Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Suara Itu


__ADS_3

"Ah? menyetujui apa?" pura-pura saja tidak tahu apapun.


Karena sekali saja Naira memberi celah untuk pria ini, maka sama saja dia akan memasukkan dirinya dalam jurang kenikmatan.


Bukannya tidak mau, tapi ini sudah sangat siang, bagaimana mereka berpikir akan melakukannya. Ini saja sudah terlambat dari jam pertemuan dengan dokter Andrew.


Huhh!


"Kau pura-pura tidak mengerti, apa memang kau tidak pernah mengerti? dasar polos!" ucap suaminya penuh dengan kekesalan, "barusan kau sendiri yang membujuk anak itu untuk memiliki adik, kau sungguh melupakan perkataan kita barusan?" tanya Ardian sambil meraih tubuh ramping milik istrinya.


"Aw!! dasar kau! aku hanya membuat dirinya berhenti bicara urusan dewasa! dia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang kita bahas, sudahlah, jangan di buat berlebihan, aku setuju kalau kita punya anak perempuan, tapi ya harus tahu waktu dulu, katanya kalau mau anak perempuan, kita hanya harus melakukannya saat malam hari, tidak di siang hari," berbicara ngawur, demi mengalihkan pembicaraan suaminya.


"Benarkah? setahu aku, kalau mau punya anak perempuan, bukankah kita harus melakukannya siang dan malam? dengan begitu kita akan cepat mendapatkannya.." ledek Ardian sambil terus mengecup leher istrinya.


"Tapi kita baru saja selesai melakukannya, apa kau masih saja lupa soal pertemuan kita dengan dokter Andrew? ini sudah sangat siang, kita bisa terlambat dari pertemuan seharusnya nanti.." mencari seribu alasan demi bisa bergerak bebas dari suaminya ini.


"Hem, baiklah, baik, baik, aku akan melepas kamu kali ini, tunggu saja saat waktunya libur, aku akan meniduri kamu dari pagi sampai siang," ucapan yang sungguh sangat-sangat menakutkan.


"Apa katamu? dari siang sampai malam? kau mau aku tewas karena senjata tegakmu itu?" dia melepas pelukan Ardian dan berbalik menatap pria itu, "dasar kau! tahunya hanya meniduri wanita, saat anakmu sudah lahir, bertengkar terus setiap hari, kau pikir aku tidak tahu kalau kau sangat aneh?" dia tertawa di depan suaminya.


"Kalau begitu, biarkan aku mencium dan mengabiskan kamu pagi ini juga, kau harus menjadi milikku!!"


Cup!!


"Umh.." makin lama makin menikmati.


Tapi, ini sudah siang, jangan sampai dia hanyut lagi dalam permainan yang sama seperti tadi..


Pria ini memang kalau di biarkan akan semakin menjadi nafsunya, jadi lebih baik, dia menolak dan melepas ciuman itu, sebelum beralih menjadi semakin jauh.


"Umh," mendorong Ardian dengan keras, "kau tidak bisa menjatuhkan aku lagi, sayang, kau akan ketinggalan pertemuan nanti, jangan terus menerus membuat dokter Andrew marah, nanti dia tidak mau membantu kita lagi.." sambil berusaha untuk terus tersenyum.


"Hem, baiklah, kali ini aku akan melepaskan kamu, tapi tidak tahu nanti setelah kita pulang, aku tidak bisa menjaminnya.." dia nampak mendekatkan wajahnya ke arah Naira lagi.


"Kau lupa? hari ini adikmu akan melahirkan, tidak tahu bagaimana marahnya dia nanti kalau kita tidak ada di sana menemani lahirannya, aku tidak mau menanggung resiko di habisi oleh ocehan-ocehan mautnya nanti, jadi bersiaplah untuk pulang agak sore.." dia terlihat berjalan ke arah ruang tengah.


"Iya, iya, aku tahu, jadi kita akan berangkat sekarang?" tanya Ardian pada suaminya.


"Ayo! nanti keburu siang, cepatlah, aku sudah bersiap!" ajak istrinya sambil meraih tas miliknya di atas sofa.


