Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Nekad 2


__ADS_3

Setelah melalui jalanan yang memakan waktu cukup lama, tibalah Hana di taman yang telah dia janjikan dengan Morgan.


Dia turun dari mobil, dan berjalan menuju taman kota. Pada malam hari begini, taman kota memang agak ramai. Tapi tenang saja, dia tak akan pernah bisa mengundurkan niatnya.


Dia berjalan melalui banyak orang yang berlalu lalang di tempat itu. Terlihat sekali banyak pasangan muda yang berciuman, bahkan bermesraan yang lebih dari itu di sana.


Fiuhhh!


Menjijikkan sekali, tidak seperti Hana dan Allianz, yang menikah karena cinta, mereka pada dasarnya berhubungan memang karena nafsu belaka.


Arkh!


Dia jadi tidak fokus. Tapi kali ini dia benar-benar memusatkan pikirannya pada Morgan.


Di telusuri saja seluruh taman kota, hingga tibalah di tempat yang sangat sepi. Tak ada satu orang pun di sana, kecuali seorang pria yang terlihat mengenakan kemeja putih bersih, dan membelakanginya.


Morgan!


Hana melangkah lebih dekat lagi, dan dari langkah kakinya itu, menimbulkan suara di telinga Morgan. Pria itu menoleh, dan tersenyum saat mendapati Hana di sana.


"Kau datang juga!" ucap Morgan sambil berjalan mendekat, lalu hendak memeluk Hana.


Namun Hana langsung menepisnya.


Plak!


"Ouh... Ganas sekali," ucap Morgan dengan senyum smirknya, "kau bahkan mengajak aku untuk bertemu, rindukah dengan permainan semalam? aku tahu kau pasti rindu..."


Laki-laki itu mendekat kembali, dan mencoba memingkis rambut Hana yang terurai acak-acakan.


"Berhenti! berhentilah untuk menyentuhku!" ucap Hana dengan keras.


Mendengar penolakan keras dari Hana membuat Morgan akhirnya tertawa terbahak-bahak.


Hahahaa.....


"Munafik sekali kau ini! dulu saat kau belum berjumpa dengan suami kamu, kau bahkan tidak menolak saat aku mencium bibirmu, kau bahkan membalasnya lebih gila lagi, tapi lihat sekarang! kau benar-benar munafik!"


"Cukup! cukup kau katakan semua yang tidak pernah aku lakukan! aku memang mencium kamu, tapi karena kau juga yang memaksa aku! dan sekarang, kau melakukannya lagi, bahkan jauh lebih gila dari yang aku bayangkan!" dada Hana bergemuruh hebat, melukiskan kemarahan yang terpendam di dalam sana.


"Hahh!?"


"Kau memang pria gila!"


"Bagaimana reaksi suami kamu? dia memaafkan kamu? oh! melihat dari ekspresi kamu saat ini, rasanya dia benar-benar marah padamu! benar, kan?" tanya Morgan dengan liciknya.

__ADS_1


"Ya! dia marah padaku! aku tahu kau akan puas mendengarnya! lebih baik aku buat kau puas sekarang! karena kau tidak akan pernah merasa puas lagi!"


"Ah?" bingung.


Hana dengan gagah mengeluarkan benda dari dalam sakunya, dan mengarahkan benda itu tepat di tubuh Morgan.


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Tanpa menunggu aba-aba lagi, dia tembak pria itu berulang kali, bahkan mungkin seisi tubuhnya di penuhi oleh peluru yang dia lepas dari senjata api yang ia temukan di dalam laci.


"Hahh!"


Tubuh pria itu berdarah-darah, dan ia mulai terlihat tumbang, lalu jatuhlah pria itu di atas tanah.


Bruk!


Tangan Hana gemetar hebat, bahkan jauh lebih gemetar lagi saat semua orang mulai berteriak ketakutan, dan datanglah polisi yang entah bagaimana bisa mendengar semuanya.


Padahal itu adalah tempat yang paling sepi.


Hana semakin bergetar, di jatuhkan saja senjata di tangannya, dan kemudian beberapa anggota polisi mencoba melumpuhkan dia...


"Jangan bergerak!!"


Sekarang masa depan Hana menjadi lebih kelam.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Selamat, sekarang kalian sudah menjadi pasangan suami dan istri!"


