
"No, lepaskan!" Tifanny melepaskan tangan Nino yang tengah memeluknya.
"Kenapa kau tidak mau dipeluk olehku, Fann?" Tanya Nino dengan kecewa.
"Itu tidak pantas saja. Aku bukan siapa-siapa untukmu dan kau bukan siapa-siapa untukku," Tifanny membalikan tubuhnya dan menatap mata Nino.
"Kalau begitu, kau ingin menjadi siapa-siapaku?"
"Maksudmu?" Tifanny tampak tidak mengerti.
"Aku bisa menjadi kekasihmu, agar aku bisa memelukmu. Bagaimana tawaranku?" Nino bertanya blak-blakan.
"Tidak, aku tidak berminat berpacaran," Tifanny menolak.
"Jadi, aku langsung di tolak?"
"Sudahlah, No. Aku ingin pulang. Atau aku naik taksi saja jika kau masih ingin di sini. Aku ingin segera pulang," Tifanny berjalan menjauhi Nino.
"Tunggu, Fann! Ayo aku antarkan kau pulang!" Nino menyusul langkah Tifanny. Mereka pun berjalan menuju parkiran kampus.
"Silahkan, tuan putri!" Nino membukakan pintu mobilnya untuk Tifanny.
"Aku bisa membukanya sendiri," Tifanny langsung masuk ke dalam mobil.
"Ya ampun, terbuat dari apa hati gadis ini? Aku sudah mendekatinya secara intens, tetapi dia tak kunjung menaruh perasaan kepadaku. Dia gadis pertama yang susah sekali aku dekati. Jika seperti ini terus, bisa bisa malah aku yang jatuh cinta padanya. Tidak, itu tidak boleh terjadi! Aku tidak boleh menggunakan hati dalam permainan ini," bisik Nino di dalam hati. Kemudian ia segera masuk ke dalam mobilnya dan segera mengantar Tifanny pulang ke rumah.
Saat di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangat deras.
"Fann, sebaiknya aku antarkan kau sampai rumah saja ya? Ini hujan, dari taman ke rumahmu jaraknya lumayan masih jauh, kau pasti basah kuyup jika turun di taman," ucap Nino sembari melihat hujan yang turun dengan cukup deras.
"Baiklah, No," Tifanny menyetujui.
Nino pun mengantarkan Tifanny sampai depan gerbang rumahnya.
"Sebentar!" Nino turun dan membuka pintu mobilnya untuk Tifanny.
"No, nanti kau sakit lagi. Cepatlah masuk!"
Nino membuka jaketnya dan memayungi Tifanny dengan jaket miliknya.
"No, badanmu nanti basah. Cepatlah masuk lagi ke mobilmu!" Tifanny berteriak karena hujan turun dengan deras.
"Ayo aku antarkan kau sampai pintu!" Nino masih memayungi Tifanny dengan jaketnya, sementara tubuh Nino sekarang sudah basah kuyup.
Tifanny pun berjalan dengan cepat ke arah pintu dengan Nino di belakangnya.
"No, sekarang kau bisa pulang," Tifanny berbisik.
__ADS_1
"Baiklah, masuklah dan segera hangatkan tubuhmu!" Nino mengelus rambut Tifanny lembut.
"Iya, kau juga ya? Sesudah sampai apartemen segera hangatkan tubuhmu!" Tifanny tersenyum menatap wajah Nino.
Saat mereka tengah menatap satu sama lain, tiba-tiba seseorang membuka pintu.
"Bagus ya, malam-malam baru pulang," teriak Belinda saat melihat anak tirinya di depan pintu dengan mantan kekasih Clara.
"Marahi saja dia, Mah!" Clara muncul dan menatap tajam ke arah Tifanny dan Nino.
"Saya minta maaf, tante! Tadi Tifanny membantu saya mencari judul di perpustakaan," Nino berusaha menjelaskan.
"Diam kamu! Setelah kamu menyakiti anakku, sekarang kau mendekati Tifanny. Aku tidak akan mengizinkanmu dekat dengan Tifanny," Belinda memandang Nino dengan geram.
Sementara Clara hanya menatap Nino dengan tatapan marah.
"Tante tidak bisa melarang Tifanny dekat dengan siapa pun, dia mempunyai hak untuk menentukan dirinya dekat dengan siapa."
"Sudahlah, No! Lebih baik kau pulang saja!" Tifanny menengahi.
"Tapi, Fann?"
"Aku mohon, pulanglah! Ini akan menjadi tambah buruk jika kau ada di sini," Tifanny memohon dengan tatapannya.
"Baiklah. Aku pulang ya, Fann?" Nino berpamitan pulang dan segera pergi tanpa berpamitan kepada Belinda dan Clara.
"Dasar gadis murahan!" Clara langsung menjambak rambut Tifanny saat mereka sudah berada di dalam rumah.
