
"I-iya, anda tak bisa memikirkan bagaimana perasaanku saat ini, aku tidak tahu apa yang aku rasakan, hanya saja, rasanya senjataku mulai berdiri tegak, ini jelas-jelas lebih indah dari pada saat menonton di ponsel!"
"Agh! kau!" dia terlihat amat kesal di buat oleh Leon.
"Zarren, bagaimana aku bisa mengatasi ini? aku sungguh ingin kembali saja, lagi pula ada baiknya kita langsung bicarakan saja pada Nyonya, aku sudah mengambil gambar Tuan Allianz saat sedang melakukan itu, kau tahu? bahkan jika di zoom, wajah keduanya terlihat merah dan sangat berinisiatif!"
"Diam kau!" dia semakin di buat kesal oleh Leon yang sejak tadi hanya membual hal yang tidak penting saja, "asal kau tahu saja, Leon! Nyonya Hana sudah mengatakan semuanya, dia hanya di paksa oleh pria semalam, dan dia sebenarnya sudah menolak, tapi pria itu terus mengekang tubuhnya!" jelas Zarren, semoga Leon mengerti.
"Lalu kita harus bagaimana sekarang? apa aku harus tetap berada di sini, dan menyaksikan pemandangan erotis ini seorang diri!?"
"Hahh! kau pulanglah! tapi jangan bicara apapun pada Nyonya, dia sedang sangat cemas pada Tuan, sekarang aku tahu kenapa Tuan tidak mengangkat panggilan darinya! kau jangan buat Nyonya semakin depresi nanti!" ucap Zarren dengan lirih.
"Jadi kita kembali merahasiakan berita besar semacam ini? hufff, padahal aku sudah mengambil cuplikan terbaik yang aku dapat, kiranya nanti saat aku hadiahkan untuk Nyonya, dia tidak depresi, lebih lagi dia bisa menonton full videonya!"
"Dasar konyol! cepatlah kembali dan jangan buat masalah lagi!" ucap Zarren, lalu setelah itu terlihat menutup sambungan.
Bip!
"Hahh! anak ini!" umpatnya sambil berlalu keluar rumah, untuk sekedar mencari jalan keluar.
Ya, Leon memang masih sedikit kekanak-kanakan, apalagi sifat konyolnya itu, yang tidak bisa di tolerir, kadang Zarren pun di buat kesal olehnya. Anak itu memang penghibur yang baik.
Kita kembali lagi pada Hana.
Wanita itu masih mencoba menghubungi suaminya, meskipun dia sudah tak lagi menaruh harapan pada suaminya untuk sekedar mengangkat panggilan.
"Sudahlah, lupakan dulu sebentar soal suami kamu, kau, cobalah untuk ganti baju dan urus dirimu, kita tenangkan diri kamu dulu sejenak," ucap Naira mencoba memberi saran pada Hana.
"Tidak bisa, Nai!" namun wanita di sampingnya terus saja menolak perkataan dan saran dari Naira.
Dia terus mencoba untuk menghubungi sang suami, dan menanti suaminya untuk mengangkat panggilan darinya.
"Aku harus bicara sama suami aku, aku harus menjelaskan semuanya!"
__ADS_1
"Hana, ada baiknya kau pergi membereskan dirimu, biar nanti untuk soal bicara dengan Kak Allianz, setelah dia pulang, ya?" bujuk Naira dengan halus.
"Apa dia masih akan pulang?" tanya Hana dengan penuh air mata.
"Dia pasti akan pulang, ini rumahnya, dia akan pulang kemana memangnya kalau bukan kesini?" ucap Naira, yang kemudian membuat Hana akhirnya terdiam di atas ranjang.
Kini keduanya tengah bergelut dengan pikiran masing-masing, menanyakan bagaimana keadaan Allianz, atau sekedar di mana laki-laki itu berada.
Rasa cemas memang terlihat amat jelas di wajah keduanya, mencemaskan seorang pria yang mereka sendiri bahkan tidak tahu keberadaannya.
