
Pria itu terlihat membanting remote tv di ruang kerjanya, dan seketika membuat bangkai remote controlnya pecah berserakan.
Ia mengelus dahinya dan memijitnya dengan kasar, merasa pusing dengan keadaan yang malah berbalik menentang dirinya.
Rupanya dia sudah salah menyuruh wanita bodoh untuk menjatuhkan toko itu. Ia salah memberi beberapa tips untuk wanita itu sampai akhirnya sekarang dirinya terancam akan terseret ke dalam kasus ini.
Belum juga dia di buat jenuh oleh pemberitaan di tv nya, sebuah panggilan masuk mendadak berada di ponselnya, menampilkan nomor dari direktur besar yang menyuruhnya melakukan semua ini.
Allianz mengangkat panggilan dari atasannya dengan sangat terpaksa, dan mungkin juga agak malas. Ia tahu pada akhirnya dia sendiri yang akan di salahkan oleh pria tua itu.
Bip!
"Hallo?" sapa Allianz untuk membuka perbincangan.
"*Dasar bodoh! wanita macam apa yang kau bayar itu? dia bahkan tidak memberi reaksi dalam waktu setidaknya dua pekan ke depan, sekarang aku tidak mau bertanggung jawab akan kasus yang bisa saja menyeret namamu juga! selesaikan semua urusannya sendiri! dan jangan pernah bawa-bawa aku ke dalam masalah kamu ini*!"
Bip!
Hanya sederet kalimat panjang yang keluar dari mulut pria tua itu untuknya, yang seketika membuat Allianz geram. Ingin sekali dia membanting ponselnya, tapi agaknya, dia tak akan pernah berani melakukannya..
Ia akhirnya memilih menurunkan ponsel dari telinganya dengan tenang, lalu meletakkannya di atas meja dengan perlahan, tak ingin terlalu banyak merusak fasilitas di dalam rumahnya sendiri.
Ia terpaku di atas kursinya sendiri, sambil meratapi dan berpikir bagaimana dia bisa keluar dari bencana ini dengan segera.
Padahal semua ini tentu saja bukan ulahnya, kalau saja pria tua itu tidak menyuruhnya untuk melakukan hal sebodoh itu, mungkin dia akan aman berada dalam rumahnya, aish, mana sekarang pria tua itu tidak mau ikut campur menangani masalah.
Apa yang harus dia lakukan selanjutnya?
Cklek!
Namun lamunannya tersadar, sesaat setelah seorang wanita membuka pintunya, dan dari arah luar menyembul saja wajah anggun manis istrinya, di tambah senyuman yang membuat dia kecanduan, hingga akhirnya dia memilih untuk tidak terlalu lama dalam posisi tertegun.
"Sayang, ada apa?" tanya Allianz mencoba untuk tidak memperlihatkan sisi cemas di wajahnya.
"Seharusnya aku yang tanya, aku dengar ada benda yang jatuh barusan, aku pikir berasal dari sini, apa kau baik-baik saja?" tanya istrinya dengan sangat lembut.
"Ya, aku baik-baik saja, memang remote tv nya jatuh barusan, tidak sengaja aku menjatuhkannya dengan siku tangan kiriku, jadi sekarang pecah," ucap Allianz tentu saja sedang berbohong.
Bukankah beberapa menit yang lalu dia baru saja membanting remote tv nya karena kesal? apa dia hanya ingin membuat istrinya jauh lebih tenang saja?
Tidak ada yang tahu.
Mata Visha tertuju pada remote di lantai yang sudah hancur berkeping-keping, di sisi kiri kursi milik suaminya.
Entah mengapa dia menangkap hal aneh dari suaminya itu. Bagaimana mungkin remote yang tidak sengaja di jatuhkan jadi hancur sampai seperti itu? bukankah andaikata akan hancur, tidak akan separah yang dia lihat?
Atau memang hanya perasaanya saja yang terlalu berlebihan?
Ya, mungkin saja dia yang terlalu berlebihan.
