Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Gusar


__ADS_3

Di dalam taksi pun Allianz nampak gusar, berulang kali dia membenarkan posisi duduknya, hingga akhirnya tibalah dia di kantor polisi.


Dengan cepat dia membayar taksinya, dan bergegas saja berlari masuk ke kantor polisi.


Di depan kantor polisi, nampak Ardian dan Zarren serta Leon yang tengah berdiri bak patung, menanti bagaimana keputusan akan kasus Hana dan sidang untuk besok.


Namun mata Ardian berubah ganas. Dia merapatkan gigi-gigi di dalam mulutnya, dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, saat ia melihat kedatangan Allianz di hadapan mereka.


Sontak saja Ardian mendekati Allianz, dan hendak memukul pria itu dengan emosinya.


"Pria brengsek!!"


Tangannya sudah berusaha dia layangkan, tapi langsung saja di cegat oleh Zarren dan Leon. Dua pemuda itu langsung mencegah tuannya bertindak bodoh di kantor polisi.


"Tuan! jangan! ini kantor polisi!" ucap Leon sambil menarik dan menenangkan Ardian.


Kini Ardian terlihat lebih diam, dan lebih menurut. Selain karena tidak mau berurusan dengan kepolisian, yang pastinya juga akan berdampak buruk pada kandungan Naira, dia juga tidak ingin melayani pria brengsek dan gila seperti Allianz.


Allianz hanya menatap Ardian dengan canggung. Entahlah! gara-gara video yang di kirim Ardian di ponselnya, kini ia merasa malu berhadapan dengan pria itu.


Allianz hanya mengabaikan Ardian saja. Masuklah dia ke dalam dan mencoba menemui Hana yang telah berada di balik jeruji besi.


"Sayang!! Hana...." panggil Allianz dengan tulus pada sosok Hana.


Kali ini dia memang benar-benar tulus melakukannya, tidak seperti saat bersama Visha atau wanita lain, pada sosok Hana tentu saja dia akan seperti itu, karena bagaimana pun dia membenci istrinya, dia tetaplah gagal jika harus tidak mencintai Hana.


Hana terlihat bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah Allianz yang berada di seberang jeruji.


"Allianz, aku tahu kamu pulang! aku tahu kamu akan pulang!!" ucap Hana dengan kegembiraan di hatinya, mendapati sang suami yang masih peduli padanya meski dalam amarah yang bergejolak sekalipun.


"Pak! tolong buka pintunya! saya harus bicara dengan istri saya!!" pinta Allianz pada anggota yang berjaga.


Tak lama setelah itu, seorang anggota kepolisian pun membiarkan mereka berjumpa. Di bukalah pintu jeruji besi yang menghalangi pertemuan mereka, dan dari sana, keluarlah Hana dengan wajah pucat, dan penampilan yang sudah acak-acakan.


Hap!


Tak butuh waktu lama untuk keduanya yang akhirnya berpelukan, dan saling memeluk untuk melampiaskan rasa sesak dalam dada masing-masing.

__ADS_1


Keduanya terlihat menangis, terlebih lagi Hana yang juga tak mampu membendung tangisnya lebih lama.


Kini keduanya terlihat duduk berhadapan di sebuah meja pertemuan, dengan di kelilingi anggota jaga.


"Sayang, kau datang padaku, aku tahu kau akan datang untuk menolong aku!" ucap Hana penuh harapan.


Tapi laki-laki di depannya hanya diam seribu bahasa. Bukannya dia tak mau membantu istrinya, lebih tepatnya, dia memang tidak bisa membantu Hana untuk saat ini.


"Hana, kau sudah gila!" umpat Allianz mendadak terlihat kesal.


"Apa?" wanita itu pun di buat bingung dengan sikap yang berubah-ubah dari suaminya.


"Kau menembak pengusaha terkaya nomor tiga di negara kita! kau pikir kau ini apa? bisa-bisanya berbuat hal semacam itu tanpa berpikir lebih dulu!? bagaimana kalau keluarga Lu Zamorgan menjatuhi hukuman mati padamu?"


