Istri Kesayangan Nino

Istri Kesayangan Nino
Jalan-Jalan (TAMAT)


__ADS_3

Meghan tengah bermain bola basket di kamarnya yang ada di lantai atas. Ia mengdribble bola dengan lumayan keras sehingga bola itu memantul ke luar.


"Bolaku!!" Meghan berlari menuruni tangga dan keluar rumah untuk mengambil bola basketnya.


"Bola ini milikmu Little Girl?" Aiden sedang mengusap kepalanya sembari tangan kirinya memegang bola milik Meghan.


"Eh paman yang ada di Rumah Sakit. Bolaku mengenaimu ya, paman? Maaf ya!" Meghan berusaha tersenyum semanis mungkin.


"Bermainlah di lapangan agar bolamu tidak mengenai orang lain!" Gerutu Aiden kepada Meghan.


"Aku kan tidak sengaja, paman. Mengapa kau sangat galak?" Meghan mendekat dan mengambil bola miliknya dari tangan Aiden.


"Paman, paman! Kau kira aku pamanmu!" Semprot Aiden kesal.


"Sudah untung tidak aku panggil om!" Meghan berkacak pinggang.


"Om, om. Memangnya kau simpananku?"


"Simpanan? Simpanan uang maksudmu, paman?" Meghan tampak berpikir.


"Dasar anak kecil!!" Aiden meninggikan suaranya.


"Kak, ada apa?" Alden tiba-tiba keluar dari rumahnya.


"Lihlatlah tetanggamu memukul kakak dengan bola basket!" Aiden menunjuk Meghan.


"Tidak, kak. Aku tidak sengaja," Meghan berusaha memberi penjelasan.


"Kak, dia tidak sengaja. Lagi pula Meghan ini adik ipar dari Nino," Alden menjelaskan mengenai diri Meghan.


"Oh, jadi namamu Meghan? Tidak cocok. Aku beri nama saja Little Girl!" Aiden ikut berkacak pinggang.


"Sudahlah, kak. Mengapa jadi bertengkar? Bukankah kakak ke mari untuk menjenguk Jasmine?" Alden mengingatkan.


"Oh iya kakak lupa," Aiden menepuk keningnya.


"Paman benar-benar sudah tua. Jadi sering lupa," Meghan tertawa.


"Hey little girl, jangan mentertawakanku!" Sorot mata Aiden terlihat mengancam.


"Hih, paman ini galak!" Meghan berlari masuk ke dalam rumahnya. Tak lama kemudian keluarlah David yang akan berangkat bekerja.


"Dokter David?" Sapa Aiden saat melihat dokter yang sering menanganinya.


"Aiden?" David balik menyapa.


"Dok, kau tinggal di sini?" Aiden menjabat tangan David.


"Iya, Aiden," David tersenyum ramah.


"Kak, Dokter David ini adalah ayah Meghan. Dia juga mertua dari Nino," Alden memperkenalkan.


"Jadi, si little girl itu anakmu, Dok?" Tanya Aiden tak percaya.


"Little girl?" David tampak bingung.


"Maksud kakak adalah Meghan," Alden memperjelas.


"Oh iya. Meghan adalah anak bungsuku."


"Oh begitu," Aiden mengangguk.


David memang dokter yang menangani keluhan Aiden selama ini. Aiden memang sering datang ke Dokter Spesialis Jantung karena jantungnya selalu berdebar lebih cepat setelah gagal menikah dengan Cassie. David pun menyumpulkan jika Aiden mengalami serangan panik dan harus diobati. Ia pun beberapa kali melakukan EKG untuk melihat kondisi jantungnya.


Keesokan harinya...


Salju turun cukup deras, Aiden menyetir dengan hati-hati untuk sampai rumah. Ketika ia melewat di universitas tempat Meghan menimba ilmu, ia melihat gadis kecil itu tengah meneduh di halte bus dari derasnya salju yang turun.


"Kasihan si Little girl!" Aiden menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Hey, little girl!" Aiden keluar dari dalam mobilnya.


"Paman?" Meghan merapikan rambutnya .


"Kau sedang cosplay jadi boneka salju?" Sindir Aiden.


"Aku sedang menunggu taksi, paman. Tapi belum ada yang melintas," jawab Meghan.


