
1 tahun kemudian....
Tifanny dan Meghan tinggal kembali di kota Birmingham. Nenek mereka sudah meninggal setahun yang lalu. Bobby kemudian menjual rumah dan aset yang dimiliki ibunya. Sesuai amanat, uang itu 70% diberikan kepada Tifanny dan Meghan.
Tifanny dan Meghan pun membeli sebuah rumah di kota Birmingham. Mereka kembali ke kota Birmingham karena makam ibunya ada di sana, terlebih usaha toko kue milik Bobby gulung tikar. Toko kue milik Bobby kalah saing, karena ada toko kue baru yang sangat besar di bangun di dekat tokonya.
Tifanny pindah kembali dengan harapan untuk mendapatkan pekerjaan di kota Birmingham, karena di kota Cambridge ia begitu kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Simpelnya kota Birmingham adalah kota metropolitan terbesar kedua di Inggris raya setelah kota London, tentu peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan semakin besar. Setelah 6 bulan mencari pekerjaan, Tifanny pun mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar pizza kepada pelanggan yang memesan via telfon atau online.
"Kak?" Panggil Meghan kepada Tifanny yang sedang menyisir rambutnya.
"Iya?"
"Meghan akan lulus tahun ini. Nanti Meghan akan langsung bekerja membantu kakak," Meghan menoleh kepada Tifanny yang sedang duduk di belakangnya.
"Kakak ingin kau melanjutkan pendidikanmu. Sekarang kakak tanya, kau ingin masuk jurusan apa nanti?" Tanya Tifanny dengan lembut.
"Kalau ada kesempatan, Meghan ingin masuk jurusan kedokteran kak. Meghan ingin jadi dokter seperti mama, tapi Meghan ingin jadi dokter spesialis anak," Meghan tersenyum membayangkan dirinya menjadi seorang dokter.
"Tapi pendidikan dokter kan sangat mahal kak. Lebih baik Meghan membantu kakak saja," senyum Meghan menyurut.
__ADS_1
"Tidak, sayang. Kakak ingin kau kuliah dan berhasil. Kakak akan mengusahan dan mencari cara agar kau bisa melanjutkan pendidikanmu."
"Nasib Meghan tidak boleh sepertiku. Dia harus berhasil dan tidak bekerja serabutan seperti kakaknya," batin Tifanny.
"Pekerjaan kakak sekarang hanya pengantar pizza. Bagaimana kakak mengumpulkan uang untuk kuliah Meghan, kak? Jangan memaksakan ya?" Meghan menatap Tifanny dengan sedih. Ia begitu terluka karena harus melihat kakaknya bekerja banting tulang untuk mencukupi segala kebutuhannya.
"Rezeki siapa yang tahu? Siapa tahu nanti Bill Gates memberikan 1 persen hartanya untuk kakak," Tifanny menggelitik perut adiknya.
"Kakak, hentikan! Itu menggelikan!" Meghan tertawa saat Tifanny terus menggelitik perutnya.
"Atau bisa jadi nanti kakak dinikahi oleh pria kaya raya kan kak? Atau di nikahi oleh keluarga kerajaan kak," Meghan menghindar dari gelitikan Tifanny dan menggoda kakaknya.
"Ya, siapa tahu kan kak? Jodoh tidak ada yang tahu?" Meghan mengerucutkan bibirnya.
"Rambutmu sudah rapi, sayang. Segeralah berangkat sekolah!" Tifanny berdiri dan mengambilkan tas Meghan.
"Baik, kak. Meghan berangkat ya?" Meghan memakai tasnya. Tifanny mengantar Meghan sampai depan rumahnya.
Setelah Meghan berangkat, Tifanny pun bersiap untuk bekerja. Ia berangkat mengendarai motor yang ia beli dari uang peninggalan neneknya. Tifanny melajukan motornya ke restoran pizza yang sangat terkenal di dunia. Sudah 6 bulan ini ia bekerja menjadi seorang pengantar pizza.
__ADS_1
"Hari ini akan sangat melelahkan!" Tifanny memperhatikan catatan nama-nama dan alamat pelanggan pemesan pizza hari ini.
Dengan cekatan, Tifanny mengantarkan semua pizza ke alamat yang ada di selembar kertas. Semua sudah ia antarkan, dan yang terakhir Tifanny mengantarkan pizza ke sebuah perumahan Elite yang ada di kota Birmingham.
"Ini pertama kalinya aku kemari. Rumah rumah di perumahan ini sangat mengagumkan!" Tifanny menatap kagum pada rumah rumah mewah yang berdesain Eropa.
"Sepertinya ini rumahnya," Tifanny turun dari motor dan melepas helm miliknya. Tifanny segera membawa pizza pesanan pelanggan itu dan mulai memencet bel.
"Kenapa lama sekali? Apa tidak ada orang di rumah ini?" Tifanny memperhatikan rumah yang hampir 70% di penuhi dengan bingkai jendela khas Eropa.
Tifanny memencet kembali bell. Ini sungguh sangat mengganggu karena Tifanny ingin segera pulang dan memasak untuk adiknya.
"Sebentar! Mengapa kau sangat tidak sabar? Dasar pengantar pizza tidak punya sopan santun!" Gerutu seseorang dari dalam yang terdengar oleh Tifanny.
Ceklek...
Pintu dibuka, Tifanny membulatkan matanya saat ia melihat siapa pemilik rumah. Pemilik rumah itu pun sama kagetnya dengan Tifanny. Lama mereka saling bersitatap setelah 3 tahun tidak pernah bertemu dan menyapa satu sama lain.
"Nino?" Akhirnya kata itu lolos dari bibir Tifanny saat melihat laki-laki itu berdiri di depannya.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih.😊😊...