
"Ardian? kau yang memberi kejutan ini? bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Naira pada suaminya.
"Kau selalu banyak bertanya, sayang, aku minta maaf, karena telah bertingkah buruk padamu, aku hanya sedang pusing karena pekerjaan, jadi mengabaikan kamu, maaf, ya, aku bukan suami yang pengertian," ucap Ardian dengan sangat tulus.
"Tidak apa-apa, lagi pula seharusnya aku yang mengerti keadaan kamu, maaf juga ya sudah memarahi kamu di depan umum, aku jadi merasa bersalah padamu.."
"Baiklah, kita sama-sama salah, jadi sekarang, tidak ada lagi yang perlu di buat sedih, sekarang makan lah sepuas kamu, kita harus menikmati waktu luang ini, bukan?"
"Kau benar, mari kita makan.."
Ardian dan Naira mendekati satu bangku yang sudah terdapat berbagai menu terbaik di restoran mereka itu, lalu duduk dan kemudian menyantap makanan mereka sambil bercanda ria.
"Sayang, aku baru saja datang menemui Hana." Ucap Naira setelah sekian lama mereka asik makan berdua.
"Terus? gimana kabar dia?" tanya Ardian santai.
"Dia lumayan kurus, wajahnya juga pucat, kayanya dia sakit, tapi sengaja diam dan tidak bicara apapun padaku.."
"Apa dia sudah bilang pada penjaganya?"
"Sayang sekali, dia menolak, bahkan saat aku ingin membawa dia ke rumah sakit pun, dia tidak mau," jelas Naira dengan wajah sedih.
"Kenapa dia tidak mau?" tanya Ardian sambil menghentikan acara makan-makannya.
"Entahlah, mungkin dia merasa malu karena terus meminta bantuan padamu, dan suaminya, bahkan tidak pernah menengoknya satu kali pun.." Dan wajah Naira semakin tidak baik, "Sayang, bagaimana kalau suatu hari nanti Hana tahu semuanya?"
"Cepat atau lambat, dia pasti akan tahu, hanya saja, seberapa kuat mental kita saat hal itu terjadi, itulah yang jadi pertanyaannya," jawab suaminya dengan cepat.
"Aku tidak bisa membayangkan, gimana rasanya saat dia pulang, tapi Kak Allianz sudah tidak ada di rumah, dan malah pergi sama wanita lain, hatinya pasti sakit banget," Naira terlihat sangat menghayati perkataannya.
"Aku juga bingung, gimana nantinya kalau itu benar-benar terjadi, rasanya tidak bisa aku jelaskan.."
"Ngomong-ngomong, apa kak All sudah hubungi kamu?" tanya Naira pada Ardian.
"Belum, dia sama sekali tidak ada kabar, aku juga mau hubungi dia tapi bingung juga, gimana cara ngomongnya, takutnya ganggu dia, secara kan dia sekarang kerja jadi wakil CEO di perusahaan Lu Zafier, jadi dia pasti semakin sibuk.."
Naira hanya mengangguk saja, mendengar pernyataan yang keluar dari mulut suaminya.
"Aku juga tadi sempat membicarakan soal Kak Allianz yang juga di pecat," ucap Naira.
"Terus reaksi Hana gimana?"
"Ya, dia kaget, tapi hanya itu saja yang aku bicarakan, aku tidak mau membahas alasan kamu pecat dia, menurut aku, memberitahu Hana untuk saat ini masih belum tepat, dia kurus banget, jadi aku khawatir kalau nanti ada apa-apa sama dia.."
Jelas Naira panjang dan lebar, seolah ingin sekali mengatakan semua yang di bicarakan olehnya dan Hana sewaktu bertemu tadi.
"Ya sudah, kapan-kapan, aku akan mengunjungi dia lagi, dan memberitahu alasannya, meskipun, ya, harus sedikit berbohong, karena memberitahu Hana sekarang memang masih belum tepat, dia masih butuh waktu untuk menenangkan dirinya di dalam penjara, jadi menurut aku, kalau kita menambah beban pikirannya, akan semakin berat juga dia di sana.."
"Kau benar, kita memang harus menunggu waktu untuk menjelaskannya.."
