
Mereka berbelanja banyak barang, setelah akhirnya bisa keluar dari rumah. Hampir dua bulan semenjak kelahiran anak keduanya, Naira tak pernah nampak keluar rumah, apa lagi sampai menginjakkan kakinya di mall seperti hari ini.
Ini adalah satu tahun setelah Hana masuk ke dalam penjara, dan dia juga telah berbahagia, karena kelahiran anak kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan.
Tentu saja hal tersebut menjadi kado terindah baginya di hari ulang tahun putra pertamanya Shi Yuan yang sudah menginjak angka enam tahun.
Dan sekarang, di hari yang sangat membahagiakan ini, Naira berinisiatif untuk memuaskan dirinya dengan berbelanja semua yang dia inginkan di dalam Mall.
Untuk soal ingatan, meskipun harus sedikit demi sedikit, tapi wanita itu sudah semakin luas ingatannya, mulai mengingat semua momen yang terjadi pada dirinya, di mana saat dia melahirkan buah hati pertamanya, saat hari pernikahan dia dengan mendiang Doni, dan juga hari pernikahan keduanya dengan Ardian, dia sudah hampir mengingat semuanya, termasuk juga soal meninggalnya sang ibu, yang kemudian, setelah mereka selidiki, rupanya semuanya karena ulah Si Doni itu.
Tapi sekarang, membenci pun sudah tidak berguna. Pria itu sudah tewas dengan membawa segudang rahasia yang tidak orang lain mengerti.
Jadi sekarang, ada baiknya merelakan sang ibu pergi, dan mencoba menjelaskan kesalah pahaman antara kakak dan kakak iparnya di masa lalu.
Arkh!
Tapi untuk hari ini, Naira tak mau ambil pusing. Wanita itu ingin memuaskan dirinya saja dengan puluhan baju-baju branded dan tas mewah, serta sepatu mahal, ini janji yang di ucapkan oleh Ardian, selepas mengalami tahanan dua bulan di rumah, maka dia akan membelikan semua yang di minta istrinya itu.
Cih!
Sultan mah bebas..
"Sayang, apa kau masih belum puas juga? lihatlah, bagasi mobil kita pasti sudah penuh oleh barang-barang belanjaan kamu.." Ucap Ardian yang sudah mulai lelah menemani istrinya menghabiskan kartu ATM nya..
"Apa kau ini lupa pada janjimu? bukankah katamu kalau aku berhasil melakukan isolasi selama dua bulan, kau akan membelikan aku segala hal yang aku mau? dasar munafik!" umpat sang istri.
"Hahhh!" akhirnya dia pula yang harus mengalah, "baiklah! aku akan panggil seseorang untuk menjemput barang-barang belanjaan kamu! jadi kau bisa bebas memilih mana lagi yang kau suka.."
"Nah, begitu lebih baik! oh iya, aku lupa, aku masih belum belanja keperluan Anya, aku lupa kalau dia tidak punya baju untuk pemotretan besok.."
"Bukannya ibu baru membelikan dia baju satu koper kemarin? apa di antara itu semua tidak ada yang cocok untuk pemotretan anakmu?" tanya Ardian dengan wajah polosnya.
"Hey! aku memilih model lain untuk pemotretan Anya, jadi semua baju yang di kirim oleh ibu, bagiku tidak ada yang cocok dengan tema pemotretannya.."
"Apa harus punya tema juga untuk pemotretan?"
"Tentu saja harus! kau pikir memotret tidak butuh tema? sudahlah, aku sudah bicara pada fotografer nya untuk tema pemotretan besok, jadi kita juga harus belanja untuk itu juga.."
"Hah! baiklah, terserah kau saja, lah.."
"Apa kau terpaksa melakukannya?" mendadak ngegas.
"Apa?" bingung.
"Kau membuang nafas begitu kasar, aku tahu kau pasti kesal padaku, iya, kan?"
"Kesal? tidak! aku hanya..."
