Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Noda Yang Kejam


__ADS_3

Hana menitihkan air matanya, saat sang suami lagi-lagi menuduhnya, sama seperti satu tahun lalu, saat Allianz menuduh dirinya menuangkan racun dalam makanan mendiang ibu mertuanya.


Dan kali ini, Allianz kembali menuduhnya, kembali memojokkan Hana dari kesalahan satu jam bersama pria lain, yang sejujurnya, Hana pun tidak pernah menginginkan kejadian itu terjadi.


"Wanita hina, sampai kapan pun juga akan tetap hina!" umpat sang suami yang kemudian kembali pergi dari rumahnya, tanpa mengganti pakaian sama sekali.


"Allianz!! hiks hiks.. All!" wanita itu meringkuk di atas lantai, tak mampu bergerak, apa lagi untuk mengejar kepergian Allianz dari hadapannya.


Menangislah Hana dalam suasana hening di dalam kamarnya. Dia memang bersalah, dengan sulitnya mencoba menolak Morgan, namun apa dia patut di salahkan di sini? apa lagi sampai mengatakan dirinya seorang wanita hina?


Menurut Hana hal itu tidak adil sama sekali, dia bahkan hanya kali ini saja melakukan hal menjijikkan itu dengan Morgan, tapi kenapa Allianz sampai menuduhnya yang bukan-bukan?


Wanita itu dengan tertatih mencoba masuk ke dalam kamar mandi, dengan berderai air mata penuh luka dan kesedihan.


Langkah kakinya terseok-seok, dan dengan perlahan dia mulai membuka pintu kamar mandi.


Shower di nyalakan, dan mengucur lah air dari sana, mengguyur tubuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap di seluruh badan.


Tangisan deritanya menggema, melukiskan betapa sakitnya sayatan luka yang di ciptakan oleh dua pria itu. Mereka yang beringas, dan mereka yang salah, tapi dirinya yang jadi korban di sini.


Hanya saja, pernahkah Allianz atau Morgan berpikir jernih tentang akibat yang akan mereka rasakan setelah melakukan semua ini?


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Pagi harinya, Hana terlihat lesu dan pucat di atas kasurnya. Bahkan putra kecil yang sedang berada di gendongan sang suster pun tidak dia hiraukan.


Padahal sejak tadi Zhoulin terus memanggil ibunya, mungkin merasa rindu pada sosok wanita itu.


Tapi Hana sama sekali tidak bergeming dari duduknya yang bersandar kasur, tergeletak di atas lantai.


Wanita itu sayu, dan pakaiannya bahkan masih sama seperti semalam, mungkin angin malam yang telah membuat bajunya mengering.


Dia sama sekali tidak tidur semalaman penuh, bahkan wanita itu tidak pernah bisa memejamkan matanya, dia begitu depresi dengan kejadian yang menimpa dirinya semalam.


Ding.. Dong...


Dan dari arah depan, terdengar bel rumahnya berbunyi, ada seseorang yang datang ke sana, tapi Hana tidak mendengarnya, atau mungkin dia sudah tidak lagi peduli siapa yang datang bertamu.

__ADS_1


Suster yang tengah di buat repot mengurus Zhoulin pun akhirnya terpaksa membuka pintu rumah, dan menemui tamu yang datang.


"Nyonya Naira?!"


Sosok wanita muda terlihat tersenyum dari depan pintu.


"Hai, Zhoulin!" langsung meraih Zhoulin dari dekapan susternya, "kangen, ya, sama bibi? emmuach! bibi juga kangen sama kamu, ibu kamu mana? bibi mau ketemu sama ibu kamu, mau ikutan jualan kue, bibi pengin latihan aja, sama ibu kamu.." Ucap Naira panjang di kali lebar.


Sang suster terlihat bingung harus menjawab apa, kecuali apa yang memang seharusnya dia jawab.


"E, Nyonya, maaf, apa boleh saya minta bantuan sama Nyonya?!" tanya sang suster dengan kikuknya.


"Minta tolong apa? apa ada masalah?" tanya Naira pada sang suster.


