
Langit mendung di kota X.
Mengabarkan pada Hana sesuatu yang sangat besar telah terjadi. Menciptakan sebuah pertanyaan di benak Hana tentang tragedi apa yang sejak kemarin sore menggeluti hatinya.
Melihat berbagai pandangan dari beberapa sudut, menciptakan sebuah kesedihan di matanya, rasa cemas di hatinya, dan luka yang entah mengapa kini ia rasakan kembali.
Di depan dia, duduklah seorang wanita dengan memaku kedinginan karena kehujanan dan bertempur dengan hatinya sendiri, tak mampu beralih posisi, bahkan sejak satu jam atau mungkin bahkan dua jam yang lalu.
Hana pun masih tak bergerak sama sekali. Ada kesedihan, kekecewaan, namun terasa juga perasaan tertekan dalam batinnya. Tertekan oleh sebuah luka yang nyatanya masih saja membayang di sana, menyisakan kenangan pahit dan menyesakkan meskipun ia telah lama melalui semuanya sampai berbulan-bulan.
Entah bagaimana bisa wanita itu sekarang ada di sini, datang dengan rambut basah kuyup dan mata yang berkantung sangat besar di bawahnya, memberi tanda bahwa tangisan besar dan menyakitkan baru saja di alami oleh wanita itu.
Apa perkiraan Hana kali ini benar adanya? Apa wanita itu sekarang sudah menyadari akan semuanya yang terjadi?
Di pandangi seluruh tubuh wanita di depannya dengan seksama, mulai dari atas, lalu sampai turun di kakinya, tak luput juga tas mahal yang di pegang wanita itu.
Pakaiannya dan semua aksesoris yang menempel di tubuhnya sangat berkelas, tapi agaknya Hana tak asing dengan penampilan ini. Bukankah di masa muda Hana ia juga berpenampilan semacam ini?
Aish!
Lebih baik baginya untuk diam, jangan banyak berpikir hal yang buruk, atau dia sendiri yang akan di buat repot pun pusing memikirkannya. Meskipun ia tahu, style yang di pakai Visha pada saat bertamu ke rumahnya sore itu sungguh, membuat dia sedikit tertegun.
Hana memilih mengabaikannya, karena dia pikir mungkin hanya kebetulan saja. Ia akhirnya membenarkan posisi duduknya setelah sekian lama terdiam di depan Visha, mantan sahabat yang telah menghancurkan hidupnya selama ini.
"Kau tahu alamat rumahku dari siapa?" Tanya Hana memulai percakapan, merasa suntuk dengan keadaan diam tanpa kepastian dari Visha.
Ia bukannya sombong, hanya saja, dia sekarang bukan orang biasa lagi yang bisa mengatur waktu sesuka hatinya. Ia masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan di kantornya. Bukankah menunggu Visha berbicara dengan waktu yang lama akan sangat mengganggu dirinya dan juga waktunya yang lebih berharga?
Wanita di depannya akhirnya berkutik, meremas jemarinya, dan mencoba sesekali menatap Hana dengan sorot matanya yang di penuhi oleh kecanggungan luar biasa.
"Ak-aku.. aku tahu dari," ucapan Visha terhenti sejenak, "siapa pula yang tak tahu siapa kamu? Mungkin hanya aku dan Allianz saja yang sebodoh itu sampai tidak tahu apapun mengenai dirimu.." ucap Visha dengan senyum kecutnya.
Mendengar ucapan dari Visha barusan, Hana tersenyum songar, "justru kalian yang lebih tahu aku di banding mereka.."
Mendengar jawaban dari Hana, Visha jadi mendongakkan kepalanya, menatap Hana dengan sangat heran, "mak-maksud kamu?"
"Kalian jauh lebih tahu siapa aku, apa yang aku lakukan dalam hidupku, apa yang terjadi dalam takdirku, dan apa yang aku rasakan dalam hatiku, semuanya kalian yang jauh lebih mengerti, mereka hanya memandang aku sebagai wanita karir yang terkenal di seluruh penjuru kota dengan pemasaran terbesar kedua setelah perusahaan Naira, hanya itu saja, soal kehidupan pribadiku, tidak ada yang tahu kecuali kau dan suamimu!" Jelas Hana panjang di kali lebar.
Mendengar hal tersebut, Visha hanya bisa diam membisu. Otaknya berpikir untuk segera menjauh dari sana, berpikir betapa bodohnya dia yang malah mendatangi rumah mantan istri dari seorang pria yang telah dia rebut darinya.
Ia akhirnya hanya bisa memalingkan muka, mencoba berdiri dan kemudian berpamitan untuk pergi dari sana dengan canggung.
