
Air matanya kembali menitih, entah bagaimana bisa dia merasa sesakit ini, padahal sejauh ini dia termasuk wanita yang kuat dan tegar.
Namun melihat tingkah sang suami sejak semalam, hatinya berhasil di remukkan, berhasil di hancurkan, dan juga di kecewakan.
Sadar atau tidak, kau baru saja mengalami pembalasan atas apa yang telah kau lakukan pada Hana selama ini, Vish.
Hanya saja, pernahkah kau memikirkannya? atau kah kau hanya menganggap semua yang terjadi pada Allianz normal-normal saja bagi pria yang baru saja bercerai?
Asal kau tahu saja, Vish, dia tak pernah mencintai wanita sebelumnya, bahkan bermain dengan wanita di bar sebelum bertemu dengan Hana, pun tak pernah dia lakukan.
Ia termasuk pria yang sulit untuk jatuh cinta, pernahkah kau berpikir bagaimana rasanya saat dia pertama kali bertemu Hana? sampai-sampai status melajang yang telah dia pertahankan selama lebih dari dua puluh tujuh tahun pun dia lupakan? dan memilih untuk menikah dengan Hana pada waktu itu?
Salah atau tidak, kau lah yang menjadi duri dalam rumah tangga mereka. Allianz tak akan semudah itu melupakan dan menceraikan Hana jika kau tak menyulut api di antara mereka.
Kau bekerja sama dengan Lu Zamorgan untuk melakukan perbuatan menjijikan di malam itu, kau rancang skenario yang matang untuk tujuan keji kamu merebut suami dari sahabat kamu, sampai Allianz sungguh mempercayai dirimu, berpikir kalau Hana benar-benar selingkuh, dan mengkhianati dirinya, padahal semua yang terjadi adalah perbuatan dirimu sendiri.
Meski Hana telah mengecewakan Allianz pada saat itu, namun apakah kau tahu kalau cinta Allianz masih untuk wanita itu? pernahkah kau tahu seorang pria yang sudah mencintai wanitanya dengan tulus, maka akan sulit baginya untuk berpindah ke lain hati?
Termasuk juga mencintaimu!
Agaknya kau memang harus meragukan cinta dari suami kamu itu, karena pada dasarnya, Hana menjadi istrinya karena cinta, sedangkan kau menjadi istrinya, karena kau sendiri yang mengancamnya!
Ingat, Vish! kau mungkin bisa sembunyi dari semua itu saat ini, tapi nasib tak bisa kau tebak. Nasib kamu di masa depan tak bisa kau ketahui akan bagaimana.
Bisa saja Allianz akan meratukan dirimu meski dia tahu kau bersalah, tapi bisa juga dia membuang kamu ke jalanan, karena semua kesalahan yang telah kau lakukan pada pernikahannya dengan Hana.
Jika saat ini seorang berhati busuk menang, maka tak menutup kemungkinan, hati baik Hana juga akan mengalahkan pedihnya luka yang kau sayatkan padanya.
Karma itu ada!
Jadi berpikirlah yang lebih baik, sebelum karma menjatuhkan kamu di masa depan, dan si saat itu pula, kau juga akan kehilangan segalanya, termasuk juga suami kamu.
Entah mengapa dia seolah mendapat bisikan di telinganya, bisikan atas semua kejahatan yang telah dia lakukan selama ini pada Hana.
Sikap Hana yang selalu baik padanya, tak pernah berseteru meskipun berada dalam situasi penuh ketegangan, mengapa dia menghancurkan persahabatan ini hanya karena dia iri pada Hana?
Ia bahkan ingin menghancurkan hidup wanita itu, merebut suaminya, dan juga menguasai semua yang di miliki oleh Hana, hanya karena hidup Hana di matanya di penuhi oleh kebahagiaan, dan juga para pria.
Ia iri melihat semua itu selalu melekat pada diri Hana, sedangkan dia, sejak kecil kasih sayang dari kedua orang tuanya pun tak pernah dia dapatkan. Bukankah hidup ini tidak adil?
