
Nino dan Tifanny beristirahat di dalam pesawat karena perjalanan dari kota Birmingham ke kota Christchurch, New Zealand membutuhkan waktu satu hari lebih 14 jam dengan dua kali transit.
"No, kenapa lama sekali perjalanannya?" Tifanny mengeluh karena ia sudah berada di dalam pesawat selama 3 jam. Untungnya mereka duduk di first class, sehingga mereka bisa meluruskan kaki-kakinya.
"Dari benua Eropa ke New Zealand memang sangat jauh, tak heran jika penerbangannya akan memerlukan waktu yang sangat lama. Tidurlah! Nanti jika pesawat sudah transit, aku akan memberi tahumu," Nino menaikan selimut sampai ke leher Tifanny.
"Kau juga tidur ya?"
"Iya," Nino mengangguk.
Tifanny pun segera menutup kedua matanya karena perjalanan masih sangat lama dan akan melelahkan.
Setelah melalui penerbangan panjang selama satu hari lebih 14 jam dengan dua kali transit, akhirnya Nino dan Tifanny sampai di Bandar Udara Internasional Christchurch.
Nino dan Tifanny naik taksi untuk sampai di tempat penyewaan mobil. Nino pun segera menyewa mobil untuk membawa dirinya dan Tifanny berkeliling di New Zealand.
"Nino, kita akan ke mana?" Tanya Tifanny saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kita akan ke Lake Tekapo. Kau pasti akan suka melihat danaunya," Nino berkata dengan semangat.
"Kau pernah ke sini?" Tifanny merasa khawatir mereka akan tersesat.
"Aku sudah ke mari bersama Kai dan juga Alden. Waktu itu kami berlibur bersama saat libur musim panas. Dan saat musim panas sekarang pun, aku ke mari lagi bersama istriku," Nino terus tersenyum sambil menyetir.
"Istri?" Tifanny bergumam yang masih terdengar oleh Nino.
"Iya, kau istriku."
"No, berapa lama untuk sampai di Danau Tekapo?"
"Kurang lebih selama tiga jam," Nino menimpali.
"Ya ampun, lama sekali!" Tifanny mengeluh karena di dalam pesawat pun mereka sudah memakan waktu yang lama.
"Tidur lagi saja!" Pinta Nino.
"Tidak. Nanti kau mengantuk," Tifanny mencoba untuk menemani Nino yang tengah menyetir. Tetapi, matanya tidak bisa diajak kompromi. Beberapa menit kemudian, ia sudah tertidur dengan pulas di kursinya.
"Berlaga mau menemani, baru beberapa menit dia sudah tertidur," Nino tertawa saat ia menoleh dan mendapati Tifanny sudah tertidur.
3 jam perjalanan sudah dilewati, mobil Nino dan Tifanny pun sampai di area Danau Tekapo.
"Fann, bangun! Kita sudah sampai," Nino membangunkan Tifanny saat mobilnya sudah memasuki kawasan danau Takepo.
"Wah indah sekali!" Tifanny takjub melihat danau yang berwarna biru.
__ADS_1
"Ayo kita berjalan-jalan!" Tifanny segera berlari menuju danau.
"Jangan dulu!" Nino menahan tangan Tifanny.
"Mengapa? Aku sudah tidak sabar ingin menyentuh air danau itu."
"Kita kan belum membooking penginapan," jawab Nino.
"Oh iya, aku lupa!" Tifanny menepuk keningnya.
"Kita akan menginap di mana?"
"Kita akan menginap di sana!" Nino menunjuk penginapan yang berada di sisi danau Tekapo.
"Baiklah, ayo!" Tifanny segera menurunkan koper miliknya dari bagasi mobil.
"Biar aku saja, ini berat," Nino mengambil alih koper yang di turunkan oleh Tifanny.
"Dia manis sekali," Tifanny tersenyum menatap Nino yang membawa dua koper sekaligus.
"Kamarnya hanya satu?" Tifanny memperhatikan penginapan yang sangat kental dengan nuansa alam.
"Iya, kan kita akan tidur berdua dan kita akan tidur satu kamar."
"Baiklah. Ayo kita segera ke luar! Aku ingin segera ke danaunya," Tifanny menarik tangan Nino keluar dari penginapan.
"Nino, kita bisa berenang kan?"