Drrrttt Drrrttt
Mendadak bunyi ponsel Ardian yang bergetar dari dalam saku celananya, membuat dua orang itu bergeming, dan memfokuskan pikiran mereka ke arah ponsel Ardian.
Ardian menatap ponselnya, nomor Lu Zafier ternyata, yang kemudian ia pun jadi bingung ada hal apa sepupu jauhnya menghubungi dia, padahal sejak permasalahan Hana yang terlibat pembunuhan dengan kakak sepupu Lu Zafier, hubungan keluarga mereka menjadi agak renggang.
"Siapa?"
__ADS_1
Melihat sang suami yang terlihat kebingungan dengan panggilan itu, membuat Naira bertanya-tanya, tak bisa menahan rasa penasarannya pada siapa yang sebenarnya membuat sang suami tertegun.
"Lu Zafier!"
"Apa? Lu Zafier? kenapa dia menghubungi kamu?" tanya Naira pada Ardian lagi.
"Entahlah, aku juga tidak tahu.."
Dengan nekad, Ardian akhirnya menekan tombol hijau di layar ponselnya, dan tersambunglah panggilan suaranya dengan Lu Zafier.
"Hallo?"
"Hallo? apa kabar?"
Yang di seberang, entah mengapa terdengar biasa-biasa saja, seolah di antara mereka tidak pernah terjadi perseteruan hebat.
"Lu Zafier? kenapa kau menghubungi aku?" tanya Ardian langsung pada poin utamanya saja.
"Ada suatu hal yang harus aku bicarakan denganmu, mungkin kabar ini akan mengejutkan kalian semua.."
"Mengejutkan? apa ini tentang Hana yang membunuh Lu Zamorgan?" tanya Ardian lagi, kali ini wajahnya berubah menjadi sangat cemas.
"Tidak, tidak! bukan soal itu, kalau soal itu, aku tidak punya urusan, hanya saja, mendadak ada kabar mengejutkan di sini.."
"Jelaskan saja padaku, aku tidak bisa menunggu kata-kata bertele-tele seperti itu.."
Naira terlihat begitu fokus mendengar setiap kata yang di lontarkan oleh suaminya, yang kemudian di sahut juga oleh Lu Zafier dari seberang.
"Tidak! aku sudah ada di kotamu, aku akan berkunjung ke rumah kamu, jadi tunggu saja aku di rumah!"
"Kau sudah tiba?"
"Baiklah, aku akan segera pulang!"
Bip!
Ardian menutup panggilan di ponselnya, dan kemudian menatap wajah istrinya yang polos, dan masih saja penasaran apa isi pembicaraan mereka berdua.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Apa kau tadi tidak mendengarnya?" tanya Ardian pada sang istri.
Naira dengan polosnya menggeleng, tak bisa berbohong kalau dia memang tidak mendengar dengan jelas obrolan mereka melalui ponsel.
"Lu Zafier datang ke rumah, dia ingin bicara persoalan penting katanya, jadi kita berdua harus pulang sekarang.."
"Baiklah, mari kita pulang.."
Mereka berdua dengan cepat beranjak dari kursi makan mereka, lalu beralih menuju mobil yang sama. Mobil milik Naira biarlah Leon saja yang membawanya pulang, lagi pula setelah pertengkaran di mall pagi ini, sekarang keduanya ingin jauh lebih dekat lagi.
Sepanjang perjalanan, keduanya hening, seolah tak ada suara yang membuat mobil mereka berdua berisik, hanya suara deru mobil saja yang terdengar amat lirih di telinga keduanya.
Sekitar satu jam mereka menempuh perjalanan pulang, sampai akhirnya tibalah keduanya di kediaman mereka.
Sebuah mobil berwarna putih terlihat terparkir dengan rapi di depan rumah Ardian, dan menampilkan satu wajah tampan khas negara tirai bambu, karena memang nenek buyut mereka masih berasal dari sana, tak terkecuali Ardian juga.
Lu Zafier melepas kacamata hitam dari matanya, dan beranjak menyalami Ardian dengan sopan, bahkan rasanya begitu akrab.