Hanya saja, dia tak pernah mendengar bisikan di kedua telinganya untuk berhenti membuat ricuh dalam hubungan Hana dan juga Allianz.
Hatinya sekeras batu, bagaimanapun berusaha di pecahkan, tetap saja dia bertindak egois, ingin menang dan membuktikan bahwa karma masih bisa dia lawan.
Dia menghapus air mata di pipinya, dan beranjak pergi dari sisi tembok menuju ke ruang makan. Di sana dia terlihat biasa saja, seolah memang tak terjadi apa-apa di hatinya, padahal sejujurnya, rasanya bak di sayat pisau tajam hingga hancur menjadi serpihan penuh rasa sakit.
Tak lama setelah itu, turun pula Allianz dengan wajah kesal dan perasaan kacaunya. Visha mencoba untuk mengabaikan kekesalan di wajah Allianz itu, pun juga mengabaikan bisikan-bisikan yang terus saja mengganggunya di kedua telinga.
Selama dia bisa mempertahankan hubungan dengan Allianz, baginya karma itu tidak pernah ada. Ya! begitulah pikirnya saat itu.
"Kau sudah turun, Mas? ayo makan!" ajak Visha dengan penuh kelembutan.
Hati seorang pria pasti akan cepat melunak jika istrinya menyuguhi dia dengan kelembutan dan kehangatan. Jadi sekeras apapun hati Allianz saat ini, dia pasti akan menangguhkannya.
__ADS_1
Allianz tak menjawab ucapan Visha. Dia hanya duduk di hadapan Visha, lalu kemudian membenarkan kancing kemejanya yang masih terasa tidak nyaman.
"Kau mau makan nasi? atau mau roti saja?" tawar Visha masih lembut.
"Roti saja, perutku sedang tidak nyaman.." jawab Allianz tak mengarah ke Visha sama sekali.
Sesuai permintaan suaminya, Visha mengambil dua potong roti dan mengolesinya dengan selai cokelat kesukaan Allianz. Susu segar sudah ada di meja, tapi agaknya susunya sudah mulai dingin, apa mungkin Allianz masih akan meminum susunya yang telah berubah dingin?
Ia meletakkan roti milik suaminya di atas piring saji, dan bersiap mengambil susu dingin di atas meja untuk dia alihkan ke dapur.
"Aku harus pergi ke luar kota lagi, mungkin besok." Ucap Allianz sambil mengunyah makanan di mulutnya..
Visha terhenti. Susunya masih belum berada di tangan, dan kini dia malah mematung tertegun mendengar ucapan Allianz.
"Kenapa tiba-tiba? apa masih kurang memuaskan hasil yang kemarin?" tanya Visha karena merasa ada yang aneh dalam perbincangan ini.
"Tidak ada! proyek lain lagi! aku tidak bisa menolaknya, Bos besar yang memberitahu aku secara mendadak pagi ini! aku tidak ada pilihan lain selain menerimanya!"
Mendengar jawaban dari sang suami, Visha merasa aneh. Dia memang tak terlalu ahli di bidang bisnis, tapi bukankah mengirim seseorang ke luar kota hampir setiap hari itu rasanya tidak wajar? atau mungkin ini hanya perasaannya saja?
Tapi, bukankah selama ini, Allianz selalu pergi ke luar kota setiap punya masalah? ia ingat saat dia mendapati Hana yang dia pergoki tengah berbuat hal hina dengan Morgan, pria ini pun langsung mengajak dia untuk pergi liburan dan kemudian berujung menikah.
Kemarin juga begitu, Allianz langsung mengajak dia berlibur saat mungkin pria itu tengah di sibukkan dengan pikiran tentang Hana. Bukannya dia curiga, hanya saja, setiap ke luar kota, suaminya ini juga tepat sekali sedang mendapat masalah. Entah ini hal yang kebetulan atau memang ini tidak lumrah terjadi, ia tak tahu.