"Kebetulan aku akan ke rumah adikku. Ikut saja denganku!" Ajak Aiden.


"Benar, paman?" Mata Meghan berbinar.


"Iya. Cepatlah naik ke mobilku!" Aiden membukakan mobilnya.


"Baik paman," Meghan menbuka sendiri pintu bagian penumpang.


"Hey, little girl! Kau pikir aku supirmu?" Aiden berteriak.


"Jadi, aku duduk di mana, paman?" Meghan kebingungan.


"Di bagasi!" Jawab Aiden cepat.


"Jika di Bagasi nanti aku kehabisan nafas. Aku tidak mau mati muda," Meghan mengusap wajahnya yang terkena salju.


"Dasar anak kecil! Kau duduk di depan, di sampingku!!!"


"Oh begitu. Mengapa tidak bilang dari tadi, paman?" Meghan tersenyum. Ia pun segera masuk ke dalam mobil Aiden, tepatnya di samping pengemudi.


Sepanjang perjalanan, Aiden menyetir sambil beberapa kali menoleh ke arah gadis yang ada di sampingnya.


"Dia gadis yang manis!" Batin Aiden saat melihat raut wajah Meghan yang masih terlihat sangat polos.


*****


Nino mengajak Tifanny untuk berjalan-jalan sejenak. Nino menitipkan Archie pada Meghan dan juga David. Tifanny tidak terlalu khawatir, karena Archie sudah diberikan MPASI atau makanan pendamping ASI. Tapi Tifanny tetap membekali Archie dengan ASI yang ia masukan ke dalam botol susu.


Nino mengajak Tifanny berjalan-jalan di Pusat Kehidupan Laut yang ada di kota Birmingham. Pusat kehidupan laut ini berupa Aquarium yang menampung banyak sekali spesies ikan dari seluruh dunia.


"Sayang, aku bahagia bisa menghabiskan waktu denganmu lagi," Nino memeluk istrinya dari belakang. Tempat wisata ini memang cukup sepi karena orang-orang lebih berdiam diri di rumah untuk menikmati musim dingin atau sebagian lagi memilih untuk bermain ski.


"Sayang, bukankah di rumah kita menghabiskan waktu? Bersama Archie juga?" Tifanny membalikan tubuhnya menghadap suaminya.


"Iya. Tapi aku rindu berjalan-jalan seperti ini. Jika Archie sudah besar, ayo kita pergi ke luar negeri!" Ajak Nino.


"Iya, sayang. Sebenarnya di mana pun aku berada, asal aku bersamamu, aku akan sangat senang," Tifanny berjinjit dan mengecup pipi suaminya.


"Jangan memancingku di sini!" Nino mendekatkan wajahnya.


"Sayang, ayo kita lihat hiu dan penyu!" Tifanny mengalihkan. Nino pun tersenyum melihat ekspresi istrinya yang malu-malu.


"Sayang, ayo kita berfoto!" Nino mengeluarkan ponselnya. Kemudian mereka berfoto bersama.


"Sayang, kau ingat foto ini!" Nino memperlihatkan foto saat dirinya mengecup pipi Tifanny untuk pertama kali.


"Ini saat kita kencan untuk pertama kali di Amerika Serikat. Waktu itu kita menonton film horor," Nino mengingatkan.


"Aku mengingatnya," Tifanny memperhatikan foto mereka saat masih menjadi mahasiswa Harvard University.


"Sayang, waktu itu aku sudah jatuh cinta padamu tetapi aku mengingkari perasaanku," Nino menatap Tifanny dengan penuh cinta.


"Aku pun sudah jatuh cinta padamu tapi aku selalu berusaha mengelaknya," Tifanny ikut-ikutan mengungkapkan perasaannya.


"Aku memaksamu menikah denganku karena aku memang menginginkanmu."


"Bohong. Kau kan memaksaku untuk menikah karena tidak mau dijodohkan dengan Fiona," sela Tifanny.


"Itu memang benar. Tapi kaulah perempuan yang ada di pikiranku saat itu yang harus aku nikahi. Sepertinya memang aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa melupakanmu walau aku berkencan dengan gadis lain setelah kau menghilang."


