola matanya. Roti manis yang sedang ia cicipi terasa hambar di bibirnya.


"Iya, Fan. Aku tidak menyangka akan bertemu mereka," Nino berkata dengan hati-hati.

__ADS_1


"Sebenarnya ada berapa mantan kekasihmu? Mengapa sampai ke Jerman pun ada?" Tifanny menaikan nada suaranya.


"Mereka teman SMAku. Kebetulan saja mereka pindah ke sini," Nino menatap Tifanny dengan khawatir.


"Jangan-jangan setelah ini, kita akan bertemu dengan mantan kekasihmu yang lain lagi! Sudahlah, aku ingin kembali ke hotel," Tifanny berdiri dan meninggalkan Nino yang masih duduk di tepi danau.


"Fann?" Nino mengejar langkah istrinya.


"Jangan jauh-jauh! Nanti kau tersesat," Nino menarik tangan istrinya. Mereka pun pulang ke hotel.


Sesampainya di hotel, Tifanny mendiamkan Nino. Moodnya begitu buruk saat bertemu dengan mantan-mantan kekasih suaminya.


"Fann? Kau marah padaku?" Nino mendudukan dirinya di sebelah Tifanny.


"Fann? Aku harus melakukan apa? Jika aku bisa kembali ke masa lalu, tentu aku tidak akan menjadi seorang playboy. Tentu aku ingin menjadikanmu satu satunya di dalam hidupku. Apakah sekarang kau menyesal menikah dengan seorang pria yang memiliki banyak mantan kekasih sepertiku?" Nino menatap Tifanny dengan sendu.


Tifanny menoleh dan menatap wajah suaminya.


"Jika aku bisa, tentu aku akan merubah masa laluku. Apakah sekarang kau masih mau menerima aku yang seperti ini? Yang memiliki banyak mantan kekasih?" Tanya Nino lagi.


Tifanny pun merasa bersalah, ia pun menyadari jika Nino tidak sengaja bertemu dengan mantan-mantan kekasihnya.


"Sayang, maafkan aku! Aku hanya cemburu," Tifanny lebih mendekat ke arah suaminya dan memeluknya.


"Aku memang tidak seperti kau yang tidak memiliki mantan kekasih," ucap Nino lagi dengan raut wajah yang sedih.


"Kau pantas untukku. Jika saja papa tidak menyakiti mama, mungkin aku pun akan memiliki mantan kekasih sepertimu. Kau kan tahu, aku tidak pernah berpacaran karena trauma oleh kondisi rumah tangga kedua orang tuaku," Tifanny mengeratkan pelukannya.


"Jangan, aku tidak rela kau memiliki mantan kekasih!" Nino mengerucutkan bibirnya.


"Kau salah, aku pun memiliki satu mantan kekasih."


"Siapa?" Nino bertanya dengan raut wajah terkejut.


"Kau. Bukankah kita pernah berpacaran selama beberapa menit?" Tifanny tertawa.


"Oh iya," Nino pun ikut tertawa mengingat kejadian hari itu, saat ia menyatakan perasaannya kepada Tifanny. Tetapi kemudian semua dirusak oleh Kai dan Alden yang membocorkan perihal taruhan mereka.


"Kau selalu pantas untukku. Kau selalu jadi yang terbaik. Terima kasih dan maafkan aku!" Tifanny mengecup kening suaminya.


****


Semenjak pertunangan Aiden dan Cassie. Alden lebih banyak mengurung diri di kamar. Sedikit banyak hal itu mempengaruhi mood dan emosinya.


Saat Alden akan menenggak wine itu dari botolnya, pintu dibuka oleh Bianca.


"Hentikan! Untuk apa kau meminum ini lagi?" Bianca berjalan dan langsung merampas botol wine dari tangan Alden.


"Kemarikan! Kau ini jangan terlalu kaku! Aku hanya meminumnya untuk menghangatkan tubuh," Alden berkilah.