Visha mencoba untuk membuang jauh-jauh prasangka tak baik di hatinya mengenai remote tv yang ia lihat di atas lantai tersebut, dan mulai kembali tersenyum manis pada suaminya.
"Ini sudah waktunya makan siang, kita tidak bisa jalan-jalan hari ini karena aku yang sibuk dengan pekerjaan mendadak di butik pagi ini, tapi aku sengaja memesan makanan untuk kita semua, lebih baik kita makan saja sekarang," ajak Visha pada sang suami.
Suaminya yang masih mencoba menata suasana hatinya yang kacau balau akhirnya memilih untuk mengiyakan ajakan dari istrinya itu.
"Ya.."
Ia bangkit dari kursinya, dan berjalan menuju ke arah istrinya di muka pintu, lalu merangkul pundak istrinya dengan mesra.
Mereka berdua berjalan bersama menuju ke arah meja makan, sampai akhirnya Visha menatapi suaminya yang sama sekali tidak selera makan di sana.
Beberapa menit setelah keduanya terduduk, Allianz memang jadi tak banyak bicara. Sikapnya mulai dingin lagi, dan agaknya dia tak punya minat sedikitpun untuk makan semua makanan di atas meja makan.
__ADS_1
Meskipun istrinya telah menyuguhi dia dengan aneka hidangan yang dia beli di restoran bintang lima, tapi hal itu sama sekali tidak membuat Allianz berselera, jangankan berselera, bergeming dari lamunannya pun tidak.
Sekarang kecurigaan di hati Visha kembali menguat, ada yang di sembunyikan oleh Allianz darinya. Tapi dia masih saja belum mengetahui apapun di sini, suaminya masih tidak mau mengatakan apapun padanya, dan dia pun masih tak mampu menebak apa yang terjadi pada suaminya itu.
Ia pandangi wajah suaminya yang lesu, sambil menyodorkan segelas air putih dingin yang baru saja dia silir dari teko kecil miliknya.
Ia tak ingin banyak bertanya, tapi melihat sikap suaminya yang aneh begini, lama-lama dia merasa tidak tahan juga.
"Mas," panggil Visha dengan lirih.
Pada mulanya Allianz tak mendengarnya, laki-laki itu terus saja termenung dan berfokus pada poin masalah yang dia punya sekarang.
Ia tak mendengar satu panggilan lembut dari istrinya, jangankan mendengar, merasa ada Visha di sana pun agaknya tidak.
Sampai pada detik berikutnya, Visha nampak menggapai tangan Allianz dengan lembut, sambil memanggil suaminya itu sayu kali lagi, berharap suaminya kali ini bisa menggubrisnya, "mas.."
Suaminya terkejut. Ia yang pada mulanya di buat tertegun oleh masalah yang tengah di hadapinya, sekarang akhirnya terbangun dari lamunannya sendiri karena sentuhan lembut dari istri cantiknya itu.
"Um? ya?" tanya Allianz sedikit gelagapan.
"Kamu ini kenapa, si? kok aneh begitu, ada yang kamu sembunyikan dari aku, ya?" tanya Visha memberanikan diri untuk menebak langsung.
Tapi suaminya bergegas saja menepis sentuhan tangan lembutnya, dan menolak keras ucapan dari mulut Visha itu.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, hanya saja, aku sedang di buat kesal, aku mungkin akan pergi sore ini, mengunjungi teman, tidak tahu apa aku bisa pulang atau tidak malam ini.." jelas suaminya.
Visha menjadi tertegun mendengar kata-kata dari suaminya itu. Tidak ada masalah? baginya tidak mungkin! seorang Allianz mana bisa menyembunyikan rahasia darinya?
Sudah jelas laki-laki ini sedang di hadapkan masalah besar, apa lagi sudah jadi kebiasaan Allianz kalau punya masalah, dia pasti akan pergi dari rumah untuk menenangkan diri.
Dan lihat saja sekarang, bukankah dia juga punya alasan untuk pergi dari rumahnya dan katanya mau menginap di rumah temannya?
