Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Menolong dan Memancing


__ADS_3

"Justin turunkan aku di sini!" Tifanny berteriak dan memukul Justin yang sedang menyetir.


"Diam!!!" Justin berteriak.


"Aku akan melompat jika kau tidak berhenti!" Ancam Tifanny.


"Silahkan saja jika kau bisa membukanya!" Justin menyeringai jahat.


"Dikunci!" Tifanny terus meronta berusaha untuk ke luar dari dalam mobil milik Justin.


"Hentikan atau kita akan mati berdua!" Tifanny mencekik leher Justin dari belakang.


"Diamlah! Kau ingin mati?" Justin menepikan mobilnya di jalanan yang sepi.


"Aku ingin ke luar dari sini!" Tifanny berteriak.


"Diamlah! Aku harus membalas apa yang sudah suamimu lakukan padaku," Justin berpindah duduk ke belakang.


"Kau salah paham, Justin!" Tifanny memukuli dada Justin dengan sekuat tenaga.


"Salah paham apa? Suamimu yang mengancamku. Aku sudah menjauhimu, tetapi dia masih saja mengusik kehidupanku. Aku dipecat dari pekerjaanku karena ulah suamimu. Kau tahu? Aku merintis karierku dari 0. Aku mencintai pekerjaanku, tetapi semua lenyap karena ulah suamimu. Belum lagi tangisan ibuku yang tahu aku dipecat dengan tidak hormat!!" Justin berteriak.


"Itu semua ulah mantan kekasihmu bukan ulah suamiku!!" Tifanny balas berteriak.


"Aku akan membalas apa yang sudah suamimu lakukan. Aku hanya perlu melukaimu sedikit, itu sudah cukup untuk membuatnya menderita," Justin tersenyum sinis. Ia kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Tifanny.


"Justin, jangan berbuat yang tidak-tidak!!" Tifanny berteriak dan memundurkan tubuhnya sampai menempel pada pintu mobil.


Justin mencengkram tangan Tifanny dengan kasar.


"Tolong!!!" Tifanny berteriak dan terus mendorong tubuh Justin menjauh darinya.


"Tidak akan ada yang menolongmu!" Justin menyeringai jahat. Justin melepaskan kancing kemeja miliknya satu persatu.


Tifanny semakin ketakutan melihat gelagat Justin. Saat Justin sibuk membuka kancing kemejanya, mobil Kai berhenti tepat di depan mobil Justin.


"Ke luar! Jangan berani pada seorang wanita!" Kai menggedor kaca mobil Justin dengan sangat keras.


"Kai, tolong aku!" Tifanny berteriak histeris sembari menangis.


"Sial*n! Mau apa dia ke mari!" Justin mengancingkan kembali kemejanya.


"Buka atau aku pecahkan kaca mobilnya!" Kai semakin keras mengetuk kaca mobil itu.


"Ada urusan apa kau ke mari?" Justin ke luar dari dalam mobilnya.


"Ternyata kau, Justin! Aku pikir siapa. Aku tadi tidak mengenalimu. Ya, karena kau tidak pantas untuk diingat," Kai tertawa meremehkan.


Justin tidak menjawab dan terus memandang Kai dengan tatapan permusuhan, sementara itu Tifanny langsung ke luar dari dalam mobil Justin.


"Kau mau ke mana?" Justin menjambak rambut Tifanny.


"Justin, lepaskan!" Rintih Tifanny kesakitan.


"Lepaskan dia! Kau tidak lihat dia seorang wanita? Kau tidak malu melawan seorang wanita?" Kai mulai berang melihat sikap Justin kepada Tifanny.


"Sahabatku saja tidak pernah melukainya seujung kuku pun," lanjutnya.


"Aku harus membalas sahabat tidak bergunamu itu dengan wanita ini," Justin tersenyum licik.


Tifanny pun menginjak kaki Justin sekuat tenaga sampai tangan pria itu terlepas dari rambutnya. Kemudian, Tifanny segera berlari ke belakang tubuh Kai.


Justin langsung maju dan hendak memukul Kai, tetapi Kai lebih cepat darinya. Kai menghajar Justin dengan tangan kosong. Justin berusaha melawan, tetapi Kai yang lebih mendominasi perkelahian ini.


"Jika kau ingin membalas perbuatan Nino, datanglah padanya dan selesaikan urusan kalian, bukan dengan menyandera seorang wanita! Kau hanya berani pada seorang wanita!" Kai menginjak punggung Justin yang sudah terkapar di tanah.


"Kai, sudah! Kau tidak apa-apa?" Tifanny berjalan ke hadapan Kai dan bertanya dengan khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Pulanglah bersamaku!" Ucap Kai kepada temannya saat di Amerika itu.


Tifanny pun mengangguk.


"Sebentar, Kai! Aku ambil tasku dulu!" Tifanny membuka mobil Justin dan mengambil tasnya.


Kai berjalan di depan Tifanny dan Tifanny berjalan di belakang pria itu. Sebelum mencapai mobilnya, Kai menoleh ke arah Tifanny yang berjalan di belakangnya. Ia membulatkan matanya saat Justin bangkit dan berlari menghampiri Tifanny dengan sebuah benda tajam di tangannya. Justin bermaksud untuk melukai Tifanny dengan benda tajam itu.