"Nyonya, Tuan Allianz semalam tidak pulang, dan Nyonya Hana, sejak pagi, beliau tidak keluar dari kamarnya.." Ucap sang suster dengan raut wajah penuh kecemasan.


"Tidak keluar dari kamarnya? memangnya ada apa, sus?" sekarang Naira jauh lebih cemas.


"Semalam, ada seorang pria yang datang, tapi kami semua sudah tidur, hanya tinggal nyonya Hana saja yang belum, karena beliau harus membuat kue untuk di jual hari ini, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, Nyonya, karena kami pun hanya mendengarnya dari Zarren saja!"


Sejenak Naira berpikir, hingga akhirnya dia memberikan Zhoulin pada suster di depannya, dan mencoba melihat keadaan Hana.


"Baik, Nyonya.." Dia menerima Zhoulin dari Naira.


Kini Naira terlihat mulai berjalan menuju arah tangga menuju lantai dua, lalu kemudian menaikinya satu per satu.


Dia berjalan dengan perasaan penuh kecemasan, dan akhirnya terlihat di matanya pintu kamar Hana yang tertutup dengan rapat.


Tok tok tok!


Dia mencoba mengetuk pintunya dengan lembut, tidak menganggu Hana sedikit pun.


"Hana..."


Lalu Naira mencoba memanggil Hana dengan sedikit bersuara, namun dari dalam kamar Hana, tidak ada suara sahutan dari Hana sama sekali.


Merasa risau, takut saja Hana akan melakukan hal nekad seperti satu tahun yang lalu, saat wanita itu dengan beraninya menyayat nadinya, Naira akhirnya memilih untuk masuk tanpa pamit, dan melihat seperti apa kondisi terkini dari kakak iparnya itu.

__ADS_1


Kriettt!


Pintu terbuka. Pada awal pintunya terbuka, terlihat dengan jelas wajah Hana yang tertutup rambutnya yang urak-urakan tidak jelas. Nampak juga kamarnya yang kacau, mungkin akibat pertengkaran yang di maksud sang suster, dan terlihat pula lantai yang licin.


Naira nampak mencoba berjalan mendekati Hana yang masih terdiam membisu, hening tanpa suara, dan diam mematung tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Hana.."


Naira terlihat mendekati wanita itu, dan duduk di samping Hana dengan perlahan.


Hingga pada detik berikutnya, Hana tak lagi mampu membendung kesedihan yang ia alami.


Tubuhnya ambruk di dalam pelukan Naira, dan menangislah dia di dalam dekapan sang adik ipar.


Hu.. hu... hu....


Tangisnya semakin jelas terdengar, dan hampir saja membuat Naira ikut merasa sedih. Namun dia tahu, kedatangan dia kesini adalah, untuk menanyakan kabar Hana, mana bisa dia ikutan menangis seperti itu?


Naira memilih untuk mendekap tubuh Hana yang telah menua, dan di usaplah rambut sang sahabat dengan penuh kelembutan.


Meski Naira masih saja bingung dengan semua persoalan ini, tapi dia tidak mau buru-buru menanyakan ribuan pertanyaan yang mengganjal dalam benaknya.


Dia masih akan setia menunggu, sampai Hana sendiri yang berinisiatif untuk bicara dengannya.


"Kau mau minum?" tanya Naira usai menghabiskan sekitar lima belas menit hanya untuk mendengar Hana menangis.


Hana terlihat mengusap air matanya usai dia melepaskan pelukan eratnya pada Naira. Dia kemudian mengangguk saja, mengiyakan tawaran dari Naira padanya.


Seorang pembantu terlihat membawa satu gelas air putih, bersamaan dengan bubur yang di buatkan oleh pelayan rumahnya sejak pagi tadi.


Naira mengambil air minum di atas meja, lalu meminumkannya pada Hana, berharap semuanya jadi lebih tenang.


Gluk!


Wanita itu terlihat meneguk satu tegukan saja, lalu meletakkannya kembali di atas meja.


Tak!

__ADS_1


"Hana, apa yang terjadi padamu? bisakah kau menceritakan semuanya padaku?"


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2