Istri Yang Hilang

Istri Yang Hilang
#Kegaduhan


__ADS_3

Wanita itu masih meringkuk dalam pelukan Naira. Sementara itu, Ardian terlihat tiba di rumah Allianz. Pria itu kini tengah berjalan menuju lantai dua, tepatnya di kamar Allianz dan Hana.


Ia membuka pintu kamar Allianz yang kembali tertutup sejak Zarren keluar dari kamar itu beberapa saat yang lalu.


Dari dalam, nampak terlihat dengan jelas sosok Hana yang tengah menangis terisak dalam pelukan istrinya.


Dia hanya bisa mendekat, tak mampu untuk sekedar mengatakan satu patah katapun, apa lagi sampai bertanya.


Laki-laki itu hanya terduduk di atas ranjang, tepatnya di samping sang istri. Sementara tatapan matanya masih kosong, menatap kaca rias yang terpajang tepat di depan matanya.


"Aku bahkan tidak pernah mengkhianati dia, kejadian semalam benar-benar murni karena pemaksaan! Morgan yang memaksa aku untuk melayaninya! aku sama sekali tidak bersalah, Nai!" wanita itu masih saja menangis, merasa tersiksa dengan kejadian semalam.


"Aku tahu, sudahlah, jangan menangis lagi, tidak ada gunanya menangis menyesal, karena semuanya telah terjadi!" ucap Naira sambil terus mencoba mengelus rambut Hana dengan lembut.


Ardian menoleh ke arah istrinya, dan memberi kode lewat matanya, bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun istrinya menyuruh dia untuk diam, bahkan tidak boleh bertingkah apapun. Padahal Ardian pun ingin mengatakan sesuatu pada istrinya, perihal cuti yang di ambil Allianz barusan dalam sambungan ponselnya.


Brak!!


"Ah!?"


Mereka semua di buat terkejut, saat seorang pria terlihat masuk ke dalam kamar, dan berdiri dengan tatapan jengkelnya di depan mereka semua.


Ardian dan Naira bangkit, di susul juga Hana, yang langsung berlari ke arahnya, dan mencoba menyentuhnya.


"All!" dia berlari, dan kemudian bersimpuh di hadapan suaminya.


Tapi bukannya merengkuh tubuh Hana, Allianz malah tidak menggubris istrinya sama sekali. Dia bersikap acuh tak acuh, seolah dirinya adalah manusia yang paling benar.


"All, aku minta maaf, aku tidak sengaja melakukannya, dia memaksa aku untuk melakukannya!" wanita itu bahkan bersujud di kaki sang suami, berharap bisa mendapat maaf dari suaminya.


Namun laki-laki itu hanya berdiri kaku, mematung dan memaku di tempat, tanpa senyum apa lagi bicara.


Sama sekali tidak!


Allianz menatap dengan kosong dinding berisi foto pernikahan mereka berdua, dan tak mendengar ucapan demi ucapan yang di lontarkan oleh istrinya tersebut.

__ADS_1


Melihat situasi kaku yang terjadi di sana, membuat Ardian berpikir ingin mengakhiri semua ini.


Dia mendekat ke arah Allianz, dan mengajak pria itu untuk bicara, namun Allianz menyeka dirinya lebih dulu, membuat kata-kata yang mulanya telah dia persiapkan untuk di ucapkan, akhirnya tak bisa keluar.


"All!"


Allianz mengangkat tangannya, memberi kode untuk berhenti.


"Aku butuh waktu untuk sendiri, karena itulah aku minta sedikit waktu untuk berlibur sebentar!" ucap Allianz membuat istrinya mendongak, dan bangkit dari simpuhnya.


"Berlibur? kau akan pergi, All?" tanya Hana pada suaminya.


"Ya!" jawab Allianz tanpa menatap istrinya sedikitpun.


"Tapi kau tidak akan meninggalkan aku, kan? kau sungguh hanya pergi berlibur saja, bukan?" tanya Hana mencemaskan suaminya.


"Memangnya kenapa kalau aku pergi? lagi pula kau sudah hina di mataku, tidak ada artinya bagiku hidup denganmu atau tidak! aku sudah tidak lagi peduli!!" mata Allianz menatap tajam, mengandung unsur amarah yang bergejolak, hingga terlihat dengan jelas urat-urat di keningnya menonjol karena sangat marah.