"Fann, awas!" Kai mendorong tubuh Tifanny.


"Kai?" Tifanny berteriak saat melihat benda tajam itu menusuk perut temannya.


"Kai? Kau tidak apa-apa?" Suara Tifanny bergetar. Ia menghampiri Kai yang roboh dengan bersimbah darah.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa," Kai meringis saat tangannya mencabut benda tajam itu dari perutnya.


"Kai, maafkan aku!" Tifanny menangis tersedu melihat keadaan temannya itu. Tifanny membuka mantelnya dan menyobek kemeja putihnya. Tifanny menutup luka Kai dengan robekan kemeja miliknya.


"Itulah akibatnya jika berani melawanku!" Justin menggeram.


"Kau gila!!" Tifanny berteriak.


"Kemarilah! Sekarang giliranmu!" Justin menghampiri Tifanny yang masih memegangi Kai.


Saat Justin hendak berjalan ke arah Tifanny, mobil Nino terlihat datang ke tempat kejadian.


"Apa yang kau lakukan pada istri dan sahabatku?" Nino berteriak. Wajahnya merah padam karena menahan amarah.


"Kau terlambat, kau tidak menyaksikan pertunjukan yang seru tadi!" Justin seperti orang tidak waras.


Nino langsung berlari menghampiri Justin. Nino memukul Justin dengan membabi buta. Justin tampak melawan dengan sisa-sisa tenaga yang ada, tetapi tenaganya kalah jauh dengan luapan kemarahan Nino. Bagaimana tidak, Nino melihat teman dan istrinya di tengah jalan dengan kondisi yang menghawatirkan.


"Nino, hati-hati!" Seru Tifanny.


Setelah melihat Justin tak sadarkan diri, Nino segera menelfon polisi untuk menangkap Justin.


"Kalian tidak apa-apa?" Nino berlari menghampiri Tifanny dan Kai.


"Aku tidak apa-apa. Tetapi Kai terluka," Tifanny menangis melihat Kai yang kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Kai, ayo!" Nino segera menggendong Kai di punggungnya dan langsung memasukan Kai ke dalam mobil miliknya.


"Mengapa kau datang terlambat?" Tifanny bertanya dengan suara yang bergetar. Ia begitu khawatir melihat keadaan Kai.


"Maafkan aku!" Nino berucap dengan perasaan bersalah yang amat dalam.


"Kai, aku mohon bertahan!" Tifanny menangis dan menatap wajah Kai yang memucat.


Sesampainya di rumah sakit, Kai langsung ditangani oleh dokter yang berjaga di IGD.


"Tenanglah!" Nino menarik Tifanny ke dalam pelukannya.


"Maafkan aku! Jika saja aku datang tadi mungkin ini semua tidak akan terjadi. Aku suami dan sahabat yang tidak berguna," ucap Nino dengan suara yang memberat.


"Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Aku berharap Kai tidak apa-apa," Tifanny menangis dalam pelukan suaminya. Saat Nino melepaskan pelukannya, ia melihat kemeja Tifanny yang koyak.


"Iya, Dok. Bagaimana keadaannya?" Nino bertanya dengan panik.


"Tuan Kai dalam kondisi stabil. Untung saja lukanya tidak dalam dan tidak mengenai organ penting yang ada di daerah perut. Kondisinya akan segera membaik," jelas Dokter itu dengan tenang.


Tifanny dan Nino pun menghembuskan nafasnya lega mendengar penuturan dokter itu.


"Aku harus menghubungi Alula," Nino merogoh ponsel dari saku celananya dan menelfon istri Kai.


****


Alden dan Bianca saat ini tinggal di desa Reine. Desa ini dikenal sebagai desa nelayan dan hanya dihuni oleh 300 orang. Desa ini pun sangat indah karena dikelilingi oleh pegunungan salju, desa Reini terletak di dekat Arktik. Tepatnya berada di pulau Olenilsoya, Lofoten, Norwegia.


"Alden, ayo kita memancing!" Ajak Bianca kepada Alden yang masih berselimut tebal di atas kasurnya.


"Aku tidak mau," Alden menolak.


"Jangan seperti ini! Ayo kita memancing! Pasti sangat menyenangkan memancing di laut yang membeku," ajak Bianca lagi.


Alden tampak menimbang-nimbang ajakan Bianca.


"Kalau begitu aku ikut!" Alden bangun dan langsung memakai pakaian musim dingin yang lengkap. Tak lupa ia pun membawa alat pancing milik pamannya. Alat-alat menangkap ikan memang tidak susah didapatkan di rumah pamannya karena paman Alden dulunya adalah seorang nelayan.


"Ca?" Panggil Alden saat mereka berjalan menyusuri desa yang tertutup oleh salju.


"Ada apa?" Uap tampak ke luar dari bibir Bianca. Musim dingin di Norwegia memang berkali-kali lipat lebih dingin dari pada di Inggris.


Alden berjalan dan berhenti tepat di depan Bianca.