"Baiklah, ayo kita bergegas, setelah itu kita lihat bagaimana anak cerewet itu akan melahirkan.."

__ADS_1


Dua orang itu nampak keluar dari rumahnya, dan bergegas menuju ke arah mobil. Mereka masuk ke dalam mobil mereka, lalu akhirnya terlihat pergi juga dari rumah mereka.


Drrrttt Drrrttt


Ponsel Naira terdengar berbunyi, ada seseorang yang berusaha menghubungi dirinya sejak tadi.


"Kak Hana?" tanya dia agak lirih.


"Siapa?" suaminya ikut bertanya.


"Hana, dia menghubungi aku," ucap Naira.


"Angkatlah! siapa tau dia punya masalah serius," Ardian nampak tersenyum dengan manisnya pada sang istri.


Bip!


"Halo?"


"Hai, Nai!!"


Sapa Hana di seberang.


"Hem, ada apa memanggilku? kau punya masalah serius?" tanya Naira agak cemas.


Tanya Hana dengan ramah.


"Oh, tentu saja, tentu saja aku bisa membantu kamu, aku akan menghubungi dia nanti," ucap Naira dengan senyuman manisnya.


"Terima kasih atas bantuan kamu, aku akan menemui kamu besok pagi, tadinya aku akan mengajak Zhoulin ke rumah kamu nanti sore, tapi sepertinya hari ini kamu sedang sibuk.."


"Iya, memang, aku punya jadwal pertemuan dengan dokter Andrew, dan adik iparku, juga hari ini akan melahirkan, jadi mungkin aku tidak bisa pulang lebih awal, paling aku pulang kalau sudah larut malam, kalau kamu mau bermain di rumah, ajak Zhoulin saja, tadi pagi Shi Yuan menanyakan Zhoulin padaku, biarkan mereka bertemu nanti.."


"Oh, begitu, ya, baiklah, aku akan ajak Zhoulin ke rumah kamu nanti!"


"Baiklah, begitu lebih bagus.."


"Baiklah, aku tutup dulu, ya, aku sedang menikmati udara segar di taman kota, dah!"


"Oke, bye!!"


Bip!

__ADS_1


"Dia bicara apa?" tanya sang suami padanya.


"Dia meminta bantuan padaku, untuk mencarikan toko yang bagus, mungkin dia mau jualan kali.." jawab Naira atas pertanyaan dari suaminya.


"Ouh," masih saja fokus pada laptop di tangan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Suster, tolong jaga dulu Zhoulin di sini, ya, aku harus ke belakang dulu sebentar," kata Hana sambil beranjak dari kursinya.


Dia sedang berada di taman kota, dan menikmati suasana indah di sana. Telah pergi begitu lama, membuat Hana sedikit merasa rindu pada kota ini. Tidak ada salahnya kalau ingin bermain sebentar, kan?


"Iya, Nyonya, kami akan menunggu anda di sini," jawab suster itu dengan senyumannya.


"Baiklah, aku akan pergi.."


Wanita itu kini beranjak dari tempatnya dan terlihat menuju sebuah arah yang mungkin di sanalah letak kamar kecil yang dia tuju.


Cukup lama dia berada di kamar kecil, hingga akhirnya, dia keluar dari tempat itu dengan segera, setelah menyelesaikan urusannya.


Klik!


Pintu kamar mandi kembali di tutup, lalu berjalanlah Hana keluar dari sana, namun, suara seseorang berhasil mengejutkan dirinya.


"Hana.."


"Ah?!"


Dia berhenti sejenak. Memasang telinganya dengan sangat terpasang, lalu mencoba memastikan siapa yang barusan memanggilnya.


Karena suara itu begitu tidak asing di kedua telinganya, dan kini, suara itu benar-benar ada dan memanggilnya dari arah belakang.


"Hana.."


Iya, suara itu terdengar memanggilnya kembali, membuat Hana berinisiatif untuk menoleh.


"Ah?!"


Dan betapa terkejutnya dia setelah berhasil mendapati siapa sosok yang sejak tadi memanggilnya.


Sudah dia duga, suara ini memang tidak bisa untuk tidak dia kenali..

__ADS_1


"Kau?!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2