__ADS_1
"Aaaahhh!! tidak usah banyak bicara! kau memang selalu saja seperti itu! kau tidak pernah berpikir, bagaimana perjuangan istrimu ini saat harus di operasi, di sayat perutnya dengan pisau bedah, dua kali aku melakukannya, dan itu demi nyawa anakmu! aku mempertaruhkan nyawaku sendiri demi buah hati yang kau tanam di dalam rahimku! tapi lihatlah dirimu ini! kau bahkan terlihat kesal walau hanya menemani istrimu ini belanja saja!!"
Mendadak jadi curhat panjang di kali lebar, di kali tinggi, membuat sebuah rumus yang amat rumit di otak Ardian.
Memikirkan perusahaan, meeting yang harus di tunda, keuangan yang harus menipis akibat belanja yang tidak lumrah, dan sekarang, bukannya berterima kasih, Naira malah menceramahi dia di mall, menangis, seolah-olah dia telah di siksa, dan di pukul sampai babak belur.
Arkh!!
Apa hanya Ardian saja yang merasa tingkah Naira ini begitu memusingkan?
"Kau hanya tahu tanam benih saja, kau bahkan tidak pernah bisa membayangkan bagaimana aku mengorbankan nyawaku demi kamu, demi dua anak kamu itu, Huhuhu... tapi kau sungguh tidak tahu diri, kau bahkan terpaksa menemani aku belanja, padahal kau sendiri yang mengurung aku dan mengisolasi diri di rumah selama dua bulan, dan bodohnya lagi, aku menyetujui ucapanmu, Huhuhu..."
"Salah sendiri kenapa mau di isolasi!" gumam Ardian tanpa sengaja.
Swosh!
Sring!
Mendadak ada tatapan tajam, dingin dan menusuk, yang dia rasakan hampir menyayat jantungnya.
"Apa kau bilang? salahku sendiri?"
Tatapan itu berubah menjadi semakin tajam, seperti monster yang bisa melahap Ardian dalam satu kali lahapan saja.
Ardian menjadi semakin ciut, semakin kecil, dan semakin bisa di remas menjadi butiran debu, dan kemudian terbang di atas langit, tertiup angin, dan kemudian hancur, menjadi partikel-partikel kecil di udara.
Yah!
Hihihi...
"Baiklah, sayang, aku minta maaf, bukan maksud aku untuk..."
"Sudahlah! lupakan saja! pulang saja kalau kamu mau! aku akan menjenguk kak Hana dulu, sudah lebih dari enam bulan aku tidak menjenguknya, dia lebih mengerti aku di banding suamiku sendiri!"
"Ayolah, sayangku, jangan cemberut begitu, kau kan tahu aku hanya bercanda.." Pinta Ardian dengan sangat memohon, mulai menyesali atas gumaman nya, walaupun sejujurnya dia juga tidak mengerti apa yang salah dari ucapannya itu.
"Minta maaf saja sama manekin! aku bukan patung yang bisa kamu perlakukan sesuka hati kamu! pergi saja sana! aku tidak butuh kamu lagi!"
Wanita itu dengan geram meninggalkan suaminya menuju ke dalam mobil, dan membiarkan Ardian berada di dalam pusat perbelanjaan itu seorang diri, hanya berteman kebingungan.
"Sayang, jangan tinggalin aku, jangan pergi, yang!!!" teriak Ardian dengan lantang, mencoba mencegat istrinya pergi.
Namun wanita itu sama seperti harimau, yang kalau di ganggu saat dia tidur, maka kau sendiri yang akan menerima akibatnya.
Pergilah wanita itu seorang diri, menuju ke arah lapas wanita yang letaknya tak begitu jauh dari pesisir pantai.
Naira turun dari mobilnya, dan berjalan masuk ke dalam sana. Di awal pintu masuk saja, dua anggota sudah bersiap siaga memeriksa seluruh tubuh Naira dengan alat khusus, dan setelah memastikan Naira tidak membawa barang-barang mencurigakan, masuklah wanita itu dengan izin dari para penjaga.