Dia akhirnya memilih untuk duduk kembali di kursinya sambil terus memikirkan hal yang rumit di otaknya. Dia bahkan melupakan susu dingin yang ingin dia pindahkan dan dia ganti dengan yang baru.
Allianz menyelesaikan suapan terakhir ke dalam mulutnya, dan kemudian mengunyahnya sampai habis. Kebiasaan dia setelah memakan sarapan pagi, harus ada susu di mejanya, susu yang hangat dan segar bisa membuat mood nya kembali fresh.
Laki-laki itu pun tak berpikir macam-macam dengan susu di hadapannya itu. Bertingkah dan bersikap biasa saja, mengambilnya dan kemudian berniat meneguknya, berpikir bahwa susu itu pasti rasanya seperti hari-hari yang lalu, nikmat dan penuh dengan kehangatan.
Pufffff!!!!!
Allianz menyemburkan semua susu dari dalam mulutnya.
Visha pun terkejut melihat sang suami yang menyemburkan semua susu dari dalam mulutnya keluar. Ia jadi bangkit dan mendekat ke arah sang suami.
"Mas? kamu kenapa? kok di muntahkan semua?" tanya Visha lupa kalau susu di dalam gelas suaminya sudah dingin.
"Kamu ini apa lupa apa kesukaan aku? susu ini sudah dingin! mana bisa aku minum! nanti lambung aku bisa mual sepanjang hari!! apa kau melupakan hal sekecil itu?" namun sang suami malah memarahi dia dan mencaci dia dengan sangat kasar.
Visha terdiam tak menjawab. Dia hanya bisa menangis kecil dan merunduk ketakutan akan sikap suaminya yang mendadak hilang kendali itu hanya karena satu gelas susu yang dingin.
"Aku jadi males kalau begini! sudahlah! daripada aku tambah males, mending aku berangkat kerja saja sekarang!!" ucap Allianz lalu bangun dari tempat duduknya.
Merasa ada yang kurang darinya, dia lantas berhenti dan berpikir. Sejenak dia memikirkan sesuatu, sampai akhirnya dia menemukan jawaban atas pertanyaan dalam otaknya.
"Mana tas kerjaku? apa masih belum kau siapkan juga?" tanya dia masih agak keras pada istrinya.
Istrinya pun kembali ingat hal itu dia tinggalkan dari tugas rutinnya pagi ini. Entah mengapa pagi ini ia seolah lupa akan segalanya, padahal biasanya tanpa Allianz bertanya, tas kerja sudah dia ambilkan dari tempatnya dan dia letakkan di sofa ruang tengah.
Tapi pagi ini seolah dia melupakan segalanya, dia malah terfokus pada sikap dingin dan keras dari suaminya sejak semalam.
Ya ampun, dia bahkan tidak pernah mengira Allianz bisa menjadi sekeras batu.
__ADS_1
"Hey!!!" bentak sang suami saat mendapati istrinya masih melamun di tempat dia berdiri, "Vish! apa kau tidak mendengarkan aku????" tanya Allianz sambil menggapai tangan Visha dengan kasar.
Visha jadi terkejut mendengar bentakan keras dari suaminya. Rupanya dia selalu melamun saat di ajak bicara dan di beri perintah oleh suaminya itu.
Ada apa dengan kamu, Vish? kenapa mendadak kau jadi dungu seperti ini?
"I-iya, Mas, aku dengar..." jawab Visha kali ini terlihat penuh dengan rasa takut.
Allianz membuka cengkeraman tangannya dari Visha, dan menatap sang istri penuh kekesalan. Entah mengapa dia persis sekali bak iblis dengan kedua tanduknya saat tengah marah seperti ini.
Dengan bergegas, Visha beralih ke ruang kerja suaminya dan mengambilkan tas kerja milik suaminya itu. Ia melihat kertas itu lagi masih terselip di sana, karena memang sejak semalam tidak ada siapapun yang mengganggu tas itu, jadi surat itu pun masih utuh di sana dan tak teralihkan.