"Jika sekarang? Kau masih mencintaiku?" Tifanny menatap mata suaminya mencari tahu apakah Nino benar-benar mencintainya.

__ADS_1


"Selalu. Dari hari ke hari, rasa cintaku padamu semakin besar. Selama hidupku, aku akan selalu mencintaimu dan menyayangimu. Mencintai anak-anak kita," ucap Nino yang membuat Tifanny seketika berkaca-kaca.


"Walau nanti kita sudah tua?"


"Iya, selamanya kau akan selalu jadi istri kesayanganku. Istri kesayangan Nino," Nino merengkuh leher Tifanny dan menempelkan bibirnya pada bibir istrinya. Tifanny memejamkan matanya dan menikmati cium*n suaminya yang selalu membuatnya candu.


"Sayang?" Panggil Nino saat mereka mengakhiri ciumannya.


"Hemm?"


"Ayo kita tambah anak lagi!" Pinta Nino dengan manja.


"Jangan macam-macam! Archie baru berusia sembilan bulan," Tifanny mencubit pipi Nino dan kemudian berjalan meninggalkan suaminya untuk melihat ubur-ubur.


"Tapi aku ingin mengurus bayi lagi. Malam ini kita buat ya?" Nino memeluk Tifanny dari belakang.


"Emm bagaimana ya?" Tifanny tampak berpikir.


"Ayolah! Agar anak kita tidak memiliki rentang usia yang jauh!" Rengek Nino lagi.


"Baiklah. Ayo kita berusaha membuatkan Archie adik!" Tifanny menyetujui.


...Ucapan terima kasih dan visual Novel 🤗...


Hallo readers, akhirnya kita sampai di episode terakhir novel ini. Author ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada readers yang membaca cerita ini dari awal sampai akhir.


Author ingin minta maaf jika novel ini jauh dari ekspetasi kalian. Author akui novel ini sangat tidak greget karena author pun sebenarnya sedikit kebingungan dan bisa dibilang terjebak oleh judul.


Author sudah menyiapkan beberapa konflik yang cukup menguras emosi untuk novel ini, tapi author mencocokan lagi dengan judul sepertinya tidak cocok. Judulnya kan Istri Kesayangan Nino, ga mungkin kan Nino nyakitin istrinya kaya Kaivan nyakitin Alula, secara Tifanny ini istri kesayangannya. Nah, itu maksud author terjebak dalam judul.


Setiap author akan memberikan konflik, kembali lagi ke judul dan ujungnya tidak cocok. Dan author dari awal pun sudah bilang jika kisah Alden akan ikut bersama kisah Nino, itung-itung another tokoh. Mohon maaf jika kalian kecewa karena kisah Alden pun porsinya sangat banyak. Tetapi ternyata masih banyak yang membaca novel ini. Author ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dan terima kasih untuk tidak berkomentar buruk di novel ini. Author pantau komentarnya minim dengan komentar buruk. Terima kasih ya 😘


Oh iya, jangan dulu di unfavoritin ya. Nanti author kasih bonus chapter buat yang penasaran sama kisah Aiden dan Meghan juga tentunya Nino dan Tifanny. Dan setelah lebaran author akan membuat novel baru. Bagi yang penasaran bisa masuk grup author ya untuk pemberitahuan selanjutnya dan author pun akan menginfokannya di novel ini dan novel author lainnya. Jadi jangan di hapus dulu dari rak buku kalian ya!


Seminggu lagi idul fitri tiba, author ucapkan Minal Aidzin Wal Fa Idzin. Mohon maaf apabila ada tulisan author yang tanpa sengaja menyinggung kalian. Semoga kita dipertemukan kembali dengan bulan ramadan yang akan datang. Author doakan semoga para readers selalu dalam keadaan sehat dan dalam lindungannya. 😘😘


...Bonus, para visual novel Istri Kesayangan Nino 🤗...


1. Tifanny



2. Nino



3. Alden



4. Kaivan



5. Alula (Istri Kai)



6. Bianca



7. Meghan setelah dewasa



8. Aiden


__ADS_1


Source : Instagram dan Pinterest.


Sampai berjumpa lagi setelah idul fitri. Peluk jauh dari author 🤗🤗


__ADS_2