__ADS_1
Di dalam sana, dia menunggu Hana untuk menemuinya, di sebuah kursi, yang di depannya juga terlihat meja kecil tak seberapa.
Tak lama ia menunggu, akhirnya keluar juga Hana yang kemudian menyimpulkan senyuman manisnya pada adik iparnya itu.
"Kak Hana..."
Keduanya terlihat berpelukan, saling melepas rindu yang sudah lama terpendam.
Wajah Hana terlihat semakin tua, dan keriput di sana semakin banyak, bahkan bagian bawah matanya juga berkantung dan berwarna gelap, seperti orang yang tidak bisa tidur setiap malam.
Dia nampak pucat, agaknya dia sakit, namun di dalam tahanan, siapa juga yang peduli, dia bahkan nampak kurus dan kering.
"Bagaimana kabar kamu? kau tidak terlihat baik-baik saja, apa kau kekurangan tidur dan makan? apa makanan yang selama ini Zarren dan Leon kirimkan padamu tidak cukup? apa kau sungguh tersiksa harus hidup dan kedinginan di dalam tahanan? Hana, jawablah pertanyaan dariku!"
"Naira! kau bertanya terlalu banyak, aku jadi bingung mana dulu yang harus aku jawab!"
"Hana, kau terlihat tidak baik-baik saja, apa kau sakit? wajah kamu juga pucat, aku tahu kau itu.."
"Tak perlu cemas padaku, Naira, kau pun harusnya tahu bagaimana rasanya tahanan itu.." Hana mengajak Naira untuk duduk di kursi.
"Bagaimana aku tahu, aku kan tidak pernah masuk penjara.." Jawab Naira sambil terduduk di kursi, berhadapan dengan Hana.
"Haha, kau benar juga, mana mungkin kau tahu itu," ucap Hana sambil tersenyum lebar, karena saking senangnya dia di jenguk oleh keluarga dari suaminya sendiri, yang sekaligus juga sahabat baiknya.
"Kau sakit, ya? apa bisa kalau untuk di periksa sebentar di rumah sakit?"
"Tidak perlu, Nai.." Ucap Hana sambil menggelengkan kepalanya, "aku baik-baik saja, kau tak perlu cemas akan hal itu, aku bisa bicara pada petugas kalau aku memang sakit, oh iya, bagaimana kabar Zhoulin? apa dia baik-baik saja?" tanya Hana pada Naira.
"Tenang saja, dia anak yang baik, dia sudah mulai bicara, dan mencari keberadaan kamu, dia sangat aktif sekarang.."
"Oh iya? pasti sangat sulit baginya harus terus mencari keberadaan ibunya sekarang? tolong jaga dia, ya!" pinta Hana pada sang sahabat.
"Tak perlu cemas, dia akan aman bersamaku.."
"Apa kau baru melahirkan? bukankah saat itu kau bilang sedang hamil, tapi kau tidak terlihat besar, apa ini juga alasan kamu tidak mengunjungi aku sekian lama?"
"Kali ini aku akui kau juga banyak bertanya.."
"Haha.. aku hanya penasaran saja.."
"Yah, aku baru melahirkan, anakku yang kedua sudah berusia dua bulan, dan besok dia akan menjalani pemotretan keduanya, dia sangat cantik, namanya Anya, dan karena kehadiran dia, Zhoulin jadi punya teman main lagi, Shi Yuan kan akhir-akhir ini sedang di sibukkan dengan urusan sekolah dasarnya, jadi jarang bermain dengan Zhoulin."
"Begitu, ya? baguslah," ucap Hana sedikit songar, mungkin merasa sedih karena tidak bisa menemani Zhoulin tumbuh besar.
Meskipun dia bukanlah ibu yang melahirkan Zhoulin, tapi dia tahu bagaimana rasanya dekat dengan anak itu, hingga saat harus terpisah seperti ini pun, hatinya masih saja berat, tak mampu menahan kerinduannya pada si kecil miliknya itu.
"Bagaimana dengan Allianz? apa dia baik-baik saja?"
__ADS_1
Deg!
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