"Tapi kau sangat sering meminumnya. Itu tidak baik untuk kesehatan."


"Tidak baik untuk kesehatan apa?" Alden berteriak.


"Tentu saja untuk kesehatanmu terutama ginjal dan livermu itu. Bayangkan ginjalmu yang harus bekerja ekstra untuk membuang racun-racun yang ada di dalam tubuhmu. Bebannya akan semakin berat jika kau selalu meminum minuman beralkohol. Kau ingin sakit dan meninggal di usia muda?" Bianca menjelaskan panjang lebar.


"Halah, kau terlalu naif!" Alden berkata dengan gugup walau hatinya membenarkan.


"Sekarang kelakuanmu yang kedua adalah sering tidur bersama wanita-wanita yang tidak jelas itu."


"Wanita tidak jelas bagaimana? Aku kan hanya tidur dengan kekasih-kekasihku, bukan dengan wanita malam" jawab Alden dengan ketus.


"Ya, tentu saja tidak jelas. Kau yakin kau hanya pria satu-satunya yang pernah tidur dengan mereka? Apakah kau tidak berpikir bagaimana jika kekasih-kekasihmu itu pernah tidur dengan pria yang sering menyewa wanita malam? Kau tidak ingin kan terserang penyakit yang berbahaya?" Celoteh Bianca lagi.


"Aku lihat kekasihmu itu bukan gadis baik-baik. Kau yakin mereka hanya melakukannya denganmu?" Sambungnya lagi.


Alden pun berpikir dan tampak resah dengan perkataan Bianca.


"Hiduplah dengan normal dan baik! Sebelum sesuatu yang buruk terjadi padamu," Bianca mendelik kesal.


"Kau mendoakanku mendapat hal yang buruk?" Alden memandang Bianca dengan kesal.


"Bukan seperti itu. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Pergaulan bebas pun bukan hal yang baik, ya walau pun kita tinggal di Eropa Barat. Tetapi pandai pandailah menjaga dirimu!" Tegur Bianca lagi.


"Baiklah. Aku tidak akan mengencani wanita lagi. Mana kemarikan winenya?" Alden meminta winenya kembali.


"Ternyata aku menasehatimu panjang lebar, kata-kata itu langsung ke luar lagi dari telinga kirimu!"


"Mana sini!' Pinta Alden lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, lupakan minuman ini! Aku punya sesuatu yang lebih baik untuk menghilangkan stresmu," Bianca tersenyum.


"Sesuatu apa?" Alden tampak tidak sabar.


"Sebentar!" Bianca ke luar dari kamar Alden dengan membawa wine yang ada di tangannya.


15 menit kemudian Bianca masuk lagi ke kamar Alden dengan membawa 2 cup berisi mie yang telah diseduh dan dua botol air mineral.


"Mengapa kau membawakanku mie?" Alden terlihat lebih kesal dari tadi.


"Ini adalah mie yang berasal dari salah satu negara kawasan Asia Tenggara. Ini salah satu mie terpedas. Ayo kita bertaruh! Siapa yang kalah, harus mengikuti keinginan pihak yang menang," Bianca menantang.


Alden tampak berpikir dan menimbang-nimbang.


"Bagaimana? Kau takut kalah kan?"


"Tentu saja aku yang akan menang. Ayo cepat kemarikan mienya!" Ujar Alden dengan bersemangat. Ia ingin sekali menang dan menyuruh Bianca pergi dari hidupnya.


"Ayo cepatlah duduk!" Perintah Alden. Mereka pun duduk di sofa yang ada di kamar Alden.


"Aku tuangkan sambelnya semua ya. Ini tingkat kepedasan maksimal," Bianca menuangkan semua sambelnya di atas mie miliknya dan milik Alden.


Alden menatap sambel itu dengan ngeri. Tetapi ia tidak boleh takut. Tekadnya sudah bulat untuk menang dan meminta Bianca menjauh dari hidupnya.