"Tidak bisa."
"Mengapa?" Tifanny tampak kecewa.
"Coba sentuh saja airnya," perintah Nino kepada Tifanny.
Tifanny pun menyentuh air danau dengan tangannya.
"Dingin sekali!" Tifanny mengangkat tangannya lagi.
"Itulah mengapa aku bilang jika kau tidak bisa berenang di sini."
"Mengapa air danaunya dingin sekali? Padahal ini musim panas," Tifanny mengerucutkan bibirnya.
"Karena airnya berasal dari gletser yang mencair. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk malam ini!" Nino menarik tangan Tifanny hingga tubuh mereka kini menempel.
"Ma-malam ini?" Pipi Tifanny bersemu merah.
__ADS_1
"Iya, kita akan pergi untuk melihat bintang dan aurora," sahut Nino.
"Aku benci pikiranku! " Racau Tifanny dalam hatinya.
"Sepertinya kau tidak sabar," Nino tampak menggoda Tifanny.
"Tidak sabar apanya? Sudahlah, ayo kita bersiap! Aku ingin segera melihat aurora," Tifanny segera meninggalkan Nino dan berjalan menuju penginapan.
Tifanny menatap ke luar penginapan, ia melihat turis lain naik ke sebuah mobil tour menuju gunung untuk melihat bintang.
"Nino, kita akan ikut mereka kan?"
"Tidak. Di atas gunung sangat dingin. Kau tidak akan kuat. Percayalah padaku!"
"Lalu, kita akan melihat bintang dan aurora di mana?" Tanya Tifanny ke pada suaminya.
"Ayo ikut aku!" Nino berjalan menaiki tangga penginapan. Mereka pun sampai di rooftop penginapan.
"Aku kira penginapan ini tidak ada rooftopnya," kata Tifanny saat ia sudah berada di rooftop.
"Ayo kita duduk!" Nino terduduk di kursi yang ada di rooftop. Tak lupa, Nino membawa satu buah selimut yang tebal. Sedangkan penginapan sudah menyiapkan dua buah teleskop. Nino segera menyelimuti Tifanny saat ia melihat uap keluar dari bibir istrinya.
"Lihatlah! Indah bukan?" Tanya Nino saat mereka melihat gugusan bintang dari teleskop.
"Iya, lihatlah langitnya! Sangat indah. Apakah ini yang dinamakan aurora?" Tanya Tifanny saat melihat fenomena alam yang menyala nyala. Tampak langit berwarna hijau, biru, ungu dan merah muda.
"Iya. Ini yang dinamakan aurora," Nino ikut memperhatikan dari teleskopnya.
"Ini benar-benar sangat indah!" Senyum Tifanny tidak pudar saat melihat fenomena yang langka itu dari teleskopnya.
Sudah dua jam mereka berada di rooftoop. Nino pun merasa sudah lelah, karena mereka sudah banyak menghabiskan waktu di perjalanan.
"Fann, sebaiknya kita tidur!" Ajak Nino kepada Tifanny yang masih asik menatap langit.
"Baiklah, ayo!" Tifanny mengambil selimut dan segera turun dari rooftop diikuti oleh Nino. Mereka pun masuk ke dalam kamar.
"Lelah sekali!" Tifanny merebahkan tubuhnya di atas kasur. Nino pun ikut merebahkan dirinya di samping Tifanny.
"Fann?" Nino melingkarkan kaki dan tangannya di tubuh Tifanny.
"Apa, No?" Firasat Tifanny sudah tidak baik. Tifanny berfikir Nino akan menagih haknya.
"Bisakah kita melakukannya sekarang?" Bisik Nino di telinga Tifanny. Nino segera bangun dan memerangkap tubuh Tifanny dengan kedua tangannya.
"Nino, aku-"
__ADS_1
Hallo hallo para readers, jika nanti ke depannya author mengupload satu episode berarti author sedang sibuk di real life ya. Kemarin author upload satu episode karena author harus bolak-balik ke dokter hewan. Terima kasih karena selalu menunggu kelanjutan dari novel ini. Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote untuk mendukung author ya, karena dengan like dan komentar kalian, novel ini akan naik popularitasnya dan tentunya menarik pembaca lain untuk membaca. Minimal like ya, jangan jadi silent rider. Terima kasih 🤗