
Nino sampai di rumah Tifanny, ia langsung naik ke atas balkon untuk menemui gadis itu.
"Fann, buka jendelanya!" Nino menggedor jendela kamar Tifanny. Sementara orang yang dimaksud Nino, masih menangis di dalam kamar mandi.
"Fann? Aku mohon buka!" Nino kembali menggedor jendela.
Tifanny ke luar dari kamar mandi dengan mata yang sangat sembab. Ia sudah puas menangis sekarang. Tifanny tidak mau menangis di depan Nino atau di depan siapa pun. Ia sungguh tidak ingin memperlihatkan sisi dirinya yang begitu menyedihkan.
Tifanny melihat bayangan seseorang di jendela kamarnya.
"Fann, buka jendelanya!" Gumam seseorang dari luar.
Tifanny mengerti dan tahu siapa orang itu. Ia segera membuka lemari dan mengambil baju piyama untuk mengganti dressnya yang sudah basah kuyup. Setelah berganti baju, Tifanny segera berbaring dan mematikan lampu. Ia mencoba tertidur, walau pun air matanya kembali merembes dengan deras. Apa yang dilakukan Nino benar-benar menyakiti hatinya.
Setelah 4 jam berada di balkon rumah Tifanny, Nino memutuskan untuk turun dan pulang ke apartemennya. Nino akan mencoba berbicara dengan gadis itu esok hari saat suasana sudah sedikit mencair.
****
Sudah 3 hari ini Nino terus mengejar Tifanny. Ia benar-benar ingin hubungannya dengan Tifanny seperti dulu lagi. Tifanny pun selalu menghindar saat Nino mengejarnya. Setiap melihat wajah Nino, hatinya kembali merasakan sakit.
Pagi ini, Tifanny berjalan untuk mencegat taksi. Ia akan pergi ke jurusan untuk menyetorkan absensi teman-teman kelasnya, karena Tifanny adalah sekretaris di kelas, otomatis dia yang memegang absensi itu.
"Fann?" Nino menghadang jalan Tifanny dan memegang tangan Tifanny dengan kuat. Nino seolah takut Tifanny akan melarikan diri darinya.
"Ada apa lagi?" Tifanny berkata dengan ketus.
"Maafkan aku mengenai taruhan itu!" Nino memegang kedua bahu Tifanny.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, No! Kita sama-sama punya kepentingan," Tifanny melepaskan tangan Nino dari bahunya.
"Maksudmu?" Nino tampak tidak mengerti.
__ADS_1
"Kau mendekatiku karena ingin menang taruhan dengan Kai dan Alden. Aku pun mau dekat denganmu karena ingin membalas perlakuan Clara. Aku ingin menyakitinya dengan menjadikanmu alatnya," Tifanny berbohong.
"Maksudmu?" Nino menautkan alisnya tajam.
"Ya, aku hanya memanfaatkanmu untuk menyakiti Clara. Dia dan ibunya selalu memperlakukanku dengan sangat buruk. Maka dari itu, aku mau dekat denganmu untuk membalasnya. Dengan mendekatimu, aku sudah membuat perasaan Clara hancur," Tifanny mengalihkan pandangannya dari wajah Nino.
"Kau berbohong! Aku tahu kau jatuh cinta padaku kan?" Nino menyentuh pipi Tifanny.
"Katakan jika kau sedang berbohong!" Harap Nino.
"Aku tidak pernah jatuh cinta padamu. Bukankah dari awal aku sudah mengatakan, jika aku tidak akan berpacaran? Mengapa kau begitu bodoh, jika aku hanya memanfaatkanmu untuk membalas perlakuan Clara? Dan aku sangat puas ketika kau meninggalkannya. Selama ini sikapku hanya pura-pura padamu. Sekarang kita impas. Kita dekat karena sama sama memiliki misi satu sama lain. Jadi, lupakanlah semuanya!" Tifanny melepaskan tangan Nino dari pipinya dan berjalan menjauh.
Nino mengepalkan tangannya. Ia sungguh tidak berfikir jika Tifanny hanya menjadikan dirinya alat untuk membalas sikap Clara.
"Maafkan aku, No! Aku berbohong agar kau tidak mencariku lagi. Bencilah aku dengan sekuat tenagamu! Aku lebih menyukai kau membenciku. Setiap melihat wajahmu, hatiku terasa sangat sakit. Kau tidak ada bedanya dengan papa. Biarkan aku menjauh dengan cara seperti ini! Mari kita lupakan semua yang telah kita lalui bersama! Apa yang kau lakukan membuat luka di hatiku semakin pedih. Kau seperti menaburkan garam di atas luka yang dibuat papa. Aku tidak akan pernah mau jatuh cinta lagi," Tifanny meneteskan air matanya kembali.
Malam harinya....
"Iya, aku juga tidak tahu akan seperti ini. Coba saja dia jujur jika dia sudah jatuh cinta pada gadis itu!" Timpal Kai sembari memainkan ponselnya.
Tak lama, sebuah notifikasi pesan muncul di ponsel Kai. Kai membaca pesan dari teman sekelasnya.
"Nino mabuk di klub. Tolong jemput dia! Aku kasihan padanya. Aku takut dia celaka di jalan jika dia mengemudi dalam keadaan mabuk," bunyi pesan teks itu.
"Ayo kita harus pergi!" Kai segera berdiri dari duduknya dan langsung mengambil mantel miliknya.
"Ada apa?" Alden bingung melihat Kai yang seperti terburu-buru.
"Nino mabuk di klub."
"Anak itu!" Alden berdecak pelan.
__ADS_1
Mereka pun segera berangkat ke klub malam yang ada di kota Massachusetts.
"No!" Panggil Alden ketika mereka sampai di klub.
"Jangan menggangguku!" Nino membentak Alden.
Alden dan Kai pun segera duduk di samping Nino.
"Kau tidak salah seperti ini karena seorang Tifanny?" Tanya Alden.
"Kau ini waras tidak? Mengapa bertanya kepada orang yang sedang mabuk? Kai menggerutu.
"Oh iya," Alden menggaruk kepalanya.
"Aku benci, aku benci Tifanny!" Nino merebahkan kepalanya di atas meja bar.
"Kalian tahu? Dia mendekatiku hanya untuk membalas perlakuan saudara tirinya. Dasar wanita kurang ajar!" Nino menghardik.
Kai dan Alden pun tampak kaget.
"Aku pun heran karena dia bisa dekat denganmu, ternyata dia pun memiliki misi lain. Benar benar gadis yang tidak bisa ditebak!" Kai tertawa.
"Kau tidak perlu membencinya! Kau pun menjadikannya taruhan. Kalian sama sama saling menyakiti. Terimalah!" Alden menasehati.
"Walau aku menjadikannya taruhan, tapi akhirnya aku menyukainya. Untung perasaanku belum begitu dalam padanya," Nino menepuk dadanya.
"Move on lah! Biasanya pun kau tidak pernah memakai perasaan," Kai menepuk punggung Nino.
"Aku akan melupakan Tifanny. Aku hanya menyukai Odelia," gumam Nino, kemudian ia memejamkan matanya.
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment atau vote/hadiah untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...
__ADS_1