Ia berusaha tak mementingkan surat itu, dan bergegas kepada suaminya yang masih menunggu di ruang makan dengan kesal.
"Ini, Mas..." ucapnya sambil menyodorkan tas kerja milik suaminya dengan tangan bergetar.
Namun suaminya masih saja begitu dingin. Hanya di ambil saja tas di tangan Visha, dan tanpa berkata satu patah kata pun, pria itu langsung pergi ke luar rumah untuk segera berangkat kerja.
"Mas?!" panggil Visha menghentikan suaminya.
Ia tahu ada yang mereka berdua lupakan saat itu, rutinitas pagi sebelum keduanya di pisahkan oleh jadwal kerja yang padat. Ciuman mesra dan singkat yang selalu dia dapat dari suaminya setiap pagi. Ia memanggil suaminya ingin mengingatkan hak tersebut pada Allianz.
Suaminya menoleh dengan kesal, merasa pagi ini sudah tidak mood lagi untuk melakukan apa-apa, dan giliran dia sudah merasa lebih baik, istrinya malah mencegat dia untuk berhenti.
"Apa lagi?" dia pun bertanya dengan kesal.
"Umm, kau lupakan sesuatu..." Jawab Visha dengan lembut.
"Lupa akan apa? tas dan ponselku sudah ada di dalam, kau ini mengada-ada saja! sudah! jangan panggil aku lagi, aku harus segera berangkat, kalau tidak aku jadi malas bekerja hari ini!!" gumam suaminya sambil berlalu meninggalkan raganya di ruang makan.
Tubuh pria itu pun terlihat mulai keluar melalui pintu utama dan akhirnya meninggalkan rumah mereka yang kini mulai terasa berkabut dingin.
Visha kembali menitihkan air matanya. Ia ambruk di kursinya kembali sesaat setelah suaminya pergi meninggalkan dirinya. Ia benar-benar di buat hancur sejak semalam oleh suaminya itu, dan kini dia menjadi wanita yang sangat lemah.
Di putar kembali otaknya mengenai kemarahan tidak jelas dari sang suami sejak semalam, semua itu karena Hana, karena wanita itu yang terus saja mengganggu rumah tangganya dengan Allianz.
Entah bagaimana wanita itu bisa dengan cepat keluar dari penjara, dan karena keajaiban yang di alami Hana itulah menjadi petaka bagi Visha dan rumah tangganya.
Ia menjadi kesal. Raut muka kesedihan barusan dengan cepat beralih menjadi kesal dan di penuhi amarah.
Tangannya mengepal dengan erat di atas meja makan, dan dadanya bergemuruh hebat, dan nafasnya memburu.
Ia ingin sekali menemui Hana dan kemudian menampar wanita itu dengan tangan mulusnya. Gara-gara kedatangan Hana rumah tangganya menjadi seperti ini, penuh dengan ketegangan dan rasa dingin.
Namun ia tak ingin bertindak gegabah. Bukankah jika menemui wanita itu sekarang dan melampiaskan semua amarahnya, Hana akan tahu kalau rumah tangganya tengah mengalami masalah?
Ya!
Untuk sekarang memang lebih baik diam dulu, dan jangan sampai ia bertindak bodoh. Ia harus tetap bertingkah seolah-olah dia telah menang, dan sekarang dia tengah menikmati kebahagiaan atas kemenangannya itu.
Dia memang harus berpura-pura bahagia, meskipun yang sebenarnya terjadi setelah perceraian mereka adalah, ia malah menjadi rapuh dan tak berdaya.
Namun menunjukkan pada orang lain kalau dia tengah terjatuh pun bukan ide yang baik. Karena di hadapan semua orang, rumah tangganya begitu harmonis, dan dia juga di pandang kuat oleh semua orang, mana mungkin dia akan membuat nama dan reputasinya hancur karena permalasahan sepele seperti ini?
__ADS_1
Tidak! semua ini harus dia hadapi dengan kuat! dia pasti bisa melalui semua yang terjadi dalam hidupnya!
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