Deg!


Tes!


Air mata Hana menetes, jatuh berlinang di atas meja. Bukannya ia kesal dengan perkataan suaminya, namun bisakah Allianz tidak menakuti hatinya di saat-saat seperti ini?


"All, aku melakukannya, karena dia telah melecehkan aku! aku melakukannya, demi untuk membuktikan, kalau aku di paksa, aku di kekang oleh pria itu, aku ingin menunjukkan padamu kalau aku ini berani membunuh karena aku tidak bersalah! aku yang harus di bela oleh kamu di sini!!" ucap Hana dengan kesal.


"Apa polisi menerima pernyataan darimu barusan?" tanya Allianz pada istrinya.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah, Hana diam seribu bahasa, tak mampu berkata apapun lagi, karena memang, dia tak mendapat pembelaan apapun dari siapapun, kecuali Ardian.


"Kau yang bodoh! bisa-bisanya melakukan semua itu? kau bahkan tak pernah berpikir bagaimana konsekuensinya melakukan semua ini!!"


Tak tak tak tak!


Mendadak seseorang datang mendekati mereka.


Hana mendongak, dan menatap siapa yang berdiri tepat di depan matanya saat ini.


"Tuan Lu Lau'er!?"


Kini mereka berbicara bersama-sama, di atas meja yang sama pula.

__ADS_1


"Aku membunuh putramu, karena dendam dia telah melecehkan aku di rumah suamiku!!" ucap Hana mengaku semua yang ia rasakan.


Lu Lau'er hanya diam saja, masih menanti jawaban yang lain masuk ke dalam telinganya.


"Dia melecehkan aku, meniduri aku, dan dengan kotornya, dia memasukkan benda kotornya ke dalam tubuhku, kau bisa membayangkan betapa aku amat sakit meskipun hanya membayangkannya saja?" wanita itu terlihat lebih cerewet.


"Kau bahkan memberi kami sebuah harapan, tapi aku bahkan tidak pernah menduga, kaulah yang akan mengantarkan putra kami menuju kematian!!"


Ucap Lu Lau'er, lalu setelah itu, dia kemudian pergi meninggalkan Hana bersama sang suami.


Sementara di luar, terlihat Ardian yang kemudian mendapat sesuatu dari Luis, sopir sekaligus komputer canggih miliknya.


"Tuan, Tuan perlu tahu soal ini!" ucap Luis pada Ardian, sambil memberikan beberapa gambar yang tercetak jelas di atas kertas, dan juga menunjukkan laptop milik Luis yang berisi sederet foto-foto seseorang di sana.


"Astaga!" ucapnya setelah melihat semuanya.


"Ini kejutan besar buatku, apa aku bisa mempercayai informasi yang kau berikan?" tanya Ardian pada Luis.


"Sejak kapan aku pernah membohongi anda, Tuan?! jika anda masih tidak percaya dengan kata-kataku, anda bisa memeriksanya sendiri!"


"Baiklah, aku punya rencana bagus untuk ini!"


"Dengar-dengar, Tuan Lu Lau'er dan istrinya akan memberikan vonis mati untuk Nyonya Hana," ucap Leon di belakang Ardian, "mungkin anda bisa menggunakan itu untuk menjerat mereka, Tuan!"


"Kau benar! Tuan, mungkin itu ide bagus untuk memberi keringanan pada Nyonya Hana!" sahut Zarren.


"Kalian tidak perlu ikut campur, aku sendiri yang akan mengurus semua masalah ini!" jawab Ardian.


Kini terlihat dengan jelas sosok Lu Lau'er yang kemudian berjalan keluar dari kantor polisi. Namun dengan cepat, Zarren dan Leon mencegat pria tua itu.


"Aku tidak punya urusan selain mengurus kematian anakku!"


"Tuan Ardian ingin menemui anda!" ucap Zarren pada Lu Lau'er, membuat pria itu terdiam.


"Ardian?"


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2