__ADS_1
Apa pria ini tidak membenci dia seperti yang di lakukan oleh Lu Lau'er dan Nyonya Mollie?
Entahlah, semuanya masih serba teka-teki..
"Apa kabar saudara sepupuku?" sapa Lu Zafier pada Ardian.
"Aku baik, kenapa tidak masuk? lama menunggu di luar?" tanya Ardian berusaha untuk biasa saja.
"Ya! lama sekali, aku tidak datang seorang diri, aku datang membawa teman perjalanan."
"Apa maksud kamu?" tanya Ardian pada Lu Zafier.
Seorang wanita nampak keluar dari mobil Lu Zafier, bersamaan dengan Falisa, istri dari Lu Zafier sendiri.
Wanita itu matanya sembab, dia juga pucat, memiliki kantung mata lebih besar dari pada punya Hana, dan warnanya juga jauh lebih gelap.
Mereka berdua terlihat turun dari mobil Lu Zafier, dan seketika semua orang di sana terlihat bingung.
"Siapa wanita itu?" tanya Ardian pada Lu Zafier.
"Kau tidak ingin kami masuk lebih dulu?"
Ardian bergeming. Di ajak masuklah para tamunya ke dalam rumah, dan kemudian di suguhi beberapa cangkir teh di atas meja oleh Naira.
Tak!
Tak!
Tak!
Naira terdengar meletakkan satu demi satu cangkir teh di atas meja, lalu terduduk di samping suaminya.
"Minum dulu.."
Tawar Naira dengan halus.
Wanita asing itu masih saja terisak, menangis, dan seolah begitu hancur saat harus berhadapan dengan mereka semua.
"Sebenarnya ada apa ini? siapa wanita yang kau bawa ini?" tanya Ardian pada Lu Zafier.
"Tuan, saya ini ibu dari anak yang katanya di adopsi sama Nyonya muda bernama Naira itu, jadi saya datang ke sini, untuk mengambil anak saya yang hilang.."
"Apa?" seketika Naira benar-benar terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari mulut wanita tersebut.
"Sebentar, maksud anda apa, ya? kenapa saya tidak paham dengan kata-kata anda?" tanya Ardian pada wanita tersebut.
"Waktu itu, saya memang membuang anak saya di depan panti asuhan, usianya baru beberapa hari setelah saya lahirkan, tapi saya tidak benar-benar membuangnya, karena pada waktu itu saya sedang tidak punya uang, jadi saya berinisiatif untuk meninggalkan anak saya di panti asuhan, saya juga berniat mengambil anak saya kembali setelah berhasil mendapatkan pekerjaan yang lebih besar gajinya.." Jelas wanita itu sambil tersedu.
"Tidak!" namun Naira yang masih shock dengan kabar ini terus menggelengkan kepalanya, tidak percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu, "aku tidak percaya! sayang, dia bisa saja bohong, kan? mana mungkin dia ibunya, aku tidak akan percaya begitu mudah, siapa tahu dia sedang menipu kita.."
"Tidak, Nyonya! aku tidak sedang menipu kalian! aku memang terus mencari keberadaan putraku, sampai aku mendengar pihak panti asuhan, katanya putraku di adopsi oleh wanita bernama Naira, dan kemudian aku dengar lagi hak asuhnya sudah atas nama Hana, dan setelah aku cari tahu lagi, ternyata wanita bernama Hana itu di kabarkan pindah ke kota S, aku juga mencarinya, namun ternyata satu tahun aku mencarinya, semuanya hanya sia-sia saja, aku tidak menemukan apapun di sana, selain informasi kalau wanita bernama Hana itu sudah kembali lagi ke sini," jelas wanita itu.
"Tidak! bagaimanapun kamu mencoba menjelaskannya, aku tetap tidak percaya kau ibunya! kau pasti sedang menipu kami!!"
"Nyonya, aku juga punya bukti yang bisa menunjukkan kalau aku adalah ibunya.." Ucap wanita itu sambil memberikan satu lembar foto dari balik jaketnya.
Naira mengambil foto tersebut, dan ia begitu terkejut, saat harus mendapati foto Zhoulin yang masih bayi di sana.
__ADS_1
"Tidak mungkin!!"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