Mendadak semuanya terlihat senang, suasana di dalam gereja yang amat tenang telah menjadi saksi pernikahan Allianz dan Visha di atas altar, melukis kegembiraan dengan bersatunya dua insan yang di pertemukan karena nafsu belaka.


Keduanya terlihat berciuman, dan saling mem*gut mesra, tak peduli bagaimana kabar Hana yang sekarang tengah bermasalah dengan kepolisian.


Drrrttt Drrrttt


Bahkan setibanya di hotel, Allianz pun tak kunjung mengangkat panggilan dari istrinya yang tengah membutuhkan bantuan dari dirinya.


Dia terlihat tengah membuka bingkisan baru miliknya, yang terikat rapi oleh tali gaun putih nan panjang.

__ADS_1


"Aaahhh...."


Lenguhan panjang terdengar dari mulut Visha, saat dengan nakal tangan Allianz mulai bermain, menggelitik bibir nafsunya, dan sesekali menenggelamkan wajahnya di dalam sana.


"Ugh, All!!"


Kaki wanita itu terangkat ke atas, dan matanya terpejam sambil terus mengelus kepala sang suami yang kini masih asik menikmati mahkota indah miliknya.


Dari sana terasa basah, gigitan kecil dari Allianz rupanya berhasil membuat Visha mengalami kebanjiran yang luar biasa.


Allianz menyunggingkan senyuman, saat ia tahu wanita ini menggelinjang hebat karena sesuatu yang memuncah hingga membasahi area wajahnya.


"Allianz, bisakah kau tidak terus menggodaku?" tanya wanita itu sudah tidak tahan lagi, ingin sekali kembali bermain seperti siang tadi, saat ia masih belum berangkat untuk liburan sekaligus membuat acara pernikahan yang mendadak.


"Bukankah kau sangat suka dengan tingkahku? mari kita lihat, seberapa dalam aku bisa membuat kamu terkesima!"


Pria itu menolak ucapan istrinya lagi, dan malah semakin indah memainkan lidahnya dalam bibir yang molek di hiasi hutan lebat nan erotis.


Lagi-lagi Visha melenguh, merasakan kenikmatan yang sungguh luar biasa dia dapat dari pria ini. Ia bahkan tak mampu lagi untuk bergerak, meski untuk sekedar membuka mata.


Lama ia bermain dalam bibir ranum milik istri barunya, kini ia terlihat membuka celana hitam yang ia kenakan, beserta segitiga yang telah melindungi senjata ampuhnya sejak siang tadi.


Ia melepas semuanya, dan mulai bermain dengan indah di liang kenikmatan sang istri. Di masukkan dengan mudah olehnya, karena bibir V Visha yang menang sudah basah akibat ulahnya barusan.


Blesss!


"Aaahhhh...." Lenguhan panjang itu kembali terdengar di telinga Allianz.


Seolah benar-benar amat nikmat, wanita itu tak henti-hentinya mendesis, membuat gejolak asmara Allianz semakin membuncah.


Ya, rupanya rasa perawan bahkan jauh lebih nikmat di banding dengan istri tuanya. Selain dia bisa membalas dendamnya pada istrinya, dia juga mendapat bonus besar berupa kenikmatan yang belum pernah terjajah oleh orang lain selain dirinya.


Semakin lama permainan menjadi semakin ganas, semakin pula terdengar irama syahdu akibat penyatuan yang padu padankan dengan basah pelumas dan basah keringat.


Muka Visha dan Allianz terlihat memerah, menandakan sebuah permainan yang cukup nikmat terjadi antara mereka..


"Ugh, arkh.... oh, All!"


Suara ribut di kamar hotel itu pun membuat bunyi ponsel Allianz tidak terdengar. Ya, cukup menutupi telinga Allianz dari bunyi panggilan dari istrinya.


Ia bahkan tak pernah tahu, betapa istrinya sedang membutuhkan bantuannya saat ini.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Sial! tuan tidak mau mengangkat panggilan mu, Nyonya!" ucap Zarren, sambil menurunkan ponsel Hana, dan meletakkannya di saku celananya.

__ADS_1


"Biarkan saja, biarkan dia terkejut saat pulang nanti!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2