Sang istri gemetar hebat, mengucur air matanya deras dari kedua matanya, membasahi pipi, dan jatuhlah di atas tangannya.


Allianz melepas pegangan tangan Hana dari lengannya, bergerak menuju almari miliknya, lalu mengemas beberapa pakaian yang akan dia bawa untuk berlibur.


"All, aku minta maaf, tolong maafkan aku, aku tidak bermaksud mengkhianati kamu, kau sudah salah paham!"


"Hallah!!" dia melepas pegangan Hana di lengannya, dan kembali mengabaikan sang istri.


Naira dan Ardian hanya bisa terdiam, mereka saling mendekat, dan menyaksikan kejadian pertengkaran di antara suami istri ini.


Mereka terlihat miris, merasa sedih dan terluka dengan kejadian ini, hanya saja, mereka tak punya nyali untuk sekedar melerai keduanya.


Mereka merasa tak punya hak untuk ikut campur dalam masalah dua orang itu, mungkin membiarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri jauh lebih baik.


Ardian dan Naira terlihat melangkah keluar, dan berdiri di muka pintu, menatapi Hana dan Allianz yang masih bertengkar di dalam kamar.


"All, tolong jangan pergi! aku sungguh menyesal, hukum aku! kalau kamu masih membenci aku, maka hukum aku!! pukul saja aku! pukul aku jika kau marah!"

__ADS_1


Hana terlihat menggapai tangan kekar Allianz, dan memaksa pria itu untuk memukul kepalanya, ya, jika itu bisa meredakan emosi Allianz, maka kenapa tidak?


Allianz berdiri mematung, tak bergerak sama sekali, mencoba melihat drama apa yang akan di lakukan sang istri selanjutnya.


Hingga di menit selanjutnya, saat dia tak lagi mampu menahan emosinya, dia terlihat menghempas tangan Hana, dan melepaskan diri dari pegangan wanita itu, sampai jatuh saja tubuh Hana ambruk ke lantai.


"Lepas!!!"


Brakkk!!


"Aaahh!!" Hana memekik kesakitan, saat tanpa sengaja kepalanya membentur nakas di samping ranjang tempat tidurnya.


"Hana!!"


Kali ini Naira tidak mau diam!


Berlari saja wanita itu menghampiri Hana, lalu merengkuh tubuh lemah itu, dan mendekapnya dengan erat.


"Kak All! kau sungguh tidak punya hati!" ucap Naira menyorot tajam ke arah kakaknya yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang di depan mereka berdua.


"Nai, kakak tidak mau punya urusan sama kamu! ini masalah pribadi keluargaku, jadi kau tidak berhak untuk ikut campur!" ucap Allianz masih sedikit pelan pada adiknya.


Ardian mendekat, rasanya tidak tahan lagi melihat perlakuan tak berperikemanusiaan dari Allianz pada Hana.


"All! jangan menyakiti istrimu! jika mau pergi untuk menenangkan diri, maka pergi saja, tak perlu menyakiti dan melukai Hana, dia juga belum pasti bersalah di sini!" ucap Ardian mencoba menenangkan situasi.


"Wanita yang sudah bersuami, lalu di gauli oleh pria lain, bagiku hanya wanita menjijikkan yang mau melakukannya!"


Allianz pergi dengan menggeret kopernya yang sudah di isi dengan barang-barang miliknya tanpa mengatakan kata pamit, atau mungkin sekedar menatap istrinya.


Dia bahkan tak sadar dirinya lebih menjijikkan di banding Hana, yang secara terpaksa melakukannya dengan Morgan.


Atau mungkin dia memang manusia biadab, yang hanya mampu mencari sisi buruk orang lain, sementara mata hatinya telah tertutup dengan perbuatan tercela yang dia lakukan bersama Visha.


Dia bahkan pergi meninggalkan sang istri yang tengah meringkuk dan menangis dalam pelukan adiknya, dan malah berniat untuk segera menikahi Visha.

__ADS_1


Aku akan membalas dendamku padamu, Hana!


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2