Visha sudah paham betul bagaimana suami tuanya itu. Tidak mungkin Allianz akan pamit tidak akan pulang kalau tidak sedang di hadapkan oleh masalah. Sungguh tidak mungkin.
Sejauh ini, Visha selalu berpikir positif mengenai suaminya itu.
"Baiklah, kalau kau mau menginap di rumah temanmu juga tidak apa-apa, kamu habiskan saja waktuku malam ini di rumah temanmu, yang penting jangan sampai telat makan, ya.." ucap Visha dengan tulusnya.
Tak menyangka juga kalau sosok Visha yang di kenal buaya sejak awal itu bisa menjadi wanita berhati tulus dan lembut di hadapan suaminya.
Entah dia telah memilih jalan yang benar atau pun salah karena telah merebut Allianz dari sahabat baiknya itu, tapi yang jelas, satu orang pun tak akan bisa melawan rasa cintanya untuk suaminya, meskipun mantan istri suaminya sendiri, yaitu Hana.
Tak mendapat prasangka apapun dari istrinya, Allianz pun akhirnya memilih untuk beranjak dari rumahnya sore nanti.
Sekarang ini dia lebih fokus untuk menghabiskan makanan yang sudah dibeli oleh istrinya sendiri di luar, mungkin saat Visha berjalan pulang dari butiknya pagi ini, dia tak menerka-nerka.
Lahap saja dia makan, sambil sesekali berpikir bagaimana dia akan menyelesaikan masalah ini seorang diri nanti, tanpa bantuan dari siapapun tentunya.
Apakah mungkin dia akan masuk ke dalam jeruji besi pada akhirnya, sama seperti yang terjadi pada mantan istrinya, Hana? ataukah dia akan lebih mudah mengurus semuanya menggunakan uang?
Ya, kenapa tidak? bukankah uang adalah pemecah segala-galanya? kenapa dia masih saja di buat pusing oleh keadaan ini? dia bisa saja memanipulasi data di rekeningnya dan juga di rekening wanita itu bukan?
Dan dengan pemikiran cerdiknya, seharusnya dia bisa mengaturnya jauh lebih mudah dari yang dia bayangkan.
Baiklah!
Sudah menemukan jalan keluar di otaknya, sekarang dia harus bergegas keluar rumah, dan menjalankan rencana dia berikutnya.
Mungkin dia bisa keluar dari masalah ini dengan hanya membutuhkan sedikit sentuhan kecil saja dari tangannya.
Belum juga habis makanan di piring sajinya, laki-laki itu kemudian menyambar tisu di dalam rak, dan kemudian mengelap mulutnya dengan benda tersebut.
Wanita di depannya hanya bisa di buat bingung dengan posisi mengunyah makanan di dalam mulutnya.
__ADS_1
Tentu saja Visha di buat bingung, bukankah hanya beberapa suap saja suaminya baru melahap makanan, mengapa sekarang pria itu terlihat mengelap area bibirnya?
Bukankah itu menandakan suaminya akan segera menyelesaikan makanannya? apa dia sudah kenyang dengan beberapa suap makanan saja?
"Mas, kamu sudah kenyang?" tanya Visha dengan bingung.
"Ya, padahal makanannya sangat enak, tapi aku lupa sudah punya janji dengan kawan lama, mungkin aku akan menemui dia dulu sebelum bertamu ke rumah kawan kerjaku.." laki-laki terlalu banyak berbohong, hingga Visha tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Ah? jadi kau akan pergi sekarang juga?" tanya Visha setelah menelan makanan dalam mulutnya.
"Ya," beranjak dari kursinya, "maafkan aku sayang, aku jadi lebih sibuk di hari liburku, aku minta maaf," pria itu kemudian terlihat mendekat ke arah istrinya, dan kemudian mendaratkan kecupan singkat di kening Visha.
Tanpa berkata-kata lagi, Allianz langsung saja pergi meninggalkan Visha di ruang makan seorang diri, hanya berteman beberpaa hidangan saja yang masih utuh di atas meja makannya.
Entah mengapa ia jadi merasa kesal pada suaminya itu. Bukankah pagi ini suaminya itu sudah berjanji akan menemani dia dan juga Alvis jalan-jalan di kebun binatang, jika bukan pagi, maka sore harinya pun tak apa.