"Nanti tanganmu kedinginan," Alden melepaskan sarung tangan miliknya dan memakaikan sarung tangan itu di tangan Bianca.


"Alden, nanti kau yang kedinginan!" Bianca menolak.


"Tidak apa-apa. Aku kuat dingin," Alden tersenyum.


"Baiklah terima kasih," Bianca merasa tersentuh dengan sikap Alden.


Alden melubangi laut yang ditutupi es dengan gergaji yang ia bawa.


"Buat lubangnya yang sempurna ya?" Bianca terduduk di kursi yang Alden bawa.

__ADS_1


"Iya. Kau ini cerewet sekali!" Alden tertawa dan membuat 2 lubang.


Setelah berhasil membuat bulatan yang sempurna, Alden pun terduduk di kursi plastik yang ia bawa tadi.


"Ca? Kau tahu? Saat hewan-hewan bermigrasi, kau akan melihat burung-burung berterbangan dengan sangat banyak di sini," Alden menadahkan kepalanya dan menatap langit yang tidak tersinari cahaya matahari sama sekali.


"Benarkah?" Bianca mengambil cacing dan menyimpannya di Barb. Barb adalah bagian kail pancing untuk mengait ikan.


"Iya, kau pun akan melihat kawanan paus. Saat kecil bila aku ke sini aku pasti melihat kawanan paus itu!" Alden memperhatikan sebagian lautan yang membeku.


"Begini saja aku sudah senang. Desa ini sangat cantik. Cocok untuk merefresh otak kita setelah lama berpenat di kota sebesar Birmingham," Bianca menimpali. Ia memasukan barb yang sudah terkait cacing ke dalam lubang.


"Desa ini memang sangat cantik. Desa Raine pernah dinobatkan sebagai desa tercantik di Norwegia pada tahun 1970. Maka dari itu, banyak penginapan sekarang di sekitar sini. Kau harus melihat desa ini dari puncak gunung Reinebringen."


"Gunung Reinebringen?" Bianca tampak bingung.


"Itu gunung yang ada di sebelah sana!" Alden menunjuk sebuah gunung tinggi yang tertutupi salju.


"Kau harus melihat desa ini dari puncaknya!"


"Baiklah, kapan-kapan ayo kita memanjat gunung itu!" Bianca antusias mendengar cerita Alden.


"Ca?" Panggil Alden lagi.


"Iya?"


"Besok ayo kita pergi camping! Biasanya pada malam hari di musim dingin akan terlihat aurora Borealis di langit desa Reine," ajak Alden.


"Aku mau," Bianca mengangguk dengan cepat.


"Aku ingin sekali melihat aurora secara langsung," lanjutnya.


"Baiklah, besok mari kita pergi untuk camping!" Alden tampak bersemangat.


"Lihatlah! Kail milikku bergerak," Bianca berdiri dan menarik alat pancing yang sedang ia pegang.


"Aku bantu," Alden berdiri dan membantu menarik pancing Bianca dari belakang.


"Tubuhnya sangat wangi," batin Alden saat ia memeluk Bianca dari belakang.


"Ayo tarik!" Suara Bianca membuyarkan lamunan Alden.


"Yee, kita menangkap ikan yang lumayan besar!" Bianca bertepuk tangan saat ia berhasil menangkap seekor ikan yang lumayan besar.


"Aku pun pasti mendapatkan ikan sebesar itu," Alden tidak mau kalah. Ia terduduk lagi di kursinya.


Setelah 2 jam memancing, Alden dan Bianca memutuskan untuk pulang.


"Syukurlah kita mendapat ikan yang lumayan banyak," Bianca tersenyum senang.


"Masak yang enak ya?" Alden membenarkan posisi topi Bianca yang miring.


Bianca menatap Alden yang sedang membenarkan topinya.


"Mengapa jantungku berdetak tak karuan?" Kata Bianca di dalam hatinya.


"Tatapannya membuatku deg-degan," Alden ikut-ikutan membatin di dalam hatinya.


"Ayo, Ca kita pulang!" Alden melepaskan tangannya dan berkata dengan salah tingkah.


Alden membereskan peralatan memancingnya dan memasukan alat-alat itu ke dalam Tackle Box atau kotak khusus untuk menyimpan peralatan pancing.


Alden menggendong kotak itu di punggungnya. Ia mereketkan mantelnya karena udara semakin dingin.


"Kau kedinginan?" Tanya Bianca yang berjalan di sisi Alden.


"Iya. Lumayan."


"Mana tanganmu?"


"Untuk apa?" Alden mengulurkan tangannya.


Bianca segera melepas sarung tangan yang ada di tangannya. Kemudian ia menggenggam tangan Alden.


"Nanti kau kedinginan," Alden menatap Bianca yang memegang tangannya.


"Ini supaya hangat," Bianca tersenyum.


"Ayo kita pulang! Aku lapar," Bianca menarik tangan Alden. Sementara Alden tersenyum saat tangannya di genggam dengan erat oleh wanita yang bekerja sebagai asistennya itu.


...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, komentar atau hadiah dan vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...

__ADS_1


__ADS_2