"Maaf, aku telah mengganggu waktumu, tidak seharusnya aku datang kemari.." ucap Visha sambil berbalik dan hendak pergi, "aku permisi.."
"Tunggu!"
Namun suara Hana menghentikan langkah kakinya, membuat dia akhirnya berhenti dan kembali berbalik ke arah Hana.
"Ya?!"
"Aku tahu kau sedang mengalami masalah, aku juga pernah mengalami hal seperti itu, jangan menyelesaikan masalah kamu dengan amarah dan saling diam, lebih baik utarakan semuanya sebelum terlambat.."
"Kau hanya akan menertawakan aku saja.." ucap Visha seolah kehilangan seluruh kekuatannya di hadapan Hana.
__ADS_1
Sekarang dia sadari, bahkan sejauh apapun dia melangkah, sejauh apapun dia berusaha menjauh dari Hana dan berusaha untuk bahagia di atas penderitaan Hana, tetap saja pada akhirnya dia harus kembali dan mencurahkan segalanya pada Hana, sahabat baiknya di masa lalu.
Ia memang terkesan bodoh. Ia pun bahkan tak tahu mengapa dia memilih jalan ke rumah Hana untuk meminta solusi atas kekacauan rumah tangganya.
Setiap hari ia selalu di teror oleh wanita yang mengaku tengah tidur di hotel dengan suaminya, mengirimkan foto dan bahkan memperlihatkan kemesraan keduanya saat tidak mengenakan satu helai benangpun, entah itu foto asli atau hanya editan semata, tapi Visha benar-benar terganggu oleh bukti itu.
Di sisi lain, suaminya sudah sejak dua Minggu lalu tidak pernah pulang. Semenjak kejadian di hotel saat dia meneriakkan namanya dengan wanita bernama Sheila, semuanya jadi sangat dingin.
Allianz tak pernah pulang, atau sekedar memberi kabar di ponsel untuknya pun tidak lagi. Visha jadi menguatkan kecurigaannya dengan foto yang selalu Sheila kirim ke ponselnya itu, membuat gundah di hatinya dan perasaan tertekan yang sangat luar biasa.
Ia tak tahu lagi harus pergi ke arah mana, semua jalan sudah buntu, menemui Erik pun sudah, namun saat mereka berdua mencoba menjumpai Allianz dan Sheila di hotel, pihak hotel tak membenarkan ada penghuni bernama Allianz dan Sheila di sana.
Semuanya serba tabu. Rahasia suaminya yang tidak tahu apa itu benar atau tidak, ia tak bisa memastikannya. Ia mengalami depresi berat hingga berat badannya sampai turun drastis dalam jangka waktu selama dua Minggu.
Dan sekarang kakinya menuntun dia untuk melangkah menemui sahabat baiknya di masa lalu. Meski rasa gengsi pada mulanya menyertai langkahnya, mencoba menahan kakinya untuk tidak melangkah terlalu jauh menuju rumah Hana, namun entah setan mana yang bisa membujuk dia untuk menemui Hana.
Sekarang, setelah berpikir dalam-dalam, Visha akhirnya kembali terduduk di sofa ruang tamu Hana yang harganya lumayan fantastis, bisa mencapai ratusan juta, bahkan semua isi rumah ini di isi dengan barang-barang mewah dengan harga yang sangat lumayan menguras kantong.
Itu jika bagi Visha, tidak tahu kalau Hana bagaimana.
"Katakan padaku, apa yang sedang membebani hatimu.."
...........
Wanita itu terdiam di mobilnya sebentar saat Zarren berhasil mengantarkannya ke perusahaan tempatnya bekerja.
Ia merenungkan perkataan Visha pagi tadi yang sangat menyedihkan. Bahkan terasa jauh lebih menyedihkan dari ceritanya di masa lalu.
Atau memang dia sudah bangkit dari luka yang membius tubuhnya menjadi tidak berdaya, dan akhirnya mulai tidak terasa sakit lagi.
"Nyonya?" Panggil Zarren merasa sang nyonya besar butuh panggilan untuk menyadarkan lamunan hebatnya.
"Ya!?" Ekspresi agak terkejut, "kenapa?"
"Ini sudah sampai di kantor, apa masih ada sesuatu lagi yang kurang?" Tanya Zarren dengan sangat lemah lembut, menggambarkan baktinya dan sopan santunnya pada sang majikan.
"Tidak ada, sore nanti, aku akan ke rumah Naira, agaknya lama juga tidak berkunjung ke sana, kau bisa mengantarku?" Tanya Hana sambil membenahi tasnya.