Tapi sekarang, bukankah setelah dia kembali dari pekerjaannya, suaminya malah mendadak mengacuhkan dirinya? menyembunyikan sebuah rahasia yang tidak akan bisa dia mengerti?
Arkh!
Ia sungguh merasa ada yang tidak beres di sini.
Visha terlihat meletakkan sendok makannya di atas piring sajinya, dan kemudian melirik suaminya yang sudah mulai bergerak keluar dari rumah mereka.
...----------------...
"Hallo, apa kau butuh uang?"
...----------------...
"Aku hanya minta kau untuk menghapus semua riwayat transaksi wanita itu, mudah sekali, bukan?" tanya Allianz pada seorang pria di cafe setelah dia berhasil menemui teman lamanya.
Tentu saja seorang teman yang tengah di buat terhimpit oleh masalah ekonomi. Dia memang terlalu cerdik, hingga urusan seperti ini pun dia menuntaskannya dengan sangat mudah, semudah memakan permen kapas ke dalam mulutnya.
Pria di depannya terlihat berpikir, mencoba mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga keluarga.
Melihat sang sahabat tengah di sibukkan dengan pemikiran dalam otaknya, Allianz kemudian memberikan rayuan jitu selanjutnya. Di ambillah sebuah kartu miliknya dari balik jas hitam miliknya, di letakkan di atas meja cafe, dan di dorong perlahan menuju ke depan laki-laki di depannya itu.
"Isinya dua puluh milyar, bisa untuk mengobati istrimu, dan juga untuk kehidupan keluarga kamu selama beberapa tahun ke depan," ucap Allianz pada pria itu.
Pria di depannya melirik ke arah kartu tersebut, dan kemudian memikirkan isi dua puluh milyar di dalam kartu itu.
Tak ingin melihat istrinya yang terus terbaring sakit akibat penyakit ginjal dan paru-parunya yang telah meradang, tapi di sisi lain, tugas ini pun tak kalah lebih beratnya, aish! apa yang akan dia lakukan?
"Jika pengobatan masih kurang, aku akan melunasinya dan menambah nominalnya, anggap saja ini yang muka, lebihnya, akan aku transfer ke kartu ini setelah semuanya beres!"
Ucapan Allianz benar-benar membuat pria itu tergoda. Sebenarnya uang dua puluh milyar saja sudah cukup untuk biaya berobat istrinya, dan untuk kelangsungan hidup mereka selama dua atau tiga tahun ke depan, tapi lihatlah apa yang di tawarkan oleh Allianz pada detik berikutnya, pria itu bahkan dengan mudahnya menganggap uang dua puluh milyar di kartu ini sebagai uang muka, bukankah ini adalah kesempatan bagus?
Setelah lama di pikir-pikir, dia akhirnya mengambil kartu di atas meja, "aku terima, tapi ingat, ini hanya uang mukanya saja.." ucapnya dengan sangat yakin.
"Asal kau tidak membocorkan rahasia ini pada siapapun, dan kau melakukan semua pekerjaan dariku dengan baik, aku akan mengirimkan dua kali lipat lagi padamu.."
Pria di depannya terlihat mengangguk saja menangkap janji yang terucap dari mulut Allianz barusan.
"Baiklah, tunggu saja laporan dariku.." ucap pria itu sambil berlalu meninggalkan Allianz dengan senang.
Tak berbeda jauh dari pria tadi, Allianz pun nampak lega dengan hasil akhirnya yang memuaskan.
Pria itu kemudian memilih untuk menyeruput kopi Arabika di atas meja dan menyeruputnya dengan tenang setelah beberapa menit dia habiskan untuk bersitegang dengan otaknya sendiri.
*Ya, setidaknya aku bisa menyelamatkan diriku sendiri dari jeruji besi! Untung saat itu aku tidak menampilkan wajahku pada wanita itu, dan dia juga tidak tahu apapun tentang aku, termasuk juga namaku*..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1