Namun, apa kah pria itu pun memikirkan mereka? apa pria itu juga memikirkan betapa cemasnya dua wanita yang dia kasihi tengah mencemaskan dirinya?
Tidak!
Dia masih terus bermain, menggeluti wanita yang kini berada dalam satu kamar yang sama. Keringat deras bercucuran, membasahi keduanya di pagi hari nan dingin.
"Agh! ugh! agh!"
Mereka bahkan tidak sadar pemandangan yang mereka ciptakan telah menjadi konsumsi untuk para warga yang melihatnya. Iya, hanya saja di sini memang sudah biasa dengan pemandangan semacam itu, jadi tidak ada yang memalukan sama sekali.
Srek!!
Allianz menarik tubuh wanita itu, dan kini dirinya bertumpu tepat di atas tubuh Visha, dan kembali memaju mundurkan pusakanya, dan bermain dengan amat lihai.
Lahar panas Visha sudah keluar hingga beberapa kali, tapi rasanya kali ini benar-benar sangat nikmat, dan juga hangat.
"Ugh, All! aku mau.... umh... nikmat sekali .. All!"
Des*han nikmat yang keluar dari mulut Visha, menambah daya baterai Allianz semaik kuat saja. Dia mempercepat laju pusakanya, dan bermain menguasai dengan amat pandai.
Suara yang di hasilkan, dengan ciri khas basah nan nikmat membuat mereka memejamkan mata, dan menikmati alur untuk mencapai titik terakhir dalam permainannya.
"Shutttt! kau harus memberiku kepuasan di akhir!" ucap Allianz, sambil mengangkat dua kaki Visha, dan di letakkan lah dua kaki wanita itu menggapit kepalanya, lalu dia memulai penggempuran untuk hasil akhir yang amat memuaskan.
__ADS_1
"Ugh.... aku! ehm, uhm, agh!"
Rintih mereka berdua, saat hampir mencapai puncak kenikmatan yang terasa sudah berada di ujung tanduk.
Gerakan semakin di percepat, bersamaan pula dengan racauan dan rintihan keduanya yang semakin terdengar menggebu-gebu.
Kini dalam ruangan itu terasa sangat panas, apa lagi saat melihat aktivitas mereka yang sudah semakin liar, dan semakin menggugah selera.
"All!! aaaaahhhhh..."
"Uhm, agh."
Hingga akhirnya mereka menyelesaikan permainan kedua mereka setelah bermain sekitar tiga jam malam ini.
Hahhh!
Tubuh Allianz ambruk di atas tubuh Visha yang polos nan se*si, ya, memang pantas bagi Allianz untuk tertarik dengan gemulai tubuh yang masih kencang dan padat berisi ini.
Jika di bandingkan dengan Hana yang sudah mulai terlihat menua, bahkan kulitnya pun sudah terlihat agak keriput, akh, memang tidak bisa kalau di bandingkan dengan Visha.
Namun benarkah Allianz menyukai Visha? atau mungkin benarkah dia menyukai Visha karena tubuhnya yang masih muda dan segar!?
Aku menikmati permainan menggelora ini bersama Visha, tapi rasanya hatiku masih saja di buat sakit oleh istriku sendiri, apakah aku hanya sedang membalas dendam atas semua perlakuan keji dari istriku?
Dia membangkitkan tubuhnya dengan perlahan dari tubuh Visha, dan membiarkan wanita itu tergeletak di atas ranjang, dengan posisi Miss kebanggannya masih di hiasi si putih kental miliknya.
Ya, Allianz tidak mencintai wanita ini, bahkan mungkin tidak akan pernah, ia hanya berpikir, mungkin dengan cara meniduri wanita lain, akan sedikit membahagiakan hatinya, karena selebihnya, dia hanya mencintai Hana seorang. Hanya wanita itu yang mampu menggetarkan hatinya.
Jadi, bisa di pastikan, kalau kejadian malam tadi bersama Visha, baginya hanya sebuah pelampiasan semata.
Meski begitu, ia tak akan menarik ucapannya kembali, dia telah berjanji akan menikahi Visha, dan mungkin, dia tidak akan berpikir menariknya kembali.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1