"Lepaskan, Cla!" Tifanny segera melepaskan tangan Clara dengan kasar dari rambutnya.
"Kau kan tahu Nino adalah kekasihku. Mengapa kau masih mendekatinya?" Clara berteriak dan hendak menjambak rambut Tifanny lagi.
"Bukan aku yang mendekatinya, tapi Nino yang terus mendekatiku!" Tifanny menahan tangan Clara yang akan menjambaknya.
"Kau tidak malu merebut kekasihku? Kau jangan percaya diri, setelah Nino menemukan wanita lain dia akan meninggalkanmu. Kau memang wanita menyedihkan sama seperti ibumu itu! Pada akhirnya nasibmu akan sama seperti ibumu, di buang layaknya sampah!" Hardik Clara.
Plakk...
Tifanny langsung memukul pipi Clara dengan keras.
"Tutup mulut kotormu itu!" Tifanny menunjuk Clara.
"Kau berani menampar anakku?" Belinda langsung menarik tangan Tifanny dengan kasar.
"Lepaskan tanganmu! Ajarkan anakmu itu sopan santun! Percuma dia bersekolah tinggi jika tata krama dan mulutnya buruk seperti itu!!" Tifanny menatap Belinda dengan penuh kebencian.
"Kau yang harus belajar sopan santun. Kau aku kuliahkan di kampus terbaik, tidak adakah rasa terima kasihmu untukku?" Kata Belinda dengan berang.
__ADS_1
"Mengapa aku harus berterima kasih padamu? Ayahku yang membiayai semua biaya kuliahku," Tifanny menantang.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Belinda memelototkan matanya.
"Jauhi Nino!" Perintah Clara sembari masih memegang pipinya.
"Kalian tidak berhak melarangku untuk dekat dengan siapa pun, lagi pula Nino bukan kekasih Clara lagi," ucap Tifanny kemudian ia segera naik ke tangga untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Kurang ajar dia, Ma! Dari hari ke hari dia semakin berani," Clara berkata kepada ibunya.
"Iya, sayang. Selama ini kita sudah terlalu baik."
"Ada apa ini?" Ucap David yang baru masuk ke dalam rumah.
"Kau sudah pulang?" Belinda mengambil tas kerja milik suaminya.
"Pa, Tifanny barusan dia menamparku," adu Clara kepada ayah tirinya.
"Mengapa dia melakukannya?" Tanya David yang kaget mendengar ucapan Clara.
"Anakmu merebut kekasih Clara. Clara perlihatkan fotonya!" Perintah Belinda kepada Clara. Clara segera memperlihatkan foto Nino yang tengah memeluk Tifanny. Foto itu merupakan kiriman dari Arabella.
"Kasihan Clara, kekasihnya direbut oleh saudaranya sendiri," Belinda berpura-pura bersedih.
"Iya, padahal aku sangat cinta pada Nino," Clara berpura-pura menangis.
"Biar aku yang bicara padanya," ucap David.
David segera menemui Tifanny ke kamarnya. Sementara Meghan sedang tidak ada di rumah karena ia sedang mengikuti camping di sekolahnya.
"Fan, mari kita bicara!" David terduduk di samping Tifanny yang sedang mengeringkan rambutnya yang sedikit basah karena kehujanan.
"Pasti papa mau memarahiku? Tifanny tidak akan kasar jika mereka tidak memulai lebih dulu."
"Fann, tambah dewasa mengapa kamu jadi makin berani seperti ini? Clara dan mama Belinda adalah keluargamu."
"Keluarga mana yang sering menindas keluarga lainnya, Pa? Papa tidak tahu karena papa menghabiskan sebagian besar waktu papa di rumah sakit," Tifanny berdecak pelan.
"Mereka tidak akan seperti itu jika kau tidak membuat ulah. Sekarang kau malah dekat dengan kekasih Clara. Kau tidak berfikir tindakanmu itu menyakiti perasaan saudaramu?"
"Bukan kekasih tetapi mantan kekasih, pa," Tifanny menyangkal.
"Pokoknya papa minta jauhi laki-laki yang bernama Nino itu!"
"Papa tidak bisa melarang aku dekat dengan siapa pun, bahkan bila Tifanny berpacaran dengan Nino, apa yang salah? Nino sudah putus dengan Clara, Nino juga bukan suami orang. Jika Nino kekasih atau suami orang lain, baru aku akan menjauhinya, karena aku tidak akan pernah merebut kekasih atau suami orang lain," balas Tifanny.
"Kau memang keras kepala seperti ibumu!" David beranjak dari duduknya kemudian ia segera ke luar dari kamar Tifanny.
__ADS_1
...Dear para readers : Harap tinggalkan jejak kehadiran kalian berupa like, coment, fav, atau vote untuk mendukung author. Terima kasih 🤗...