"1, 2, 3!" Bianca menghitung kemudian ia segera memakan mie itu. Alden pun langsung memakan mie miliknya.


"Shit! Ini sangat pedas! " Batin Alden. Keningnya mulai bercucuran dengan keringat.


Alden menoleh kepada Bianca yang sedang memakan mienya tanpa rasa pedas di mulutnya. Tetapi makin lama, Bianca pun ikut menahan pedas karena mienya kelewat pedas.


"Gila! Ini sangat pedas!" Alden menjulurkan lidahnya.


"Lihatlah! Bibirmu jontor," Bianca tertawa memperhatikan bibir Alden yang memerah dan membengkak.


"Ingusmu ke luar!" Alden ikut tertawa.


"Kau payah. Lihatlah! Mieku hampir habis," Bianca berkata dengan susah payah karena menahan sensasi terbakar di lidahnya.


"Aku tidak kuat," Alden menggelengkan kepalanya. Wajahnya sudah memerah dari tadi.


"Aku harus habiskan," Bianca menyantap kembali mie yang sudah tersisa sedikit.


"Aku menang!" Bianca bertepuk tangan dan langsung meminum air mineral yang ada di botol.


Alden pun dengan cepat menyambar botol minuman mineral miliknya yang ada di atas meja.


"Aku menang! Kau harus menuruti apa perintahku," Bianca bertepuk tangan.


"Baiklah. Aku bukan pecundang. Apa maumu?" Alden mengusap rambutnya yang basah.


"Tolong jangan meminum wine lagi dan jangan tidur dengan wanita sembarangan lagi!" Bianca berkata dengan serius. Tentu saja ia meminta hal itu karena ia ingin pekerjaannya jadi lebih ringan.


"Hanya itu?"


"Iya. Itu saja."


"Baiklah," Alden menyetujui.


"Aku numpang dulu di sini sebentar ya?" Bianca merebahkan tubuhnya di atas sofa dan mengipas ngipas wajahnya dengan buku.


"AC nya padahal menyala. Tapi masih panas," Alden ikut mengipas-ngipas wajahnya.


"Gadis udik? Sepertinya kau sangat suka pedas. Kau ini memang wanita unik!" Seru Alden tetapi tidak ada tanggapan.


Ia pun menoleh dan mendapati Bianca sudah tertidur di kursinya.


"Tidurnya sangat cepat sekali," Alden menggelengkan kepalanya. Ia pun berdiri dan menghampiri sofa Bianca.


"Hey, gadis udik! Bangunlah! Jangan tidur di kamarku!" Alden membangunkan Bianca dengan kakinya.


"Hey gadis udik!" Kali ini Alden menggoyangkan tubuh Bianca dengan tangannya.


"Sudahlah. Aku biarkan saja dia di sini. Tapi jika mama tahu, aku takut mama salah paham," Alden bergumam.


"Aku kembalikan saja dia ke habitat asalnya," Alden menggendong tubuh Bianca.


"Tubuhnya berat sekali! Pasti berat karena dosa," Alden berjalan dengan tertatih.


"Wajahnya cantik. Aku pun ingin wanita baik-baik," Alden menatap wajah gadis yang ada di dalam gendongannya. Wajahnya seketika memerah ketika menatap wajah Bianca.

__ADS_1


"Gila, apa yang aku pikirkan?" Alden menggelengkan kepalanya dan berjalan kembali ke arah kamar Bianca.


...Hallo Readers, mulai hari ini author akan update satu bab saja ya. Eits tapi jangan salah, jumlah katanya tetap 1500 -2000 kata alias sama seperti 2 bab. Hanya saja author menyatukan babnya saja. Untuk apa? Agar episodenya tidak banyak dan ratusan. Kadang orang lain pun malas jika baca novel yang terlalu panjang dan banyak episodenya. Oh iya jangan lupa tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author karena author menyempatkan diri untuk update jika tidak ada keperluan mendesak. Terima kasih 🤗...


__ADS_2