"Baik, nyonya!" Jawab Zarren dengan mantap.
"Baiklah, terima kasih, Zarren," ucap Hana sambil membuka pintu mobilnya dan kemudian keluar dari sana dengan segera.
Blam!
Pintu mobil Hana di tutup dengan sangat sempurna, hingga akhirnya terlihat dengan jelas mobil yang di kendarai oleh Zarren itu mulai meninggalkan parkiran perusahaan dengan perlahan.
Langkah kaki Hana terlihat di penuhi kebimbangan. Bukan bimbang untuk masalah pekerjaan, tapi lebih tepatnya dia tengah di buat sibuk memikirkan nasib Visha yang baginya mengapa bisa sampai separah itu.
"Pagi, Bu.." sapa beberapa karyawan seperti biasa saat dia mulai memasuki kantornya di pagi hari.
"Pagi.." jawab Hana dengan hangat.
Sampai pada akhirnya, ia menemukan kejutan yang sangat besar di sana, di kantor yang dia kelola sendiri.
__ADS_1
Menjumpai wajah yang sangat tak asing baginya, menjumpai sosok laki-laki yang sedang menyembunyikan wajahnya darinya, dan berusaha untuk menghindar darinya.
Namun dia bukanlah wanita bodoh yang bisa di permainkan dengan sesederhana itu.
Ia langsung mengarah pada laki-laki itu dengan langkah kaki penuh keyakinan.
Merasa si wanita menatap matanya, laki-laki itu bergegas pergi dan berlari menjauh dari tempat tersebut, menuju ke tempat yang jauh lebih sepi, sebagai tempat persembunyian yang aman.
"Tunggu!" Cegat Hana mencoba menghentikan langkah kaki pria itu.
Namun si pria tak menggubrisnya, malah semakin pergi menjauh darinya, mencoba bersembunyi darinya dan membuat dia tak bisa mengejar karena larinya yang memang sudah tidak bisa di jangkau lagi oleh Hana.
"Aku tahu itu kau!"
Hanya kalimat itu yang bisa di lontarkan oleh Hana sambil mengantarkan pria itu pergi dari hadapannya dengan sangat segera.
Ia akhirnya mengabaikannya, memilih untuk masuk ke dalam ruangannya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Hallo? Zarren? Aku melihat dia di perusahaan, kau bisa mencarikannya untukku?"
Dari seberang terdengar menjawab dengan yakin, hingga akhirnya panggilan pun segera di matikan olehnya, menunggu kabar selanjutnya yang akan di dapat oleh Zarren.
"Kenapa kau bersembunyi dari semua orang? Apa kau masih punya rasa malu?" Gumam Hana dalam kesendiriannya.
Tok tok tok!
Namun kemudian ketukan pintu dari seseorang membuat Hana bergeming dari lamunannya yang masih tak memakan waktu lama.
Sekarang ia akhirnya menghentikan lamunannya dan mencoba menyibukkan diri dengan beberapa berkas di atas mejanya.
"Masuk!" Ucap Hana mempersilahkan seseorang di luar sana untuk masuk.
Cklek!
Tak lama setelah itu, muncullah wajah bule dengan potongan rambut rapi dan kulit putihnya yang khas dari orang Eropa, membuat mata Hana membola heran.
"William? Kau masih ada di sini? Aku pikir kau sudah kembali.." ucap Hana dengan malas.
Pria itu tak menghiraukan sikap Hana yang masih saja sedingin es padanya. Ia hanya bisa tersenyum dengan sangat lebar, menampilkan gigi-gigi yang berbaris dengan sangat rapi dan putih.
"Aku punya hadiah buatmu," ucap William sambil menunjukkan sekuntum mawar merah untuk wanita pujaannya.
"Bunga? Hahh! Dasar kau! Kenapa kau memberikannya padaku?" Tanya Hana masih belum menerima bunga di tangan William.
Pria itu terduduk saja di kursi di depan Hana dengan wajah sedihnya. Sementara itu, Hana hanya bisa menatap wajah sedih William di sana, dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada si pria itu.
"Kau harus menerima bunga pemberianku ini," ucap William dengan wajah kusutnya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Hana sedikit penasaran.
Ya, meskipun sikap William yang selalu hangat membuat dia sedikit merasa tak nyaman, tapi keberadaan pria ini selama ini mengisi hari-harinya jujur membuat dia merasa jauh lebih baik, bisa menyembuhkan luka hatinya yang pernah memar.
"Aku harus kembali..."
__ADS_1
"Maksud kamu, pulang?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...